Menikahi Ipar

Menikahi Ipar
Bab 52


__ADS_3

Anand sudah berpelukan dengan Ilham, sedangkan bik Lis berpelukan dengan Sifa


Anand berpindah kehadapan Hanan


"Papih, papih sehat?" Tanya Hanan


"Alhamdulillah papih sehat"


Mereka berpelukan.


Hanan mengurai pelukannya "Tidak bertemu tiga bulanan, papih terlihat lebih muda dan fres pih"


"Kau ini" Anand menepuk pundak Hanan "Gimana tinggal dijawa, betah ?"


"Betahlah pih, makanya tidak pulang pulang"


"Buwahaha lama lama jadi bang Toyib kamu" Goda Anand


Anand bergeser kearah Alana, dan melihat Alana memakai tongkat "Loh, kakimu kenapa nak ? Kamu kecelakaan? "


"Habis naik gunung pih" Celetuk Hanan


"Kakaaak" Alana menarik lengan Hanan


"Masa, jangan mentang mentang hidup dipegunungan, inginnya naik gunung melulu, jadi cidera kan... Kenapa istrimu begini Han?" Tunjuk Hanan pada tongkat yang Alana pakai


"Terpeleset pih"


"Dimana? digorong gorong?" Tebak Anand


"Climbing pih" Jawab Hanan asal


"Kakak, jangan ungkit terus" Ucap Alana menyembunyikan wajahnya dibalik lengan Hanan


"Ya ya ya" Hanan mengusap lengan Alana.


Hanan baru ingat perut bik Lis. Hanan menoleh kearah papi Anand "Cie papih, berapa bulan pih" Hanan menunjuk dengan netranya kearah perut bik Lis


Anand memegang punggung Lis "Ya, pokoknya nanti kalau lahiran, kalian papi undang"


"Dih, ditanya berapa bulan jawabnya lahiran" Godanya "Pih" Panggil Hanan


"Yah"


Hanan memegang perut Alana "Aku juga masih bisa bikin seperti papih. Lihat, tapi gedean bik Lis. Cie cie, kita balapan pih"


"Ah kau ini, ayo nduk masuk. Jangan ladenin"


Anand menggiring Lis, untuk masuk kerumah. Belum mereka masuk, Hanan sudah berteriak memanggil dirinya


"Bik Surti... Papih... " Mereka berdua menoleh kearah Hanan semua "Siapa bik, Roy Marten bik" Hanan menunjuk Anand sambil tersenyum lebar


Anand mlongo, seketika Anand ingat dibandingkan "Maksudmu apa ??" Anand menjewer lengan Hanan


"Addaaa dadada pih sakit" Hanan kesakitan, jeweran Anand ternyata sakit


Tangan Anand sudah ditarik dari telinganya "Bibik, perkenalkan bik, ini, papi Roy Marten" Goda Hanan kembali


"Eh, lama lama papi sunatin juga kamu" Ancam Anand yang mau menjewer Hanan lagi


"Is jangan dong pih, Alana dapat apanya kalau aku disunat lagi" Celetuknya membuat Alana gejuk gejuk lantai

__ADS_1


"Kakak!! ih bikin malu" Alana sudah menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya


"Ahaha, urusin noh. Mang enak" Anand tertawa penuh dengan kemenangan


Hanan mendekati Alana, dan menarik tangannya yang menutupi wajahnya yang sudah memerah "Hanya becanda, nggak bakal disunat"


"I iiiih, jangan ungkit"


"Ya ya nggak nggak"


Tak berapa lama antrian datang lagi


Fatih, Fariz, Husayn, sudah memeluk Hanan dengan saling gebug gebugan


Mereka tersenyum mekar "Busyet dah, tiga bulanan dijawa, terlihat kusam bener kulitnya" Bohong Fatih, padahal tambah bersih karena didaerah dingin dipegunungan


"Masa sih" Jawab Hanan yang masih dirangkul oleh Fariz


"Ya ya bener bener, disana ngapain aja kak, gelap gulita amat" Husayn nambahin kompor


"Tuh istrimu kenapa Han?" Tanya Fatih, sedangkan Fariz dan Husayn baru ngeh ada orang yang pakai tongkat


Maklum, para istri mereka menutupi Alana, dan saling peluk, jadi Alana tidak terlihat. Sedangkan para suami, merebutnya ya para suami, jadi reuni sendiri sendiri


Bik Surti berdiri sambil mengangah


Diantara mereka berempat, yang melihat wajah lucu bibik hanya Fariz. Karena Fariz yang sejak tadi memeluk leher Hanan seperti pacarnya


Fariz melepas peluk, dan mulai tatap tatapan sama bik Surti


"Siapa?" Fariz menepuk punggung Hanan


"Apa?" Hanan menoleh kearah Fariz


"Oh, kenalkan kenalkan, sini bik. Jangan ileran begitu" Hanan melepas Fariz, ia berjalan mengajak bibik untuk mendekat


Bik Surti mengabsen mereka berempat


Bik Surti segera menarik lengan Hanan, dan berdiri didepan Hanan seperti pion melindungi rajanya "Ini tuan saya. Anda, anda, anda Siapa?" Surti menunjuk nunjuk mereka bertiga


Fatih, Fariz, dan Husayn, tambah pusing ditantang bibik yang bermuka bringas tapi lucu


"Ada apa ini dad?"


Para istri sudah mendekati suaminya setelah tadi reunian dengan para istri istri sikembar


Viviana mendekati Husayn "Kenapa dad?"


"Tau, naksir Fariz kali" Jawabnya pada istrinya, dan berjalan masuk merangkul Viviana


Ratna mendekati Fatih "Kak Hanan, kenapa? kok dipertahanin gitu"


"Entah, minggir bik ah" Hanan menyingkirkan Bik Surti dan menyambut Alana


"Tuan, saya curiga mereka pada memakai kedok yang mirip dengan tuan" Ucapnya membuat Hanan terpingkal pingkal


Hanan mendekati Fariz dan menjewer kedua pipi Fariz


"Adddaaa sakit. Apa apaan sih, main jewer aja" Kesal Fariz yang dijadikan contoh


"Tuh asli bik, nggak ada kedok kedokan"

__ADS_1


Fatih melintas dengan Ratna "Nih" Fatih menjembel jembel wajahnya didepan bik Surti


Membuat bik Surti mengabsen Fatih sampai terbengong bengong


Fariz juga mau melintasi bibik, tapi ditarik oleh Hanan "Bik, omar Daniel" Tunjuk Hanan pada Fariz


"Apaan sih, Omar Daniel, Omar Daniel. Minggir bikin bingung"


Bik Surti mulai cenut cenut


Plok


Hanan menabok lengan bibik


"Bik, jangan pusing. Omar Daniel yang ini sudah potong rambut dan belum bayaran, makanya terlihat kesal" Ucap Hanan menghentikan langkah Fariz yang sudah diambang pintu


"Bilang apa tadi, masuk!!" Fariz memiting Hanan, dan mendorongnya masuk kerumah


"Iya ya"


"Eh eh, tuan. Tuanku jangan di gituin sakit" Cegah bibik pada Fariz


"Hei, terserah aku bik. Heran, majikan sama bibiknya sama semprulnya" Kesal Fariz yang masih memiting Hanan


"Hei kalian lagi ngapain, main rangkul rangkulan segala" Tegur Anand membuat Hawa yang sedang serius dengan Alana menoleh


"Papih" Ucap Fariz dan Hawa bersamaan


Fariz kalah cepat dengan Hawa. Hawa menubruk Anand duluan "Papiiiiiiiii, aku kangen pih. Kangen duit papiiiii" Tangan Hawa sudah membentang siap memeluk papinya


"Ohhhhh"


"Adddaaa dadada" Hawa menarik tangan Anand yang sudah menempel pada telinganya "Lepasin pih sakiiittt"


"Papih ih, kasihan Hawa" Lis melerai suaminya yang sukanya main jewer sama keponakannya sendiri


"Kesel papih nduk" Anand melepas telinga Hawa, dan mengambil dompetnya dari saku, lalu menarik selembar uang berwarna biru "Nih, satu lembar aja hahaha" Anand tertawa memberi Hawa uang limapuluh ribu selembar doang


"Ih, papi pelit. Telingaku sakit pih, uang segini mana cukup buat pengobatan"


"Sikah, pengobatan. Kasih salep yang sudah kadaluarsa aja cukup, nggak bayar malah dikasih kayaknya hahaha" Ledek Anand memberikan uang pecahan lima puluh ribuan lagi satu lembar


"Ya Allah, papi kejam" Hawa menaikkan uang pemberian Anand keatas untuk pamer "Seratus ribu, telingaku rusak? disalepin itu memangnya Hawa korengan pih"


"Hawaaaa!! bicara apa tadi. Didepan makanan bilangnya begitu" Sifa mulai menegur kalau sudah menyaksikan biang rusuh


"Ehehe papih ma" Hawa masih mode merayu "Papih.."


"Apa" Anand sudah kemekel perutnya. Sukanya, jika sudah bertemu Hawa. Yang jadi obyek teguran pasti Hawa, bukan dirinya


Telunjuk Anand sudah dijidat Hawa "Suami kamu itu kaya. Papi tak yakin kalau kamu kekurangan duit. Tapi ya, uang papi selalu keluar gara gara kamu"


"Is papih, duit papih kan banyak. Dan bik Lis orangnya kalem nggak pernah minta duit"


"Tapi uangnya kan bukan untuk kamu semua Hawa. Yang ada diperut bik Lis, Hayo" Husayn angkat bicara


"Ih suka suka Hawa bang, pokoknya, papi harus keluar duit lima ratus ribu. Lagi pih" Telapak Hawa menengadah


"Udah segitu cukup haha"


"Kurang papi, masak seratus ribu. Kalau gitu, bik Lis Hawa cubit nih"

__ADS_1


"HAWWWAAAAA!!!! "


BERSAMBUNG......


__ADS_2