
Alana Sudah masuk kekamar, dan mulai memikirkan cara apa untuk memberi Hanan pelajaran
"Kenapa sih, makin tua kayak anak kecil" Ucapnya sambil mengepalkan tangannya
Alana kebingungan berjalan kesana kemari, untuk melancarkan misinya
"Ah.. Untuk menaikkan gair ah mas Hanan, aku harus ada cara" Alana manggut-manggut
"Sepertinya, ada cara yang jitu untuk menaklukkan suamiku yang mendadak jadi pecemburu. Heh, maunya apa sih.. Cemburu boleh saja bang, asal jangan terlalu. Ah jadi nyanyian ya" Alana terkekeh
Alana akan melakukan yang tidak biasanya
"Apa ya?? Sesuatu yang tidak perlu menyentuhnya, tapi mas Hanan mati kecoa" Alana gemas sambil gorak garuk memikirkan cara, agar suaminya mati kutu
Biasanya, Alana akan menyulut gair ah Hanan itu lewat sentuhan, nyatanya ada beberapa jenis pakaian yang bisa juga bikin suami jadi bergair ah.
"Ah dadaku... Agar montok dari biasanya. Apa ya, tambal bantal ?? Nggak mungkin, itu ide jelek. Tambal panci ? Nggak mungkin, itu terlalu keras. Bisa-bisa aku ditelan bulat-bulat sama dia. Dan mas Hanan, nggak bakalan naf su. Tambal semen ?? Tambah nggak mungkin"
Alana memutar otaknya sekeras mungkin "Ah... Korset. Iya korset. Mana korset"
Alana sibuk mengingat-ingat dan membuka seluruh laci "Korset biasanya kutaruh dilaci daleman"
Alana mencari korset dilaci daleman milik Hanan "Ah nggak mungkin disini. Mana pernah ia memakaikannya. Ah sableng kau Alana" Alana memakinya dirinya sendiri sambil sibuk mencari barang tersebut dilaci miliknya
"Ah, ini dia. Ketemu" Alana sudah menemukan
Bicara soal pakaian yang bisa membuat suami bergair ah, pasti sebagian besar langsung terpikir soal lingerie.
Tapi tidak dengan Alana
Alana sengaja mencari korset, dan memakainya. Ia ingin menggoda suaminya, dengan cara yang berbeda
Alana sudah memakai korset tersebut
Alana tersenyum. Dadanya sudah terlihat membusung dan semakin terangkat. Pinggangpun tak kalah ramping dari biasanya
"Ah semongko.. Tarik sis" Alana joget menggoyang-goyangkan dada dan pinggulnya didepan cermin
"Biarin aku dinilai cewek gatal. Sudah bagus aku tidak pindah kelain hati.. Rasakan nanti ya mas. Akan kubalas kamu"
Alana mencoba pakai korset berwarna gelap, sengaja ingin membuat suami makin bergair ah, dan klepek-klepek
"Nanti, setelah kau bergai rah, rasakan susahnya mencopot korset ahahaha" Alana tertawa terbahak-bahak
Setelah sedikit perjuangan Alana memakai korset dengan banyak kait. Alana bergegas mencari kemeja milik Hanan "Mana mana"
Alana membuka lemari khusus kemeja yang berderet "Hitam, pink, biru, ah nggak ah, kurang merang sang. Harus putih"
Alana mulai memilih kemeja putih yang biasa Hanan pakai "Ah, yang ini. Eh yang ini aja.." Alana memakainya. Dan sengaja ingin membuat suaminya mengeluarkan asapnya, karena kemeja yang Alana pakai, masih biasa dipakai oleh Hanan
"Syukurin kamu mas. Kemeja kesayanganmu aku pakai.. Tandukmu keluar, bodo amat ahaha"
Dulu Alana pernah pakai lingerie, tapi Hanan malah memarai yang tidak-tidak. Jadi sekarang, Alana tidak ingin menyentuh barang itu lagi
Alana sudah memakai kemeja tanpa bawahan, dan kancing bagian atas ia lepas dua atau tiga cukup
__ADS_1
Brakk
Alana membanting badannya dikasur, dengan tangan yang ia rentangkan. Terakhir, kain penutup mata, agar tidak merem melek jika Hanan datang
Dengan kemeja yang kebesaran, lekuk paha Alana bisa terlihat menantang.
"Ah bibir bibir. Akan ku tambal kamu bir"
Alana membuka tutup matanya. Lalu, turun dan menyambar lipstik yang berwarna merah darah "Ahaha"
Alana memoleskan bibir cantiknya dengan lipstik setebal mungkin "Aku persis habis makan ayam mentah. Eneg-eneg kamu mas" Alana tersenyum jenaka
Alana kembali berpose yang sama dikasur seperti sebelumnya
Dalam hatinya "Siapa pun pasti pernah memiliki rasa cemburu, baik itu kamu ataupun aku mas. Namun, ketika cemburumu menjengkelkan, otakku jadi berfungsi lebih strong dari biasanya. Kau yang membuat aku
frustasi. Rasakan pembalasanku ahaha" Kembali Alana tertawa terbahak-bahak
Kecemburuan suami pada suatu titik, akan mengganggu aktivitas yang Alana lakukan.
Alana tidak ingin beradu mulut, dan membela diri, percuma.
Jika langsung bersikap defensif, suami bisa jadi salah mengartikan sikap Alana dan malah membuatnya semakin marah.
Jika Alana menenangkan, lalu menjelaskan situasi yang sebenarnya dan mencari penyelesaiiannya bersama, itu juga percuma. Hanan masih dibakar api cemburu. Makan tenaga, capek
"Oke, untuk menemaninya besok, saat aku dibutuhkan, dan cara itu bisa membuatmu tenang. Tak masalah. Aku akan jadi pengekormu. Tapi jika cara itu tidak bisa selesai juga. Mending minggat aku mas. Capek ngurusin kamu kayak anak abege"
Tiba-tiba ada suara pintu yang dibuka
Ia mengamati suara pintu dibuka. Artinya, Hanan sudah masuk kekamar
Hanan masuk kekamar, lalu menguncinya seperti biasa
Hanan melepaskan seluruh bajunya, sambil berjalan, namun netranya mengamati seseorang yang tidur mbaplang-mbaplang diatas kasur. Mata ditutup kain, kedua tangan direntangkan pasrah.
Hanan terhenti pada kemeja yang Alana pakai "Loh, bajuku" Hanan segera naik keatas ranjang, yang sudah ada Alana disana
Netra Hanan mengabsen paha, dan dada Alana yang terlihat lebih besar dari hari biasanya
Hanan memegang dada Alana yang terlihat menyembul "Ini beneran"
Pancingan Alana sudah menghasut mangsanya "Kena kau mas" Alana terkikik dalam hatinya
Hanan terduduk disamping Alana "Aku tau, kau belum tidur kan" Hanan mencoba membuka penutup mata yang Alana pakai "Semua ini sengaja kamu pamerkan, untuk menggodaku bukan" Ucapnya lagi.
Alana masih terdiam
Hanan sudah berhasil membuka penutup mata
Setelah penutup mata terbuka, Alana pura-pura menggeliat. Tangannya ia regangkan keatas, agar CD yang ia pakai terlihat.
Hanan terdiam menyaksikan ulat sexy yang meracuni matanya
Hanan kembali ingin memegang sesuatu
__ADS_1
Ia berfokus pada kemejanya yang terangkat keatas. Mata Hanan sudah mulai buras melihat segitiga berwarna hitam berenda, yang sudah melambai-lambai
Ia segera memegang kemeja yang dipakai oleh Alana, dan menariknya kebawah agar menutupi aset milik istrinya, yang biasa ia tengok sesuka hati
Kembali Alana menggeliat. Membuat tangan Hanan terjerembab diatas segitiga milik Alana
Alana bangun, lalu mengambil tangan Hanan yang sedikit meremas miliknya
"Minggir" Alana mengibaskan tangan Hanan. Lalu ia merubah tidurnya agar membelakangi Hanan yang sedang duduk
"Ck, kau sengaja menolak sentuhanku. Padahal kau yang telah menggodaku. Dosa kamu"
Alana menoleh, lalu berdiri membuat Hanan mendongak karena Alana terlihat tinggi menjulang
Alana berkacak pinggang "Dosa ?? Enak ya mas, mas ngomongin aku yang enggak-enggak. Padahal aku tidak tau kesalahanku apa. Itu sama saja mas tidak percaya denganku, apa itu tidak dosa"
Hanan menarik kedua tangan Alana, agar Alana duduk
Alana mengibas-ngibaskan tangan Hanan, lalu ia terduduk dengan terpaksa
Dengan bibir yang masih manyun, Alana menyampaikan keluhannya "Mas, kalau mas sering kayak anak kecil, lebih baik aku tinggal sama mama. Aku nggak mau tinggal sama mas"
Hanan langsung menghentikan bibir Alana, dengan jarinya yang ia tempelkan pada bibir merah milik Alana "Sttttt" Hanan menarik jari-jarinya lalu memegang kembali bibir Alana "Ini kenapa bibir kamu merah banget. Sengaja dicat?"
"Iya!!" Teriaknya, lalu ia rebahkan tubuhnya miring membelakangi Hanan
Hanan merebahkan tubuhnya, lalu memeluknya dari belakang. Hanan memeluk Alana erat "Jangan gitu dong. Kalau kamu tinggal dengan mama, anak-anak dengan siapa?"
"Aku bawalah. Alasan anak-anak"
"Iya iya bukan anak-anak, tapi mas. Eng, terus mas bagaimana ? Tega, kau ingin ninggalin mas hemm"
Alana mengganti posisi tidur hingga telentang "Udah ah mas, aku nggak ingin debat. Aku ingin tidur"
Hanan mulai stres dibuatnya. Alana benar-benar menguji kesabarannya
"Ck, kalau kau tidurnya pasrah seperti itu, itu tandanya kamu membutuhkan aku"
"Kata siapa? Mas yang butuh kali" Tak sengaja Alana mendorong tangan Hanan, dan mengenai jempol Hanan, yang bisa bikin anak
Alana tersenyum. Celana Hanan sudah terlihat menonjol. Berarti, pancingan Alana berhasil
Sayangnya, dari tadi Alana mengajaknya untuk berdebat, padahal jelas-jelas Alana yang menggodanya.
Giliran Hanan tergoda, Alana terus cari alasan
"Ya, aku yang butuh" Jujurnya kesal
"Gitu dong ngaku"
"Jadi, malam ini, mas boleh kan mengunjungimu"
"Whatt !!"
BERSAMBUNG.....
__ADS_1