Menikahi Ipar

Menikahi Ipar
Bab 71


__ADS_3

Mereka berdua sudah pulang dari makan baksonya digerai yang masih buka dimalam ini


Tidak lupa, Alana membawa pulang bakso berkuah saja tanpa mie, dengan sambal terpisah


Setelah meletakkan oleh-olehnya tersebut diatas meja makan, Alana masuk kedalam kamar, diikuti oleh hanan


"Tidak dimakan lagi?"


"Nggak muat, itu buat bibik, sama yang lainnya" Alana membuncitkan perutnya yang sudah buncit, lalu melepas baju yang tadi ia pakai keluar, dan menggantinya dengan tank top serta celana pendek yang nyaman untuk ibu hamil


Hanan terkekeh sesaat lalu mendatangi Alana yang sudah melepas seluruh bajunya dan menggantinya dengan baju rumahan


Hanan mendorong tubuh Alana hingga Alana direbahkan dikasur empuk miliknya


Hanan sudah menindih tubuh Alana dengan remang-remang "Kenapa harus memakai baju"


Alana segera mendorong tubuh Hanan yang berat "Ih, mas berat. Aku masih kenyang. Ntar makanan yang kumakan barusan keluar"


Alana berdiri ditepi ranjang. Hananpun duduk didepan Alana berdiri


Hanan mengabsen Alana dari atas sampai bawah "Perasaan mas pernah lihat film kartun apa ya.. Kaosnya kuning. Wudelnya kelihatan, terus bawahnya nggak pakai celana"


Alana langsung mengambil bantal "Ih aku pakai, aku bukan film kartun"


Bukk bukk


Alana sudah menghajar Hanan dengan bantal sampai Hanan terkapar diranjang


"Iya, ya nggak" Hanan merebut bantal dari tangan Alana "Sudah tidur, sudah malam" Hanan memejamkan matanya


Mereka sudah tiduran


"Mas" Panggil Alana


"Hmmm" Hanan melirik ke Alana


"Nggak jadi, udah malam, tidur aja"


"Uh dasar" Hanan segera memeluk, mengusap punggung, dan perut Alana, hingga semuanya pulas menyelami mimpi-mimpi malam


-


Tengah malam, ternyata bik Surti kelaparan, dan memanaskan salah satu bakso yang Alana beli semalam


Karena bik Surti sedikit brisik, akhirnya penghuni lain bangun, kecuali Hanan dan Alana


Mereka berdua akhirnya bangun menyusul bik Surti yang sedang sibuk didapu. Dan, bik Surtipun segera memanaskan kuah bakso lainnya yang ada dimeja


Tidak menunggu lama, merekapun menghabiskan bakso yang sudah dipanaskan oleh bik Surti


-


Pagi hari saat mereka selesai sarapan bersama


"Bik, gimana keadaan perut bibik. Masih sering kram?" Tanya Hanan


"Masih"


Sebenarnya, perut kram pada usia kehamilan tua itu tidak masalah. Karena ada perubahan janin yang bergerak mencari ruang. Namun, jika terus-terusan itu bisa berbahaya. Atau, perut bisa terasa kram, jika ibu hamil besar, habis melakukan hubungan badan dengan pasangan. Sedangkan Lis, pasangan saja tidak punya. Kalau bukan kebanyakan fikiran, lalu apa?


"Muntah, mual, masih?"


"Kadang"

__ADS_1


"Bibik, kita periksa aja ya ?" Lis belum menjawab "Mbak, bik, bantu bik Lis berkemas"


"Eng, kenapa, apa ada yang salah dengan kandunganku"


"Tidak ada yang salah bik. Cuma, aku khawatir aja, bibik sering mual, muntah, menggigil. Bibik kan hamil tua, seharusnya kan gerah karena ada nyawa lain yang ada didalam"


Lis manggut-manggut


"Bibik, HPL nya kapan sih, tanggal berapa?"


"Minggu depan"


"Oh, berarti kandungan bibik sudah menginjak ke sembilan bulan lebih"


"Apa aku akan melahirkan sekarang?"


"Bisa jadi bik. Tapi, nanti grand master senior yang akan memeriksa bibik" Hanan melihat Lis sedikit tegang "Nggak pa-pa bik, jangan tegang"


"Maksudnya, aku dipanggilkan dokter handal selain mas Hanan?" Tanya Lis penasaran


"Emmp iya. Bibik juga sudah kenal, sangat kenal"


Lis tersenyum "Siapa sih"


"Wis, itu rahasia"


Terlihat mbak Rasti dan bik Surti sudah sibuk membawa koper milik bik Lis


"Ayuk, kita naik semua"


"Kenapa naik semua, saya juga diajak tuan?" Ujar bik Surti


"Iya. Janjiku hari ini, aku akan membawa pasukanku berperut besar-besar untuk ikut kerumah sakit semua. termasuk kamu bik" Hanan menunjuk perut Surti yang gendut


"Berarti saya ditinggal ya tuan, perutku kan rata sendiri hihi" Ucap Rasti terkikik sambil tabok-tabokan dengan bik Surti


"Eh, sudah dalam catatan mbak. Nggak ada yang akan aku tinggal. Semuanya Ikut, sekalian Imran"


"Eh, kita ikut kak" Ucap Rasti pada Imran


"Aku juga ikut mbak Rasti " Ucap Sholeh tiba-tiba


Alana melongok orang yang ada dikemudi "Cieee, penggemarmu ikut mbak"


"Ih pak Sholeh, kenapa hanya aku yang disapa. Bibik kan ada" Tunjuk Rasti pada bik Surti


"Jangan jodoh-jodohin non. Kalau pak Sholeh maunya sama kamu bagaimana" Surti segera naik mobil


"Waduh, waduh... Masalah kawin dan perjodohan tunggu dulu. Kita utamakan yang akan ngelahirin dulu oke" Hanan masuk kemobil samping pak Sholeh "Belakang sudah siap?"


"Siap tuan" Suara bik Surti yang ada dijok paling belakang, yang sudah duduk berjajar bersama Rasti


"Oke, sudah siap berarti kita ya??"


"ASHIAAAAAPPP!!"


"Oke, jalan pak"


"Siap tuan"


-


Akhirnya, pasukan yang dijanjikan Hanan telah tiba dirumah sakit

__ADS_1


Ilham dan Sifa menyambutnya dibawah. Begitu Imran melihat grandpa nya, langsung ingin pindah haluan


"Waduh, cucu grandpa sudah kangen rupanya" Ucap Ilham sambil menatap Sifa dan Lis berpelukan


Lis tampak berkaca-kaca


"Yuk masuk. Sengaja kami ditinggal disini. Kata Hanan, disuruh jagain ibu-ibu yang akan ngelahirin serumah sakit" Ucap Sifa mengarang


Hanan tergelak "Mama, masak Hanan tega nyuruh mama suruh jagain semua. Terus, papa yang jagain siapa"


Hanan merangkul Sifa setelah Sifa sudah peluk-pelukan dengan iparnya dan menantunya. Tak ketinggalan, bik Surti dan Rasti pun dapat pelukan dari Sifa


"Haha, papamu mah nomor satu"


"Apa mama sama papa sudah sarapan"


"Sudah. Depan kayak pasar, mama sudah borong semua"


"Sekalian sama abang-abangnya ma?"


"Oh haruslah. Tapi yang boleh mama bawa masuk cuma bang Ilham " Sifa langsung menutup mulutnya takut Ilham kedengeran


"Ahaha" Hanan tertawa ngakak mendengar ocehan mamanya


-


Hanan, Ilham, Lis, dan juga Sifa, semuanya sudah masuk keruang pemeriksaan


Lis sudah berbaring dibed pemeriksaan "Bibik, diperiksa papa dulu ya?" Ucap Hanan sambil mempersilahkan papanya untuk menindak lanjuti


Ilham segera memakai sarung tangan sebelum memeriksa Lis


Gel sudah dioleskan pada perut besar Lis oleh asisten Hanan yang sudah didalam dari tadi sebelum mereka semua masuk


Ilham sebenarnya merasa iba, dan kasihan terhadap Lis. Tapi ia berusaha profesional dan mulai fokus memeriksa


"Ukuran bayi sudah normal, bagus sesuai usia didalam kandungan. Tapi, ini kok agak sungsang ya.. Pemeriksaan kemarin posisi bayi gimana Han?" Tanya Ilham pada Hanan


Hanan mendekat "Kemarin sudah bagus kok. Bawa foto pemeriksaan kemarin nggak bik?"


"Ada, didalam tas"


Sifa segera memberikan tas yang ditinggalkan dikursi pasien "Ini bik "


"Terima kasih" Lis menerima tasnya, dan mencari foto periksa dua minggu lalu


Ilham sudah menerima foto tersebut, tapi netranya sibuk pada monitor


"Iya ini, masa mau saatnya keluar kok kakinya malah mau turun, kakinya agak kesamping ini. Harusnya kan sudah diatas" Ilham memegang perut Lis sebelah kanan "Sebelah sini sering kram?"


"Iya" Jawab Lis


"Bik, bayi bibik harus segera diangkat. Jika menunggu besok atau besoknya, belum tentu kepala bayi akan berbalik cepat. Semuanya butuh waktu"


"Tapi.."


Ilham mengangkat foto pemeriksaan dua minggu lalu "Bik, hasil pemeriksaan dua minggu lalu, hari perkiraan lahir tinggal beberapa hari, sedangkan posisi bayi, tidak mungkin berbalik dalam waktu sehari duahari. kecuali ada mukjizat. Jadi, hari ini, bayi bibik harus segera diangkat"


"Maksudnya, aku harus dicaesar ??" Ucap Lis sudah berkaca-kaca


Hanan dan Ilham mengangguk


Sifa mendekati Lis "Iya bik, tidak apa-apa. Aku juga dulu gitu"

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2