Menikahi Ipar

Menikahi Ipar
Bab 117


__ADS_3

Pagi harinya


Semua kembali ke aktivitas masing-masing


Hanan dan keluarga sudah pulang kembali ke Semarang


Sisaan letih kemarin, membuat Alana bekerja sambil menguap


Semangat kerja adalah kunci keberhasilan. Istri dari pemilik RSIA ini, tetap bekerja meskipun rasa kantuk dan lelah menderanya


Alana keluar, untuk menuju ke pantry


"Eh bu Alana. Ada yang bisa saya bantu bu" Sapa mbak Mimin office girl yang tengah sibuk didapur


"Oh mbak, aku ingin kopi mbak" Jawabnya sambil cuci tangan diwastafel, lalu menjembreng matanya yang sudah memerah karena mengantuk


Mimin tersenyum melihat bosnya menjembreng matanya didepan cermin dapur "Baik bu. Oiya, saya antar keruangan ibu, apa minum disini" Ucapnya mulai membuatkan kopi untuk Alana


"Nggak usah dianter mbak. Kubawa sendiri aja"


"Oh, iya bu"


Setelah kopi sudah ditangan


"Makasih ya mbak"


"Sama-sama bu"


Alana berjalan menuju keruangannya


"Ah" Alana baru ingat. Alana langsung membungkuk dibawah meja kubikel, untuk mencari tas yang berisikan oleh-oleh dari Jakarta, sekaligus oleh-oleh dari mertuanya


Krusak krusuk


"Ah ini dia klanting, peyem bandung tapi di Jakarta penuh"


Noni dan Nani menghampiri


Meja yang berantakan adalah tanda mereka sedang sibuk memilih makanan kesukaan mereka. Apalagi gratis.


Alana berjalan dengan kursinya, lalu memencet intercom, agar menyambung kedapur


Dirasa Mimin telah mengangkat "Mbak, datang keruangan ya"


"I iya bu" Jawabnya sedikit gagap. Mungkin takut kopi buatannya mengandung sianida. Eh, tidak mungkin ya. Bisa-bisa dirajang kayak kangkung buat makanan bebek oleh Hanan


Mimin masuk setelah pintu tadi diketuknya "Iya bu" Jawabnya menunduk takut


Alana segera menyerahkan kresek yang berisi oleh-oleh "Ini untukmu mbak"


"Eh" Mimin segera meluruskan pandangannya kearah Alana


"Kenapa?"


"Kirain kopi buatan saya ada yang salah bu" Ucapnya malu-malu


"Ada mbak, mataku belum sembuh ngantuknya"


"Hehe, ibu bisa aja"


-


Setelah ngopi dan ngemil sebentar, Alana sudah semangat lagi untuk bekerja


Pagi hari memang menjadi waktu yang paling tepat untuk menumpahkan segala tenaga dan pikiran untuk bekerja. Begitu jarum jam bergeser sedikit menuju siang, mata Alana kembali lengket


"Aduh, aku nggak kuat" Alana lunglai meninggalkan ruangannya dan naik keatas

__ADS_1


Alana melepas seragamnya, dan mengganti baju santai, lalu mengambil majalah "Kok rasanya mata sudah mulai berat, ya?"


Untuk menghindari kepergok Hanan saat mau curi-curi tidur siang, Alana keatas, tanpa izin pada Hanan


Jika tau Alana masuk kamar, bisa-bisa bukannya tidur, tapi bekerja melayani Hanan


Alana sudah jalan-jalan sebentar untuk penghilang kantuk, tapi tetap saja sulit membuka matanya


Ke pantry sudah, ngopi sudah, ngemil apalagi. Tapi mata seakan tak mau bekerja sama


Alana sudah tertidur pulas disofa, dengan majalah yang menumpuk diwajahnya


Hanan sering menasehati "Jika mata lelah, tidur. Kurangi multitasking. Meski bekerja erat hubungannya dengan multitasking, ngotot untuk menyelesaikan lebih dari satu tugas berbarengan, justru bisa membuang waktu berharga daripada bermanfaat. Makanya, tidur"


Hanan seperti biasa. Ia masuk keruangan Alana, dimana istrinya itu bekerja. Tapi si Noni bilang, Alana keatas. Katanya ngantuk


Begitu mendengar jawaban tersebut, Hanan segera menyusul keatas


Hanan sudah masuk keruangan yang ada dilantai dua


Dilihatnya wanita yang katanya sudah ngopi, ngemil, tapi malah sudah terkapar di sofa, dengan baju yang sudah berubah, membuat Hanan mendekat dan duduk disebelah kaki Alana


Hanan menarik gaun yang Alana kenakan tersingkap hingga pahanya sedikit terbuka


Hanan memangku kaki Alana yang masih berkaus kaki, lalu Hanan sibuk dengan ponselnya


Alana sedikit terganggu karena tangan Hanan reflex memijat pelan kaki Alana


Terlihat, Alana menaikkan majalahnya. Lalu kakinya ia tusuk-tusukkan pada selang kangan milik Hanan, karena ia merasakan dingin tersapu AC


Hanan mengabsen kaki Alana yang sedikit mengganggu belutnya yang sedang tidur


Sedetik itu, kaki Alana terdiam. Mungkin sudah menemukan kehangatan disana. Hananpun kembali fokus pada ponselnya karena kaki Alana ia singkirkan sedikit dari area dewasa tersebut


Baru Hanan fokus, kaki Alana kembali mengusek-usek daerah larangan. Ditambah, baju yang Alana pakai tambah menyingkap


Hanan sudah tidak fokus dengan ponselnya. Ia lebih tertarik memegang paha Alana yang sudah tambah mendekat


Tangan itu merayap hingga kepangkal paha


Alana mulai merasakan rasa yang nikmat yang pernah ia rasakan sebelum-sebelumnya


Alana membuka mata, namun tertidur lagi


Hanan yang sudah merasa sesak pada bagian itu, mencoba membangunkan Alana, dengan cara membuka segitiga sama kaki tersebut hingga terlepas


Alana menggeliat, hingga tampaklah semak lembab yang mengganggu konsentrasi Hanan


Hanan menelan salivanya dengan susah payah


Alana terkejut, ketika tangan Hanan sedikit menekan aset miliknya


"Aaaakkkh" Alana duduk "Mas. Kau mas Hanan kan"


"Ck, sama suaminya linglung. Bangun, pindah"


"Pindah?"


"iya, ayuk" Hanan segera mengangkatnya kepembaringan


"Mas"


"Sudah. Salah sendiri membangunkan singa yang lagi pules" Ucapnya sambil melucuti pakaian Alana


"Tapi aku ngantuk mas" Ibahnya


"Nggak masalah, terima aja sedikit air dariku"

__ADS_1


Alana membulatkan mata dengan sempurna, ketika benda tumpul itu menusuk-nusuk goanya yang kepalang mengangah ulah suami yang tak tau diri


Hanan masih menghentak-hentakkan dengan ritme cepat


"Ssssssss"


Hanan tumbang disisi Alana


Memejamkan mata sekejab, untuk menghilangkan detakan jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya


Setelah tersadar "Mas, jam berapa?"


"Satu siang. Mandi yuk. Ntar sholatnya disini aja"


Setelah mandi dan sholat. Hanan dan Alana turun untuk makan diluar. Tidak enak makan dikantin, dengan jam yang sudah kelewat jauh


Para pegawai yang kebetulan berpapasan, menatap Hanan sedikit berbeda


"Habis mandi apa gimana sih, seger banget pak dokter"


"Mandi kali, biar tidak lelah. Kan kemarin dari Jakarta. Biar segar"


"Iya juga sih"


"Masa iya mandi jam segini. Jangan-jangan"


"Jangan-jangan apa"


"Nggak"


Itulah ocehan para deterjen yang keppo dengan bosnya


-


Setelah diresto


Alana sibuk memilih makanan berat agar perutnya tidak keroncongan seperti sekarang


"Hindari kebanyakan makan siang" Tegur Hanan tiba-tiba


"Kenapa. Aku lapar mas. Tenagaku juga terkuras habis"


"Ck, yang bekerja tadi itu mas. Kau hanya menerima satu sendok"


"Ih jorok. Mau makan bahasnya begituan"


"Loh, jorok bagaimana"


"Sudah ah malu. Ntar didengar sama mbaknya"


Sambil menunggu makanan datang, netra Alana piknik kewarung nasi padang yang ada didepan restaurant yang Alana singgahi saat ini


"Saat kelaparan, sepiring besar nasi padang dan semangkuk es campur tampak sangat menggoda iman"


"He, he, he, tunggu dulu. Makan siang membabi buta seperti itu, justru hanya menaik-turunkan gula darah dengan cepat. Akibatnya, kamu akan loyo, dan mengantuk di sore hari"


"Lalu, tadi mas pesan apa"


"Sabar tunggu. Lah ini dia datang" Makanan dating "Ada salad sayur. Ini lebih bergizi dan mengenyangkan. Kaya akan protein, serat, dan antioksidan. Menu ini, membantu kamu itu kenyang dan tetap fokus lebih lama"


"Hah" Alana terlihat kecewa


"Jangan begitu. Ini minuman kesukaanmu. Secangkir greek yogurt dan granola bar. Semangkuk oatmeal dengan topping granola, buah-buahan, dan madu. Noh makan. Jangan malas. Biar tenagamu pulih, oke"


"Nggak oke"


Hanan tertawa melihat Alana sedikit tak menerima menu siang menjelang sore ini

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2