Menikahi Ipar

Menikahi Ipar
Bab 91


__ADS_3

Alana sudah turun, dan sudah berada dilantai satu


"BUNDAAAAA" Imran dan Altaaf sama-sama berlari menubruk Alana


"Bunda milikku" Ucap Imran sambil memeluk Alana dari samping kanan


"Ih, bunda milikku" Ucap Altaaf tak mau kalah. Iapun memegang tangan Alana sebelah kiri


"Aku dulu Altaafff, ya bund.." Ucap Imran kembali


"Iya" Jawab Alana biar cepat


"Ih, nggak bisa. Bunda milik Altaaf ya bund"


Alana mengangguk memberi jawaban iya untuk Altaaf


"Ih, nggak bisa dedek, bunda milik kakak" Imran tak mau kalah


"Sudah, sudah. Bunda adalah milik kalian"


"Termasuk milik daddy ya bund.." Ucap Hanan tiba-tiba sambil memegang kedua pundak Alana


"Ih daddy apa-apaan main ngerebut-ngerebut bunda" Imran menjauhkan Hanan dari Alana "Minggir daddy. Daddy sudah tua, daddy punya grandpa sama grandma"


"Tapi daddy yang memiliki bunda terlebih dahulu" Ucap Hanan tak mau kalah


"Tidak bisa" Imran tetap mendorong Hanan tak terima


"No no no. Bunda milik dedek.." Altaaf sudah memeluk Alana dari depan


Alana terdiam, ia seperti tropy untuk dijadikan rebutan bapak dan anak-anaknya


Pada dasarnya, setiap anak pasti lebih dekat dengan ibu mereka, terlebih anak laki-laki. Ini karena ibu mungkin lebih pintar berkomunikasi, lebih memahami perasaan anak, bahkan ibu adalah guru untuk banyak hal. Jadi, tidak mengherankan bahwa anak laki-laki lebih dekat dengan ibu mereka daripada ayahnya.


Hanan merangkul Alana "Bund, kita nyeberang yuk" Ucap Hanan sambil menyingkirkan kedua jagoannya


Imran dan Altaaf mendorong Hanan "Daddy jangan deket-deket bunda ih. Bunda milik kami, ya Altaaf" Diujung kata, Imran meminta dukungan adiknya


"Iya, daddy minggil" Altaaf ikut-ikutan memusuhi ayahnya


"Lho, sebelum ada kalian, daddy sudah memiliki bunda terlebih dulu. Baru ada kalian" Hanan berkacak pinggang didepan anak-anaknya


Alana menyenggol Hanan


Hanan melirik "Apa bund, betul kan bund, sebelum mereka lahir, kita sudah saling kenal" Bisik Hanan


"Iya. Tapi sebatas kenal, antara kakak ipar, dan adik ipar. Sudah ah yuk, jangan bahas begituan" Ekspresi Alana langsung berubah, jika mengingat kejadian itu


Hanan segera merangkum Alana, lalu mencium pucuk kepala Alana yang terhalang hijab


"Maafkan mas ya sayang" Bisik Hanan, lalu menumpuki kepala Alana, dengan pipi Hanan sebelah kanannya


Imran dan Altaaf tidak terima melihat daddynya main peluk

__ADS_1


Imran dan Altaaf mendorong Hanan


"Daddy minggir dad. Bunda adalah milik kami" Ucap Imran diangguki Altaaf


"Iya dad.. Daddy tak boleh deket-deket bunda. Bunda milik dedek!!"


"Milik kakak, Altaaf..."-Imran


"Dedek !!!"-Altaaf


"Kakak !!!"-Imran


"DADDY !!" Teriak Hanan, membuat kedua putranya mendadak sengap


Dalam kehidupan nyata, laki-laki biasanya lebih dekat dengan ibu, sementara itu, anak perempuan cenderung lebih dekat dengan ayah.


Disadari atau tidak, anggapan seperti ini memang ada dan sudah banyak diketahui masyarakat. Namun sebenarnya, ada banyak faktor yang bisa membuat anak cenderung menjadi lebih dekat pada salah satu orangtua. 


Hanan mengabsen kedua putranya yang tadi mendadak senyap "Ayo bund, kita nyebrang. Katanya ingin belanja" Ujar Hanan sambil merangkul Alana


"Ih daddy..." Altaaf kumat kembali, merengek sambil menghentak-hentakan kaki kelantai


"Dad.. Bunda itu milik kami daddy!!! Kenapa daddy deket-deket"


Kembali Hanan ditarik dari tubuh Alana, agar tidak terlalu dekat dengan bundanya


"Eh, kenapa sih kalian. Salah daddy apa?"


"Dad..." Alana melerai mereka, agar tidak berantem


Pada dasarnya, entah anak laki-laki atau perempuan, awalnya akan lebih dekat pada sang ibu.


Sebab, sejak dilahirkan hingga berlangsungnya tumbuh kembang, ibu yang menjadi sosok utama bagi anak. Ibu menjadi orang yang memenuhi kebutuhan ASI, makan, mengganti pakaian, menemani tidur, mandi, hingga menjadi orang yang paling tahu saat anak sakit. Lantas, apa yang membuat anak-anak semakin lama cenderung lebih dekat pada salah satu


"Sudah. daripada kalian memperebutkan bunda terus, mending bunda masuk"- Kesal Alana


Imran spontan menarik tangan Alana "Ish, jangan masuk bund. Bunda kan sudah janji, mau ajak kami jalan-jalan"


"Baiklah, tapi kalau kalian ribut terus, mending bunda masuklah. Daripada bunda jadi rebutan kalian. Untungnya apa buat bunda. Pada sakit semua" Alana melirik hanan tajam


"Ish, bund jangan ngambek" Hanan ikut-ikutan menghalangi Alana, agar Alana tidak masuk


Alana tetap berjalan masuk


"Bundaaa, kami janji tidak bakal berantem bund" Imran mendongak didepan Hanan "Daddy, bujuk bunda dad.. Kakak nggak mau gagal terus. Massa jauh-jauh jemput bunda kemari, nggak jadi ke mall"


Alana melihat Imran sedikit kasihan "Baiklah, janji jangan berantem ya. Kalau kalian berantem, bunda akan minggat"


Kedua putranya langsung memeluk Alana


Meskipun nyatanya Alana orangnya lebih ekspresif, sensitif, tapi kedua putranya selalu menghargai jika Alana mengungkapkan kekesalan terhadap mereka.


Alana selalu memberi kepercayaan kepada kedua putranya, sehingga bisa menjadi komunikator yang baik.

__ADS_1


Oleh karena itu, seorang Alana selalu mendorong putra mereka, untuk mengungkapkan perasaannya dan cukup sabar untuk mereka.


Dibandingkan dengan daddynya, Alana bisa bersuara lembut dan menjadi pendengar yang baik untuk kedua putranya


-


Akhirnya, mereka berempat sudah menyebrang dan masuk ke mall, yang ada diseberang rumah sakit


Imran terus menempel pada Alana, sedangkan Altaaf, dipaksa gendong oleh Hanan


Kaki Altaaf digoyang-goyangkan minta turun "Daddy.. Tulunin dedek dad"


Setelah turun, Altaaf segera menggandeng tangan Alana


Alana dan Hanan saling melirik


"Nggak pa-pa bund, menurut penelitian, anak laki-laki yang memiliki hubungan dekat dengan ibunya, itu cenderung memiliki prestasi yang baik di sekolah. Hal ini, karena bunda selalu memupuk kecerdasan emosional, pada anak-anak kita"


Alana melirik Hanan jengah


"Jangan melirikku begitu, bunda yang mampu mengajari anak-anak untuk terbuka, peka terhadap lingkungan, dan perasaan kepada orang lain. Menjadi komunikatif atau ekspresif, bunda selalu membantu mereka dari hal kecil, hingga membantu mereka unggul dalam kehidupan. Daddy bangga sama kamu bund"


Alana tetap terdiam,


"Senyum dikit kenapa bund" Rayu Hanan sambil mencubit hidung Alana


"Daddy.....!!!" Tegur Imran, membuat Altaaf ikut-ikutan ingin memarahi daddynya. Padahal tidak tau persoalannya


Alana ingin tertawa jika kedua anaknya melarang hanan mendekati Alana


"Bund, ajarin anak-anak sopan dong bund. Massa daddy ingin deketin bunda aja seperti maling" Protes Hanan pada Alana


"Sebenarnya, yang bikin mereka kesal, mungkin mas seperti anak kecil. Jadi, mereka menganggap mas itu seperti rivalnya. Ya udah nikmati aja" Alana tersenyum puas


"Bund, tega betul kamu bund. Mereka melirikku seperti musuh tau"


"Salah mas sendiri nggak bisa ngerem kalau sudah disampingku. Sabar dikit kan bisa"


"Jadi bunda ikutan kayak seperti mereka? Tega amat kamu bund"


Kedua anaknya lagi-lagi bingung terhadap tingkah kedua orang tuanya


Hanan kembali tendang-tendangan dengan Alana, karena kedua putranya melihat Hanan seakan ingin menelan


"Bund, lama-lama kita seperti akan bertanding, dan mereka berdua adalah wasitnya"


"Ha ah... Lirikan kakak seperti sibuta dari goa hantu"


"Hus.. Bikin nama sembarangan"


"Ahaha ya maaf"


Hanan meraih Alana kepelukan, tapi lagi-lagi dilarang oleh kedua anaknya

__ADS_1


BERSAMBUNG......


__ADS_2