
Alana menghentikan kegiatannya. Ia sudah tidak konsen untuk meneruskan mengikuti kegiatan Hanan. Gampang dilain waktu
Alana memberikan ponselnya pada Hanan "Kakak ini ponselnya, aku akan nunggu Imran diluar"
Hanan menerima ponselnya kembali "Iya hati hati. Ingat, jangan sampai menggendong Imran"
"Dih kasihan Imran, ntar pasti datang datang minta gendong"
"Jaga janinmu, jangan sampai kenapa napa. Kalau kau melanggar, Imran kutitipkan kemama aja, biar Imran dijakarta untuk jaga rumah"
"Dih kejamnya. Sama anak sendiri kok main titip sama orang tua. Kaya barang titipan, udah gitu disuruh jaga rumah lagi. Ayah model apa bisanya bikin, giliran jadi main titip"
"Sudah ngomelnya? sudah sana kedepan. Keburu Imran sampai, bundanya belum terlihat, kejerlah dia nanti"
"Ya deh, aku keluar"
Hanan mengusap pucuk kepala Alana "Ntar ditunggu diruang istirahat saja ya"
"Iya" Alana berjalan menuju pintu keluar observasi
"Ingat ya, jangan sampai gendong Imran" Nasehatnya
"Iya ya"
-
Alana keluar dari gedung ini, untuk menunggu Imran datang
Tidak berapa lama, mobil yang Imran tumpangi masuk kearea parkir
Alana menyambutnya sambil berdiri
Pintu mobil terbuka, keluarlah bocah sipipi bulat
"Bundaaaaa.. " Teriak Imran
Rasti segera menggendong Imran untuk turun Dari mobil
"Bunda gendong" Tangan Imran terus melambai lambai minta digendong Alana
Rasti belum melepaskan Imran dari gendongannya "Eh kak Imran nggak boleh nakal ya, daddy tadi pagi bilang apa sama kakak. Diperut bunda ada siapa? " Ucap Rasti memberi ingat, agar Imran tidak minta gendong pada Alana
"Ada dede" Ucap Imran menggoyang goyangkan kakinya minta turun
"Pinter"
"Tuyunin.. Mbak tuyuniiiin" Kakinya digoyang goyangkan kembali ingin turun
"Tapi harus jalan sendiri ya?"
"Iya.."
Imran sudah diturunkan dan ingin jalan sendiri
"Bunda..." Imran mendongak. Tangan Imran minta digandeng oleh Alana
"Ya" Alana menunduk, tangan Imran sudah memegang jari Alana, dan tidak mau dilepas "Sayang, kita masuk nemuin daddy ya, bunda shoting mau?"
"Mau" Jawabnya sudah ceria
"Bagus... Lepasin tangan Bunda dong" Rayu Alana
"Indak mahu (Enggak mau)" Tolak Imran keukeuh
Alana mengalah
"Mbak aku dan Imran direcord ya mbak, dia nggak mau lepas gandengan soalnya" Tunjuk Alana pada Imran
__ADS_1
"Iya bu, sini bu" Rasti menerima ponsel dari Alana, untuk menyoting
"Bisa mbak"
"Bisa. Ini dilanjut aja kan bu"
"Iya lanjut aja, biarin panjang"
Imran ingin berbelok
"Eh eh eh, jangan belok dulu sayang, kita kesana dulu" Alana menunjuk meja informasi
Belum juga sampai kemeja informasi, Imran ingin belok lagi karena ada bocah yang berusia sama, yang sedang bermain dideretan ibu ibu hamil yang sedang mengantri giliran pemeriksaan
"Bentaran sayang, jangan belok dulu. Ingin lihat daddy nggak ?" Alana sedikit menahan Imran
"Ingin" Jawab Imran
"Ya sudah, kita jalan lurus dulu sayang"
Alana dan Rasti sudah didepan meja informasi
"Bunda... Gen dong" Ucap Imran mengeja
"Sini mbak ponselnya, Imran minta diangkat" Alana meminta ponselnya kembali dari Rasti
"Mau gendong? sama mbak ya?" Tawar Rasti
Imran mengangguk
Akhirnya Imran kembali digendong oleh Rasti
"Wah, siapa ini mbak, cakep banget" Tanya kiki yang baru melihat bocah berambut sedikit pirang, yang nampak didepan mata
"Anakku" Jawab Alana, yang sibuk mematikan ponselnya
"Iyalah" Jawab Alana lagi
Imran langsung menepis tangan Kiki "Bundaaa"
"Iya ya, mbak Kiki jangan nakal" Ucap Alana sambil mengusap rambut Imran
"Wih anak pak dokter cakep mbak. Wih... Kecil kecil aja udah kece. Rambutnya macam bule mbak. Uh, gantengnya, ikut tante yuk" Ucap Kiki yang sudah akrab dengan Alana sejak pertama masuk
"Ndak mahu.. Bundaaaa" Tangan Imran melambai lambai ingin digendong Alana
"Iya ya, kita kedaddy ya.. "Bujuk Alana agar Imran diam "Mbak, daddynya Imran sudah mulai praktik disini ya ?" Tunjuk Alana pada ruang pemeriksaan, atau poliklinik jika dirumah sakit umum
Terlihat ibu ibu hamil sudah duduk berderet diruang tunggu depan ruang pemeriksaan Hanan sampai panjang hingga didepan ruang dokter Zuhi atau pemeriksaan dokter anak
"Iya mbak, barusan pasien pertama baru masuk" Jelas Kiki
"Oh, Ya sudah deh. Kita keruang istirahat daddy dulu ya" Bujuk Alana pada Imran
"Iya"
"Sekarang, kakak Imran turun lagi ya.. Bunda shoting lagi oke"
"Oke bun"
-
Mereka bertiga sudah diruang pribadi Hanan
Cukup lama menunggu Hanan datang
"Mbak Rasti, daripada jenuh tak ada cemilan, mbak beli makanan didepan mbak" Alana memberi uang dua lembar pecahan seratusan ribu "Mbak juga ingin apa terserah"
__ADS_1
"Kalau bu Alana kayaknya ingin apa?" Ucap Rasti
"Ingin apa ya mbak, seger seger mbak"
"Bakso, rujak, manisan" Tawar Rasti. Karena sewaktu Rasti melintas, ia melihat pedagang mangkal didepan rumah sakit itu banyak. Termasuk yang ia sebutkan barusan
"Ah iya, jadi pingin ngiler aku mbak. Ini mbak, takut kurang" Alana memberi seratus ribu lagi untuk memborong makanan yang ada didepan
Alana dan Imran kembali tidur tiduran diranjang kamar Hanan
Tak berapa lama, Rasti masuk dengan makanan yang berkresek kresek lumayan banyak
"Bu, saya beli lotis, manisan mangga, bakso, mie ayam, martabak manis sama martabak telor, jeruk, kripik tempe, pisang goreng, tahu goreng, tempe goreng, dan minumnya jeruk pants bu"
"Wah... Duit segitu mbak Rasti dapat makanan sebanyak ini?" Ucap Alana mengabsen makanan satu meja penuh
"Iya bu, sisa sepuluh ribu, saya beli krupuk trasi goreng pasir, habis bu" Rasti menunjuk krupuk berplastik jumbo
"Ahahaha... Sekarang, kita pesta mbak"
-
Imran dan Alana tertidur pulas. Sedangkan Rasti menonton acara film tentang azab, yang ditayangkan di TV baru yang berlogo piring terbang
Hanan masuk keruangan ini. Ia tidak melihat anggota keluarganya yang menyambutnya, padahal tadi bilang, Imran datang.
Hanan menutup pintu kembali, setelah tadi ia membukanya
Dilihatnya televisi masih menyalah, tapi sunyi seperti tak ada penghuni
Hanan berjalan mendekati, lalu ia melihat meja
"Apa ini banyak sekali" Hanan hanya membatin
Ia melihat banyak aneka makanan, yang terlihat masih rapih
Hanan menoleh pada seseorang yang sedang fokus menonton televisi, tapi tidak melihat orang yang memasuki ruangan ini
"Mbak"
Rasti mendongak, lalu berdiri "Eh tuan, maaf. Ibu dengan adek Imrannya sedang istirahat"
"Oh, mereka tidur sudah lama ?" Tanya Hanan yang sudah diambang pintu kamar
"Lumayan tuan, kurang lebih sudah satu jam"
-
Hanan melepas Jasnya. Bibir Hanan melengkung, ketika melihat anak dan istrinya balapan tidur
Hanan berjalan mendekati ranjang, dan duduk disamping Alana tidur
Mencium kepala putranya, kepala Alana, dan terakhir mencium perut Alana, lalu mengusapnya
Mata Alana terbuka, tangannya langsung mengalung dipinggang Hanan
Hanan mencium kepala Alana kembali "Sudah makan?"
Alana mendongak karena kepalanya ada dipangkuan Hanan "Sudah. Itu makanan masih banyak"
"Memang Rasti bawa dari rumah?" Tanya Hanan penasaran
"Bukan. Beli didepan"
"Makanan sebanyak itu?"
"Hmmm"
__ADS_1
BERSAMBUNG.......