
Beberapa hari kemudian
Masih dirumah sakit
Mereka berdua sudah rapih dan tinggal menunggu kedua putranya yang sedang dalam perjalanan kemari
"Waktunya siap-siap" Alana membenahi tasnya yang akan dibawa ke Jakarta
"Nggak usah banyak-banyak bund bawanya" Ucapnya sambil duduk santai dengan ponsel yang ia scroll kearah sesuka hati
Alana melirik "Cuma persiapan doang, takut tamunya datang. Syukur-syukur nggak datang"
Hanan menghentikan kegiatannya "Maksudnya?"
Alana mengangkat roti tawarnya "Kalau tamunya datang, tinggal kusuguhin ini aja"
"Oh" Hanan berdiri menghampiri Alana. Memasukkan ponselnya kedalam saku celananya, lalu memeluk Alana dari belakang
Hanan ikut-ikut membungkuk karena orang yang ia peluk sedang sibuk memasukkan barang-barang penting kedalam tasnya "Tapi saat ini belum kan bund?" Tanyanya sambil mengusap perut Alana
Alana berdiri dan membalikkan tubuhnya agar mereka berhadapan
Alana menggeleng "Belum, hanya jaga-jaga. Nggak enak kalau pas dateng, mas yang harus beliin. Memang mas mau, beli pembalut"
Hanan berdiri "Malu bund, apa kata dunia kalau mas disuruh beli gituan"
"Ah, nggak romantis"
"Romantis kan tidak harus membelikan begituan bund. Diganti lainnya kan bisa. Misal..." Hanan menggantung ucapannya, sambil bersedekap menerawang keatas
"Apa??"
Hanan melirik kesamping, yang masih ada Alana disana "Perlakuan. Mas itu pria dewasa bund. Nggak bisa gitu-gituan"
"Ah, dewasa juga banyak yang mau melakukan begituan. Intinya, mas itu orangnya nggak romantis. Mas ketinggalan. Pria dewasa makin tertinggal.. Dan pria romantisss, semakin didepan" Kesalnya sampai keubun-ubun
"Soal membelikan pembalut kamu bilang semakin didepan?? Bagaimana jika pegawai cowok yang kerjaannya menata pembalut dirak"
"Ya bagus dia. Romantis, tanggung jawab" Ada jedah. Membuat Hanan mengintip Alana dari samping
"Terus"
"Nggak malu nata begituan. Nggak kayak mas. Gengsi digedein"
"Bund...Sudah ah, males mbahas begituan"
-
Setelah diam-diaman beberapa saat
"Yuk bund turun. Anak-anak sudah sampai"
Hanan berdiri menjulurkan tangan, lalu merangkul bahu Alana
Alana membenahi tasnya yang sudah disampirkan pada pundaknya "Setelah di Jakarta, kita masuknya kerumah siapa mas? Papa apa rumah mas"
Hanan melepas rangkulannya, lalu duduk kembali sambil mendengus kesal "Rumahku ya rumahmu"
Alana langsung duduk disisi Hanan lagi. Lalu, memeluk perut Hanan dari samping "Maaf. Maksudku.." Ucapnya menggantung bingung
'Rumah itu kan milik kak Aina. Aku harus bilang apa...' Alana bingung campur takut
"Maaf mas" Ucapnya lagi
"Mama dan papa, yang akan nginep dirumah kita. Biar besok, ketempat Fariznya bareng katanya" Jelasnya
"Oh" Alana menatap Hanan yang sibuk lagi dengan ponselnya "Mas. Katanya anak-anak sudah sampai. Kenapa duduk"
Hanan tidak menjawab, Alanapun tidak berani bertanya lagi
Alana mulai gelisah. Ditataplah Hanan dari samping tanpa berkedip
"Kenapa ngliatin mas begitu" Ucapnya datar
Daripada mood suaminya rusak, Alana memeluknya lagi "Maaf, jika ucapanku tadi menyinggungmu mas"
Hanan menghentikan acara ngambeknya. Dia mengubah duduknya agar sedikit miring kearah Alana
Hanan memegang kepala Alana, dan menatap wajah istrinya yang terlihat cantik dengan balutan hijab dan busana lain selain seragam
Alana terdiam karena Hanan juga diam
Begitu bibir Hanan terlihat melengkung, Alana langsung menghambur
__ADS_1
Plok plok plok
"E eh, kenapa menabok. Belum juga dimaafin. Sudah bikin ulah"
"Habis, tatapanmu menakutkan mas" Alana masih memeluknya, agar cuaca hati Hanan sedikit berubah
Bibir Hanan terangkat sedikit "Tidak suka aja kalau kau bilang, rumah itu milik mas doang"
Alana mengurai peluk, lalu duduk dengan tegak "Iya, sekali lagi maafkan ucapanku ya suamiku"
Hanan melirik Alana yang sudah menunduk sambil memilin pucuk hijab
'Perbedaanmu dengan Aina, letaknya disitu. Jika kamu punya salah, selalu menunduk dan bermain benda yang ada didepanmu'
Hanan berdiri, lalu memegang kepala Alana "Turun yuk"
Alana mendongak "Mas.."
"Sudah"
Hanan tidak ingin membahas hal yang kurang penting
-
Sesampainya di Jakarta, Hanan langsung menuju ke kediamannya
Ilham, Sifa dan Jauhari yang menjaga rumah Hanan, menyambut kedatangan Hanan dan keluarga
Mereka saling peluk
"Sehat pa, ma?"
"Alhamdulillah kami sehat. Sini sayang, duduk sini" Ilham menahan tangan Altaaf, dan menunjuk pahanya
Altaaf sudah duduk dipangkuan Ilham
"Cucu grandma sudah bisa apa ini hmm" Tanya Sifa pada Altaaf
"Menangis ma" Celetuk Imran
"Membaca ma.. Kakak yang menangis" Elak Altaaf
"Kapan kakak menangis. Nggak pernah"
"Dedek juga kapan"
"Bundaaaa.. Dedek nggak pelnah nangis.. Kakak pitnah"
"Ya, ya sudah sudah. Anak bunda nggak ada yang cengeng. Semuanya pinter"
-
Pagi hari sebelum mereka datang kearisan, mereka datang kepemakaman terlebih dahulu, sesuai janji Hanan pada waktu itu
Imran berjalan dirangkul Hanan, dan digandeng oleh Alana
Alana tidak ingin Imran kenapa-napa setelah tau bahwa dirinya tidak memiliki ibu kandung
Mereka datang untuk berziarah
đź’–
Ziarah kubur menurut Islam ialah, salah satu sarana agar seorang muslim selalu beriman dan mengingat kematian.
Ini semua merupakan amalan sunah, yang sangat dianjurkan dalam Islam, apalagi makam orangtua sendiri.
Ziarah kubur termasuk ibadah yang mulia di sisi Allah. Islam juga masih menghormati orang-orang yang sudah meninggal.
Kebiasaan orang Indonesia, ziarah kubur menjelang Ramadhan atau sesudah pulang shalat Id. Walaupun sebenarnya bukan diwaktu itu saja yang disyariatkan dalam Islam.
Namun, banyak di antara semua, yang terkadang jarang ziarah kubur.
Mungkin, padatnya aktivitas menjadi salah satu alasan sebagian yang tidak bisa melakukan ziarah kubur.
Adapun tujuan disyari’atkannya kembali ziarah kubur adalah, untuk mengingatkan peziarah bahwa kehidupan didunia ini tidak kekal
Lanjut
Sebelum masuk kemobil, Alana mengingatkan kepada kedua putranya
"Kakak, dedek... Berwudhu dulu sebelum pergi.." Teriak Alana
"Sudah bund" Teriak mereka berdua, lalu masuk kemobil bersama grandpa dan grandmanya
__ADS_1
Setelah beberapa puluh menit, sampailah mereka dipemakaman
Mereka semua turun dari mobil
Sifa, Altaaf, dan Ilham, mereka bergandengan dibarisan belakang
Sedangkan Imran, ada didepan bersama Alana dan Hanan
Setelah berjalan beberapa langkah dari mobil, sampailah diambang pintu masuk pemakaman
"Ucapkan salam dulu sayang" Ucap Hanan memberi tau pada Imran
Imranpun mengangguk patuh
Setelah salam tadi, barulah mereka berjalan masuk, dan berhenti digundukan tanah yang sudah sedikit rata dengan tanah
"Ini Mami ya dad" Tunjuk Imran pada pemakaman, dengan batu nisan yang tertuliskan nama
'Aina Chawlah binti Widiananto'
Hanan merangkul Imran yang tingginya sudah setinggi dada Hanan "Iya nak" Hanan mengecup pucuk kepala Imran
Mereka sudah jongkok menghadap ke kiblat
"Kita berdoa untuk mami"
Imran mengangguk "Iya dad"
Tidak lupa mereka membaca tasbih, takbir, tahmid, zikir dan doa yang dikhususkan untuk almarhuma Aina. Setelah usai berdoa, lalu diakhiri dengan bacaan al-Fatihah sebagai penutup.
Mereka berdiri, setelah itu mengusap batu nisan tersebut
"Mami itu cantik ya dad"
Hanan tidak menjawab. Bagaimanapun, ada hati lain yang tidak ingin disakiti oleh Hanan
Alana tau jika suaminya diam, berarti butuh bantuan
Tangan Alana mengusap rambut Imran "Cantik kak, dan juga baik"
"Eng.. Bund, boleh nggak kakak lihat fotonya mami. Mami punya foto kan?"
"Tentu sayang. Ntar diingetin ya, kalau sudah kembali kerumah tadi"
"Oh, disana banyak ya bund"
Alana mengangguk, dan seketika itu Imran memeluk Alana "Makasih ya bund"
"Buat?"
"Kasih tau kakak"
Hanan dan Alana saling tatap
"Oke, kita pindah kemakam papi yuk" Ujar Hanan, memecah keheningan
-
Mereka menyambangi pemakaman papi Anand dan mami Wahidah
Ternyata, Lis dan Aaliyah juga ada disana
'Bik Lis... Pantesan tadi sedikit ramai. Ternyata bik Lis datang'
"Umm... Papi Aaliyah tidurnya disini ya ummi" Ucap Aaliyah yang baru tau wujud makamnya sang papi.
Lis mengangguk
Alana nyesek mendengar bocah cantik seumuran Altaaf yang sudah tidak punya ayah
Alana terus mengusap rambut Imran, dan menciumnya
Alana tidak memikirkan Altaaf, ia justru menjaga hatinya Imran. Karena ini, pertama kalinya Imran dan maminya dipertemukan
"Kita berdoa untuk papi dulu ya" Ajak Lis pada putrinya
"Biar masuk syurga ya umm"
Lis mengangguk, lalu membenahi tangan Aaliyah yang sedang bermain rumput disamping kuburan Anand
"Tangannya diangkat sayang, jangan malas" Tegurnya pelan
"Begini ya umm"
__ADS_1
"Iya"
BERSAMBUNG.....