
Fariz dan Hawa sudah pulang kembali ke Tangerang, dimana tempat tinggalnya memang berada disana
Sedangkan Ilham dan Sifa, ia sengaja ingin tinggal disini.
Sambil menunggu Imran dan Altaaf datang, Sifa membuka oleh-oleh yang dibawakan oleh Hawa
"Wow Alana, coba cicipin. Lihat kue nastar dan teman-temannya ini" Sifa menunjukkan kue tersebut pada Alana
"Ini bikinan mbak Hawa sendiri ya Ma?" Tanya Alana
"Iya sayang. Coba kamu makan. Papa.." Sifa memanggil Ilham "Coba papa cicipin. Kue kesukaan papa ternyata ada" Sifa menawari Alana, tetapi memberikan kue tersebut kepada Ilham dulu, baru Alana
Semuanya sudah mengambil dan mencicipi "Coba, enak nggak?" Sifa bertanya pada keduanya
Hanan berdiri, dan ikut mengambil kue yang didalamnya terdapat selai nanas tersebut. Hanan menggigitnya "Enak" Ia terus mengunyahnya.
Begitupun Ilham "Iya, renyah tapi lembut" Puji Ilham
Sifa tersenyum, lalu menoleh pada Alana "Enak sayang?"
"Enak ma. Enak buat ganjel perut" Jawabnya malu-malu
"Iya sayang, kamu harus makan banyak. Tenagamu terkuras banyak tadi" Ucap Hanan mengambilkan kue tersebut dan memberikannya pada Alana "Biarpun Hawa orangnya somplak, pinter juga dia bikin kue" Puji Hanan juga
"Kan sekalian dia iklan" Ujar Sifa mengagetkan Hanan
"Oh, ini dijual ditokonya juga ma?"
"Iya, dan tokonya, lumayan dekat dengan kompleks perumahan kita"
"Maksudnya, di Jakartanya ?" Hanan sedikit penasaran
"Iya"
"Oh, kirain di Tangerangnya"
"Bukan. Tokonya dijalan raya Kebagusan"
"Dekat Ragunan?"
"Iya"
"Wow, hebat. Pantesan dia cerewet macam beo, ternyata tetanggaan"
Ahaha
"Dia memang cerewet dari kecil" Ucap Ilham yang sudah makan kue tersebut hampir tandas satu toples
"Eh iya lupa. Dia kan anak perempuan papa satu-satunya. Hampir lupa haha" Hanan balapan makan kue tersebut dengan Ilham
Sifa berbisik pada Alana "Kesukaannya mereka sama. Sukanya yang manis-manis" Tunjuk Sifa pada Hanan dan Ilham
Alana tersenyum "Iya ma. Ma.." Panggil Alana
"Iya"
"Aku ingin mengangkat baby Zira"
"Oh gantian?"
Alana mengangguk "Iya ma, biar gantian"
"Baiklah" Sifa mengambil baby Zira dari pangkuan Alana, dan menaruhnya pada box bayi "Cucu grandma sudah bobo ya, pinter banget" Ucapnya. Kemudian, ia menukar baby Zira dengan baby Arin
Hanan mendekat "Eh, mau diangkat kesini ma?" Tunjuk Hanan pada paha Alana
"Iya, gantian katanya"
"Sini ma, biar aku bantu"
"Nggak usah, mama juga pengen pegang. Pumpung mama masih ada disini"
"Oh, baiklah" Ucapnya lega, karena Hanan tidak ingin mamanya capek
-
Beberapa menit kemudian, Imran dan Altaaf datang
__ADS_1
"Oeeee" Sifa dan Ilham segera memeluk kedua putra Hanan yang baru datang "Pinternya cucu grandma. Pinter sekolahnya?"
Altaaf tersenyum lebar "Pinter"
Ilham merangkul Imran "Sini-sini, lihat adik kembar kalian"
Hanan dan Alana tersenyum menyambut kedua putranya "Sini sayang, cium baby Zira dan baby Arin" Ucap Hanan merangkul Imran
Kehadiran adik, tidak jarang memicu perasaan cemburu pada kakaknya. Sang kakak biasanya akan meluapkan berbagai emosi karena merasa perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya terbagi.
Untuk mencegah munculnya rasa iri pada sang kakak saat adik baru lahir, arahkan wajah baby tersebut pada kakaknya "Ayo cium sayang. Suatu saat, kak Imran akan menjadi pahlawan bagi adik-adiknya, ya. Kau tau, seorang kakak pasti melindungi adiknya" Hanan membungkuk, agar dirinya sama tingginya dengan Imran
"Iya, kak Imran kan udah pinter jagain Altaaf kan, sekarang, ditambahi deh. Adik-adik cantik, betul dad"
"Iya bund"
Imran masih terdiam
Perasaan cemburu, ini sebenarnya tergolong wajar. Namun, bukan berarti orangtua bisa diam saja dan membiarkan Si kakak bersikap seperti itu. Rasa cemburu seperti ini dikhawatirkan membuat hubungan si kakak dengan adik, dan bundanya menjadi tidak harmonis dan mengganggu perkembangan sosial dan emosional mereka.
Hanan dan Ilham sama-sama mengarahkan tangan mereka untuk menyentuh adik-adiknya
"Tuh, kalian mempunyai dua adik cantik sekaligus. Mereka seperti daddy kalian yang memiliki teman sewaktu bayi tu, ayo cium" Ilham terus membujuk kedua cucunya yang belum mau mencium baby twins
Imran dan Altaaf mulai pegang-pegang bayi tersebut "Daddy bilang, daddy kembar empat. Berarti, boxnya ada 4?" Imran mulai bertanya sambil pegang-pegang box yang ada disamping ranjang Alana
"Iya sayang. Grandma dikelilingi 4 bayi tampan seperti kalian berdua" Sifa
"Apa kami mirip Ma?" Tanya Altaaf pada Sifa
"Mirip sayang. Kalian mirip seperti daddy kalian. Ya Pa?" Jawab Sifa menatap Ilham
"Iya.. Tampan seperti grandpa haha" Ucap Ilham sambil terus bercanda
Ahaha
"Grandpa sudah beruban, dan sudah tua. Altaaf nggak mau tua. Ntar disekolah nggak boleh berangkat sekolah karena sudah tua" Protesnya membuat satu ruangan tertawa "Dikira Altaaf nggak naik sekolah"
Ahaha
"Makanya menjadi dokter" Sambung Altaaf lagi
Semuanya mengangguk dan menghangat
Imran mulai mengusap pipi merah baby Zira dan baby Arin bergantian
Alana sudah terharu melihat Imran yang tadinya menolak memiliki adik, sekarang mau mendekat
"Bund, apa dulu kakak merah seperti mereka?" Tanyanya sibuk usap sana usap sini
Alana mengusap rambut Imran "Iya sayang, kakak sama merah seperti mereka"
"Lucu ya bund"
"Iya lucu. Ciumlah"
Imran mulai mencium pipinya bergantian
"Sini, bunda ingin peluk kalian"
Imran dan Altaaf menghambur memeluk bundanya
Imran meraba-raba perut Alana yang masih besar "Ini masih ada lagi bund?"
"Tidak"
"Kirain masih bund"
"Kalau masih gimana, mau?" Tanya Sifa pada Imran
"Mau ma, nggak pa-pa. Biar kayak daddy. Kembar 4 sekaligus"
"Memang kakak ingin, punya adik lagi"
"Kalau lucu kayak gini, siapa yang mau nolak dad"
Ah haha
__ADS_1
Semuanya terlihat lega, setelah berbulan-bulan rasa cemas menghantui perasaan Alana
"Kalian adalah kakak yang baik, Sayang. Bunda bangga sama kalian” Pujinya membuat kedua kakaknya merasa selalu dibutuhkan kehadirannya
Dengan begitu, ia akan merasa bahwa hal yang dilakukan sudah tepat
-
Alana ingin turun dari ranjang, dan dibantu oleh Hanan
Hanan memegang kedua tangan Alana "Hati-hati sayang"
Mereka berhadapan
"Aku ingin jalan sampai kesana mas" Tunjuknya pada meja makan
Alana tidak mau makan ditempat tidur. Ia ingin makan dimeja makan, sambil latihan berjalan
Tiba-tiba ada tamu lagi yang datang.
"Assalamualaikum semua"
"Wa'alaikumusalam..."
"Eh, jeng maaf terlambat. Biasa, nungguin papanya yang sibuk dengan pekerjaannya" Ucap Anti segera memeluk Sifa. Kemudian memeluk kedua cucunya Imran dan Altaaf "Uh cakepnya cucu-cucu oma" Pujinya sambil cium dan menjembel gemas pipi-pipi mereka
Anti segera memeluk Alana "Gimana sayang, sudah mendingan"
"Lumayan ma"
"Ini, mama bawakan makanan untuk kalian. Sini Imran, Altaaf"
Semuanya bertambah gaduh karena keluarga ini bertambah lagi yaitu kedatangan tamu lain
Keluarga Fatih dan keluarga Husayn datang. Masing-masing membawa istri dan anaknya
"Altaaf, Imran. Boleh ya, mama Vivi membawa baby Zira untuk teman kak Fatiha"
"Ih jangan ma. Ntar Altaaf nggak punya adik"
"Iya, Imran juga nggak jadi jagain adiknya kalau diminta mama semua" Protes Imran
"Kalian minta lagi sama bunda. Ya, ya, ya"
"Ih nggak bisa. Imran nunggunya lama"
"Nggak lama. Bunda perutnya masih besar tuh. berarti masih ada bayinya"
"Nggak ma, katanya kosong. Ya bund" Imran minta dukungan Alana
BUHAHAHAAAAAA
"Anak sekarang, susah dikibulin" Fatih ikut menimpali
"Altaaf, papa Sayn tuker sama jajan satu kresek deh ya, mau"
"Udah dibilang kak Imran tadi nggak boleh. Bund, bilangin bund. jangan dibawa"
"Iya nggak" Alana
"Papa, beli aja ditoko mainan. Kan banyak bayi yang lucu yang dipajang ditoko" Ucap Imran yang membuat mengangah seluruh umat yang ada diruangan ini
"Mana bisa. Papa inginnya bayi yang ini Imran"
"Kalau aku nggak boleh"
"Papa paksa"
"Nggak bisa papa. Itu namanya perampokan"
"PERAMPASAN"
"Iya, itu"
AHAHAHA
BERSAMBUNG....
__ADS_1