
Sore hari diwaktu pulang kerja
Alana ikut mengantri untuk absensi dengan kawan-kawannya
Hanan yang melihat istrinya sudah berdesakan, tangannya menjulur ingin mengeluarkan Alana dari gerombolan
Alana sedikit menyingkirkan tangan Hanan yang ingin memegangnya "Ih, mas ah, antri sana"
"Hei, kamu yang keluar. Biasanya juga terakhir. Ujung-ujungnya kan nunggu juga"
"Ah, suka-suka. Udah kepalang tanggung. Mas sana antri sebelah ujung. Budayakan antri"
Hanan menghelah nafas, dan akan berjalan kebelakang
Tiba-tiba
Seseorang ada yang memberi jalan pada Hanan "Dok dok dok, silahkan depan saya dok"
Hanan langsung masuk dalam barisan "Makasih"
"Sama-sama dok"
Akhirnya, ada juga seseorang yang mengalah untuk bosnya
-
Alana sudah cemberut ingin menghilang dari Hanan
Hanan yang sudah dikasih jalan, sangat mudah untuk menemukan Alana
Baru saja Alana antri digerobak sipenjual cilok Solo depan rumah sakit ini, Hanan sudah menemukan "Lagi ngapain buk" Ucapnya dipinggir telinga Alana
Plok
"Ngagetin"
Tukang cilok yang melihat sang pemilik rumah sakit berantem mesra, ikut tersenyum
"Yang pedes mang" Kata Alana
"Jangan pedas-pedas" Cegah Hanan
"Nggak pa-pa terserah aku"
"Nanti perutmu sakit bund"
Tukang cilok melongo, bingung mau ikut yang mana
"Yang ingin cilok siapa" Sergah Alana
"Kamu"
"Yang mau makan siapa"
"Kamu"
"Ya udah terserah aku. Yang mau makan mulut dan perutku kok" Alana berbelok ketukang cilok "Yang pedes mang"
"Jangan pedas-pedas pak" Larang Hanan kembali
Alana melirik Hanan tak suka, lalu merebut cilok kuah tersebut dari tukang cilok "Sini mang"
Pross pross
Alana memberi caos dan sambal yang ada dibotol milik si penjual cilok "Yang bayar dia mang" Tunjuk Alana pada Hanan "Sekalian bungkusannya biar mas Hanan yang bayar" Alana langsung ngibrit keparkiran
"Bund, hey, kau mau kemana?"
Alana berhenti "Makan" Lalu kabur dan sudah tak tampak dari penglihatan Hanan yang sedang berdiri
Hanan geleng-geleng "Semuanya berapa pak" Hanan meraih dompetnya
"5 bungkus 50 ribu pak"
"Ini uangnya. Ntar, anterin kemobil itu ya pak" Tunjuk Hanan pada mobil ber letter H 44 NAN
"Siap pak dokter"
__ADS_1
-
Hanan mencari Alana diparkiran, sudah tidak ada. Ternyata, Alana sedang duduk dikursi depan pos satpam, sambil memakan cilok
Hanan datang, dan kembali meraih tangan Alana ,tapi lagi-lagi penolakan yang Hanan terima
"Kamu kenapa sih"
Alana tidak menjawab, tapi duduknya membelakangi Hanan
Para satpam yang melihat kedua bosnya sedang ada kemelut, satpampun masuk kegedungnya yang berukuran 2*2 meter ini
Alana membuang mangkok plastik cilok ke tong sampah
Dengan bibir yang memerah menahan pedas, Alana menatap Hanan "Pokoknya, aku ingin nasi padang. Aku ingin sambel ijo, sayur nangka, sama kepala kakap"
"Iya, iya. Ntar mampir" Tangan Hanan terus meraih tangan Alana
Alana mendorong tangan Hanan "Bohong. Pasti ujung-ujungnya mas melarang"
"Nggak, nggak bohong, nggak melarang. Ntar mampir"
Alana menyipitkan matanya "Ntar mampir disana, palingan diceramai doang. Ntar gagal" Alana terus berjalan menjauhi pos, lalu keparkiran mobil pasien
"Heh, itu kamu mau kemana. Itu mobil orang. Dilihatin banyak orang loh"
"Biarin. Masnya aja yang keterlaluan. Kurus nih, jarang makan nasi kesukaan"
Dasar Alana ceroboh, mobil orang lain ia pegang-pegang dan ingin membukanya
"Iya, iya nanti beli. Hei, mau ngapain kamu. Itu bukan mobil kita. Tuh dilihatin orangnya"
Alana tetap keras kepala "Biarin. Ini nggak boleh. Itu nggak boleh. Serba nggak boleh. Tersiksa tau"
Hanan tertawa sambil melambaikan tangan ke Alana "Ayok. Tuh yang punya mobil" Hanan meraih tangan Alana "Ini pak, Istri saya katanya ingin nebeng mobil bapak" Ucap Hanan pada seseorang yang akan membuka mobil tersebut
"Oh, silahkan mas" Ucap sipemilik mobil
Alana langsung menoleh, pada seseorang yang masuk kedalam mobil yang dipegang-pegang oleh Alana
Hanan tersenyum lebar sambil memeluk Alana yang terlihat memerah semua karena malu
Alana menyingkirkan tangan Hanan. Ia berjalan kearah depan, entah untuk membeli apalagi
"Eh dok, ini ciloknya" -Penjual cilok
Mau tidak mau, Hanan menerima, dan menyimpannya didalam mobil
Setelah beberapa menit
"Maaf dok, ini belanjaannya milik ibu"
"Apa ini"
"Roti"
"Banyak amat"
"Iya dok. Kata ibu buat persiapan" Ucap sipenjual roti
Hanan menerimanya. Baru satu kresek ditata, datang lagi belanjaan berikutnya
"Maaf dok, ini belanjaan ibu"
"Apa ini"
"Macam-macam keripik dan kerupuk"
"Kripik ??"
"Iya dok"
Hanan bersedekap diluar mobil "Ya udah masukkan"
Tiba-tiba "Mas bagi duit"
"Buat apaan"
__ADS_1
"Bayar utanglah"
Hanan menatap Alana dari bawah sampai atas, lalu berhenti pada kresek yang dibawa oleh Alana "Itu apa yang kau bawa"
"Sempolan" Alana menghirup nafas yang banyak "Ada bakso goreng, sosis goreng, papeda, Seblak" Alana mengangkat tangan kanannya "Dan ini jus buah, kesukaanku"
Srupuuuuuuttt
Alana menyedot minuman kental tersebut didepan Hanan
Lalu,
"Duit" Tangan Alana menengadah diudara
"Buat apaan"
"Bagi duit"
Hanan mengalah, dan mengambil dompetnya kembali "Kamu kan punya duit. Masa belanjaan sebanyak ini mas yang harus bayar"
"Nafkah"
"Nafkah-nafkah" Hanan memberi beberapa lembar ratusan ribu, tapi masih menyisahkan uangnya walau dua atau tiga lembar "Ini"
"Semua. Kurang ini" Alana merebut seluruh uang milik Hanan, lalu pergi lagi kedepan
Kali ini, Hanan mengikuti
Hormon berubah menjelang menstruasi, Itu biasa. Namun, jika perubahan hormonal ini lantas membuat kantong suami kempis, sepertinya ini perlu dicegah. Riset yang dilakukan oleh para psikolog menemukan bahwa, wanita cenderung berbelanja gila-gilaan sekitar 10 hari sebelum si tamu bulanan datang.
Para psikolog percaya, berbelanja dapat menjadi salah satu cara bagi para wanita yang mengalami sindrom premenstruasi /PMS. untuk mengatasi gejolak emosi yang tak menentu akibat hormon yang tidak stabil.
Seorang peneliti yang juga profesor psikologi di universitas luar negri, mengungkapkan, hampir sepertiga wanita yang mereka teliti dalam riset itu mengaku telah membeli barang secara impulsif pada masa PMS. Selain itu, mereka juga mengaku mengeluarkan uang dalam jumlah sangat banyak hingga kemudian menyesalinya.
Menurut pakar lain, kondisi hormon yang fluktuatif saat PMS dapat mempengaruhi bagian dari otak yang berhubungan dengan emosi dan kendali diri.
Itu sebabnya, pengeluaran uang pada masa ini menjadi kurang terkontrol, lebih impulsif, dan jumlahnya pun dapat berlebihan
-
Malam harinya
Mereka berempat berkumpul dengan makanan yang banyak dimeja. Tak ada senda gurau. Adanya tatap-tatapan karena sudah kenyang dengan makanan buruan Alana
"Bund, dedek capek. Dedek pelutnya udah gede. Sekalang, dedek ngantuk"
"Hmmm" Jawab Alana sambil ngemil ngemil malas karena kecapaian balapan makan
"Dedek !! Tungguin.. " Imran berdiri "Bund, dad. Kakak masuk. Kakak juga kenyang kayak dedek. Selamat malam"
"Hmmm"
Setelah Anak-anak masuk, Hananpun berdiri "Tuh, habiskan. Aku juga Kenyang !!" Kesal Hanan, lalu masuk kekamar
"Mas!! Terus ini gimana"
Hanan memundurkan badannya "Ya habiskan"
"Tapi, mas kan belum makan"
"Memang belum makan. Tapi mas kenyang lihat makanan sebanyak itu" Ucapnya meninggalkan Alana sendirian
"Mass!! Aku selalu menuruti apa yang mas ucap soal makanan. Sekarang gantian !!" Teriaknya
Hanan melongok "Gantian? Makanan anak kecil aku disuruh makan. Makan sendiri"
Akhirnya, Alana memakan sisanya, dan membuang yang sudah bikin sumpek dipenglihatan Alana
Para Art juga sudah kebagian makanan dan kenyang semua
Hanan lebih baik diam daripada komentar lagi
Siapa yang berani mengganggu wanita yang tengah PMS? Hormon yang sedang fluktuatif menyebabkan wanita jadi cepat jengkel, bicara lebih ketus dan ekspresi muka yang menyeramkan alias galak!
Bukan hanya kaum pria, ternyata wanita pun juga tidak mengerti mengapa saat sedang PMS, emosi mereka seolah tak terkendali, ada yang mendadak selalu ingin bersedih dan ada pula yang tiba-tiba menjadi judes tanpa sebab.
Saat wanita sedang mengalami PMS, sebaiknya pria mengikuti saja arus emosinya yang berjalan tanpa sinyal tersebut.
__ADS_1
Hanan tertidur dengan kesal dan menahan lapar
BERSAMBUNG.....