
"Ehehe" Dengan terpaksa, Alana duduk lagi ditengah tengah mereka berdua
Hanan menatap Alana tajam. Tapi Alana pura pura tidak tau
"Eh hehm.." Alana berdiri "Daddy, daddy mau lauk apa?" Tawarnya agar Hanan luluh
Belum Hanan menjawab, Imran sudah geger
"Bunda...!!! Telul sowang mana buuuuun" Imran berteriak menarik narik rok Alana minta diambilkan
"Eh eh eh, aduuuuh.. " Alana menurunkan piring Hanan yang sudah terisi nasi "Kata pak RT, sowangnya belum bertelor. Nanti, sehabis makan, kita jalan jalan keatas, kerumah pak RT, kita kontrol oke"
"Buuuuunndd... " Tegur Hanan "Mau ngapain ke pak RT ?"
Alana gantian menatap Hanan "Mau lapor, kalau aku tu, hamil. Ya jalan jalan lah dad. Cari angin segar, siapa tau jalan jalan itu pusingnya hilang" Alana kembali pada Imran "Sekarang, daripada Imran tidak punya lauk karena mau diambil daddy semmmuaa, Imran maunya telor yang mana sayang? besar, apa kecil"
"KECIL" Ucap mereka bersamaan
"Oke, suit dulu daddy sama Imran" Bujuk Alana
"Kenapa mau apa apa selalu suit terus. Heh, bener bener jadi anak kecil" Kesal Hanan
"Sudah jangan kebanyakan protes, ntar kesiangan lagi, katanya aku yang mencari gara gara" Tegur Alana
"Ayo, Imran, daddy suit. Satu dua tiga" Sambungnya
"DAM SUIT" Ucap Hanan dan Alana
Hanan dan Imran melakukan suit, tapi Hanan yang menang
"Ahaha daddy yang menang ya... Sekarang, daddy ingin telor yang mana?" Alana yang bikin masalah, Alana juga yang menengahi
"Telur puyuh dong" Jawab Hanan gembira
Imran narik narik rok Alana kembali "Bundaaa.. Imlan mau telul kicik bund. Daddy no no"
"Oh iya iya iya" Alana mengambilkan telur puyuh untuk Imran
"Yang banak bund" Protes Imran kembali
"Iya mau berapa? Daddy telur balado ya dad?" Menjawab pertanyaan Imran, sekaligus bertanya pada Hanan
"Tapi itu kan masaknya banyak bund.. Masak, ngalah lagi ngalah lagi" Ucap Hanan mengalah
"Sabar dad.. Kan sama anak" Jawab Alana agar Hanan mengalah sedikit
"Ah nggak percaya, kalau bukan karena ulahmu, tidak bakalan rebutan melulu tiap hari" Hanan benar benar kesal, tiap hari selalu ada drama
"Salah lagi salah lagi. Payah" Gumam Alana, tapi masih didengar oleh Hanan
"Sudah, jangan kebanyakan protes. Sini telurnya. Mau gede mau kecil siniin" Kesal Hanan
"Bundaaaa" Teriak Imran
"Iya iya, Imran mau telor berapa?"
"Yang banak"
"Di hitung dong, ayo dihitung"
__ADS_1
"1 - 2 - 3 - 4 - 5 eng eng eng belapa lagi bund Imlan lupa"
"6 - 7 - 8. Mau berapa ?"
"E eh delapan telol bund"
"Oke.." Alana mengambilkan 8 telor puyuh untuk Imran "Daddy mau?" Gantian, Alana bertanya pada Hanan
"Siniin deh"
-
Hanan kembali berangkat kerja tanpa Alana
"Ya sudah, berangkat kerja dulu ya bund.." Hanan mencium pelipis Alana, lalu mengusap perut Alana "Jaga bunda sayang, jangan rewel"
Alana tersenyum malu malu. Hanan selalu memperlakukan pada dirinya terlalu manis, meskipun diteras, Hanan selalu berpamitan dan melakukan hal romantis disana
Hananpun tak pernah ketinggalan berpamitan pada Imran
Hanan berjongkok, agar tingginya menyamai Imran "Sayang, jaga bunda dan dede ya"
Imran mengangguk faham
"Baiklah, daddy berangkat ya .."
Hanan mengusap kepala Alana, dan turun mengusap kepala Imran
"Bye sayang.. Jangan berantem" Nasehat Hanan
Mereka dadah dadah
"Ingat ya, jangan kerumah pak RT" Teriak Hanan yang sudah didalam mobil
-
Alana seperti disuruh, jika diingatkan jangan. Maka, dia akan melakukan larangannya
"Bik, hari ini bibi belanja ya?" Tanya Alana pada bi Surti
"Iya bu"
"Bik, aku pingin ikut jalan jalan keatas bik. Diatas ramai kan ya, kalau pagi pagi gini"
"Ramai bu, kan ada pasar kalau pagi pagi begini. Namanya pasar krempyeng ( Pasar ramainya pagi) dan saya, belanjanya disana juga" Jelas bi Surti
"Oh, kalau gitu aku ikut deh, sekalian jalan jalan"
"Iya, jalan santai pagi pagi gini kan baik buat kesehatan ibu hamil. Disana juga banyak bu yang pada hamil kayak ibu. Sekalian jalan jalan, sekaligus mereka berbelanja hehe" Jelas Surti lagi
Alana manggut manggut
"Mbak Rasti, ikut yuk mbak" Ajak Alana pada Rasti
"Mau kemana ya bu?" Jawabnya lagi sibuk dengan baju yang ia setrika
"Oh tanggung ya mbak. Ya sudah deh, aku ikut bibi bareng Imran ya mbak" Pamitnya pada Rasti
"Iya bu hati - hati"
__ADS_1
Tugas Rasti sekarang membantu bi Surti, masalah baju. Dan bantu lainnya jika Imran bersama Alana
Tidak enak juga, jika Rasti sering nganggur. Padahal anak yang ia asuh, selalu lengket dengan Alana
"Bunda.. Imlan itut"
"Iyalah, kamu kan memang selalu nomor satu"
-
Akhirnya Alana, Imran, dan bik Surti berjalan menanjak keatas
Orang orang yang berpapasan dengan mereka, semuanya menyapa
"Met pagi bu Hanan, bik Surti, ini cah bagus siapa namanya ?" Tanya seseorang yang menyapa, sambil memegang janggut Imran
"Imlan" Jawab Imran.
Bik Surti dan Alana hanya tersenyum mendengar Imran menjawab sapaan orang lain.
"Wah pinter.. Berapa tahun putranya bu Hanan?" Tanyanya sambil mengusap rambut Imran
Alana sempat bingung, kenalan saja tidak pernah, kenapa sudah sebut namanya dengan sebutan ibu Hanan
"Oh, tiga tahun jalan bu" Jawab Alana ramah
"Oh, ya sudah, saya permisi ya bu Hanan, bik, Imran" Kembali tangannya memegang janggut Imran gemas
Sesampainya diatas, Imran jadi sorotan para ibu ibu yang sedang berkerubung pada bapak bapak penjual sayur sayuran dipasar krempyeng
"Yuk, kita cari camilan aja ya sayang... " Alana menggandeng Imran menjauhi tukang sayur "Bik, kita ke tukang kue itu ya bik" Ucapnya pamit sama bik Surti
"Iya bu"
Di penjual kue
Imran mengabsen jajan yang tertata rapih dimeja sipenjual "Bunda... Imlan mau telul sowang bund...Sini ada nggak?"
"Apa dek, telur.... " Belum ucapannya selesai dipotong oleh Alana
"Telur sowang mas. Penasaran banget sama telur sowang" Jelas Alana sambil memilih kue yang ia suka
"Oh itu sowangnya" Tunjuk si tukang kue
Imran langsung jingkrak jingkrak kegirangan "Bundaaa, itu bund, dipoto bund, bulu buuuund"
"Iya iya, kita bayar dulu. Berapa mas totalnya"
"Empat puluh ribu rupiah"
Setelah membayar, Imran menarik narik baju Alana untuk mendekati si Sowang
Baru beberapa melangkah sowang tersebut menyosor, dan teriak teriak
"Sowangnya galak, lari buuuu" Teriak ibu ibu yang belanja
Karena sowangnya menyosor terus, Alana mundur mengangkat Imran spontan, Alana tidak ingin Imran disosor oleh sowang tersebut
Saking takutnya, Dan teriakan orang orang membuat keruh keadaan, kaki Alana justru terpeleset masuk kekolang kolang (Parit) milik warga
__ADS_1
"AAAAAAAKKKKKKKK" Jeritan semua orang yang melihat Alana terjatuh
BERSAMBUNG......