Menikahi Ipar

Menikahi Ipar
Bab 36


__ADS_3

Hanan dan Alana sudah diteras


"Kak, hari ini, kami boleh belanja nggak kekota. Alat alat dirumah semuanya nggak ada" Alana meminta izin sekaligus mengadu


"Oh, kalau gitu, ikut kekota aja sekarang"


"Tapi Imran"


"Imran nggak usah dibawa, kamunya saja yang ikut"


"Ya aku belum dandan, ntar kakak kesiangan nungguin"


"Bajumu bagus kok, nggak usah ganti. Ambil alat make up aja, terus dandan dimobil, buruan" Hanan mendorong pelan punggung Alana, agar Alana masuk kedalam rumah


Beberapa detik, Alana keluar "Ini beneran aku akan diajak?"


"Iya"


"Nggak malu maluin"


"Nggak, ayo. Alat make up nya dibawa kan"


"Iya, ini" Alana mengangkat pouch yang diduga berisi alat perang untuk berdandan


Alana melongok samping rumah "Mbak Rasti mbak" Teriak Alana


Rasti menghampiri "Ya bu"


"Mbak, kami tinggal dulu ya, aku ikut daddynya Imran. Nitip Imran. Kalau nangis, telpon"


"Iya bu"


-


Hanan dan Alana sudah duduk dijok belakang. Hanan sengaja mengajak pak sholeh untuk bantu membawa alat alat yang masih banyak yang belum ditata disana


Alana sedang sibuk memoles wajahnya agar tampak fres dan cantik


Hanan memegang eyeliner "Ini kok gambarnya mata, ini apa namanya, buat apaan"


Alana langsung merebut benda itu dari tangan Hanan "Ih, kakak ribut aja, siniin"


Hanan kembali ribut, ia mengambil benda yang mirip seperti tadi "Ini juga gambarnya mata, kok mata semua" Hanan memutar, lalu menarik benda tersebut


"Eh eh, jangan main tarik" Teriak Alana sambil merebut barang tersebut


"Heh... Kan penasaran, kok bentuknya kaya sisir"


"Itu namanya mascara" Alana kembali berdandan


"Cara makainya"


"Ya Allah... Siniin kak. Aku nggak mau kakak jadi waria ya" Alana merebut kembali mascara tersebut dari tangan Hanan, karena Hanan barusan jail mengambil barang itu lagi.


Alana merubah duduknya menjadi membelakangi Hanan "Kakak menghadapnya kesana, jangan ganggu aku"


"Iya iya"


Beberapa menit sepi, tapi tangan Hanan mulai nakal. Tangannya mulai meraba perut Alana dari belakang


Plok


"Ihhhhhh" Alana mencubit kulit tangan Hanan agar kapok


"Adddaaaaaa" Hanan langsung mengibas ngibaskan tangannya agar cepat sembuh


Alana melepaskan tangan Hanan, karena Hanan sudah menariknya dengan rasa kesakitan


"Rasain" Alana berdiri membungkuk ingin pindah tempat kedepan


"Eh mau kemana" Hanan menarik rok milik Alana sekenanya

__ADS_1


"Pindah. Pak sholeh kan nggak usil. Nggak kaya kakak. Usilnya setelah mati


"Ya ya, nggak usil. Duduk sini dong, temenin aku" Hanan belum mau melepaskan Alana


"Janji nggak usil ya.. "


"Iya aman"


-


Sesampainya dirumah sakit ibu dan anak, merekapun turun


"Rumah sakit ibu dan anak Assifa" Alana menoleh kearah Hanan sambil tersenyum


"Maaf ya bund, daddy memakai nama mama. Bukan nama bunda"


"Tidak apa apa, justru aku malu kalau memakai namaku" Jawab Alana sambil bergelayut dilengan Hanan. Tapi ia buru buru melepasnya, malu kalau dilihat orang


"Terima kasih ya" Hanan menepuk nepuk tangan Alana dengan lembut


Rumah sakit ini belum terlalu besar yang dibangun, tetapi isinya sudah komplit


Struktur juga sudah terisi walaupun masih dobel dobel menjabatnya. Maklum masih baru, yang penting periklanan terus dilakukan agar rumah sakit ini cepat terkenal


Pembangunan masih terus dilakukan, ditanah yang masih kosong yang ada dibelakang gedung ini


Alana dan Hanan sudah masuk, langsung disambut oleh resepsionis


"Selamat pagi dok, bu" Sapanya memberi salam


"Pagi, sudah ada tamu?" Hanan menjawab, sambil menunjuk 3 orang ibu hamil yang sedang duduk menunggu jam pemeriksaan


"Sudah dok, mereka yang mau cek kandungan ada tiga orang, dan satu ibu yang akan melahirkan, sudah ada didalam"


"Ya sudah, kami masuk ya" Pamit Hanan sambil memegang punggung Alana, tapi langsung ia turunkan


Mereka memang sama, tidak mau mengumbar kemesraan didepan orang yang dikenal. Takut dikira alay, kecuali dimall, mereka pasti bergandengan, takut hilang, ataupun salah gandeng


Hanan berjalan melintas didepan para ibu ibu hamil yang sedang menunggunya.


-


Alana masuk keruangan Hanan "Hmm harum, baunya segar, nyaman"


"Oiya. Suka?"


"Iya suka"


"Bund, bantuin daddy untuk periksa pasien dulu ya, mau?"


"Pakai baju ini?" Alana tidak menjawab pertanyaan Hanan. Tetapi, dia malah menunjuk bajunya yang ia pakai sekarang


"Janganlah, baju perawat ada kok yang bersih. Sengaja daddy nyimpan satu untukmu. Nggak papa ya, buat jaga jaga, kalau daddy nggak ada yang bantuin"


"Asal jangan disuruh bantu ngelahirin aja, nggak tahan" Manjanya


"Aneh kamu. Ya sudah, ganti pakaiannya dulu. Bentar lagi pemeriksaan akan segera dilakukan"


-


Alana dan Hanan sudah siap


Pasien pertama masuk


Ibu hamil ini masuk dengan saudara perempuannya "Permisi dok.."


"Silakan duduk" Ucap Hanan mempersilakan


Hanan membaca biodata sicalon ibu "Ibu Eli, usia 29 tahun, hamil anak pertama ya bu, betul?"


"Betul dok"

__ADS_1


"Usia 29, berarti sudah matang. Ada riwayat keguguran?"


"Tidak dok"


"Mana suaminya? ibu datang bersama siapa ini" Tanya Hanan tegas, menunjuk perempuan yang lebih tua sedikit daripada ibu yang hamil


"Dia kakak saya dok" Jawab Eli menunjuk kakaknya


"Lalu, suaminya dimana?" Tanya Hanan lagi, karena pertanyaan pertama belum dijawab


"Sibuk dok"


"Sibuk ?? Seharusnya jangan begitu. Kehamilan si istri, suami itu harus tau perkembangannya" Hanan berdiri "Sekarang silakan diperiksa dulu bu" Hanan mempersilakan pasien untuk menuju bed periksa, yang sudah ada Alana disana


Alana tersenyum menyambut sipasien "Silakan naik bu"


Eli pun menaiki bed dengan tangga kecil yang sudah tersedia dibawah sana


"Rebahan dulu ya bu"


Setelah pasien sudah rebahan, Alana akan membantu membuka dasternya dari bawah


"Maaf ya bu" Izin Alana dengan sopan


Tapi, Eli segera menahan dasternya, agar tidak dibuka oleh Alana


"Maaf mbak, saya mau pakai kain dulu" Elipun segera memakai kainnya dengan cepat


Hanan mendekati "Besok lagi, kalau mau periksa, pakai leging. Leging kan nggak bahaya untuk ibu hamil"


"Iya dok maaf, saya nggak tau"


Alana segera mengolesi gel pada perut si pasien


Hanan mulai memeriksa "Iya, jauhkan dari rumah kemari?" Tanya Hanan


"Jauh"


"Naik apa?"


"Motor"


"lah, kan bahaya. Ibu pakai daster itu boncengnya miring apa menghadap kedepan"


"Miring"


"Tuh kan, boyoken nanti bu, bahaya juga, takut dasternya masuk ke rantai. Besok lagi pakai leging. Terus ditumpukin gamis kan nggak masalah"


"Iya dok"


Setelah selesai pemeriksaan, Hanan menjelaskan sesuai yang ia lihat di monitor


"Bu, kandungan ibu bagus. Detak jantungnya juga bagus. Tapi, bayi ibu terlalu kecil untuk usia kandungan ibu yang sudah hampir melahirkan "


"Terus saya harus bagaimana dok"


Sambil menjelaskan, Hanan sibuk menulis resep "Konsumsi es krim ya bu. Alergi susu nggak?"


"Nggak"


"Sebelum memeriksa kandungan disini, ibu periksa dimana?"


"Dibidan dekat rumah"


"Oh. Alergi obat nggak?"


"Nggak"


"Oke, ini resepnya ya bu, dan ibu harus datang memeriksa lagi setengah bulan lagi. Jangan lupa, ajak suami"


"Iya dok, pasti akan saya tarik kesini biar tanggung jawab dok hehe. Sekali lagi makasih ya dok"

__ADS_1


"Iya sama sama"


BERSAMBUNG....


__ADS_2