
Hanan sampai dirumah sudah terlalu malam
Seperti biasa, Alana selalu dijemput oleh Sholeh, ketika jam kerjanya sudah habis
Alana sering pulang duluan, karena ada anak-anak yang selalu menunggu kepulangannya
karena Alana belum mau menyetir sendiri, terpaksa Hanan menyuruh Sholeh untuk menjemput istrinya. Ditambah jalanan diperumahannya terlalu curam, dan Alana bilang, takut tergulir
Sebenarnya, Hanan ingin Alana jangan pulang terlebih dahulu. Jika perlu, Sholeh suruh mengantarkan kedua putranya saja untuk datang kerumah sakit. Tapi Alana menolak, kasihan anak-anak, toh daddynya juga sibuk, percuma anak-anak datang, tapi bapaknya tidak bisa menemani
Kembali ke Hanan
Hanan masuk kekamar
Hanan mengernyitkan dahi "Kok belum tidur " Tanyanya sambil melepas baju kerjanya
Alana terdiam karena serius dengan ponselnya
Hanan masuk kedalam kamar mandi, untuk membersihkan diri
Setelah usai, Hanan keluar dan naik keatas ranjang
Hanan mendekati Alana "Ngapain sih, ditanya nggak jawab" Tangan Hanan ingin mengambil benda yang ada ditangan Alana, yang sudah mengalihkan perhatiannya
Alana menyingkirkan tangan Hanan yang mengganggu acaranya membaca novel diponselnya
"Kamu ngapain sih, malah mentingin baca gituan daripada ngurusin suami"
"Ih, sebentar mas biar dapat poin"
"Poin apaan"
"Ish aku ingin ngasih secangkir kopi buat authornya"
Hanan mengerutkan dahi "Hanya kopi kamu sibuk. Bibik kan bisa. Suruh aja sibibik bikin. Dimana si itu authornya. didepan?"
"Iya, didepan sini" Tunjuk Alana pada ponselnya "Ya nggak taulah mas"
"Aneh. Nggak tau kok mau bikinin kopi. Lagian sudah malam. Ntar authornya nggak bisa tidur karena kebanyakan kafein" Hanan meluruskan tubuhnya
Alana melirik "Kalau mas nggak ngerti, cukup diam dan istirahat" Alana sibuk kembali dengan ponselnya
Hanan yang tidak faham mulai jengah, lalu meringkuk membelakangi Alana "Begini ni, nasib suami yang terlantar"
5 menit kemudian
Alana girang setelah misinya terselesaikan
"Yess" Alana melirik kearah Hanan "Sudah tidur rupanya, cepet banget. Perasaan baru semenit aku ngomong ya" Alana memegang pundak Hanan, lalu menggoyangkan sedikit "Mas, mas sudah tidur"
Mata Hanan terlihat tertutup dan mulutnya tidak menjawab
Alana mulai menindih tubuh Hanan, yang tertidur miring
Dengan sengaja, Hanan mengibaskan Alana, hingga Alana terjatuh dari tubuhnya
"Eh, eh" Tangan Hanan segera menarik tubuh Alana, hingga Alana terjerembab diatas tubuhnya
"Ish, kirain nyuruh aku tidur bersama anak-anak" Ucapnya masih tertumpuk diatas tubuh Hanan
Alana menurunkan kaki kanannya, tapi ditahan oleh Hanan "Mau kemana?"
Alana terdiam, dan terlihat kesal
Ada banyak cara merayu istri, agar hatinya bisa luluh dan makin cinta pada dirinya
__ADS_1
"Lihat saja, kalah kamu ditanganku" Gumamnya sambil menatap Alana penuh cinta
Para suami, pastinya harus menguasai kemampuan untuk merayu istri
Tidak melulu soal percintaan di atas ranjang, tapi juga untuk menguatkan ikatan emosional mereka
Dengan suara rendah dan penuh kelembutan, Hanan mencoba mencum bu Alana. Tak usah berteriak makan energi, mending pelan yang penting hasilnya memuaskan
Suara Hanan yang lembut dan masih terdengar olehnya, tentunya menjadi lebih privat dan mesra ditelinganya
Atmosfer romantis pun, lebih mudah tercipta.
"Bunda harum banget, suka mas bau wangimu. Memabukkan" Bisikan kata-kata pujian di telinga Alana, membuat Alana terbuai.
Ditambah Hanan menggesekkan wajahnya yang penuh dengan bulu-bulu tipis, membuat Alana merinding menuntut
Hanan menjauhkan wajahnya dari wajah Alana "Mau pakai daster, nggak pakai baju sekalipun, istriku tetap cantik"
Cup
Hanan mencium bibir Alana yang sudah siap menerima serangan malam dari Hanan
Pipi Alana langsung bersemu merah ketika netra mereka bertemu inten
Hanan kembali mendekatkan wajahnya kewajah Alana, tanpa menyentuhnya sama sekali
Saat wajah saling berdekatan tanpa melakukan sentuhan, kemesraan pastinya akan terpancar dari setiap hela napas dan detak jantung mereka
"Malam ini, mas ingin tempur kamu. Sampai kamu benar-benar puas dan tidak seperti malam-malam yang lalu"
Alana tersenyum
Posisi wajah mereka yang berdekatan, akan membuat pasangan ini merasa inti m. Hal ini juga akan membuat istri merasa istimewa karena suami membisikkan kata-kata cinta yang hanya bisa didengarnya.
Selain pintar memberi wejangan kepada pasiennya, Hanan juga ahli dan menguasai dalam bidang merayu istri
Hanan terus bertanya hal yang menjurus ranjang
Dari cara tangan Hanan yang sudah melepas kancing satu persatu baju Alana, sudah jelas Hanan ingin mengajak Alana untuk bercinta
Hanan mengecup bibir Alana, namun tangan Hanan mulai membelai dan memberi sentuhan-sentuhan kecil di bagian sensitif tubuh Alana
"Ssss" Alana menggigit bibir bawahnya
Hanan benar-benar pandai membuat Alana
gerah karena terang sang.
Biarpun Alana memakai daster, Hanan tak pernah mengkritik penampilannya
Hanan tidak ingin membuat Alana merasa rendah diri atau tidak cantik
Hanan mulai melucuti daster yang Alana kenakan "Perasaan mas baru lihat daster ini"
"Dikasih mama kemarin"
"Cantik"
Cup
Kembali bibir Hanan menyambar bibir Alana
"Yang cantik apanya? Dasternya?"
Hanan berdiri dengan lututnya, sambil melepaskan seluruh kain yang melekat dibadannya "Orangnya" Hanan tersenyum, Alanapun tersipu
__ADS_1
Memuji istri, juga bisa membuat istri makin jatuh cinta dan jatuh dalam pelukan suami.
Hanan mulai mencondongkan tubuhnya diatas tubuh Alana "Siap ya" Bisiknya
Meski sederhana, namun dampaknya sangat luar biasa. Istri akan merasa lebih dihargai dan dicintai dengan rayuan ini.
Hanan sudah membuka jalan lahir Altaaf, pedangnya perlahan ia hujamkan kegoa lembab milik Alana
Mulut Alana mengangah saking dalamnya pedang suaminya menghujam kedaerah intinya
Hentakan yang tadinya pelan, perlahan mulai cepat
Kembali Hanan malu mat habis bibir ranum Alana "Gantian"
Hanan telentang, dan Alana diangkat diatas perutnya "Ih basah semua mas"
"Nggak pa-pa lakukan "
Alana segera memimpin dan mulai mengayunkan panggulnya "Sssssssss"
"Aaaaaaaakkkh" Hanan menggigit puti ng payu dara Alana
Alana menghentikan iramanya dan diam sesaat diatas tubuh Hanan
Alana mengangkat wajahnya
Hanan tersenyum "Enak?"
Alana mengangguk "Hmm" Alana terkapar disamping Hanan "Capek mas"
-
Pagi harinya, biasa mereka mandi basah bersama
Hanan sudah rapih dengan balutan serba putih, dan menggunakan stelan tuxedo
Hari ini ada seminar diuniversitas kedokteran, yang ada dikota ini.
Alana membantunya merapihkan "Mas tampan sekali. Aku tidak rela para mahasiswi menatap mas hah" Alana ingin menangis dan memutar tubuhnya membelakangi Hanan, tengkurap diatas kasur
Hanan tersenyum lebar
Tangan Hanan menjulur, sambil melepas handuk yang masih menggelung dikepala Alana, lalu memegang pinggang Alana dari belakang "Hei.. Ada apa denganmu. Mas tetap untukmu. Seharusnya, kamu itu bangga punya suami yang tampan" Hanan terkikik geli, melihat tingkah Alana
Alana berbalik hingga mereka bersitatap
Alana dibantu berdiri "Janji ya mas"
Hanan mengangguk "Eh, janji apa dulu"
"Janji jangan ninggalin aku"
"Dih, istriku. Pagi-pagi sudah membuat mas ingin melepas baju lagi " Hanan mengendurkan dasinya
"Eh, Eh jangan" Alana menghalangi tangan Hanan yang akan melepas lilitan dasi
Alana kembali merapihkan
Hanan menatap Alana yang sibuk dengan dasi dan mengusap -usap dadanya "Bagi mas, kau wanita yang paling pinter, cantik. Tak ada yang lain Aamiin.."
Alana segera mengalung keleher Hanan "Ingin ikut" Manjanya
"Ish, kau ini. Kalau dirumah sakit suruh ke ruanganku nggak mau. Giliran ini, mau bertemu ratusan mahasiswa mau ikut" Hanan menatap Alana serius "Bener mau ikut"
Alana terdiam ragu
__ADS_1
"Gimana, ikut nggak "
BERSAMBUNG.......