Menikahi Ipar

Menikahi Ipar
Bab 103


__ADS_3

Hanan sampai dirumah sudah terlalu malam


Seperti biasa, Alana selalu dijemput oleh Sholeh, ketika jam kerjanya sudah habis


Alana sering pulang duluan, karena ada anak-anak yang selalu menunggu kepulangannya


karena Alana belum mau menyetir sendiri, terpaksa Hanan menyuruh Sholeh untuk menjemput istrinya. Ditambah jalanan diperumahannya terlalu curam, dan Alana bilang, takut tergulir


Sebenarnya, Hanan ingin Alana jangan pulang terlebih dahulu. Jika perlu, Sholeh suruh mengantarkan kedua putranya saja untuk datang kerumah sakit. Tapi Alana menolak, kasihan anak-anak, toh daddynya juga sibuk, percuma anak-anak datang, tapi bapaknya tidak bisa menemani


Kembali ke Hanan


Hanan masuk kekamar


Hanan mengernyitkan dahi "Kok belum tidur " Tanyanya sambil melepas baju kerjanya


Alana terdiam karena serius dengan ponselnya


Hanan masuk kedalam kamar mandi, untuk membersihkan diri


Setelah usai, Hanan keluar dan naik keatas ranjang


Hanan mendekati Alana "Ngapain sih, ditanya nggak jawab" Tangan Hanan ingin mengambil benda yang ada ditangan Alana, yang sudah mengalihkan perhatiannya


Alana menyingkirkan tangan Hanan yang mengganggu acaranya membaca novel diponselnya


"Kamu ngapain sih, malah mentingin baca gituan daripada ngurusin suami"


"Ih, sebentar mas biar dapat poin"


"Poin apaan"


"Ish aku ingin ngasih secangkir kopi buat authornya"


Hanan mengerutkan dahi "Hanya kopi kamu sibuk. Bibik kan bisa. Suruh aja sibibik bikin. Dimana si itu authornya. didepan?"


"Iya, didepan sini" Tunjuk Alana pada ponselnya "Ya nggak taulah mas"


"Aneh. Nggak tau kok mau bikinin kopi. Lagian sudah malam. Ntar authornya nggak bisa tidur karena kebanyakan kafein" Hanan meluruskan tubuhnya


Alana melirik "Kalau mas nggak ngerti, cukup diam dan istirahat" Alana sibuk kembali dengan ponselnya


Hanan yang tidak faham mulai jengah, lalu meringkuk membelakangi Alana "Begini ni, nasib suami yang terlantar"


5 menit kemudian


Alana girang setelah misinya terselesaikan


"Yess" Alana melirik kearah Hanan "Sudah tidur rupanya, cepet banget. Perasaan baru semenit aku ngomong ya" Alana memegang pundak Hanan, lalu menggoyangkan sedikit "Mas, mas sudah tidur"


Mata Hanan terlihat tertutup dan mulutnya tidak menjawab


Alana mulai menindih tubuh Hanan, yang tertidur miring


Dengan sengaja, Hanan mengibaskan Alana, hingga Alana terjatuh dari tubuhnya


"Eh, eh" Tangan Hanan segera menarik tubuh Alana, hingga Alana terjerembab diatas tubuhnya


"Ish, kirain nyuruh aku tidur bersama anak-anak" Ucapnya masih tertumpuk diatas tubuh Hanan


Alana menurunkan kaki kanannya, tapi ditahan oleh Hanan "Mau kemana?"


Alana terdiam, dan terlihat kesal


Ada banyak cara merayu istri, agar hatinya bisa luluh dan makin cinta pada dirinya

__ADS_1


"Lihat saja, kalah kamu ditanganku" Gumamnya sambil menatap Alana penuh cinta


Para suami, pastinya harus menguasai kemampuan untuk merayu istri


Tidak melulu soal percintaan di atas ranjang, tapi juga untuk menguatkan ikatan emosional mereka


Dengan suara rendah dan penuh kelembutan, Hanan mencoba mencum bu Alana. Tak usah berteriak makan energi, mending pelan yang penting hasilnya memuaskan


Suara Hanan yang lembut dan masih terdengar olehnya, tentunya menjadi lebih privat dan mesra ditelinganya


Atmosfer romantis pun, lebih mudah tercipta.


"Bunda harum banget, suka mas bau wangimu. Memabukkan" Bisikan kata-kata pujian di telinga Alana, membuat Alana terbuai.


Ditambah Hanan menggesekkan wajahnya yang penuh dengan bulu-bulu tipis, membuat Alana merinding menuntut


Hanan menjauhkan wajahnya dari wajah Alana "Mau pakai daster, nggak pakai baju sekalipun, istriku tetap cantik"


Cup


Hanan mencium bibir Alana yang sudah siap menerima serangan malam dari Hanan


Pipi Alana langsung bersemu merah ketika netra mereka bertemu inten


Hanan kembali mendekatkan wajahnya kewajah Alana, tanpa menyentuhnya sama sekali


Saat wajah saling berdekatan tanpa melakukan sentuhan, kemesraan pastinya akan terpancar dari setiap hela napas dan detak jantung mereka


"Malam ini, mas ingin tempur kamu. Sampai kamu benar-benar puas dan tidak seperti malam-malam yang lalu"


Alana tersenyum


Posisi wajah mereka yang berdekatan, akan membuat pasangan ini merasa inti m. Hal ini juga akan membuat istri merasa istimewa karena suami membisikkan kata-kata cinta yang hanya bisa didengarnya.


Selain pintar memberi wejangan kepada pasiennya, Hanan juga ahli dan menguasai dalam bidang merayu istri


Hanan terus bertanya hal yang menjurus ranjang


Dari cara tangan Hanan yang sudah melepas kancing satu persatu baju Alana, sudah jelas Hanan ingin mengajak Alana untuk bercinta


Hanan mengecup bibir Alana, namun tangan Hanan mulai membelai dan memberi sentuhan-sentuhan kecil di bagian sensitif tubuh Alana


"Ssss" Alana menggigit bibir bawahnya


Hanan benar-benar pandai membuat Alana


gerah karena terang sang.


Biarpun Alana memakai daster, Hanan tak pernah mengkritik penampilannya


Hanan tidak ingin membuat Alana merasa rendah diri atau tidak cantik


Hanan mulai melucuti daster yang Alana kenakan "Perasaan mas baru lihat daster ini"


"Dikasih mama kemarin"


"Cantik"


Cup


Kembali bibir Hanan menyambar bibir Alana


"Yang cantik apanya? Dasternya?"


Hanan berdiri dengan lututnya, sambil melepaskan seluruh kain yang melekat dibadannya "Orangnya" Hanan tersenyum, Alanapun tersipu

__ADS_1


Memuji istri, juga bisa membuat istri makin jatuh cinta dan jatuh dalam pelukan suami.


Hanan mulai mencondongkan tubuhnya diatas tubuh Alana "Siap ya" Bisiknya


Meski sederhana, namun dampaknya sangat luar biasa. Istri akan merasa lebih dihargai dan dicintai dengan rayuan ini.


Hanan sudah membuka jalan lahir Altaaf, pedangnya perlahan ia hujamkan kegoa lembab milik Alana


Mulut Alana mengangah saking dalamnya pedang suaminya menghujam kedaerah intinya


Hentakan yang tadinya pelan, perlahan mulai cepat


Kembali Hanan malu mat habis bibir ranum Alana "Gantian"


Hanan telentang, dan Alana diangkat diatas perutnya "Ih basah semua mas"


"Nggak pa-pa lakukan "


Alana segera memimpin dan mulai mengayunkan panggulnya "Sssssssss"


"Aaaaaaaakkkh" Hanan menggigit puti ng payu dara Alana


Alana menghentikan iramanya dan diam sesaat diatas tubuh Hanan


Alana mengangkat wajahnya


Hanan tersenyum "Enak?"


Alana mengangguk "Hmm" Alana terkapar disamping Hanan "Capek mas"


-


Pagi harinya, biasa mereka mandi basah bersama


Hanan sudah rapih dengan balutan serba putih, dan menggunakan stelan tuxedo


Hari ini ada seminar diuniversitas kedokteran, yang ada dikota ini.


Alana membantunya merapihkan "Mas tampan sekali. Aku tidak rela para mahasiswi menatap mas hah" Alana ingin menangis dan memutar tubuhnya membelakangi Hanan, tengkurap diatas kasur


Hanan tersenyum lebar


Tangan Hanan menjulur, sambil melepas handuk yang masih menggelung dikepala Alana, lalu memegang pinggang Alana dari belakang "Hei.. Ada apa denganmu. Mas tetap untukmu. Seharusnya, kamu itu bangga punya suami yang tampan" Hanan terkikik geli, melihat tingkah Alana


Alana berbalik hingga mereka bersitatap


Alana dibantu berdiri "Janji ya mas"


Hanan mengangguk "Eh, janji apa dulu"


"Janji jangan ninggalin aku"


"Dih, istriku. Pagi-pagi sudah membuat mas ingin melepas baju lagi " Hanan mengendurkan dasinya


"Eh, Eh jangan" Alana menghalangi tangan Hanan yang akan melepas lilitan dasi


Alana kembali merapihkan


Hanan menatap Alana yang sibuk dengan dasi dan mengusap -usap dadanya "Bagi mas, kau wanita yang paling pinter, cantik. Tak ada yang lain Aamiin.."


Alana segera mengalung keleher Hanan "Ingin ikut" Manjanya


"Ish, kau ini. Kalau dirumah sakit suruh ke ruanganku nggak mau. Giliran ini, mau bertemu ratusan mahasiswa mau ikut" Hanan menatap Alana serius "Bener mau ikut"


Alana terdiam ragu

__ADS_1


"Gimana, ikut nggak "


BERSAMBUNG.......


__ADS_2