
Sore hari, kedua putra Hanan datang bersama pak Sholeh. Mereka berdua sudah diambang pintu
"BUNDAAAA... " Sapa mereka berdua
Alana tersenyum sambil merentangkan kedua tangannya "Sini sayang"
Mereka menghambur memeluk Alana
Imran mengurai pelukan "Bunda, bunda sakit apa" Imran berdiri disamping ranjang, dan menatap tangan Alana yang sudah ada infus yang menancap disana
"Apa bunda sakit parah?" Altaaf melirik Imran yang sama-sama khawatir dengan Alana
"Bunda baik-baik saja. Jangan khawatir. Kan ada daddy" Ucapnya sambil menghujani ciuman untuk mereka berdua
Imran menyapuh seluruh ruangan, tetapi tidak menemukan ayahnya "Daddy mana bund, disini nggak ada"
"Tadi ada pasien, jadi daddy turun"
Altaaf naik ke ranjang, dan rebahan disamping Alana "Bunda, dedek boleh ya nginep disini"
Alana mengusap kepala Altaaf "Tanya daddy dulu ya, kalau daddy bilang iya, berarti kak Altaaf boleh tidur disini"
"Kok kak si bund" Protes Altaaf
Imran diam, tapi ikut bingung. Imran mendekat "Bund. Bunda harus dirawat inap ya"
"Duduk samping bunda sayang" Alana menarik pelan tangan Imran
Imran sudah duduk disampingnya, lalu memeluk Alana kembali "Bunda sakit apa si bund" Tanyanya lagi "Kenapa musti nginep disini. Sakit bunda pasti serius ya"
Alana tersenyum, ingin sekali rasanya memberi tau soal kehamilannya kepada kedua putranya, tapi mulai darimana karena Hanan tidak berada disini
Menunggu kehamilan dan kelahiran anak yang Alana kandung, merupakan hal yang menyenangkan sekaligus menantang. Terutama bagi Imran dan Altaaf.
Salah satu tugas terpenting yang Alana miliki adalah menyiapkan Altaaf dan Imran untuk tergabung dalam peran besar menjadi kakak.
Alana masih tersenyum "Eng.. Jika kalian memiliki adek lagi, kira-kira seneng nggak"
Imran berdiri "Jadi, kakak mau punya adek lagi bund. Kakak sudah besar bund. Kakak malu" Seloroh Imran yang tau gelagat Alana
"Malu? Malu kenapa. Ada yang mengejek kamu. Iya kak" Tanya Alana
Imran menggeleng "Kakak cuma nggak mau kayak si Syamsul" Jelasnya
"Kenapa Syamsul"
"Dia punya adek 4 bund. Kakak nggak mau seperti dia. Mau belajar bareng aja repot. Keempat adeknya selalu riweh. Pokoknya, kakak nggak mau punya adek lagi, titik !!" Imran berjalan cepat menjauhi Alana, lalu duduk disofa, yang agak jauh dari ranjang Alana
Alana menghela nafas "Kalau kak Altaaf gimana. Suka nggak kalau punya adek"
"Dedek inginnya punya kakak kembar, seperti kakaknya Faruq"
Alana dan bik Surti tertawa, tapi tidak dengan Imran
Imran berdiri sambil bersedekap "Mana bisa dek. Bunda tanyanya adek, bukan punya kakak. Kakak kamu cuma satu, yaitu aku. Aku ingin seperti Yoga bund. Dia anak tunggal. Kalaupun Altaaf sudah ada, ya mau gimana lagi kakak terima. Tapi kalau punya adek lagi, kakak nggak mau"
__ADS_1
"Kenapa nggak mau"
Semua orang menoleh kearah pintu
"Dad.. " Panggil Altaaf dan Imran
Altaaf berlari menyambut Hanan. Sedang Imran tidak
"Kenapa, ada apa ini" Hanan mengangkat Altaaf.
Tapi Altaaf meminta turun dari gendongan
"Dedek ingin punya kakak kembar dad, kayak Faruq" Jelas Altaaf
"Nggak bisa dek. Mana ada seorang kakak lahirnya setelah kamu. Kakak kamu cuma satu, AKU !!" Teriak Imran
Hanan berjalan mendekati Imran, lalu mengusap kepala Imran. Hanan tau, pasti Alana sudah memberitahu perihal kehamilannya
"Kita duduk dulu"
Hanan sudah duduk diantara kedua putranya
"Kak, dulu saudara daddy itu ada 3. Kembar lagi. Usia sama. Sekolah juga sama. Tidur, main, semuanya bareng, sama. Kami suka mempunyai saudara banyak. Sangat suka. Kami sampai lupa punya teman orang lain, karena kami sudah asyik sendiri bermain berempat"
"Beda dad. Bunda bilang adek, bukan saudara kembar yang daddy ceritain"
"Baik. Kalau kak Altaaf gimana, suka nggak kalau punya adek"
"Seneng. Tapi lebih seneng yang kembar" Celetuknya sambil mainan dasi Hanan
"Dek !! Punya adek satu macam kamu aja repot. Kenapa musti kembar"
Namun, orangtua tidak perlu khawatir karena apapun reaksinya itu adalah hal yang normal.
Hanya saja, orangtua memiliki tugas besar yaitu belajar tentang perasaan si kakak dan bagaimana ia bereaksi terhadap calon adiknya. Hal ini merupakan bagian besar dari perkembangan emosi anak pertama seperti Imran
Sebenarnya tidak ada metode yang benar untuk memberi tahu Si Kecil mengenai bayi yang akan lahir sebagai adiknya.
Satu-satunya cara adalah mencoba untuk memberitahunya, saat masih hamil, dan memilih waktu yang pas untuk menjelaskan pada Si kakak, bahwa saat ini sedang ada bayi di dalam perut Alana.
Altaaf sudah mendekati Alana kembali karena Alana memanggilnya
Alana menaruh tangan Altaaf di atas perutnya. Lalu, menuntun Altaaf untuk mengelus-elus perutnya
Imran sudah berdiri disamping Hanan. Dia hanya melengos tidak ingin berkomentar
"Bunda, dulu dedek ada didalam sini ya bund" Kata Altaaf
Alana mengangguk "Dan sekarang, kak Altaaf akan menjadi seorang kakak"
"Kalau kak Imran bund"
"Kak Imran kan sudah menjadi kakak sejak dulu. Sekarang, kalian semua, calon kakak dari adik bayi, yang ada diperut bunda" Hanan menimpali
"Iya.. Jadi, kak Imran dan kak Altaaf akan memiliki adek bayi, yang ada didalam perut bunda. Yuk dipegang"
__ADS_1
Imran mulai memegang perut Alana, tapi hanya sekilas
Hanan tersenyum dan mengusap punggung Imran. Diapun mulai menjelaskan secara sederhana peran dan tugas seorang kakak "Nanti, kalau dedek bayi ini lahir, kak Altaaf dan kak Imran gantian membantu bunda merawat adik bayinya. Mengajak si adik bermain, dan saling menyayangi, ya" Ujar Hanan
Alana dan Altaaf manggut-manggut, sedang Imran biasa saja
Alana tidak ingin kehamilannya mengurangi kedekatannya dengan kedua putranya
Alana ingin tetap menyayangi Imran, meskipun Imran tidak merespon dan tidak mau memiliki adik lagi
Alana membentangkan tangannya untuk kedua putranya. Alana mengecup kening mereka berdua "Bunda sayang sama kalian. Kalian semua putra-putra bunda yang bunda banggakan"
Hanan mengusap-usap punggung Imran agar tetap bersemangat saat menyambut adik bayinya
Kemudian, Hanan mengambil foto-foto USG dan foto maternity yang sengaja ia siapkan untuk kedua putranya
"Lihat, ini foto kalian, saat kakak masih berada diperut mami" Hanan memegang pundak Imran "Dan perut bunda" Hanan memegang kepala Altaaf "Kalian ingin melihatnya?"
Imran maju dan bersedia melihat kenangan tersebut sewaktu dirinya berada diperut maminya
Mereka bernostalgia melihat-lihat foto tersebut
Alana dan Hanan sudah siap jika Imran bertanya mengenai apapun tentang Aina ibu kandungnya
Mereka berempat sudah duduk selonjoran diatas tempat tidur
Tadinya baik-baik saja ketika mereka menatap foto USG masing-masing dan Hanan menjelaskan dengan gamblang
Tangan Imran menjulur dan menarik album foto kenangan Hanan dan Aina
Alana mulai resah. Ada sedikit hatinya yang tergores pada saat dirinya membaca Happy wedding Hanan and Aina
Imran mulai membuka album pengantin antara maminya dengan daddynya
Imran menatap foto tersebut dengan seksama
"Dad, ini foto mamikah ?"
Hanan mengangguk
"Pada saat pengantin, berarti kakak belum lahir ya dad"
"Belum" Jawab Hanan sedikit tidak enak dengan Alana
"Wah ini bundakah?" Imran menoleh kearah Alana
Alana menatap Hanan, lalu mengangguk menjawab Imran
Terus dan terus Imran membuka album foto tersebut, hingga pas pada saat Aina berperut besar, dan Hanan memeluknya dari belakang
"Ini saat kakak berada diperut mami ya dad"
Serrrrr
Hati Alana semakin terkoyak ketika melihat tangan suaminya memegang perut kakaknya dengan mesra
__ADS_1
Hanan langsung tanggap. Ia usap punggung Alana. Namun Alana membuang muka dan merasa hangus hatinya
BERSAMBUNG.......