
Setelah makan makan usai
"Arisan bulan depan kocok dong, siapa yang dapat" Usul Fatih, sambil diusilin putrinya yang bermainan wajah Fatih
"Hawa, kocok Wa" Ujar Husayn, sambil mengambil botol yang berisi kertas tertuliskan nama nama mereka
Imran melihat Husayn berdiri, tangannya keatas seakan ingin ikut
Husayn melihat sipipi tembem ingin ikut "Mau ikut daddy Husayn? ayo" Ucap Husayn mengambil Imran dari pangkuan Alana
Imran sudah nemplok sama Husayn. Lumayan, mungkin dikira bapaknya
"Kakak, Imran keder dia" Bisik Alana
"Iya, heran" Jawab Hanan sambil berbisik juga
"Mungkin dikira kakak kali" Bisik Alana lagi
"Iya, biarin, biar kamu ringan"
Untung putrinya Husayn suka sama anak kecil, jadi Imran betah dipangkuan Husayn
Tiba tiba
"Wah, yang dapat bang Hanan... Bulan depan dirumah bang Hanan bang" Seru Hawa
"Iya... Kira kira menunya apa??" Hanan
"See food kak" Usul Fariz
"Setuju setuju !!" Semangat Husayn dan Fatih
Imran yang sudah ngantuk, akhirnya kaget dan menangis kejer
"Ya ya" Alana langsung mengambil Imran dari pangkuan Husayn "Udah ngantuk ya, mimi susu ya... "
Rasti, dengan cekatan menyeduh susu formula untuk Imran
"Ini bu" Ucap Rasti sambil menyodorkan susu dalam dot
Setelah meminum susu dari dotnya habis, Imran terlihat mengusap usap hidung ingin tidur.
Alana membopong Imran kedepan, agar tidak terusik obrolan para orang tua.
Seperti biasa, Imran mengendus endus lengan Alana, terakhir Imran menggigit lengan Alana untuk yang kesekian kali
Alana terjongkok "Addaaaaa sakiiiiittt" Lirih Alana, membuat Imran kaget, dan gigitannya bertambah kuat
Hanan melihat Alana terjongkok, Ia langsung berlari mendekati Alana "Kenapa, kamu kenapa Alana?" Tanya Hanan meraba raba punggung Alana
"Imran nggigit. Hidungnya pencet kak, buru sakiiittt" Alana berusaha kuat sambil mengusap airmatanya yang sempat menetes saking sakitnya
Hanan menjauhkan kepala Imran. Begitu terlihat hidungnya yang nempel dilengan Alana, Hanan segera memencet hidung Imran sesuai arahan Alana.
Setelah terlepas, Imran diangkat dari gendongan Alana sambil gelagapan karena dipencet hidungnya. Kejerlah tangis Imran
"Mbak tolong, jagain Imran" Hanan melambai memanggil Rasti
Rasti berlari mendekat
"Ini Mbak, Imran sudah ngantuk"
-
__ADS_1
Hanan menarik Alana untuk diperiksa "Kok bisa sih, sering begini?" Tanya Hanan
Alana tidak menjawab, tapi matanya sudah berkaca kaca, takut ditelan Hanan
"Sana sana bawa masuk kekamar, diperiksa dulu Alananya Hanan" Titah Anand, dan menunjuk kamar tamu agar Hanan segera memeriksa Alana
Anand bergabung lagi bersama adik dan keponakannya "Tumbuh gigi berapa sih, kayak ikan piranha aja gawat gitu" Ucap Anand
"Minyak mbak!" Teriak Hanan dari dalam kamar
"Rasti minyak..." Sifa ikut ikut teriak dan ikut masuk kekamar
Rasti sudah hafal, jadi mudah mencari minyak yang biasa untuk mengobati Alana "Ini tuan" Rasti menyerakan minyak andalan untuk mengobati lengan Alana
"Sering seperti itu? " Kini Ilham yang bertanya pada Rasti
"Sering tuan" Jawabnya
Ilham mengusap pipi gembil Imran "Lho, cucu grandpa kok begitu?" Ilham mendekati Imran "Coba grandpa periksa, giginya tumbuh berapa" Ilham membuka mulut Imran "Wah, tumbuh dua, gatal ya? aduh, kasihan maminya kalau main gigit. Nggak boleh" Ilham menjembel kedua pipi Imran
"Kecilnya bang Hanan kali begitu ya pa?" Celetuk Hawa
"Sepertinya nggak ada yang begitu ya ma?" Ilham bertanya pada Sifa, tapi tidak ada jawaban "Mana mama kalian?" Ilham bertanya dengan sembarang
"Didalam Pa, kayaknya belum keluar" Jawab Viviana yang dari tadi memperhatikan
Sementara didalam,
"Kaosnya lepas ya?" Tanya Hanan pada Alana
Belum dijawab, Sifa menyambar "Ya dilepas lah, kalau nggak dilepas, kamu mau periksa apanya"
Kedua pasangan Alana dan Hanan terdiam.
Tidak ada jawaban dari Alanapun, Hanan mulai melepas kaos seragam berlengan panjang milik Alana. Alana sedikit menahan
Sifa mulai bingung "Loh, ngapain sudah dewasa gini pakai kaos dalam. Kayak anak SMA aja pakai seragam putih biar nggak kentara BH nya" Sifa memutari mereka berdua "Ya sudah, mungkin kalian malu sama mama ya? Ya sudah, mama keluar. Buruan Hanan, obati Alana, biar nggak bengkak" Sifapun berlalu
"Kaosnya lepas ya?" Rayu Hanan
"I iya.. Lepas sendiri aja kak" Alana buru buru melepas kaosnya, lalu memeluknya kedalam dadanya, agar Hanan tidak melihat dada Alana
Hanan tersenyum melihat kegugupan Alana, Hanan berbisik tepat ditelinga Alana "Kau terlihat takut sekali padaku"
Alana melirik Jaman "Kakak... Jika hanya ingin menggodaku, sini in minyaknya. Aku bisa" Alana ingin merebut minyak tersebut dari tangan Hanan
"Stttt" Hanan memegang pundak Alana tanpa kain. Netra Alana mengikuti tangan Hanan yang menempel pada pundaknya
Gleser
Jantung Alana berdetak kencang, Alana menutup wajahnya malu "Kakak buruan obatin"
Hanan melihat tubuh tipis Alana merasa iba "Iya, pasti kakak obatin"
Hanan mulai mengolesi minyak kelengan Alana "Sudah berapa kali Imran menggigitmu hmm?"
"Nggak tau"
"Buka dong wajahnya, masa ngomong sama suaminya ngumpet begitu"
"Kakak buruan, nanti ada orang yang masuk aku malu"
"Berati sama kakak sudah nggak malu ya?" Goda Hanan mendekati wajah Alana
__ADS_1
"Kakak..." Alana menabok lengan Hanan Karena malu. Hanan menangkap tangan Alana segera. Lalu ia menariknya kedalam pelukan
Hanan mengusap usap punggung lembut Alana
"Ih, kakak geli" Alana sedikit meronta
"Biar seperti ini dulu Alana" Hanan memeluknya erat "Kakak ingin kita lebih dekat. Jangan masa bodo seperti kemarin. Kau mau berjanji ?"
Alana tidak menjawab, tapi malah berdiri "Kakak keluarlah, aku akan memakai baju dulu"
"Mau pakai, pakai aja. Ngapain kamu malu" Hanan merebut baju Alana yang sejak tadi buat tameng dadanya
Alana ingin merebutnya "Kakak sini in"
Mereka sama sama berdiri
"Sttt jangan brisik, ntar kita dikira ngapain. Mau, aku terkam sekarang hmm?"
"Kak kak... aku malu. Buruuuu"
"Anteng"
Alana terdiam, Hananpun terdiam
Hanan mencium luka yang barusan ia obati
Cup "Semoga cepat sembuh"
Kedua tangan Hanan memakaikan baju untuk Alana. Setelah terpakai "Yuk kita keluar, takut dikira kita mesum dirumah papi" Hanan berbisik "Nanti diterusin dirumah oke" Hanan mencium pelipis Alana "Emmuah gemes" kedua pipi Alana dijembel oleh Hanan gemas
plok plok
-
Malam harinya setelah pulang dari rumah Anand
Hujan begitu lebat malam ini
Alana kembali bermain bersama Imran dikamar
Hanan membuka pintu kamar, lalu menutupnya kembali
"Imran belum tidur?"
"Hampir" Bisik Alana
Hanan mendekati mereka berdua diranjang
Kratak kratak duaaarrrrr
Suara geledek bergemuruh membelah cakrawala
Alana menutupi telinga Imran agar tidak menangis karena kaget
Hanan mulai mengusap usap pipi Imran, lalu menciumnya "Bundanya boleh dicium hmm?"
Alana tersenyum kikuk "Kakak jangan bilang begitu, nanti Imran dengar, malu"
Hanan tersenyum, lalu memeluk mereka berdua "Baiklah baiklah, kalau begitu tidurlah Imran tidur. Bundamu katanya malu" Hanan tersenyum lebar, mengusap lengan kanan Alana, lalu mencium pipi Alana
Emmuah
Mata Alana melebar "Kak kak.. Nanti Imran melihat"
__ADS_1
"Ahaha, tidak apa apa, sedikit"
BERSAMBUNG.....