
Mereka sudah bersih semua, topi, kacamata, tas, sudah dibenahi semua, termasuk Imran sudah masuk kekamarnya
"Kakak, badanku capek semua" Alana berjalan menuju kasur, sambil memijat pundaknya, dan tangan satunya berkacak dipinggang
"Sini, daddy pijit" Hanan menepuk nepuk kasur depannya, agar Alana bisa duduk disana
Alana duduk memunggungi Hanan
Hanan mulai memijat pundak kanan dan kiri milik Alana, dengan kedua tangannya
Alana kegelian karena seumur umur, badan Alana belum pernah dipijit oleh orang lain. Dan sekarang, ini baru pertama kalinya dipijit, itupun terpaksa, karena badan Alana terasa remuk redam, dikarenakan seharian olahraga lari lari karena muntah muntah
Alana kegelian. Akibatnya, leher dan kepalanya akan masuk kedalam badannya
"Kenapa Leher dan kepalanya mau masuk kebadan" Hanan membalikkan tubuh Alana, agar Alana menghadapnya
"Geli geli sakit kak.. Pijitan kakak terlalu keras" Protesnya
Alana sudah membalikkan badan, hingga mereka sudah berhadapan
Malam ini, Alana menggunakan pakaian malam berbahan satin berwarna abu. Bagian dada bermodel segi tiga, dan tidak berlengan, hanya ada tali secuil saja sebagai penyangga
Hanan mengusap pundak mulus Alana, lalu memplorotkan tali penyangga agar turun kebawah
Cup
Ciuman Hanan mendarat dipundak kiri Alana "Ingin sembuh tidak ?"
"Inginlah"
Mereka terus bertatapan
Alana malu malu kucing dengan tatapan Hanan. Daripada jatuh, Alana memeluk Hanan dan menyembunyikan wajahnya pada dada Hanan
"Berarti, bunda harus diperiksa sekarang dong ya? " Bisik Hanan dengan wajah mesumnya
Alana terdiam sejenak, mencerna ucapan suaminya
Setelah tersadar, Alana menjauhkan wajahnya pada dada Hanan "Ih, kakak mesum brr" Alana mengembik dan mendorong Hanan
Bersamaan itu, bibir Alana dijembel oleh tangan Hanan "Tadi bilang apa? mesum?"
Alana menyembunyikan wajahnya menggelung dibadannya sendiri, agar tak terlihat oleh Hanan "Iya, kakak mesuuuuummm... " Alana mendorong terus tubuh Hanan, dan secepatnya menyerang Hanan
Bukannya Alana yang menang, melainkan Hanan yang bakal menang
Alana justru didorong oleh Hanan, dan terkapar dikasur
kedua tangan Alana sudah diatas, dan ditindih oleh tangan Hanan
Emmuah emmuah emmuah
Seluruh wajah Alana sudah habis dicium oleh Hanan sampai tak tersisa
Hanan membalikkan tubuhnya, agar sama-sama telentang
Hanan mengubah tidurnya miring, agar Alana bisa terlihat olehnya
"Seharian dirumah, ngapain aja hmm?" Tangan Hanan mengusap perut Alana, lalu sekali kali mencium perut Alana
Alana menoleh, lalu tangannya mengalung manja dileher Imran "Lari-lari"
Hanan mengerutkan alisnya, hingga alisnya menyambung
"Kenapa sampai lari - lari, bahaya" Tangan Hanan mengusap - usap pinggang Alana, punggung, lalu turun kebawah, hingga usapannya sampai kepantat Alana
Plok plok
__ADS_1
Hanan menabok pantat Alana gemas
"Hmmmm... Cup"
Bibir mungil Alana menjadi sasarannya
Alana kembali merubah posisi tidur, yaitu telentang
Hanan kembali memijat paha Alana
"Kakak, aku ingin duduk"
"Duduklah"
Alana kembali merubah posisi
Sekarang Alana sudah duduk bersandar pada kepala ranjang
Hanan kembali memijit kaki Alana, lama-lama Hanan rebahan dipaha Alana
Sekarang, Hanan menghadap keperut Alana
Usap-usap
Cup
Lalu, tangan Hanan mengalung erat dipinggang Alana
Hanan merubah posisi tidur, tapi masih berbantal paha Alana. Hanan menatap pucuk dada Alana yang terlihat mengerucut melambai lambai karena tidak memakai helm pengaman dada
Kali ini, Hanan menatapnya dengan sangat gemas
Kepala Hanan terangkat, tangannya masih setia mengalung dipinggang. Tapi, kepalanya terangkat keatas, pas didepan dada Alana
Cegut
Bibirnya menggigit pucuk dada Alana, yang masih tertutup gaun malam
"Diperiksa sekarang ya?"
Alana mendorong wajah Hanan pelan.
Darah Alana yang tadinya biasa biasa saja, kini berdesir pada saat Hanan menggigit pucuknya. Walaupun masih terhalang kain, sensasi yang diberikan mantan kakak iparnya, sudah membuat Alana sedikit basah dibawah sana
Hanan masih memberi sensasi geli dan geli untuk Alana
Tangan kanan Hanan terus memijat paha Alana, mengusapnya, lalu tangannya masuk dari bawah rok, dan bermain disana
Alana mempertahankan "Eh hehe, semalam kan sudah kak, kok malam ini lagi" Tolaknya, tapi sebenarnya mau
"Nggak pa apa, mumpung masih bisa kokoh. Kamu seneng kan?" Ucapnya sambil mengendus endus
Alana diam tidak menjawab. Darahnya terpompa naik turun seperti roller coaster.
Alana pasrah, dan hanya bisa menatap, lalu mengusap usap dahi Hanan, sambil terpejam menikmati
"Hmm senang tidak" Tangan Alana dibimbing untuk mengintip celana milik Hanan
Lagi lagi, Alana malu malu meong, sekarang tangannya sudah tidak perawan lagi, karena Hanan selalu menggurui memegang perkakasnya yang selalu on jika mendekati Alana
-
Pagi harinya
Lagi dan lagi, Alana dan Hanan mandi basah
Mereka berdua sudah duduk dikursi meja makan
__ADS_1
Pagi ini, meskipun Alana sudah merasa pusing. Tapi dia tetap mengurusi Imran
Hari ini tumben, Imran sudah bangun, sebelum papanya berangkat kerja
Alana dan Imran duduk berdampingan. Imran duduk disebelah kiri Alana, sedangkan Hanan, biasanya duduk disebelah kanan Alana. Tapi kali ini, kursi yang biasa ditempati Hanan, masih kosong. Karena Hanan belum bergabung untuk sarapan
"Bunda, Imlan mahu telol kicik kicik, no big" Tunjuk Imran pada telor puyuh yang dikecapi
Alana sengaja mengambilkan telor ayam balado
"Bunda no big !!!" Tangan Alana dicubit suruh menaruh telor baladonya "Tayo bunda tayoo !!!"
"Sama sama telor Imraaaann, Imran kan sudah gede. Harusnya makan telornya yang gede. Yaitu telor sowang. mau nggak ?"
"Sowang apaan bunda ?" Tanya Imran sambil melongo
"Hewan kepunyaannya pak RT, yang lehernya panjang, yang sering nyosooor... Kaya daddy" Ucapan kaya daddy Volumenya dikecilkan, dan menghadap kekursi Hanan yang masih kosong
"Buuund.... Nggak usah ngajarin anak kecil begitu" Tegur Hanan yang baru bergabung untuk sarapan
"Ehehe, ternyata yang merasa sudah datang hihi" Alana terkekeh
"Sering ya ngajarin anak kecil begitu?" Sangka Hanan
"Enggak kak, ya dek..." Alana menghadap kearah Imran
Imran masih mlongo
"Bunda orangnya kalem kan dek?" Tanya Alana minta dukungan Imran, tapi Imran kelihatannya cuek tidak faham ucapan para orang dewasa
"Bunda, Imlan ingin makan pakai telol sowang aja bund. Telolnya gede kan bund ??"
Mata Alana dan mata Hanan sudah saling tatap dan melotot
Hanan melotot tidak percaya "Bund, maksudnya apa?"
Alana tidak menjawab pertanyaan Hanan, makan waktu.
"Oh iya pasti gede" Jelas Alana pada Imran
"Bund... " Hanan mencubit pantat Alana
Alana langsung menarik tangan Hanan, dan menggaruk garuk bekas cubitan Hanan "Daddy, sakit tau"
Imran melihat tangan Hanan yang barusan ditarik oleh Alana "Daddy, jangan natalin bunda" Belanya pada Alana
Hanan geleng geleng kepala tak percaya, seakan dirinya yang tersangka disini
"Bund, telol sowangnya mana bund... Imlan mau.. "
Hanan melototi Alana, dalam hati Hanan "Syukurin... "
"Aaaah, kalau Imran ingin telor sowang, Imran harus disunat dulu ya, ntar bunda ambilin telor sowang dirumah pak RT" Ucapnya langsung mengangah karena keceplosan
"Sunat ?? sunat apaan bund" Tanyanya polos
Alana langsung menutup mulutnya "Daddy yang tau. Jadi, daddy yang akan menjelaskan"
"Bund" Tegur Hanan kembali
"Dad, aku kan nggak pernah tau rasanya disunat dad. Daddy yang tau ya kan, kan, kan. Ayo dad jelaskan" Alana langsung menghindar, dan berdiri dibelakang kursi Hanan
"Bund... Bunda kan yang keceplosan tadi. Kenapa lempar batu sembunyi tangan"
Alana akan berlari meninggalkan meja makan
"Bundaaaaaa" Panggil Hanan kesal
__ADS_1
"Ehehehe"
BERSAMBUNG...