Menikahi Ipar

Menikahi Ipar
Bab 46


__ADS_3

Mereka sudah bersih semua, topi, kacamata, tas, sudah dibenahi semua, termasuk Imran sudah masuk kekamarnya


"Kakak, badanku capek semua" Alana berjalan menuju kasur, sambil memijat pundaknya, dan tangan satunya berkacak dipinggang


"Sini, daddy pijit" Hanan menepuk nepuk kasur depannya, agar Alana bisa duduk disana


Alana duduk memunggungi Hanan


Hanan mulai memijat pundak kanan dan kiri milik Alana, dengan kedua tangannya


Alana kegelian karena seumur umur, badan Alana belum pernah dipijit oleh orang lain. Dan sekarang, ini baru pertama kalinya dipijit, itupun terpaksa, karena badan Alana terasa remuk redam, dikarenakan seharian olahraga lari lari karena muntah muntah


Alana kegelian. Akibatnya, leher dan kepalanya akan masuk kedalam badannya


"Kenapa Leher dan kepalanya mau masuk kebadan" Hanan membalikkan tubuh Alana, agar Alana menghadapnya


"Geli geli sakit kak.. Pijitan kakak terlalu keras" Protesnya


Alana sudah membalikkan badan, hingga mereka sudah berhadapan


Malam ini, Alana menggunakan pakaian malam berbahan satin berwarna abu. Bagian dada bermodel segi tiga, dan tidak berlengan, hanya ada tali secuil saja sebagai penyangga


Hanan mengusap pundak mulus Alana, lalu memplorotkan tali penyangga agar turun kebawah


Cup


Ciuman Hanan mendarat dipundak kiri Alana "Ingin sembuh tidak ?"


"Inginlah"


Mereka terus bertatapan


Alana malu malu kucing dengan tatapan Hanan. Daripada jatuh, Alana memeluk Hanan dan menyembunyikan wajahnya pada dada Hanan


"Berarti, bunda harus diperiksa sekarang dong ya? " Bisik Hanan dengan wajah mesumnya


Alana terdiam sejenak, mencerna ucapan suaminya


Setelah tersadar, Alana menjauhkan wajahnya pada dada Hanan "Ih, kakak mesum brr" Alana mengembik dan mendorong Hanan


Bersamaan itu, bibir Alana dijembel oleh tangan Hanan "Tadi bilang apa? mesum?"


Alana menyembunyikan wajahnya menggelung dibadannya sendiri, agar tak terlihat oleh Hanan "Iya, kakak mesuuuuummm... " Alana mendorong terus tubuh Hanan, dan secepatnya menyerang Hanan


Bukannya Alana yang menang, melainkan Hanan yang bakal menang


Alana justru didorong oleh Hanan, dan terkapar dikasur


kedua tangan Alana sudah diatas, dan ditindih oleh tangan Hanan


Emmuah emmuah emmuah


Seluruh wajah Alana sudah habis dicium oleh Hanan sampai tak tersisa


Hanan membalikkan tubuhnya, agar sama-sama telentang


Hanan mengubah tidurnya miring, agar Alana bisa terlihat olehnya


"Seharian dirumah, ngapain aja hmm?" Tangan Hanan mengusap perut Alana, lalu sekali kali mencium perut Alana


Alana menoleh, lalu tangannya mengalung manja dileher Imran "Lari-lari"


Hanan mengerutkan alisnya, hingga alisnya menyambung


"Kenapa sampai lari - lari, bahaya" Tangan Hanan mengusap - usap pinggang Alana, punggung, lalu turun kebawah, hingga usapannya sampai kepantat Alana


Plok plok

__ADS_1


Hanan menabok pantat Alana gemas


"Hmmmm... Cup"


Bibir mungil Alana menjadi sasarannya


Alana kembali merubah posisi tidur, yaitu telentang


Hanan kembali memijat paha Alana


"Kakak, aku ingin duduk"


"Duduklah"


Alana kembali merubah posisi


Sekarang Alana sudah duduk bersandar pada kepala ranjang


Hanan kembali memijit kaki Alana, lama-lama Hanan rebahan dipaha Alana


Sekarang, Hanan menghadap keperut Alana


Usap-usap


Cup


Lalu, tangan Hanan mengalung erat dipinggang Alana


Hanan merubah posisi tidur, tapi masih berbantal paha Alana. Hanan menatap pucuk dada Alana yang terlihat mengerucut melambai lambai karena tidak memakai helm pengaman dada


Kali ini, Hanan menatapnya dengan sangat gemas


Kepala Hanan terangkat, tangannya masih setia mengalung dipinggang. Tapi, kepalanya terangkat keatas, pas didepan dada Alana


Cegut


Bibirnya menggigit pucuk dada Alana, yang masih tertutup gaun malam


"Diperiksa sekarang ya?"


Alana mendorong wajah Hanan pelan.


Darah Alana yang tadinya biasa biasa saja, kini berdesir pada saat Hanan menggigit pucuknya. Walaupun masih terhalang kain, sensasi yang diberikan mantan kakak iparnya, sudah membuat Alana sedikit basah dibawah sana


Hanan masih memberi sensasi geli dan geli untuk Alana


Tangan kanan Hanan terus memijat paha Alana, mengusapnya, lalu tangannya masuk dari bawah rok, dan bermain disana


Alana mempertahankan "Eh hehe, semalam kan sudah kak, kok malam ini lagi" Tolaknya, tapi sebenarnya mau


"Nggak pa apa, mumpung masih bisa kokoh. Kamu seneng kan?" Ucapnya sambil mengendus endus


Alana diam tidak menjawab. Darahnya terpompa naik turun seperti roller coaster.


Alana pasrah, dan hanya bisa menatap, lalu mengusap usap dahi Hanan, sambil terpejam menikmati


"Hmm senang tidak" Tangan Alana dibimbing untuk mengintip celana milik Hanan


Lagi lagi, Alana malu malu meong, sekarang tangannya sudah tidak perawan lagi, karena Hanan selalu menggurui memegang perkakasnya yang selalu on jika mendekati Alana


-


Pagi harinya


Lagi dan lagi, Alana dan Hanan mandi basah


Mereka berdua sudah duduk dikursi meja makan

__ADS_1


Pagi ini, meskipun Alana sudah merasa pusing. Tapi dia tetap mengurusi Imran


Hari ini tumben, Imran sudah bangun, sebelum papanya berangkat kerja


Alana dan Imran duduk berdampingan. Imran duduk disebelah kiri Alana, sedangkan Hanan, biasanya duduk disebelah kanan Alana. Tapi kali ini, kursi yang biasa ditempati Hanan, masih kosong. Karena Hanan belum bergabung untuk sarapan


"Bunda, Imlan mahu telol kicik kicik, no big" Tunjuk Imran pada telor puyuh yang dikecapi


Alana sengaja mengambilkan telor ayam balado


"Bunda no big !!!" Tangan Alana dicubit suruh menaruh telor baladonya "Tayo bunda tayoo !!!"


"Sama sama telor Imraaaann, Imran kan sudah gede. Harusnya makan telornya yang gede. Yaitu telor sowang. mau nggak ?"


"Sowang apaan bunda ?" Tanya Imran sambil melongo


"Hewan kepunyaannya pak RT, yang lehernya panjang, yang sering nyosooor... Kaya daddy" Ucapan kaya daddy Volumenya dikecilkan, dan menghadap kekursi Hanan yang masih kosong


"Buuund.... Nggak usah ngajarin anak kecil begitu" Tegur Hanan yang baru bergabung untuk sarapan


"Ehehe, ternyata yang merasa sudah datang hihi" Alana terkekeh


"Sering ya ngajarin anak kecil begitu?" Sangka Hanan


"Enggak kak, ya dek..." Alana menghadap kearah Imran


Imran masih mlongo


"Bunda orangnya kalem kan dek?" Tanya Alana minta dukungan Imran, tapi Imran kelihatannya cuek tidak faham ucapan para orang dewasa


"Bunda, Imlan ingin makan pakai telol sowang aja bund. Telolnya gede kan bund ??"


Mata Alana dan mata Hanan sudah saling tatap dan melotot


Hanan melotot tidak percaya "Bund, maksudnya apa?"


Alana tidak menjawab pertanyaan Hanan, makan waktu.


"Oh iya pasti gede" Jelas Alana pada Imran


"Bund... " Hanan mencubit pantat Alana


Alana langsung menarik tangan Hanan, dan menggaruk garuk bekas cubitan Hanan "Daddy, sakit tau"


Imran melihat tangan Hanan yang barusan ditarik oleh Alana "Daddy, jangan natalin bunda" Belanya pada Alana


Hanan geleng geleng kepala tak percaya, seakan dirinya yang tersangka disini


"Bund, telol sowangnya mana bund... Imlan mau.. "


Hanan melototi Alana, dalam hati Hanan "Syukurin... "


"Aaaah, kalau Imran ingin telor sowang, Imran harus disunat dulu ya, ntar bunda ambilin telor sowang dirumah pak RT" Ucapnya langsung mengangah karena keceplosan


"Sunat ?? sunat apaan bund" Tanyanya polos


Alana langsung menutup mulutnya "Daddy yang tau. Jadi, daddy yang akan menjelaskan"


"Bund" Tegur Hanan kembali


"Dad, aku kan nggak pernah tau rasanya disunat dad. Daddy yang tau ya kan, kan, kan. Ayo dad jelaskan" Alana langsung menghindar, dan berdiri dibelakang kursi Hanan


"Bund... Bunda kan yang keceplosan tadi. Kenapa lempar batu sembunyi tangan"


Alana akan berlari meninggalkan meja makan


"Bundaaaaaa" Panggil Hanan kesal

__ADS_1


"Ehehehe"


BERSAMBUNG...


__ADS_2