
"Sabar Anne"
"Ba, aku nggak mau tau. Pokoknya, papi harus dibawa ke Jakarta sekarang. Urus sekarang jugaaa" Najwa kembali menangis "Kenapa ini terjadi padaku, abaaaang !! jemput papi. Aku ingin papi dipindah kerumah sakit sana, kalau perlu, biar satu kamar dengan daddy"
Semuanya terdiam. Jika Najwa sudah membrontak, berarti yang lain makmum
"..........." Hassan menyetujui, dan akan mengirim jet pribadi, serta dokter untuk menjemput Anand
Pihak rumah sakit sangat keberatan, karena pasien bernama Anandhan, masih dalam perawatan intensif dan butuh tempat stiril untuk cepat penyembuhannya
Tapi pihak keluarga juga sudah 100 persen yakin akan membawa Anand untuk pindah dari rumah sakit ini
Xander dan para dokter utusan keluarga, sudah menandatangani surat pernyataan membawa pulang paksa pasien. Jika terjadi apa-apa terhadap pasien, rumah sakit ini tidak bertanggung jawab
Setelah kedua belah pihak saling setuju, Akhirnya Anand diterbangkan ke Jakarta, dengan keadaan koma
Lis tidak henti hentinya menyeka air matanya yang sudah terjun bebas seperti grujugan
Dengan keadaan perut membesar, Lis dengan setia mendampingi Anand terbang ke Jakarta
-
Anand segera dilarikan kerumah sakit milik keluarga besannya.
Setelah sampai dirumah sakit, Anand diperiksa kembali secara intensif. Semua pemeriksaan yang ada di Magetan, tidak digunakan sama sekali
Najwa sudah berlari menuju ruang khusus keluarganya. Jika ada keluarga Effendy yang sakit dan dirawat dirumah sakit ini, maka sudah jelas, pasti akan ditempatkan khusus diruang presidential suite
Najwa membuka pintu ruangan bak hotel bintang lima ini
"Bund..."
Iqlima menoleh "Neng"
Najwa merentangkan tangannya memeluk ibunya yang sudah tidak muda lagi, tapi masih berlihat cantik
Najwa menangis memeluk Iqlima "Bagaimana daddy bund"
Mereka sudah saling peluk, Iqlima hanya menangis pasrah "Semalam sakit daddy kumat, karena bunda tau kalau eneng jagain papi, bunda langsung kasih tau ke abang. Dan abang langsung terbang" Jelas Iqlima panjang lebar
Najwa mendekati ayahnya yang terdiam dipembaringan, Najwa sudah tidak kuat menahan sesak pada dadanya. Najwa terduduk dan memeluk ayahnya yang penuh dengan alat-alat medis yang menempel pada dadanya
Iqlimah mendekati putrinya yang masih menciumi wajah daddynya. Ia mengusap bahu Najwa "Sabar neng"
Najwa melepas peluk ayahnya "Bund, kenapa ini terjadi padaku. Papi sakit, daddypun sama. Kenapa mereka harus janjian" Najwa kembali menangis dipelukan bundanya
Hassan datang bersama Xander, setelah mereka benar benar tidak boleh mengganggu disaat para medis membawa Anand masuk keruang ICU
"Bund" Ucap Xander dan Hassan bersamaan
Iqlima mengurai peluk dari Najwa. Ia berdiri setelah melihat putra sambung dan menantunya masuk keruangan ini
Xander memeluk Iqlima "Maaf bund, kami tidak memberi tau bunda, kalau kami sudah di Indonesia seminggu lalu"
"Tidak apa-apa kak, kami sudah tau dari eneng"
__ADS_1
Bersamaan itu Hassan memeluk Najwa "Jangan bersedih, berdoa saja semoga daddy dan papi diberi kesehatan"
"Terus, aku harus ketawa begitu bang" Ucapnya sumbang antara ingin tertawa, tapi sebenarnya hatinya menangis
"Bukan begitu hei. Kau itu sudah tua. Usiamu bahkan sudah setengah abad"
"Terus, kalau sudah tua tidak boleh menangis" Najwa menatap netra kakaknya yang sama-sama menyimpan rasa kesedihan yang sama
"Boleh adikku manis, siapa bilang orang tua tidak boleh nangis"
Akhirnya tangis Najwa pecah kembali. Ia menangis sejadi jadinya didada sang kakak
"Kau benar-benar cengeng. Kau seperti gadis berusia 5 tahun" Ucap Hassan sambil ikutan berderai
Srrrttt
Najwa mengelap ingusnya dengan menggunakan kemeja kakaknya
"Ya Allah joroknya.. Kau ini apa-apaan sih" Hassan menjauhkan Najwa dari tubuhnya
Najwa tertawa tapi menangis "Pokoknya, papi harus disatukan diruangan sini bersama daddy"
"Tapi mana bisa dek, yang ada, kamu malah mempersulit kesembuhan papi" Hassan melepas kemejanya yang sudah basah terkena ingus dan air mata Najwa
Hassan melempar kemejanya kewajah Najwa "Lap tu"
"Abang" Iqlima menyelipkan tangannya dilengan Hassan. Untung Hassan memakai kaus berlengan pendek. Jika tidak, telanjanglah dia tanpa pakai baju "Yang sabar kamu menghadapi adikmu"
"Halla, sejak dulu bund. Memangnya abang pernah menang? Nggak kan, kalah melulu"
Najwa mendekati mereka "Bang!! Pokoknya" Najwa belum menyelesaikan ucapannya
"Ya ya tuan putri" Hassan sudah memotong ucapan Najwa
Jika Najwa sudah bilang pokoknya, semuanya kalah, Hassan menyerah
Xander mendekati Ahmed sang mertua, dia tidak mau berpihak dengan siapapun
Jika berpihak dengan Hassanpun, tetap tak akan menang.
-
Sementara ditempat lain
Hanan sudah pulang ke Semarang, dimana ia tinggal sekarang
Hanan mencolek bik Surti, untuk meninggalkan ruang televisi yang sudah ada Alana disana
Sepasang lengan kokoh itu mengalung sempurna didada Alana "Kenapa jam segini belum tidur"
Cup cup cup
Pipi Alana mendapat ciuman dari suaminya
Alana sedikit terjingkat "Kakak" Alana menumpuki kedua tangan Hanan yang masih melingkar didadanya
__ADS_1
Cup cup cup
Pucuk kepala Alana sudah dihujani kecupan oleh Hanan
Alana mendongak "Kakak nggak jadi nginep?"
"Nggak" Hanan meruba posisinya. Sekarang Hanan duduk disebelah Alana
Mencium perut buncit Alana lamaaa "Percuma mas disana, tapi fikirannya disini"
Alana memeluk Hanan dari samping, setelah tadi Hanan sudah duduk dengan sempurna "Kakak ingin dipanggil mas ya" Ucapnya menggoda
Deg deg
"Mas, bukankah panggilan itu hanya Aina yang memanggilku, kenapa aku salah ucap"
"Memangnya aku minta dipanggil sebutan itu hmm?" Tanya Hanan
"Iya, kenapa?"
"Tidak, apa sayang suka"
"Emm jarang sih aku memanggil orang lain dengan sebutan mas"
"Terus, kamu ingin panggil aku apa?"
"Lah kakak maunya apa, aku harus memanggil dengan sebutan apa ?"
"Apa ya kira-kira?" Hanan sedikit berfikir, tapi buntu "Sudah ah dipikir ntar lagi. Yuk masuk, diluar anginnya agak kencang"
"Tapi aku gerah mas pinging ngadem, eh" Mulut Alana segera ia tutup dengan telapaknya sendiri
"Kenapa sayang menutup mulut. Nggak ada yang salah kok panggilan mas. Kenapa ? mau bilang kalau mas itu mahal harganya hmm" Ucapnya sambil menggoda
"Ih, enggak" Alana sudah merona
Hanan mengusap kedua pipi Alana dengan kedua ibu jarinya "Gemes... Memangnya sayang nggak ngantuk?"
"Tadi siang tidur lama banget, jadi sekarang tidak bisa tidur" Alana menatap netra suaminya
"Kalau sekarang, sudah ada mas, bisa dong kita masuk. Yuk masuk, mas capek. Hawa diluar sangat dingin, ntar sayang masuk angin. Ayo"
Alana Akhirnya berdiri, dan masuk kekamar mereka
Hanan memberangkang kekasur, setelah tadi sudah membersihkan diri, dan sudah berganti pakaian tidur
Hanan Men cumbu Alana tanpa henti.
Sehari tidak bertemu, rasanya bagai sebulan.
Pandangan mereka bersirobok saling mengagumi
Mata Hanan yang sudah tertutup kabut, membuat Alana pasrah dalam kungkumannya
Mereka saling menyelami, meskipun perut Alana membesar dan mengganjal, tak mengurangi rasa cinta mereka, yang ingin terus merasakan indahnya surga dunia
__ADS_1
BERSAMBUNG......