
Emmuah...
Hanan mengecup bibir Alana, Alanapun terlihat membalas
Hanan melepas tautan bibirnya
Pluk
Hanan menunduk memandang wajah Alana yang masih malu malu tapi mau. Hanan kembali tersenyum, istrinya sekarang sudah pandai dan terlihat ketagihan
Cup
Kembali Hanan mencuri cium bibir Alana, Alana seakan pasrah tanpa paksaan. Kembali Alana memeluk Hanan dengan suka rela
Hanan berbisik "Apakah aku akan dipeluk sampai pagi ?"
Alana langsung mengurai pelukan, Alana tersenyum kikuk. Dia melipat tangannya kebelakang sambil lenggak lenggok
Melihat kedua alis Hanan terangkat, Alana segera berbelok dan berlari menuju pintu
"Eh eh, mau kemana?"
"Cari Imran"
"Baiklah, aku juga ingin mandi. Biar seger dan nggak malu ndeketin istri"
Cup
Kecupan mendarat dipipi Alana
Plok
"Ih... Kalau bibi sama mbaknya lihat, aku malu"
"Kenapa malu, kita melakukannya didalam rumah, bukan ditengah jalan"
"Ih.. Kakak susah kalau diajak ngomong" Alana sudah mulai relax seperti dulu waktu statusnya sebagai adik ipar
Hanan mengulum senyum "Apanya yang susah"
"Kalau mereka lihat, terus mereka ingin bagaimana?"
"Gampang.. Tinggal beliin aja, sprei yang ada gambarnya cowok. Peluk tuh, spreinya"
"Ngarang.. Memangnya ada?"
"Nggak tau.. Siapa tau ada"
-
Alana masuk kembali kekamarnya, disana sudah ada Hanan yang sedang tiduran diranjang.
Sebelumnya, Alana turun dan bermain bersama Imran dikamar Rasti. Ternyata Imran ngantuk, dan tertidur dibawah. Akhirnya, Alana keatas tanpa Imran didalam gendongannya
"Imran tidak ikut?" Tanya Hanan
"Tidak, dia sudah tertidur" Alana sedikit kecewa karena bermain dengan Imran hanya sedikit, lalu rewel dan tertidur
Hanan memiringkan badannya, dan menepuk nepuk kasur yang ada didepannya "Ya sudah, istirahatlah sini. Besok kan masih ada waktu buat main dengannya, kemari"
Alana akhirnya nyerah, ia membaringkan tubuhnya disamping Hanan
Hanan tengkurap, tangan kirinya sudah diatas perut Alana
Sambil mengusap usap lengan, pegang pegang baju Alana, menyingkirkan rambut, dan terakhir, jari Hanan sudah didada Alana seperti orang yang sedang melukis disana
__ADS_1
"Aku ingin nagih" Hanan memeluk Alana, Dan menaruh kepalanya didada Alana
Alana menyingkirkan kepala Hanan, rambut pendek Hanan mengganggu wajahnya, apalagi dada Alana. Seakan ditusuk tusuk duri yang terasa gatal gatal dan geli
Alana menyingkirkan kepala Hanan disampingnya "Ih, begini kan enak"
Hanan tersenyum "Kau ini ada ada. Suaminya ingin dimanja malah disingkirin begini. Aku ingin seperti Imran. Dia selalu didekap olehmu"
Hanan kembali mendekap Alana
"Ish, kakak berat" Alana menyingkirkan Hanan kembali disamping kirinya "Kakak ingin tau kenapa Imran sering aku dekap"
"Apa?"
"Karena kulit Imran halus seperti boneka rasfur"
"Oh jadi kulitku kasar begitu"
"Kakak sudah tumbuh rambut dimana mana, nih nih noh!!" Alana menunjuk lengan Hanan, kaki, wajah, dada
"Mana lagi?" Hanan senyum senyum "Ayo, satu lagi belum kamu tunjuk. Ayo, yang itu aku nagih padamu"
"Perasaan nggak pernah hutang, tapi kok ditagih melulu" Protes Alana tidak mau memikirkan yang Hanan pertanyakan barusan
"Kata siapa nggak punya hutang. Banyak tau"
"Kakak jangan ngerjain aku"
"Haha, kau benar benar tidak tau?"
Alana geleng geleng "Nggak"
Hanan mencubit hidung mungil Alana gemas
"Semalem aku masih pakai separuh, sisanya untuk malam ini"
"Masa masih sakit. Untuk malam ini rasanya akan berbeda. Pingin coba?" Rayunya, sambil ingin membuka milik Alana
Plok
"Kakak kayak rentenir. Hutangku sudah dibayar tapi masih punya utang melulu"
"Rentenir kan mencekik, kalau ini nggak" Hanan menunjuk kepunyaannya
"Iya menusuk"
Hanan mulai menindih Alana "Sekarang yang dirasain sakit bercampur gatal kan. Bener nggak?" Hanan terus merayu tak tau malu
"Ih kakak bikin malu. Mesumnya kelewatan"
Alana terus menutupi perkakasnya dengan kedua tangannya
"Haha, gemes tau lihat kamu malu malu tapi butuh cup" Hanan mencuri cium pipi kembali dengan gemas
Dan benar, tissue sudah disiapkan oleh Hanan, untuk teman berlayar
Akhirnya, Hanan kembali menjamah mantan prawan yang sudah ia rasakan semalam. Dan malam ini, Hanan melakukannya selembut mungkin, terlihat jelas Alana tidak setegang semalam. Malam ini Alana pasrah dan tak berdaya
Duda dilawan... Duda paling terdepan. Bujangan kalah terkeok keok...
-
Siang harinya dihari minggu
Hanan lagi lagi menerima tamu yang akan mengontrak rumahnya
__ADS_1
Yang pertama bernama Marsudi, sampai ada empat tamu lainnya yang berminat mengontrak rumah petak milik Hanan. Alhamdulillah semuanya deal
Terakhir tamu kelima yang datang sore sore untuk hari ini
Kali ini yang datang pasangan paruhbaya. Mereka terlihat pasangan romantis dan saling sayang, meskipun mereka tidak muda lagi, perlakuannya terhadap istrinya, membuat Hanan iri terhadap pak Wardoyo atau yang biasa dipanggilnya pakde Pipit. Karena anaknya bernama Pipit, tetapi sudah berkeluarga
Setelah deal, Hanan masuk mendekati Alana yang sudah bermain dengan Imran yang sudah terkantuk kantuk
Hanan menyerahkan beberapa amplop yang jumlahnya 10 juta per amplopnya
"Ini, buat pegangan kamu" Hanan menyerahkan 5 amplop yang sudah terbuka, karena Hanan sudah mengeceknya didepan calon penghuni kontrakan Hanan "Lima pintu sudah laku"
Alana tersenyum "Cepat sekali ya kak"
"Kan ada Jauhari"
"Oh, berarti kita harus kasih fee dong kak"
"Iya jelas, nggak masalah"
"Buka amplopnya ya kak ?"
"Iya bukalah"
Alana mengambil satu amplop, lalu menarik uang dari dalam amplop tersebut "Banyak sekali, buatku kak ?"
Hanan mengangguk
"Nanti kalau habis bagaimana?"
"Memangnya, kamu ingin beli apa?"
"Nggak tau, apa apa selalu dibelikan. Terus aku maunya apa?" Tanya Alana bingung
Hanan tersenyum
Beruntung Alana, lahir dari keluarga yang mampu, dan menyayangi. Tidak mintapun, Alana selalu dibelikan sesuatu oleh ibunya. Apalagi Aina sang kakak. Jika berbelanja, selalu membelikan baju dan kepentingan untuk Alana. Segala kebutuhan anak menginjak dewasa ini ia belikan untuk adiknya, karena Aina wanita berpenghasilan. Dan Hanan selalu tau yang diberikan Aina untuk Alana
Jadi, Hanan sudah hafal kesukaan Alana, ia tinggal menjiplak dari istri pertamanya
"Ya sudah simpan saja, semoga uang yang kau pegang menjadi manfaat"
"Makasih"
Uang Hanan sebenarnya terkuras habis karena untuk pembangunan kontrakan yang jumlahnya tidak sedikit. Apalagi yang dibangun belasan pintu
Tapi tidak masalah buat Hanan, dia memakai tabungannya, dapat gaji dari rumah sakit, honor panggilan menjadi narasumber, belum lagi bagi hasil dari saham yang ia tanam diperusahaan Fariz. Mengalirlah uangnya seperti air.
Ditambah lagi rumahnya sudah terlihat damai dan adem lagi, karena ada tiangnya yaitu perempuan yang dijadikannya sebagai istri
🍭🍭🍭🍭🍭
Maka, bersedekahlah pada istrimu, jangan sampai istri dan anak anakmu kelaparan. Agar rejekimu lancar
istri yang bijaksana, jangan menghamburkan uang suami. Karena istri adalah dompet rumah tangga
Begitupun suami, orang tua tetap dinomor satukan, karena tak mungkin ada kita, jika tak ada orang tua ~Menikahi Ipar~
🍭🍭🍭🍭🍭
Hanan merangkul Alana, tidak ada orang tua yang ingin mencarikan jodoh untuk putranya dengan orang yang salah. Alana wanita yang baik, dari keluarga yang baik pula
"Bahagialah untuk kalian"
__ADS_1
BERSAMBUNG.......