Menikahi Ipar

Menikahi Ipar
Bab 89


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian


Alana sudah mulai sibuk bekerja dirumah sakit, dimana suaminya bekerja disana, sekaligus sebagai pemiliknya


Alana menempati posisi di departemen keperawatan medik


Posisi tersebut, mungkin terlalu rendah untuk Alana. Tapi Alana sangat menikmati, nyaman disana, dan punya banyak teman


-


Siang ini, seperti biasa. Gerombolan Alana sudah memasuki masjid yang berada didalam rumah sakit ini


Rumah sakit ini, membuat aturan atau himbauan ajak karyawan untuk sholat tepat waktu.


Masing-masing departemen, jika waktu sholat telah tiba, semuanya harus tutup pelayanan


Seperti siang ini pukul 11:55


Hanan masih sibuk memeriksa pasien dipolynya, dengan antrian yang masih lumayan panjang


Tiba-tiba terdengar suara adzan, dari masjid yang berada didalam rumah sakit ini, untuk melaksanakan sholat dzuhur


Hanan segera menyelesaikan tugasnya, memeriksa pasien yang sudah keburu masuk barusan


Setelah selesai, asisten yang biasa membantu Hanan segera mengganti papan yang tadinya tertulis "ADA" menjadi "TUTUP"


"Yah, pak dokter keburu tutup. Pasti lama" Ucap salah satu pasien yang masih duduk diantrian


"Kalau begitu, kita kekantin yuk" Ajak suami, pada si istri, yang sudah mengantri panjang dipoly kandungan


Mereka berdua akhirnya berjalan menuju kekantin, yang berada persis disebelah masjid


Sebelum mereka sampai dimasjid, mereka harus melewati beberapa poly, yang masih ada pasien, yang sedang menunggu seperti mereka


"Lho lho lho pah, lihat, apotik kok ikutan tutup. Padahal yang antri masih banyak"


"Nggak tau.. Tadi dokter yang periksa kamu juga ikut tutup"


"Iya, ya pa"


Setelah sampai dikantin, sepasang suami istri itu dibuat mengangah lagi


"Mas, pesan makanan dong" Ucap ibu hamil tadi, kepada pelayan kantin yang sedang sibuk menutup kantin tersebut dengan tirai bambu, tertuliskan "TUTUP"


"Loh, kok tutup mas" Protes wanita hamil tadi


"Maaf bu, saatnya sholat dzuhur"


"Hahh ????"


Beribadah merupakan, kewajiban bagi setiap pemeluk agama, termasuk sholat bagi umat Islam.


Untuk memastikan agar mereka bisa beribadah dengan khusyuk, ada beberapa perusahaan, seperti rumah sakit ini, yang meminta karyawannya untuk menjalankan ibadah tepat waktu.


Perintah itu dituangkan dalam aturan baru tentang sholat tepat waktu, bagi karyawan dan karyawati di lingkungan Rumah Sakit Ibu Dan Anak "ASSIFA"


Dalam surat itu, meminta seluruh karyawan meninggalkan pekerjaannya, untuk melaksanakan ibadah.


Surat edaran tersebut ditandatangani langsung oleh Direktur Utama Alhanan Putra Zayn, yang diterbitkan sejak 1 tahun lalu, sebelum Alana ikut bekerja disini


Dalam rangka meningkatkan keimanan dan ketaqwaan, rumah sakit ini menghimbau kepada seluruh karyawan dan karyawati di lingkungan rumah sakit ini, yang beragama Islam, agar dapat menghentikan seluruh aktivitas masing-masing, ketika adzan telah berkumandang, untuk kemudian segera melaksanakan shalat berjamaah di masjid, yang sudah tersedia didalam rumah sakit ini, kecuali dalam kondisi urgen atau darurat dan atau pekerjaan yang bersifat harus bergantian jaga seperti perawat jaga atau pemegang tugas yang penting lainnya


-

__ADS_1


Alana sudah selesai sholat, lalu bersolek membenahi dandanan pada wajahnya, agar berseri kembali seperti kawan-kawan lainnya


"Mbak Alana, buruan yuk. Perutku lapar" Ajak Noni, kawan Alana yang bekerja satu department dengannya


"Ayuk"


-


Mereka bertiga sudah duduk sambil menunggu pesanan makanan, yang sudah mereka pesan, dikantin sebelah masjid tadi


Tiba-tiba


Pisang ambon disodorkan dari belakang badan Alana "Jangan lupa, sebelum makan, makan pisang terlebih dulu"


Alana langsung menoleh kesumber suara


Alana mendongak "Mas. Kenapa harus pisang" Alana cemberut, tapi Hanan hanya tersenyum mendengar protesan dari istrinya


"Itu bagus untuk pencernaan" Lalu Hanan berjalan, menjauhi meja Alana


Alana geram dengan tingkah suaminya.


Alana berlari kecil mengejar Hanan. Begitu tangan Hanan terpegang oleh Alana, Alana menaruhkan pisang ambon tadi ketangan Hanan "Nih, udah dibilang aku nggak mau"


Semua orang yang masih istirahat sejenak, mengamati pasangan ini dengan aneh


Ada yang ikut senyum-senyum melihat bosnya berantem dengan istrinya, gara-gara memberi satu buah pisang kepada istrinya


Ada juga yang terheran-heran, hanya karena pisang, mereka kejar-kejaran


Hanan menerima pisang tersebut, lalu memukulnya pelan ke jidat Alana


Puk


Alana mengangah tak percaya "Kenapa mas bahas begituan disini" Alana mendorong Hanan "Sana, sana. Jangan ganggu aku" Alana segera berlari mendekati kedua temannya tadi


Belum sempat duduk, Hanan sudah berhasil memasukkan pisang tadi, kedalam saku seragam Alana


"Akkkk" Alana menjerit tertahan sambil kesal


Hanan hanya tersenyum lebar, sambil melambai-lambai tangannya, lalu duduk bersama teman dokternya


Alana meletakkan pisang tersebut diatas mejanya dengan kesal


Alana melirik tajam kearah Hanan, yang duduknya jauh didepan Alana


Alana terduduk kesal, karena Hanan sudah berlari, lalu duduk lagi bersama kawan-kawan dokter, yang sedang makan siang disana


Dari jauh Hanan tersenyum "Dimakan" Bisiknya dari jauh


Alana masih cemberut memandangi suaminya yang jauh dari jangkauannya


"Sudah, dimakan" Ucap Noni yang melihat Alana begitu kesal melihat pisang yang diberi oleh suaminya


"Iya, hargai pemberian pak dokter. Lihat para wanita itu" Tunjuk Nani pada seorang perawat lain "Mereka menikmati makan pisang kan?"


"Itu kan orang lain. Aku tidak suka" Kesal Alana


"Tapi itu bukan racun mbak Alana, kenapa kamu begidik" Ucap Noni


"Aku tidak suka, kenapa kalian maksa" Kesal Alana lagi, membuat Hanan yang jauh tempat duduknya, ikut tersenyum melihat ekspresi Alana


"Udah, udah, terserah kamu mbak, udah yuk, kita makan" Lerai Nani, takut mereka berantem gara-gara masalah pisang

__ADS_1


-


Sore harinya, Alana sudah siap pulang, tapi tidak dengan Hanan


Hanan sibuk, membuat Alana menunggu lama diruang pribadi mereka, yang ada dilantai dua


Alana sedang menelpon putra-putranya.


"Bundaaaaa... Kapan bunda pulang. Dedek kangen bund..." Jerit Altaaf pada sang bunda


"Eh, bunda juga sayang, kangen sama kalian"


"Kapan pulang bund. Bunda sibuk mulu, nggak pernah ngajakin kami main sepak bola" Protes Imran


"Sayang, bunda kan bantuin daddy cari duit. Kasihan daddynya kalau kerja sendiri"


"Eng, bunda, kakak kangen... Kami boleh menyusul kerumah sakit nggak, dianterin pak Sholeh bund" Ucap Imran lagi


"Eh, sebentar ya, nunggu daddy dulu. Daddy belum nyamperin bunda. Jadi kalian sabar"


Tiba-tiba


"Kenapa?"


"Ini anak-anak, katanya ingin..... " Belum Alana menyelesaikan ucapannya, kedua putranya sibuk memanggil-manggil ayahnya


"Daddy, daddy.... Boleh ya, kami datang kerumah sakit?"


"heh, kalian ini"


"Daddy masih lama kan, boleh ya dad please"


Hanan tersenyum, demi Alana, anak-anak merayu Hanan agar menyutujui permintaan Imran tersebut


"Dedeknya ikut nggak?"


"Ya ikut dad. Kami berdua ingin jemput bunda. Boleh ya dad"


Hanan sengaja terdiam tidak mejawab


"Dad, daddy.. "


Bukan Hanya Orangtua, Anak-anak Juga Ingin didengarkan kemauannya


"Iya boleh"


"Boleh???"


Hanan mengangguk


Imran dan Altaaf langsung jingkrak-jingrak


"Makasih daaaaaad"


Bettttt


Panggilan video call, diputus sepihak


Hanan geleng-geleng


Tidak istri tidak anak. Jika sudah diberi izin, mereka memutuskan semau sendiri


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2