
Rombongan Reno beserta keluarga telah tiba di kediaman Tenri. Sebelum memasuki rumah calon mempelai wanita, Reno beserta rombongan disuguhi pertunjukan adat. Disebut proses penjemputan pengantin, Reno disambut dengan penampilan Angngaru atau Aru Tubarania.
Punna Sallang Takammaya, Aruku Ri Dallekanta, Pangkai Jerakku, Tinra’ Bate Onjokku. Pauwang Ana’ Ri Boko, Pasang Ana’tanjari, Tumakkanaya, Karaeng
Natanarupai Kananna. Sikammajinne Aruku Ri Dallekanta, Dasi Nadasi Natarima Pangngaruku. Nasaba’ Alla Ta’Ala. Salama’……
(Bilamana kelak janji ini tidak kutepati. Sebagaimana ikrarku di hadapanmu. Pasak pusaraku. Coret namaku dalam sejarah. Sampaikan pada generasi mendatang. Pesankan pada anak cucu. Apabila hanya mampu berikrar, Karaeng tapi tidak mampu berbuat bakti. Demikianlah ikrarku di hadapanmu. Semoga Tuhan mengabulkanNya. Amien.)
Demikianlah Reno disambut dengan Aru, diiringi dengan Tunrung Pakanjarak dan Puik-Puik. Membuat bulu kuduknya merinding mendengar kalimat terakhir dari sang Panngaru.
Tak lupa pula, dia dijemput dengan tarian adat tradisional suku Makassar, biasanya tari PADUPPA. Tarian tersebut dimaksudkan untuk menjemput pengantin dan juga rombongan. Tarian ini memang merupakan tari penjemputan. Tak hanya Pengantin tapi juga untuk acara-acara adat, penjemputan pejabat dan lain-lain.
Rombongan pengantin hendak memasuki rumah calon mempelai wanita, namun rupanya di sana masih harus disambut dengan prosesi Akkiok Bunting atau memanggil pengantin masuk ke dalam rumah.
Seorang wanita paruh baya dengan beras di tangan sedang melantunkan syair penjemputan Pengantin.
Iya dende....
Iya dende....
Nia' tojeng mi anne battu Bunting, kutayanga. Salloa kuminasai; Burakne buraknena buraknea.
Di mana artinya adalah,
Iya dende....
Iya dende....
__ADS_1
Telah datang dengan sungguh iringan pengantin yang dinanti dan telah diharapkan sungguh seorang lelaki; lelaki yang sungguh!
Syair tersebut mengalun dengan indahnya, membuat para rombongan merasa tersentuh. Namun seketika rombongan menjadi riuh manakala si pemanggil pengantin mengakhiri kalimat syairnya.
Bunting tabunting antamak aseng maki mae ... (Pengantin dan bukan pengantin, masuklah ke dalam rumah kami).
Seketika rombongan pun memasuki rumah calon pengantin wanita. Reno terlihat gugup, beberapa butir keringat tampak mengalir di pelipisnya. Baju pengantin adat suku Makassar terasa sangat berat dikenakannya. Menjadi raja dalam sehari.
***
"SAYA TERIMA NIKAHNYA DAN KAWINNYA TENRI RUKMANA SARI BINTI BAHARUDDIN DAENG NGITUNG DENGAN MASKAWINNYA YANG TERSEBUT DIBAYAR TUNAI."
Walau sempat grogi dan salah satu kali, akhirnya Reno berhasil juga melafalkan ijab qobul yang sejak semalam itu membuatnya tak bisa tidur.
"SAH?" tanya pak penghulu.
Rasa grogi yang sejak tadi mengungkungnya pun perlahan menghilang. Reno akhirnya dapat menyunggingkan senyumnya walau sedikit.
Sementara di dalam kamar pengantin mempelai wanita, Tenri berucap syukur akhirnya prosesi ijab kabul tersebut berjalan lancar. Olla yang sejak tadi menemaninya, mereka berdua pun saling berpelukan dan menangis haru.
Tak lama kemudian, Reno dibawa masuk ke dalam kamar Tenri. Di situlah kehebohan itu terjadi. Pasalnya mereka baru akan bertemu untuk yang pertama kali.
Reno deg degan, apalagi Tenri. Sejak tadi telapak tangannya telah berkeringat karena agak gugup. Di depan pintu kamar Tenri ternyata ada yang jaga, namanya Pasungke pakkekbu (orang yang akan membuka pintu). Biasanya pintu akan dibuka setelah diberi sejumlah uang.
Riuh tawa dan teriakan pun terjadi, mana kala Reno kini sudah memasuki kamar Tenri. Tenri makin gugup, dia menunduk dan tak berani melihat ke arah Reno. Beberapa orang di sekitarnya terdengar menyebut bahwa Reno ganteng sekali. Banyak yang memuji ketampanannya. Juga tak kalah banyak yang memuji kecantikan Tenri pada hari pernikahannya itu.
"Namanya juga jodoh, perempuan cantik akan dipasangkan dengan lelaki tampan. Sungguh beruntunglah kalian berdua," seru salah seorang yang hadir di sana.
__ADS_1
Semua orang pun bersorak. Reno juga tak dapat menyembunyikan kegugupannya, apalagi saat dia diminta memasukkan sebuah cincin ke jari manis Tenri. Dia meraih tangan Tenri dan meloloskan sebuah cincin ke jari manis wanita itu.
"Jarinya mulus dan lentik, kulitnya putih dan cerah. Apa betul isteriku ini memiliki paras yang cantik? Aku penasaran."
Reno berucap dalam hatinya, dia ingin segera memastikan itu tapi dia juga malu-malu. Saat Tenri meraih tangannya untuk bertukar cincin, tangannya begitu berkeringat. Hal yang paling mendebarkan adalah, ketika Reno diminta mencium kening Tenri.
"Ciee ...."
"Cie ... cie ... bunting berua bela."
Semacam itulah teriakan teriakan kecil yang sampai ke telinga Reno. Membuatnya semakin grogi namun dia melakukannya juga. Sebenarnya saat Tenri hendak mencium tangannya dia sudah dapat melihat wajah Tenri, wanita yang cantik. Begitulah yang dikatakan benaknya.
"Jangan-mi malu-malu, sudah sah-mi jadi suami isteri." Ledek seseorang dan disambut tawa riuh yang hadir.
Setelah semua proses proses di hari akad itu selesai, keduanya pun diantar untuk duduk di kursi pelaminan.
Tenri gugup sekali. Berkali-kali orang-orang memintanya agar tersenyum namun tetap saja rasa gugupnya itu tak mau hilang. Reno menggenggam tangan Tenri untuk pertama kali dan hal itu semakin membuat Tenri panas dingin. Dia baru pertama kali disentuh oleh seorang lelaki dewasa. Hal itu tentu saja membuat Tenri belum terbiasa dan dia benar-benar malu menampakkannya di hadapan para tamu undangan.
Reno pikir semua proses pernikahan akan selesai setelah akad, ternyata masih ada proses lainnya. Setelah semua acara pernikahan selesai termasuk resepsi, maka kedua mempelai kemudian diarak ke rumah keluarga mempelai lelaki. Prosesi ini disebut nilekka. Keduanya akan menghabiskan beberapa malam di rumah keluarga mempelai lelaki sebelum akhirnya mereka berdua pamit (appala’ kana; Makassar). Si perempuan yang sekarang sudah resmi menjadi bagian dari keluarga besar si lelaki akan menyerahkan sarung kepada mertuanya. Sarung ini sebagai persembahan menantu kepada mertuanya dan dibalas pula oleh sang mertua dengan sarung.
Kedua mempelai akan tiba kembali di rumah mempelai perempuan, dan di sana akan diadakan prosesi pamungkas yang bernama appakabajikang atau saling memperbaiki/menyempurnakan. Setelah selesainya proses ini, maka berarti selesai sudah semua rangkaian perkawinan suku Makassar.
Reno dan Tenri sama sekali belum dapat beradaptasi. Namun keduanya sedang berusaha agar mereka pun terbiasa.
"Akhirnya cita-cita ibu kesampaian juga, Nak. Anakku Tenri, janjiku pada almarhum kedua orang tuamu sudah terpenuhi. Terimalah Reno kurang dan lebihnya, saling menutupi aib satu sama lain. Sebab setelah kalian menikah maka tak ada lagi Tenri dan Reno tapi kalian berdua. Ingat itu baik-baik anakku, kau juga Nak Reno, jagai bainennu bajik-bajik (jaga isterimu baik-baik). Buraknea intu Pappaunnaji nitakgalak (lelaki itu ucapannyalah yang akan dipegang)."
Begitulah nasihat ibu Reno saat mereka berdua meminta diri untuk berjanji membangun bahtera rumah tangga dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
*Bersambung.