Menikahi Wanita Pilihan Ibu

Menikahi Wanita Pilihan Ibu
Aku Tunggu Di Rumah Tenri


__ADS_3

Matahari pagi menembus celah jendela kamar Olla, dia sedang mengemas pakaiannya. Hari adalah jadwal kepulangan dia ke Makassar bersama keluarga Reno. Dia susun satu persatu pakaiannya ke dalam koper.


Dia penasaran mengapa ponselnya sejak tadi belum berbunyi, apakah dia sesungguhnya menunggu seseorang untuk menghubunginya?


Setelah semua barang bawaan selesai dia kemas, dia pun berdiri dan duduk di tepi tempat tidurnya. Mengecek ponsel yang sejak tadi tidak menimbulkan suara apapun. Dari cara dia menarik napas, terlihat bahwa dia sedang menunggu kabar seseorang.


Setelah ponsel dia cek dan tak ada apapun yang menarik hatinya, dia pun menyimpan kembali ponsel tersebut dan masuk ke kamar mandi.


'Mengapa dia tak menghubungi aku?' Batin Olla terus bertanya-tanya, namun dia gengsi untuk menghubungi duluan.


Air keran dari atas meluncur ke kepalanya, membasahi rambut hingga kulit kepalanya. Lalu dia berhenti sebentar, mungkin sedang berpikir atau masih terpikirkan hal tentang orang yang dia harapkan untuk menghubungi dirinya. Namun hal itu tak pernah terjadi sepanjang pagi ini.


Suara gemericik air sangat berisik dari kamar mandi, Tenri baru saja masuk ke kamar yang digunakan Olla selama berada di rumahnya.


"La, Olla ...." panggilnya.


Kemudian dia sadar kalau orang yang dia cari sedang berada di kamar mandi. Tenri pun mengerti dan menunggu Olla sampai keluar dari kamar mandi.


Selang beberapa menit, Olla selesai mandi dan menyadari bahwa di kamar itu sudah ada Tenri yang menunggunya.


"Udah beres aja pakaian kamu, La."


"Iyah, kan kamu tahu sendiri. Aku bukan tipe orang yang bisa santai saat dikejar waktu. Jadi daripada nanti ada yang ketinggalan mending aku beresin aja duluan. Ada apa, Ri?"


"Tidak, aku cuma mau ngecek kamu aja. Pakaian aja dulu, La. Aku tunggu di bawah ya, sarapan bareng."


"Oke. Makasih ya, Ri."


Tenri pun keluar dari kamar dan menutup pintu perlahan.

__ADS_1


***


Sesaat kemudian, Olla bergabung di lantai bawah tepatnya di ruang makan untuk ikut sarapan bersama Reno dan keluarganya.


"La, sini La." Tenri memanggil Olla sambil dia menyiapkan segala sesuatunya di atas meja makan.


"Maaf ya, aku kelamaan di kamar sampai nggak ikutan buat bikin sarapan." Jawab Olla yang sedikit merasa bersalah.


"Tidak apa-apa, kamu ini kan tamu di rumah aku. Jadi aku harus melayani kamu dengan baik dan semaksimal mungkin. Sudah jangan banyak protes, duduk dan kita sarapan bersama." Tenri sangat perhatian pada Olla dan seluruh anggota keluarganya. Bukan cuma itu, dia juga telaten dalam mengurus segala keperluan. Benar-benar isteri idaman, Reno beruntung mendapatkan wanita sebaik Tenri.


Olla tersenyum dan menyapa semua yang ada i meja makan. Ada Reno, papa Reno, dan juga tantenya.


"Mari makan, La. Harus banyak makan, karena kita akan melakukan perjalanan panjang lagi kembali ke Makassar." Celetuk Tante yang sedang menuangkan makanan ke piring.


"Iya La, nanti kapan-kapan kamu balik lagi ke sini ya? Di sini banyak yang kangen kamu nanti soalnya." sambung Reno dan Tenri tahu persis ke mana arah pembicaraan suaminya itu. Tenri pun mesem-mesem sendiri dan menahan senyumnya.


"Sekalian aja tinggal lebih lama di sini, mana tahu jodohkan sama salah satu diantara mereka." lanjut Reno lagi terus memancing keadaan.


"Haha, Ren kamu memang jagonya negoisasi. Aku salut sama jiwa pebisnis yang kamu masukkan ke dalam dunia percomblanganmu itu. Gila ya," balas Olla dengan nada bercanda namun sebenarnya dia serius di setiap kalimatnya.


"Sudah, sudah daeng, ayo makan semuanya."


Mereka pun makan dan tak ada yang membahas apapun di meja makan.


***


"Baby Queen, sehat-sehat ya. Onty pulang dulu ke Makassar nanti onty tunggu kamu di Makassar ya." Olla sedang berbicara dengan suara anak-anak pada baby Queen. Dia semakin heboh ketika Queen seolah mengerti ucapannya dan ikut mengeluarkan suara.


"Gemes banget ih, kamu." lanjutnya lagi.

__ADS_1


"La, pipinya Queen jangan diuyel-uyel terus tahu ih."


"Hehe habis anak kamu sangat menggemaskan."


"Menggemaskan memang, makanya bikin juga."


"Calonnya aja belum ada, gimana sih?"


"Udah ada, tinggal kamu aja yang akan memantapkan hati dan memilih satu yang menurut kamu baik kok."


"Ya elah, nggak suami nggak isteri semuanya sama aja. Sama-sama menjerumuskan orang ke dalam lubang buaya."


"Tapi kali ini dijamin buayanya masih original Haha. Bukan buaya darat apalagi buat laut."


"Halah, sama aja."


"La, wajah kamu kok kayak lagi menunggu apa gitu. Meskipun ikutan bercanda tapi hati kamu tuh nggak sama kita sekarang. Ada apa si?" tanya Reno.


"Kamu itu cenayang ya? Peramal ya? Sampai isi hati orang lain aja kamu tahu."


"Daeng sudah, kalian berdua ini memang tidak pernah akur ya."


Lalu bersamaan dengan itu, ponsel Olla akhirnya bergetar. Dia terlonjal dari duduknya dan agak menjauh dari Reno dan Olla. Kedua suami isteri itu pun merasa ada yang sedang coba disembunyikan Olla dari mereka.


"Em, iya. Aku tunggu di rumah Tenri ya."


"Oke, oke, aku tahu. Terimakasih sebelumnya."


Terdengar suara Olla dari kejauhan. Membuat Reno dan Olla semakin penasaran siapa yang tengah Olla ajak bicara di telepon.

__ADS_1


__ADS_2