Menikahi Wanita Pilihan Ibu

Menikahi Wanita Pilihan Ibu
Skandal


__ADS_3

Rama menangkap pergelangan tangan Cindi yang hanya berjarak satu inci dari wajahnya, dan menahan tangan satunya sebelum Cindi terpikir untuk melayangkannya.


"Dasar bajingan! Tidak cukupkah kamu menghilangkan nyawa sepupu aku? Sekarang kamu juga memanfaatkan aku dan ingin melampiaskan seluruh hasrat bejatmu itu. Kamu ini manusia atau binatang?" Cindi menatap tajam ke mata Rama.


“Ha ... ha ... ha ...,” tawa Rama berderai di dalam salah satu kamar hotel di bilangan Jakarta itu. Sembari memegang erat lengan Cindi di kedua sisi tubuh Cindi dan ia mendorongnya ke dinding. “Memukul itu tidak baik, Sayang. Cobalah bersikap manis padaku, sepupu kamu itu terlalu bodoh. Dia polos dan menjengkelkan, aku tidak pernah benar-benar berniat untuk menjalin hubungan dengannya kecuali untuk membalaskan dendam padanya."


Cindi benar-benar marah, lebih dari sekadar memulai pertarungan di antara mereka berdua. Itulah yang terjadi. Ini bukan sekadar perasaan murka.


Cindi berontak satu kali, menyentak pegangan Rama dengan setengah hati. Matanya menyusuri dari mulut Rama ke dadanya, lebih turun, kemudian kembali lagi. Cindi bernapas cepat hingga menarik kain tipis baju ketatnya dalam setiap tarikan.


Puncak kembar milik Cindi mengeras dan yang ada di pikiran Rama hanyalah bagaimana rasanya mencecap itu di lidahnya. Dasar mesum.


“Lepaskan aku,” bisik Cindi.


Rama melonggarkan genggaman jemarinya, dan mengusapkan ibu jarinya di titik denyut yang begitu lembut di pergelangan tangan Cindi.


Rama menginginkan Cindi. Namun Cindi mengatakan agar melepaskannya. “Apakah itu mau kamu?”


Mata Cindi menelusuri mata Rama. Pupil matanya melebar dan menjauh. Mengungkapkan lebih banyak hal daripada apa yang diketahuinya, Rama yakin begitu. Semua kemarahan itu mereda, memperlihat kan pergulatan emosi di dalam hati. Cindi merasa gugup. Tidak yakin. Senang dan bergairah. Mungkinkah?


Namun akhirnya Cindi berbalik dan mendekati pintu kamar hotel itu, hendak keluar. Rama segera bergerak cepat dan menahan Cindi dengan tangannya yang berotot itu.

__ADS_1


"Kamu pikir aku melakukan itu untuk siapa? Aku membunuh Elsa, bukan untuk diriku sendiri. Bukankah kamu kesal padanya karena semua warisan dari kakek dan nenekmu jatuh ke tangannya? Bukan begitu? Katakan bila aku salah, Cindi!" Tatapan Rama membesar, memperlihatkan pupil mata yang hitam dan besar miliknya.


Tubuh Cindi bergetar mendengar pengakuan Rama padanya. Dia memang kesal pada Elsa dan keluarganya karena dialah salah satu yang masuk dalam ahli waris. Sementara Cindi dan keluarganya tak mendapatkan apapun. Rupanya Rama mengetahui itu, begitu cintanya dia pada Cindi maka dia pun mendekati Elsa untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Termasuk warisan yang sudah diambil alih oleh Rama dari Elsa sebelum dia dapat membunuh wanita itu.


"Apa? Jadi ... kamu tahu tentang itu?"


"Aku tahu semuanya, Cindi. Aku tahu, makanya aku mendekati Elsa untuk mendapatkan semua warisan itu untuk kamu."


"Mengapa menatapku seperti itu? Kamu butuh bukti? Wait, aku ambilkan buktinya agar kamu percaya seratus persen padaku." Ryan segera berbalik dan berjalan ke sebuah meja di mana di atas meja tersebut terdapat sebuah tas kerja berwarna hitam. Dokumen itu di simpan di dalam tas tersebut.


Setelah mendapatkannya, Rama kembali menunjukkan itu di depan Cindi.


Cindi melihat semua dokumen itu, dia menutup mulutnya dengan jemari tangannya karena kaget melihat apa yang tertera dalam surat wasiat tersebut. Rama benar-benar mendapatkannya untuk Cindi.


"Untuk apa kamu menunjukkan semua ini padaku? Kamu bukannya sudah bertunangan dan menikah?"


"Haha ... tunangan? Menikah? Kamu percaya itu semua? Itu hanyalah salah satu bagian dari rencana. Satu-satunya wanita yang ingin aku nikahi cuma kamu, Cindi."


Rama mendekatkan badannya ke Cindi, memegang kedua bahu wanita itu untuk meyakinkannya lagi. Perlahan Rama menarik tangannya ke atas, tepatnya di bagian leher terus naik ke bagian belakang kepala Cindi. Mata gelap menjelajahi tubuh dan lekuk Cindi. Memunculkan getaran di antara tubuh mereka yang penuh hasrat.


Rama memberi isyarat dengan menyentuh namun tak melakukannya. Sementara Cindi telah berharap Rama mengunci bibirnya dengan bibir miliknya. Apalagi dengan tubuh besar Rama yang berada begitu dekat sehingga hawa panas menggelincir masuk ke kulit Cindi, membuat perutnya meleleh. Memutar seperti kupu-kupu bergerak berlawanan arah di perutnya.

__ADS_1


"Aku ... aku tidak tahu apakah ini benar atau tidak." Cindi menelan salivanya hanya untuk dapat berbicara dengan benar.


Satu sudut bibir yang indah nan maskulin milik Rama terangkat, menawarkan penyelesaian yang tepat. "Kalau begitu, tidak usah tahu apapun, biar ini menjadi dosaku sendiri dan biarkan aku mempertanggungjawabkannya."


Kini Cindi benar-benar tak bisa menahan gejolak hasrat yang ikut mengalir dari tubuhnya. Tekanan otot keras dan tiba-tiba dari seorang Rama juga tekanan mulut Rama yang lebih keras lagi di mulutnya. Merekahkan bibirnya dalam ciuman yang menuntut dan meluluhlantakkan dan membuatnya bergetar, sementara dirinya telah terduduk di atas sebuah tempat tidur yang sejak tadi menjadi saksi bisu pertengkaran mereka yang tak seharusnya terjadi.


Rupanya sejak dulu sudah ada skandal antara Rama, Elsa dan juga Cindi. Semua itu bermula dari para Keluarga yang menginginkan lebih dari yang seharusnya menjadi miliknya.


Gairah yang menggebu meluncur dengan dahsyat di mulutnya membelai indah lidahnya. Begitu nikmat, ini begitu nikmat dan Cindi tak dapat menghindari perlakuan Rama terhadapnya.


Jadi apa yang kemudian dilakukannya adalah mengalungkan kedua tangannya di leher Rama, memeluknya dengan erat dan bercumbu dalam gairah yang menggebu. Seolah tidak akan pernah dilepaskannya. Meminta begitu banyak sentuhan dan kenikmatan yang telah lama hilang darinya. Menyambut setiap ciuman yang dilepaskan Rama untuknya.


Dia ingin merasakan kenikmatan Rama di mulutnya. Impitan dan tekanan tubuh Rama di atas tubuhnya. Dia begitu menginginkannya sampai tak dapat berpikir mengenai Rama yang sudah membunuh sepupunya yaitu Elsa.


Napas yang selama ini ditahan Cindi tanpa disadari lepas seketika. Rama mendesaknya ke pelukan, dia melengkungkan punggung hingga si kembar miliknya mengusap dada Rama. Sementara dirinya terus mengisap bibir dan lidah Rama, meminta lebih. Rama menyusuri punggung Cindi dengan jemari tangannya, mendapatkan pengait cup yang menutupi gunungan kembar milik wanita itu.


Rama membisikkan kalimat kenikmatan yang tak sanggup ditolak lagi oleh Cindi. Suara gumaman yang berat memenuhi mulut Cindi. Hingga wajah permohonan yang ditunjukkan Cindi pada Rama dan semua itu dapat dibaca oleh pria itu. Sehingga tak butuh waktu lama lagi untuk mereka berdua menyelesaikan pergulatan yang baru saja terjadi.


Cindi sudah melupakan tujuannya menemui Rama, setelah dia tahu bahwa Rama-lah yang membunuh sepupunya itu dia marah sekali. Dengan tekad yang bulat dia pun menghubungi Rama untuk meminta penjelasan sampai dia tahu alasan kenapa dia membunuh Elsa. Hingga Rama menceritakan semuanya dan kali ini dia kalah telak dalam perang tersebut.


Skandal pun terjadi begitu saja ....

__ADS_1


__ADS_2