Menikahi Wanita Pilihan Ibu

Menikahi Wanita Pilihan Ibu
Masuk Perangkap


__ADS_3

Tenri berusaha terus menghubungi nomor Reno, namun nomor tersebut tak pernah aktif. Hari ini adalah hari kedua Tenri kehilangan kabar suaminya. Tenri tidak tahu harus menghubungi siapa, dia kebingungan sendiri. Di Jakarta dia tak mengenal siapa-siapa teman Reno kecuali Doni dan Daffa. Rasanya kalau Daffa karena mereka baru saja bertemu, tidak mungkin Daffa tahu ke mana suaminya dan bersama siapa dia sekarang.


Reno bilang akan seminggu di Australia, tapi di mananya dan bersama siapa terus mengerjakan apa, Tenri sama sekali tidak tahu menahu mengenai itu. Wajar bila dia cemas.


'Tenang Tenri, ini baru hari kedua. Reno bilang akan pergi selama seminggu. Berdoa saja terus semoga dia baik-baik saja dan dalam keadaan sehat. Fiuh ... tarik nafas panjang lalu hembuskan agar lebih tenang.' ucap Tenri dalam hati berusaha menghibur dirinya sendiri.


Sekarang dia menuju ke lantai bawah, dia mendengar ribut-ribut padahal setahu dia di rumah itu hanya ada dirinya dan Bi Surti. Tenri segera berlari cepat menuju ke bawah. Betapa kagetnya saat melihat keberadaan Elsa di sana.


"Maaf Bu, Bibi tidak bisa menahan Mbak Elsa untuk masuk rumah ini." Bi Surti tampak merasa bersalah.


"Tidak apa-apa, Bi. Biarkan wanita itu, aku mau dengar apa yang dia inginkan di rumah ini." Tenri menjawab sangat tenang, dia melangkah ke tangga terakhir dan berjalan ke arah Elsa berdiri angkuh.


"Jangan kira kamu sudah merasa menjadi nyonya besar di rumah ini, perempuan pembawa sial!"


"Apa ada yang salah? Aku memang nyonya besar di rumah ini dan Anda siapa?"


"Cihh ... aku ke sini cuma mau ngasih tahu kalau suami kamu Reno, sedang berada di Australia bersama seseorang. Aku ingin mengingatkan kamu, jika Reno terus bersama orang ini maka dia akan hancur."


"Apa jaminannya untukku bahwa ucapan kamu benar? Aku percaya pada suamiku, bukan orang seperti Anda."


"Tenri, Rama itu bukan orang baik-baik. Aku tahu betul orang itu. Dia hanya ingin memanfaatkan Reno."


"Sama seperti kamu?" potong Tenri dengan cepat. Tapi sejujurnya dia juga khawatir jika yang diucapkan Elsa itu benar.


"Apa maksudmu?"

__ADS_1


"Harusnya kamu bisa tahu apa maksud aku. Bukankah kamu ini perempuan yang cerdas?"


"Aku ke sini bukan untuk ribut, hanya mengingatkan kamu. Jika tidak, maka Reno akan hancur di tangan Rama. Camkan itu Tenri!"


"Terimakasih sudah mengingatkan aku, pintu di sana masih terbuka lebar untuk Anda keluar dari sini."


Wajah Elsa merah padam menahan amarah. Tenri membuatnya kehabisan kata-kata, namun tujuannya kali ini baik. Dia hanya ingin memberitahu Tenri kalau Reno itu bersama orang yang tidak tepat.


Setelah kepergian Elsa, Tenri terduduk lesu di sofa ruang tamu. Dia tak mengerti dengan kalimat Elsa. Rama? Siapa Rama? Mengapa Elsa sangat khawatir kalau Reno pergi bersama Rama?


'Aku harus cari tahu ...."


Dengan cepat dia mengeluarkan ponselnya dari kantong celananya. Kemudian menelpon Doni.


"Halo, Pak Doni."


"Pak Doni, eh maaf. Doni kenal orang yang bernama Rama?"


"Rama? Emangnya kenapa, Tenri?"


"Elsa barusan ke rumah, dia berbicara mengenai Reno dan Rama Rama ini. Apa kamu kenal dengannya? Elsa seakan memberi lampu merah untuk aku agar mencegah Reno bersama Rama. Aku tidak ingin percaya sama ucapan Elsa, tapi aku juga khawatir, Don. Apalagi Elsa bilang jika Reno bersama Rama maka hanya menunggu kehancuran Reno."


"Aku akan cari tahu dulu, jika memang Rama itu berbahaya maka aku akan segera menyusul Reno ke Australia dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi antara mereka. Kesepakatan apa yang sudah mereka sepakati."


"Iyah, tolong ya Don."

__ADS_1


"Iyah, Tenri. Kamu jangan cemas, tetap berdoa ya."


***


Australia,


Reno baru saja menandatangani sebuah surat kesepakatan jual beli antara dirinya dan perusahaan Rama. Reno menjual seluruh asetnya di perusahaan yang sudah dia dirikan selama bertahun-tahun di bidang perbengkelan. Niatnya adalah dia akan membuat usaha jual beli mobil dengan perantaraan Rama dan juga perusahaannya.


Rama sudah menawarkan harga yang fantastis untuk bengkel Reno. Padahal bengkel utama Reno sudah rata dengan tanah. Hal itulah yang membuat Reno tertarik dan menjual seluruh asetnya.


"Aku harap kerjasama kita ini akan berlangsung lancar, dan seterusnya." Ucap Reno sambil menjabat tangan Rama dan disaksikan oleh beberapa orang dari perusahaan Rama.


"Aku juga berharap demikian."


Dari gelagat Rama, sudah ketahuan bahwa dia bukanlah orang baik-baik. Sorot matanya ke Reno seperti mengatakan "Abis lu kali ini, Ren."


Kesepakatan itu pun resmi. Reno tertawa dan Rama lebih senang lagi. Reno disuguhkan minum minuman beralkohol.


"Tenang Reno, mulai bulan depan pengiriman mobil dari Jepang akan berjalan. Semuanya 100 unit dan akan langsung masuk showroom kamu. Haha ...."


"Aku sudah tak sabar menunggu waktu itu tiba, Ram. Hahaha ...."


Tawa-tawa mereka memantul di langit-langit ruangan tempat mereka menggelar pertemuan. Reno tak pernah tahu kalau Rama dan komplotannya ini adalah penipu ulung. Entah dari mana mereka kenal, yang pasti Reno telah masuk ke dalam perangkap Rama.


Urusan Reno terbilang selesai dengan cepat. Hanya tiga hari lantas semua sudah diurus. Dia tak menyangka bisnis mobil ini ternyata mudah sekali. Dia tak tahu saja kalau Rama ini adalah pengusaha fiktif.

__ADS_1


Dia tak pernah ada bisnis yang nyata, dia mencari korban yang sedang bingung setelah perusahaannya bangkrut atau kolaps maka dia akan mengambil alih usaha tersebut dengan mudah. Sebagai jaminan adalah membeli dengan harga tinggi dan pembayaran setengah di muka. Selebihnya, dia akan menghilang begitu saja dan perusahaan orang tadi telah dijual seluruhnya beserta isi-isinya.


Sayangnya, Reno sangat mudah masuk ke dalam perangkap tersebut. Welcome to the jungle ....


__ADS_2