
Sekitar pukul 3 Sore waktu Jakarta, Reno akhirnya sampai di rumah. Tenri sudah menyambut di pintu dengan senyum gembira. Tangannya terbuka ingin memberi pelukan, namun yang dia dapatkan adalah Reno melewatinya begitu saja dan langsung masuk ke rumah.
Reno melonggarkan kancing bagian atas dari kemeja yang dipakainya. Setelah berhasil membuka tiga kancing dia lantas duduk dan melipat kakinya seperti menunggu.
"Daeng, kau pasti lelah sekali. Biar kubuatkan kopi untukmu."
"Tidak usah, aku tidak butuh kopi." Reno menjawab ketus setiap ucapan yang keluar dari mulut Tenri.
Wanita itu pun merasa semakin terpojok, dia tidak tahu harus bagaimana melayani suaminya. "Buka sepatuku," perintah Reno pada Tenri. Kakinya dia silangkan di atas meja dan Tenri jongkok di lantai dekat kaki Reno untuk membuka sepatu suaminya itu.
"Astaga, apa itu tidak terlalu kejam? Kenapa Bapak berbuat setega itu pada Ibu?" bisik Bi Surti pelan pada dirinya sendiri setelah melihat apa yang terjadi.
"Sudah, daeng." Tenri pun berdiri dan hendak duduk kembali di sofa. Namun pergelangan tangannya ditarik oleh Reno sehingga dia terjatuh di sofa tempat Reno duduk dan menabrak bagian badan suaminya.
"Aakkh ...." pekik Tenri karena kaget.
"Apa yang kamu lakukan selama aku tidak ada?" tanyanya dengan seringai yang tak dimengerti oleh Tenri.
"Tidak ada, Daeng. Memangnya aku mau melakukan apa lagi? Aku hanya menunggu kamu pulang."
__ADS_1
"Cihh, kamu yakin?"
"Yakin daeng. Kenapa kamu seperti ini? Mau kamu apa sebenarnya daeng? Tidak bisakah kau menghargai aku sedikit saja sebagai istrimu? Aku tidak mengerti lagi dengan jalan pikiranmu. Sebentar baik, sebentar lagi berubah seperti monster. Aku takut melihat kamu yang seperti ini daeng. Aku seperti melihat orang lain yang bukan suamiku." Tenri berteriak sedih di depan Reno.
Memangnya apa yang merasuki pria itu, sama sekali tak melihat ada wajah kerinduan di wajah isterinya? Tiga hari tiga malam tidak nyenyak tidur dan tidak enak makan tapi yang dia dapatkan malah kekasaran suaminya.
Perubahan Reno memang bikin kepala menggeleng tak percaya. Apa mungkin seseorang bisa berubah drastis dalam waktu singkat? Siapapun akan kaget melihat perlakuan Reno pada isterinya.
"Memang kamu tak tahu apa-apa tentang diriku kok? Kamu itu orang yang baru hadir dalam hidup aku, bagaimana bisa kamu mengerti tentang apa yang aku rasakan, apa sedang aku pusingkan, kamu tidak akan mengerti semua itu Tenri."
"Bagaimana aku bisa mengerti, kalau daeng seolah tidak ingin berbagi masalah denganku. Daeng hanya peduli pada diri sendiri, masa bodoh sama kehadiran aku di sini yang bukan lagi orang lain tapi isterimu. Bisakah sedikit saja hargai aku dalam hidup kamu, daeng. Meski aku bukan wanita yang kau cintai atau tidak layak menerima cintamu. Tapi tetap saja, aku ini isterimu."
"Sudah, Tenri. Aku sudah muak dengan pertengkaran ini. Suami pulang bukannya disambut dengan baik malah berani-beraninya berteriak di depan wajahku."
Tak lama kemudian, Reno turun lagi tapi sudah berganti pakaian. Dia tak melirik sedikit pun ke arah Tenri yang menangis.
"Mau kemana kamu, daeng?" teriak Tenri menyusul langkah Reno menuju pintu keluar rumahnya.
"Bukan urusanmu!"
__ADS_1
Reno segera masuk ke mobil dan pergi tanpa permisi lagi pada Tenri. Bi Surti kasihan pada Tenri yang kini terduduk lemas di depan pintu.
"Bu, bangun. Bibi antar ke kamar."
Tenri pun berusaha bangun dengan dibantu Bi Surti. Langkah-langkahnya yang terseok itu akhirnya tiba juga di lantai atas.
"Terimakasih, Bi." Kini Tenri sudah berbaring di atas tempat tidur.
"Sama-sama, Bu. Kenapa bapak bersikap seperti itu, Bu?"
"Aku juga tidak tahu, Bi. Dia itu berubah drastis sejak kebakaran itu. Aku sendiri kehabisan akal untuk bisa menghiburnya. Bibi kan lama ikut dia, apa memang begitu watak Reno?"
"Setahu Bibi, orangnya emang agak keras. Tapi dia tak pernah sampai memperlakukan kasar seorang perempuan. Bibi saja terkejut dengan sikap dia tadi ke Ibu. Bisa-bisanya dia melakukan itu pada Ibu."
"Bibi melihat semuanya ya? Apa aku memang tak layak di sampingnya ya?"
"Hussh ... jangan bicara seperti itu, Bu. Ibu itu isterinya Pak Reno yang sah. Sabar ya, Bu. Pasti ada jalan keluarnya kok."
"Iyah, Bi. Maaf Bi, bisa tinggalkan aku sendirian?"
__ADS_1
"Iyah. Kalau begitu, Bibi turun dulu."
Tenri hanya bisa merenungi nasibnya seorang diri. Kepulangan Reno bukannya menjadi suatu kebahagiaan, tapi malah menjadi pertengkaran diantara mereka.