
Kedatangan Olla beserta keluarga dari Makassar membuat suasana rumah semakin riuh. Reno dan Tenri pun merencanakan sesuatu untuk Olla. Reno berencana mengundang Doni makan malam bersama di rumahnya.
"Aku akan telepon Doni, ajak dia buat makan malam di rumah kita Sayang."
"Ide bagus daeng, atur pertemuan mereka berdua. Siapa tahu aja Doni dan Olla berjodoh."
"Gimana kalau aku mengundang Daffa juga? Dia kan cukup berjasa juga selama kehamilan dan kelahiran kamu Sayang, tidak apa-apa kan?"
"Boleh. Daffa kan sahabat kamu juga, Daeng. Sahabat Doni sekaligus sahabat Olla juga."
"Ah Iyah benar. Kalian dulu kan pernah satu kampus, jadi Olla pasti sudah kenal dengan Daffa."
Saat itu juga terlintas di pikiran Tenri, dulu sekali dia pernah melihat tulisan nama Daffa di buku catatan Olla.
"Daeng ...." panggil Tenri yang membuat suaminya terkejut.
"Apa?"
"Kayaknya dulu banget aku pernah lihat deh kalau ada nama Daffa di salah satu buku catatan Olla. Jangan ... jangan ..." Tenri menutup mulutnya ketika dia memikirkan sesuatu tentang Olla dan Daffa.
"Maksud kamu, Olla pernah suka dengan Daffa?"
Tenri mengangguk. "Kayaknya deh, tapi gak tahu juga deh. Kita pertemukan aja ketiganya, di mana hati Olla bertaut ya kita lihat nanti aja."
"Iya juga sih, hati orang siapa yang tahu."
Tok. Tok. Tok.
Terdengar ketukan di pintu kamar, "Tenri ...." panggil seseorang yang sepertinya itu adalah Tenri.
"Sayang ... Olla. Kita jangan bahas ini dulu," bisik Reno.
"Ya, La. Aku di dalam, masuk sini!"
Pintu kamar terbuka. Olla datang dengan membawa bingkisan lagi.
"Bingkisan apa lagi? Perasaan waktu itu sudah deh, La."
"Ini beda lagi Tenri, ini titipan manta murid-murid kamu di Makassar. Hehe. Mereka semua dengar kalau kamu sudah melahirkan dan tahu aku mau ke Jakarta, jadi mereka katanya mau nitip."
__ADS_1
"Wah ... baik sekali mereka." Tenri meraih bingkisan tersebut.
"Sampaikan ucapan terimakasih aku pada mereka," lanjut Tenri.
"Iyah."
"Em ... La kamu bisa buat Coto Makassar kan? Aku pengen Coto deh kayaknya." Tenri mulai memancing. Reno terus memberi kode tapi Tenri mencari momen yang tepat.
"Bisa. Kamu mau Coto? Bahannya ada tidak?"
"Ada kok di kulkas."
"Bagus deh, ya sudah aku ke bawah aja deh sekalian ajak Tante kamu buat masak."
"Aku ikut, Sayang tolong jagain baby Queen sebentar."
"Oke deh. Aku akan jadi Papa Baby yang baik. Hehe."
"Awas jangan bikin nangis, haha." celetuk Olla.
***
Kesibukan terjadi di dapur, canda tawa terjalin dan membuat suasana di sore itu riuh ramai. Reno dan papanya, mereka berdua bertugas menjaga baby Queen. Papanya malah tidak mau bergeeser sedikit pun dari tempat tidur Queen.
"Sudah lama sekali aku tidak merasakan Coto Makassar. Kemarin saat pulang ke Makassar aku belum sempat mencobanya lagi. Terimakasih ya La, Tante, kalian berdua mau masakin buat kami di sini."
"Cuma Coto Makassar kok, gampang Tenri. Hahha."
"Iyah Tenri, cuma Coto Makassar ini. Sebagai gantinya ajak Tante jalan-jalan ke Monas ya. Tante belum pernah ke sana. Hehe." Tantenya pun ikut komentar.
"Gampang lah Tan, semua bisa diatur yang penting Tante tinggal di sini selama sebulan ya, Olla juga. Hehe."
"Yang benar saja Tenri, Tante masa harus tinggal selama sebulan."
"Kan biar Tante puas liatin Monas. Hehe."
***
Malam harinya Doni yang sebelumnya sudah dihubungi Reno sudah datang. Tinggal Daffa yang katanya masih dalam perjalanan. Tidak ada yang tahu kalo Daffa dan Doni akan ikut makan malam bersama. Malam ini khusus untuk perjodohan antara Olla, Doni dan Daffa. Mari kita lihat siapa yang paling bisa merebut hati gadis manis Makassar satu ini.
__ADS_1
Olla juga merupakan keturunan anak bangsawan. Nama lengkapnya adalah Andi Olla Manyyingarri. Masih ada hubungan keluarga sebenarnya dengan Tenri. Olla seorang pegawai negeri sipil yang bekerja di kantor pemerintah kota Makassar.
Gadis begingsul ini sangat memikat hati ketika tersenyum. Ceruk di pipinya akan langsung menghiasi wajahnya begitu dia tersenyum. Membuat Olla semakin cantik.
"Oi Don, mari masuk." sambut Reno saat membuka pintu.
Olla yang saat itu masih di dapur terlihat mengintip dari balik celah penghubung antara dapur dan ruang keluarga.
"Siapa itu?" tanya Olla pada Tenri.
"Tak kenal maka tak sayang, Olla Sayang. Kenalan dong," kelakar Tenri menggoda Olla
"Yeee ... Apaan sih."
"Entar juga tahu namanya, La."
Nggak lama kemudian, Daffa pun datang. Kali ini Olla cukup terkejut. Daffa di matanya saat kuliah sangat berbeda dengan Daffa yang sekarang. Kalau dulu Daffa masih terlihat kurang mengurus badannya, sekarang Daffa terlihat lebih fresh, badan tegap dan potongan rambutnya pun lebih rapi dari sebelumnya.
Ada senyum yang menghiasi wajah Olla saat melihat Daffa.
"Lihat siapa tamu kita jauh-jauh dari Makassar," seru Reno.
Baik Doni, Daffa dan juga Olla langsung mendongak dan berpandangan.
"Olla ...." Daffa langsung memekik duluan begitu melihat Olla. Sedangkan Doni hanya sedikit terpana melihat Olla malam ini.
"Daffa, astaga ... sudah lama banget kita gak ketemu ya. Kamu di Jakarta?" pekik Olla.
"Iyah, aku di Jakarta sekarang. Mungkin kamu sudah pernah dengar dari Tenri atau pun Reno."
"Iyah cuma tidak terlalu mendalam membahas kamu. Haha."
"Ah iya, Olla kenalin ini sahabat aku juga. Don, silakan kenalan." Sambung Reno.
"Doni, salam kenal." ujar Doni mengulurkan tangannya.
"Olla."
Doni tersenyum simpul, begitu juga dengan Olla. Senyum Olla itulah yang sedikit mengalihkan perhatian Doni.
__ADS_1
Perhatian Olla ke Daffa namun Doni merasa canggung sendiri begitu kedua mata mereka bersitatap. Begitu juga dengan Olla yang kadang mengalihkan pandangan jika mata mereka bersirobok. Dari situ ketahuan kalau perasaan Olla tak seperti dulu lagi ke Daffa.
Waktu tak bisa menghapus kenangan, kadang juga waktu tak bisa menghapus jejak. Tapi waktu bisa menghadirkan keduanya dalam satu pertemuan.