
Kesunyian begitu terasa saat Reno baru saja terbangun. Kerap dia mencari Tenri di sisinya namun dia segera sadar kalau isterinya itu telah tidur terpisah dengannya. Reno menggosok wajahnya, menyibak selimut dan turun dari tempat tidur.
Saat itu dia segera menyadari kalau ada aroma kopi di samping tempat tidurnya.
"Kamu ada di sini, tadi?" gumamnya seorang diri.
"Kenapa harus seperti ini, Tenri? Jangan siksa aku dengan perasaan ini. Katakan apapun padaku, rasanya kosong sekali di bagian sini Tenri." ucapnya lirih seraya mengelus bagian dadanya.
Reno menyesap kopi buatan Tenri, rasanya masih selalu sama. Tenri mengurus semua keperluan Reno, tapi tidak pernah berbicara apapun kepada pria itu. Itu sebabnya Reno merasakan seperti sedang menjalani hukum karma.
Setelah itu dia pun masuk ke kamar mandi dan sejenak membuat kepalanya dingin.
*
*
*
Beberapa saat kemudian, Reno turun ke lantai satu. Dia mencari-cari keberadaan Tenri, karena dia melihat di meja makan sudah tersaji masakan untuk sarapan. Namun tidak dia temukan sosok isterinya di manapun.
"Ke mana, Tenri?" ucapnya membatin.
Dia pun tak jadi duduk dan sarapan, dia pergi mencari Tenri. Mencari di kamar Tenri, dia tak ada. Bahkan sampai Reno nekad masuk dan mengecek di kamar mandi. Tapi isterinya itu tidak ada juga.
Reno kembali ke meja makan, dia duduk dan saat dia hendak mengambil piring, dia menemukan selembar kertas yang saat itu terjatuh ke lantai saat dia membalik piringnya.
'Aku ke klinik untuk periksa kandungan, silakan makan saja. Tidak perlu menungguku.'
__ADS_1
Reno pun mengerti kalau saat ini, isterinya sedang pergi ke klinik. Dia menyendokkan sedikit nasi ke piringnya, mengambil lauk lalu makan. Tak lama kemudian, dia berniat menyusul Tenri ke klinik. Kemungkinan besar Tenri ke klinik CIMERA, sebab awal ngecek kandungan dia pergi ke klinik itu.
Usai makan, dia pun pergi ke klinik itu. Sampai di sana, dia tak menemukan Tenri sedang antri, kemungkinan sudah menjalani pemeriksaan di dalam ruangan Daffa. Reno menemui seorang suster menanyakan apakah Tenri sedang periksa di dalam.
"Apakah ada pasien bernama Tenri yang datang ke sini untuk ngecek kandungan?" tanya Reno kepada suster itu.
"Iyah, Pak. Ibu Tenri sedang menjalani pemeriksaan di dalam."
"Aku suaminya, apakah aku boleh masuk?"
"Boleh, silakan Pak."
"Terimakasih, Sust."
Di ruangan periksa tersebut terdapat dua sekat, satu yang menghubungkan ruang tunggu, kemudian ruangan satu lagi adalah ruang periksa Daffa.
Saat Reno masuk dan hendak mengetuk pintu ruangan Daffa. Dia mendengar ada percakapan antara keduanya.
"Tidak ada urusannya dengan Anda Dokter."
"Tenri, memang tidak ada hubungannya denganku, tapi seharusnya seorang suami itu harus selalu mendampingi isteri selama kehamilannya. Bukannya malah mengabaikan kamu seperti ini."
"Jangan terlalu ikut campur dengan rumah tanggaku dan Reno. Aku tidak suka Anda terlalu memasuki hubungan kami."
"Tenri, please ... jangan bersikap seperti ini terus. Kita ini saling kenal sebelumnya, bahkan akrab tapi kemudian kamu mulai menjauhi aku hanya karena aku menyatakan perasaanku padamu saat itu. Apa salahku?"
Deg.
__ADS_1
Seketika jantung Reno memompa dengan cepat, dia terkejut mendengar fakta bahwa Daffa sahabatnya itu sudah kenal lebih dulu dengan Tenri dibanding dirinya.
"Anda tidak salah, hanya saja Anda menyukai orang yang salah. Anda bahkan terlalu ikut campur sesuatu yang bukan menjadi urusan Anda."
"Oke, maafkan aku terlalu ikut campur. Tapi Reno sama sekali tak pernah mencintai kamu, Tenri. Dia hanya peduli pada dirinya sendiri, jika dia peduli padamu, dia akan datang bersamamu, dia akan selalu care sama kamu, dia tak akan selingkuh dengan wanita lain."
"Dokter, cukup!" teriak Tenri. "Anda sudah melampaui batas, aku putuskan tidak akan periksa di sini lagi. Aku salah, harusnya aku tak datang ke klinik Anda. Terimakasih sudah melayani aku dengan baik. Permisi!"
Dengan cepat Reno mencari tempat untuk bersembunyi agar tak ketahuan oleh Tenri. Wanita itu baru saja keluar dari ruangan Daffa dengan wajah yang sedikit marah. Emosi itu terpancar jelas.
Saat Tenri sudah keluar dari ruangan itu, Reno pun menyusul Tenri keluar. Namun tak lagi mengejar wanita itu. Dia berjalan gontai menuju mobilnya.
'Apa hubungan mereka sebelumnya? Kenapa aku tidak tahu kalau mereka sudah saling kenal? Aku bahkan tak tahu apa-apa soal diri Tenri. Astaga, kenapa bisa begini?'
Reno terus membatin, bahkan ketika dia mulai menjalankan mobilnya. Pikirannya terus ke mana-mana. Memikirkan Tenri dan Daffa yang dari pembicaraan mereka jelas sekali bahwa Daffa memiliki perasaan khusus pada Tenri.
Tiba-tiba dia merasa takut untuk kehilangan Tenri di sisinya. Takut kalau Daffa sampai merebut Tenri darinya. Hal itu mungkin saja terjadi, walau Tenri tidak merespon Daffa tapi bukan berarti suatu saat Tenri akan terus menolak.
Pikirannya kalut dan kacau. Dengan cepat dia mengendarai mobilnya sampai ke bengkel. Dia ingin menceritakan hal ini pada Doni. Sekaligus ingin menyelediki apa hubungan Daffa dengan Tenri. Di mana mereka kenal dan mengapa sampai Daffa begitu perhatian pada Tenri.
Pertanyaan demi pertanyaan berseliweran di kepalanya. Bayangan mengenai ucapan Daffa barusan kepada Tenri yang menyebut dirinya berselingkuh dengan wanita lain begitu memukul perasaannya. Dia akui selama ini sudah mengabaikan Tenri dan selalu mencari Elsa, tapi bukan berarti Reno mencintai Elsa. Begitulah pemikiran Reno berputar di kepalanya, membuatnya pusing dan oleng saat berhenti tepat di parkiran bengkel.
"Kenapa, Ren?" tanya Doni yang kebetulan berpapasan dengannya di parkiran.
"Aku agak pusing. Don, aku ke ruangan kamu ya, ada hal yang ingin aku ceritakan padamu."
"Baiklah, mau aku bantu jalan tidak?"
__ADS_1
"Tidak usah, aku masih bisa jalan sendiri."
Dada Reno terus merasa nyeri bila mengingat Daffa memiliki perasaan pada Tenri. Apakah dia sedang cemburu?