
"Daeng sepertinya kamu akan memicu terjadinya perang dunia ke tiga." ucap Tenri yang menarik Reno menuju dapur.
"Tenang saja, harusnya sih mereka bersaing secara sehat. Lagi pula aku ingin lihat sejauh apa Doni bertahan dari rasa gengsinya untuk tidak mendekati perempuan sekelas Olla. Pikirku, mereka berdua akan berjuang dengan keras. Haha."
"Daeng ini, bagaimana kalau mereka ribut nantinya?"
"Nggak lah mereka-mereka ini kan sudah dewasa semua. Aku tahu watak kedua temanku itu, di antara mereka akulah yang paling tenang sekaligus emosian pada saat tertentu. Haha."
"Jadi aku tim mana nih? Harus dukung siapa? Doni atau Daffa?"
"Menurutmu, Sayang?" Mata Reno seperti menjelaskan bahwa jangan sekali-kali mendukung Daffa. Haha. Rupanya kecemburuan itu belum pudar dalam diri Reno.
"Haha ... iya aku tim Doni deh." lanjut Tenri meluruskan ucapannya barusan.
Reno mengulurkan tangannya ke Tenri, lalu disambut oleh wanita itu dengan senyum.
"Yuk, kita keluar temui mereka."
Mereka berjalan dengan kedua tangan saling bertaut, hal itu dilakukan Reno untuk pamer kemesraan pada Doni dan Daffa agar kedua sahabatnya itu tak lama menjomblo. Biar jadi motivasi untuk segera menikah.
"Cie ... mesra amat." celetuk Olla yang melihat kedatangan Reno dan Tenri.
"Kayaknya bentar lagi baby Queen bakal punya adek tuh. Secara Mama papanya kayaknya lagi dilanda kasmaran." Doni ikut berkomentar.
"Bukan cuma itu, mereka akan semakin sering pamer kemesraan di depan kita hanya karena diantara kita bertiga ini adalah pria dan wanita single." Sambung Daffa menimpali.
"Daff, kayaknya kamu lagi mempromosikan diri kamu di depan Olla deh. Haha." Reno langsung menyambar komentar Daffa.
Daffa menggeram kesal pada Reno, hal itu juga ditertawakan oleh Doni sahabatnya.
__ADS_1
"Ngapain ketawa Don? Kayak kamu aja gak jomblo, gerak gerik kamu tuh udah terbaca sejak awal kali." Tukas Daffa menyerang Doni.
"Lah kenapa jadi aku yang diserang? Haha ... lagi pula nggak ada salahnya sih, aku jomblo fisabilillah dan Olla juga kabarnya masih jomblo Wati. Wajar dong, iya nggak Ren?"
"Sudah, sudah, kenapa kalian jadi ribut begini? Itu Olla cuma sendiri diperebutin. La, kamu jangan mau terima mereka begitu saja, jangan mudah terbujuk rayuan maut mereka." Tenri menyela.
Olla yang sejak tadi cuma diam kini hanya bisa tersenyum melihat kedua pria itu bertingkah kekanakan.
"Em ... Tenri ikut aku sebentar yuk!"
Olla dengan cepat menggamit lengan Tenri menjauh dari kerumunan para pria itu.
"Ini ada apa sih? Kenapa seolah-olah aku jadi direbutin mereka? Kamu nggak lagi menjodohkan aku dengan dua laki-laki itu kan?" cecar Olla dengan pertanyaan.
"Ssst ... tenang-tenang. Nggak kok, lagi pula kalau kamu nggak suka keduanya kamu kan bisa nolak mereka. Haha."
"Gila kamu ya. Anak orang itu,"
"Dan menurut kamu, Doni?"
"Hehe, semua itu tergantung kamu di sini." tunjuk Tenri ke bagian dada tepat di hati Olla.
"Sejak kapan kamu tahu aku pernah menyukai Daffa?" selidik Olla yang ternyata selama ini tidak tahu menahu soal Tenri yang bisa membaca perasaan sukanya terhadap Daffa.
"Dulu, dulu sekali. Hanya saja aku gak tahu apakah kamu sekarang masih menyukai dia atau tidak. Hei, kamu sahabatku sudah saatnya menentukan pilihan hati La. Aku tahu kamu bisa memilih dan itulah yang terbaik."
"Hissh, kalian berdua pasangan gila. Menjodohkan sahabat sendiri dengan sahabat suami. Kayak judul sinetron ikan terbang tahu nggak."
"Haha ... udah yuk! Kita keluar, nanti mereka berpikiran yang tidak-tidak."
__ADS_1
***
Usai makan malam dan ngobrol-ngobrol, keduanya pun pamit pulang. Daffa maju duluan untuk menjabat tangan Olla, sementara Doni memilih mengalah. Lagi pula memang Daffa jauh lebih dulu mengenal Olla dibanding dirinya.
"Woi udah salamannya, mau pulang aja ribet banget." protes Doni.
"Bilang aja kamu juga mau salaman keles. La, nanti aku telepon ya?"
Doni menatap tajam tapi gemas ke arah Daffa. Sebab pria itu sudah mengambil satu langkah di depan Doni. Bahkan dia sudah mendapatkan nomor Olla lebih dulu.
"La, kasian tuh Doni. Dia juga butuh nomor kamu tuh, masa Daffa doang yang dikasih." Reno mulai lagi memanas-manasi situasi.
"Apa sih Ren. Tenri kayaknya suami kamu habis makan sesuatu yang bikin dia ngeselin banget hari ini."
"Don, dia gak mau ngasih tuh. Kasihan ..." Reno semakin menggila menggoda Doni dan Olla.
"Sayang, apaan sih. Lihat wajah Doni udah kesel gitu. La, maafin suami aku dia emang kadang nyebelin banget."
"Dahlah, aku pulang duluan." Ucap Doni yang langsung pamit.
Sepeninggal dua pria tadi Reno tak kuasa menahan tawanya, perutnya sampai sakit melihat ekspresi Doni barusan. Sementara Olla wajahnya tak jauh berbeda, dia bete pada Reno.
"Kandangin tuh suami kamu, Ri. Dia nyebelin banget."
"Haha ... Daeng, masuk kamar."
Reno masih terus tertawa meninggalkan Olla yang bete bersama Tenri yang sedang menghibur sahabatnya itu.
"Menurut kamu Doni gimana Daffa gimana?" tanya Tenri.
__ADS_1
"Mulai lagi kan, kumat. Sama aja kamu sama suami kamu Ri. Nyebelin." Olla mendengus sebel dan meninggalkan Tenri.
Tenri menggeleng kepala tertawa dengan tingkah Olla sahabatnya itu.