
Sudah bukan hal aneh lagi jika Reno berada di rumah hanya sekedar untuk mandi, berganti pakaian lalu pergi lagi. Hal yang sudah menjadi kebiasaan, tidak hanya bagi Reno tapi berlaku juga bagi Tenri. Dia sudah terbiasa menjadi isteri yang diabaikan, namun dia tetap berperan sebagai isteri yang selalu menunggu suaminya pulang. Melakukan aktifitas ibu rumah tangga, seperti memasak, mengatur taman, mengatur isi dalam rumah dan lain-lain. Meski pada dasarnya memang ada Bi Surti yang membantunya.
Sebentar lagi, mungkin Bi Surti pun akan bernasib sama seperti karyawan-karyawan Reno di bengkel. Terpaksa diberhentikan karena ekonomi yang carut marut. Tabungan mereka sudah tak mencukupi kebutuhan rumah tangga lagi. Bahkan Reno sejak satu bulan terakhir tidak pernah mentransfer uang belanja kebutuhan ke rekening Tenri. Tenri pun harus menggunakan isi tabungannya dari gaji selama menjadi guru di Makassar.
Hari ini tiba masa di mana hal tersulit bagi Tenri, dia tak tega untuk mengatakan pada Bi Surti untuk berhenti dari pekerjaannya. Sebab keuangannya tak bisa lagi untuk menggaji orang lain.
Dengan kepala yang diusahakan setegak mungkin, Tenri memanggil Bi Surti untuk duduk di ruang tamu.
"Bi, aku mau bicara, tapi kuharap bibi tak pernah kecewa pada kami. Bibi sudah bekerja puluhan tahun dengan Reno, dan beberapa bulan aku dan Bibi langsung akrab. Namun Bibi kan tahu sendiri bagaimana kondisi kami, semuanya tiba-tiba berantakan. Tuhan langsung membalikkan keadaan kami dari yang berlebihan sampai benar-benar kekurangan. Karena itu, berat rasanya aku untuk bilang ini ke Bibi, tapi mau gimana lagi." Tenri berbicara sambil memegang kedua tangan Bi Surti.
Bi Surti sudah tahu ke mana arah pembicaraan Tenri. Dia pun mengangguk sedih, bukan lantaran karena dia terpaksa harus berhenti dari pekerjaannya. Namun, dia sedih meninggalkan Tenri sendirian berjuang untuk rumah tangganya. Selama ini dia sudah cukup kesepian dan menderita karena sering ditinggal Reno, terlebih sikap Reno yang sama sekali tidak beradab dalam memperlakukan seorang isteri.
"Bibi mengerti, Bu. Bahkan Bibi rela bekerja tanpa digaji, asalkan Bibi bisa menemani ibu di sini. Kasihan ibu sendirian."
__ADS_1
"Jangan Bi, kalau bibi tak digaji bagaimana dengan anak cucu bibi di kampung. Bibi tidak akan bisa mengirimkan uang lagi."
"Tidak apa-apa, mereka juga sudah lebih dari cukup. Izinkan bibi tetap bersama ibu ya."
"Aku yang tidak enak Bi, memakai tenaga bibi tapi tak membayar atas keringat yang bibi keluarkan. Nanti jika kondisi sudah lebih baik, aku akan memanggil bibi kembali untuk bekerja di sini. Tenri janji, Bi."
Air mata keduanya pun mengalir tak bisa dicegah manakala mereka saling berpelukan. Hubungan mereka terbilang cukup dekat meski hanya beberapa bulan saja. Bi Surti menyayangi Tenri seperti anaknya sendiri, begitu juga dengan Tenri yang menganggap Bi Surti seperti mendiang ibunya.
Setelah keduanya melakukan salam perpisahan, Bi Surti pun membereskan barang-barang miliknya. Lalu diantar sampai ke depan pintu oleh Tenri. Mengenai kepergian Bi Surti ini, sebenarnya Reno sudah dari beberapa hari lalu meminta Tenri agar berbicara pada Bi Surti namun Tenri kadang mengulur waktu karena perasaan tak tega itu.
Tenri memeluk dirinya sendiri, suasana di rumah itu benar-benar hening. Dalam keadaannya yang sendiri, Tenri pun mulai berpikir bagaimana caranya agar dia punya aktifitas dan sekaligus bisa menghasilkan uang. Bagaimanapun dia harus bertahan di Jakarta, sebab pulang ke Makassar bukanlah pilihan yang baik. Akan semakin banyak orang yang membicarakan pernikahan mereka. Sehingga bisa saja memperburuk keadaan. Itulah mengapa dia akan bertahan meski rumah tangganya sudah di ujung tanduk.
Tenri memanfaatkan ponselnya untuk berselancar di dunia Internet. Mencari pekerjaan yang sekiranya dapat membuatnya sedikit sibuk dan memiliki penghasilan sendiri. Membantu Reno untuk bangkit lagi.
__ADS_1
Tenri pun menilik ijazah dan profesinya sebelum menikah.
"Ah iya, kenapa aku tidak coba untuk buka kursus saja? Semoga bisa dibuat di rumah ini, agar aku juga tak kerepotan untuk selalu keluar door to door ke rumah siswa yang ingin bimbel denganku. Lagi pula, tidak baik keluar meninggalkan rumah tanpa seizin suami. Bagaimana pun aku harus tetap menjaga Marwah aku sebagai seorang isteri. Ya, kurasa itu ide yang bagus saat ini."
Tenri pun tersenyum dan bersemangat mendapatkan ide briliant itu. Lagi pula dia juga butuh biaya untuk periksa kandungan ke dokter, biaya melahirkan dan lain-lain. Hal itu tidaklah memakan biaya yang sedikit. Karena itu dia memutar otak bagaimana agar bisa membangkitkan ekonomi keluarga.
Dengan cepat, Tenri bergegas mengambil laptopnya, mengaktifkan internet dan membuat iklan di internet. Mata pelajaran yang dia ampuh adalah Matematika dan IPA. Itu sebabnya dia sangat bersemangat, sebab mata pelajaran itu terhitung masih sangat diminati orang tua agar anaknya mau belajar dengan giat.
Tenri terlihat serius di depan laptopnya, sampai-sampai dia tak sadar kalau suaminya sudah pulang.
"Ngapain kamu? Suami pulang bukannya disambut baik, ini malah mainan laptop."
Mendengar perkataan Reno, Tenri segera menutup laptopnya dan bergegas melepas kemeja suaminya. Begitulah Reno, terkesan kasar, cuek dan tak butuh tapi saat pulang masih saja seperti anak kecil minta dibukakan bajunya.
__ADS_1
Dengan sabar Tenri melakukan itu untuk Reno, setelah itu dia masuk kamar mandi menyetel air agar hangat dan bisa dipakai mandi oleh Reno. Lalu turun ke bawah untuk menyiapkan kopi dan makanan. Begitu repotnya dia saat Reno pulang dan berada di rumah. Namun hal itu senang dilakukan oleh Tenri, dengan begitu dia akan merasa bahwa roda rumah tangganya kembali berjalan.
'Mungkin sudah takdirku bersama seorang lelaki yang karakter dan sifatnya seperti ini. Biarlah kujalani dengan ikhlas dan sabar.'