Menikahi Wanita Pilihan Ibu

Menikahi Wanita Pilihan Ibu
Kedatangan Doni


__ADS_3

Kali ini sepertinya Daffa harus merelakan kehilangan satu langkah lebih di depan dari Doni.


"Lihat mobil siapa yang datang, Sayang." Reno tampak heboh sendiri di balkon saat dia sedang menikmati kopinya di sana.


Tenri yang sedang menyusui Baby Queen pun ikut penasaran, dia menggendong baby Queen menuju balkon tempat Reno berada.


"Siapa? Hah, Doni? Mau ngapain dia? Emangnya dia nggak ngantor?" tanya Tenri ikut penasaran.


"Ya mana aku tahu, haha. Kayaknya ada yang nyalip duluan nih, wah bahaya, bahaya ...." seru Reno yang kemudian menyeruput kopinya sebentar lalu bergegas menuju pintu kamar. Kayaknya dia lagi mau turun untuk menemui Doni.


"Daeng, mau ke mana? Kok aku ditinggal begini si?" panggil Tenri.


"Hehe, aku ke bawah dulu Sayang. Mau mastiin tuh laki satu kenapa datang pagi-pagi ke rumah kita."


"Ya udah deh," Tenri pun membiarkan suaminya pergi begitu saja.


...


Sampai di lantai bawah, Olla sudah menerima Doni di ruang tamu.


"Ehem, ehem, ada tamu rupanya." tegur Reno yang menirukan seperti orang sedang batuk.


Doni memberi Reno kode agar tidak mengganggu mereka berdua. Tapi bukan Reno namanya kalau dia bukan tukang recoki orang. Haha.

__ADS_1


Dia berubah drastis dari seorang yang berwibawa menjadi orang yang jenaka dengan berbagai macam tingkah. Tentu saja itu berlaku untuk teman-teman terdekat Reno saja. Untuk hal di luar keluarga dan sahabat maka Reno kembali ke sifat aslinya yakni tegas dan berwibawa.


"Ren, katanya Doni mau ngomong sebentar sama kamu." Olla sengaja memancing seperti itu, biar Doni sendiri yang ngomong ke Reno kalau keberangkatan ke bandara Doni yang akan mengantar.


"Oh, mau ngomong apaan Don?" tanya dia seraya mendekat.


"Halah, pura-pura bego lagi kamu. Udah sini duduk," pinta Doni dengan tatapan sinis ke Reno yang sudah mengganggu paginya bersama Olla.


Sementara Olla ke kamar Tenri untuk melihat baby Queen sebelum berangkat nanti. Dia pasti akan sangat merindukan kemanakannya yang satu itu.


Tok. Tok. Tok.


"Ri, boleh masuk nggak?" tanya Olla dari luar kamar.


"Masuk aja, La. Pintunya tidak dikunci, aku lagi nyusuin Queen."


"Hei, anak Onty. Duh, gumush banget sih kamu. Nenennya berhenti dulu dong, onty gendong ya. Kan Onty bentar lagi pulang ke Makassar. Bakalan rindu banget sama kamu dan Mama kamu."


Tenri merapikan bajunya, Queen selesai menyusui. Kayaknya Queen ini akan jadi gadis yang murah senyum. Diajak senyum sama Olla dia juga memperlihatkan senyum manisnya itu. Siapa yang tidak gemas melihat tingkah lucunya itu.


"Uuh tayang, tayang. Sini Onty gendong bentar ya."


Olla lalu menggendong Queen dengan hati-hati, seraya terus menemani bayi itu ngobrol. Meski tidak mengerti dengan apa yang diucapkan Olla, tapi Queen ini selalu merespon dan itu yang semakin membuat Olla seakan nggak mau meninggalkan Jakarta.

__ADS_1


"Ri, Queen ini pintar banget. Dia nge-respon padahal kan bayi seusia dia yang belum nyampe sebulan belum bisa melihat kan? Masih samar-samar gitu, atau sudah?"


"Nggak tahu juga si, tapi emang dia suka ngerespon kalau diajak ngomong. Apa karena dia sering diajak bicara saat masih dalam kandungan ya? Rajin kubacain cerita dan dengerin orang tadarrusan."


"Ya mungkin itu kali, jadi dia lebih respon terhadap hal-hal yang mungkin sudah dijangkau telinga mungilnya itu."


"Haha, iya bisa jadi. Emm, Doni ngapain ke sini?" selidik Tenri pada Olla.


"Itu, kemarin tuh dia nanya. Boleh tidak aku nganterin kamu ke Bandara? Terus aku bilang boleh-boleh aja sih asal udah izin sama suami kamu. Makanya sekarang dia tuh lagi ngobrol sama Reno di bawah tadi saat aku tinggal naik ke sini."


"Wah, ada yang gerak cepat nih kayaknya. Haha ... paling takut disalip dia sama Daffa. Haha."


"Mulai deh, dasar ih suami sama isteri sama-sama tukang ngeledek."


"Kalau menurut aku sih nggak apa-apa. Kan Doni punya niat baik ke kamu, kecuali kalau dia cuma main-main aja sih ya aku juga bakal nggak setuju. Hehe."


"Ya semoga aja nggak gitu."


"Berarti kamu sukanya ke Doni dong, bukan Daffa?" Tenri terus mengorek perasaan Olla, membuat sahabatnya itu tersipu malu karena tidak tahu harus jawab apa.


"Lihat gimana nanti ajalah."


"Cieee ..."

__ADS_1


"Apaan sih, Ri."


Pipi Olla bersemu merah, semakin puaslah Tenri mengolok-olok sahabatnya itu.


__ADS_2