
Kejutan buket bunga dari Reno membuat perasaan Tenri sedikit membaik. Meskipun dia masih menyimpan tanda tanya besar mengenai perempuan yang sering diceritakan Bibi padanya. Walau bibi kadang mengelak tapi Tenri tahu ke arah mana pembicaraan Bi Surti.
Reno mengajak Tenri jalan-jalan melihat kota Jakarta. Hati Tenri berbunga, dia merasakan kedekatan dengan Reno walau sekedar diajak jalan.
"Kita jalan-jalan ya, kamu sudah mau dua Minggu di sini tapi aku belum pernah mengajakmu pergi ke manapun. Bagaimana kalau kita ke Dufan saja?" tanya Reno saat Minggu pagi dia baru saja bangun tidur.
"Terserah saja, Daeng. Ke manapun daeng pergi, aku ikut."
Tanpa mereka sadari cara mereka berbicara telah berubah. Dari yang awalnya menyebut diri masing-masing dengan sebutan Saya, kini telah menjadi Aku.
"Meskipun ke neraka kamu mau?" tanya Reno lagi dengan candaannya yang standar.
"Tentu saja aku yang akan memperbaiki sikap sebagai seorang isteri, agar Daeng tidak jadi ke neraka. Tapi ke surga bersamaku." Tenri tersenyum menimpali pertanyaan Reno.
"Aku lupa kalau kamu guru."
Keduanya pun tertawa bersama. Setelah itu mereka siap-siap dan berangkat.
***
__ADS_1
Sampai di Dufan atau Dunia Fantasi, mereka disambut oleh maskotnya Dufan yaitu Kera Bekantan.
"Aku pernah dengar dulu kenapa maskot Dufan ini adalah Kera. Soalnya katanya di Ancol ini dulunya adalah kawasan Kera." Reno menjelaskan sedikit mengenai sejarah Dufan yang juga didengarnya dari orang-orang.
"Kera Bekantan ini termasuk binatang yang dilindungi kan? Jadi Kera tersebut dijadikan sebagai maskot semata-mata untuk memperkenalkan kepada masyarakat bahwa Kera tersebut dilindungi oleh Negara. Benar nggak?"
"Exactly. Ke sana yuk!" Ajak Reno menunjuk salah satu tempat di area Taman Impian Jaya Ancol tersebut.
Tenri melihat tangan Reno yang memegang tangannya, dia tersenyum seorang diri. Hatinya membuncah bahagia. Entah kenapa dia merasakan hal yang berbeda, padahal sebelumnya Reno ini sangat menjengkelkan. Tangan Tenri agak tertarik karena dia tertinggal langkah dari Reno.
Dia pun berusaha mensejajarkan jalannya dengan suaminya itu, sembari sesekali mencuri pandang kepadanya.
"Daeng, saya sejak kecil ingin sekali naik begituan." Tunjuk Tenri pada salah satu wahana yang tak jauh darinya. Yaitu wahana bianglala.
Tenri mengangguk senang. Mereka berdua pun menghampiri petugas wahana tersebut dan membeli tiket. Mereka sedang menunggu giliran, hari itu terbilang ramai dan bianglala ini adalah salah satu favorit pengunjung. Meskipun terbilang wahana yang cukup jadul tapi tetap disukai oleh masyarakat.
"Pak, dua orang."
Si bapak petugas bianglala pun memberikan karcis untuk naik ke wahana tersebut. Dengan hati-hati Reno membimbing Tenri menaiki kotak bianglala. Mereka duduk berhadapan dan Tenri terpukau dengan pemandangan di bawahnya saat bianglala perlahan bergerak ke atas untuk memutar.
__ADS_1
"Kamu senang?" tanya Reno karena melihat Tenri sejak tadi hanya diam dan matanya terus melihat jauh entah ke arah mana.
"Tentu saja. Aku sudah lama mau naik ini, tapi malu. Hehe."
"Kenapa?"
"Malulah, aku kan guru. Dilihat siswaku bisa diketawain satu sekolahan. Haha."
"Ajak sekalian kalau gitu. Haha."
"Pernah diteriakin kayaknya ibu masa kecilnya kurang bahagia deh. Setelah itu aku nggak mau lagi, kepalang malu sudah."
"Tenri, maafkan-ka nah?"
"Sudah-mi daeng, tidak adaji salah-ta kenapa-ki minta maaf terus."
"Anggap saja ini untuk menebus sikapku yang dingin padamu semenjak kedatangan kamu di Jakarta."
"Kita saling belajar dan saling mengenal daeng, memang butuh proses kok. Sudahlah, kita nikmati saja apa yang ada saat ini."
__ADS_1
***
Bersambung