Menikahi Wanita Pilihan Ibu

Menikahi Wanita Pilihan Ibu
Jangan Pergi, Tenri.


__ADS_3

Reno merasakan tenang sekali ada Tenri di sampingnya. Seakan rasa sakit yang tengah dirasakannya itu tak jadi soal, apalagi cuma sakit kepala biasa. Itu juga karena terlalu banyak berpikir, memikirkan cara yang pantas agar Tenri mau bersama-sama memperbaiki kembali hubungan rumah tangga mereka.


Tenri sempat ingin melepas tautan tangan Reno, namun pria itu begitu kuat memegangnya. Seakan dia tahu, Tenri bisa pergi kapan saja jika dia tak menggenggamnya kuat-kuat.


Harusnya seperti itulah Reno memperlakukan Tenri sebelumnya, mencintainya dengan kekuatan cinta yang dia miliki. Bukan malah membuatnya menderita dan ingin pergi saja. Sekarang Reno akan terus merasa bersalah sepanjang Tenri tidak mau membuka hatinya lagi. Tapi biarkan saja, dia akan terus belajar bahwa tak selamanya seorang wanita bersabar bersama pria yang tak mencintainya.


Tenri akhirnya bisa melepaskan tangan Reno, dia memperbaiki selimut suaminya lalu keluar dari kamar. Sesungguhnya dia sendiri tidak tega jika harus melihat suaminya sakit begitu, tapi dia juga tak mau Reno terus-menerus menyakitinya. Dia hanya ingin melihat sejauh mana Reno bisa membuktikan ucapannya bahwa dia akan berubah.


Wanita itu mencoba mencari penghiburan dengan membuka kembali modul pelajaran yang dia susun sendiri sebagai materi lesnya. Sejauh ini Chaca belajar dengan senang, bahkan kemajuannya sangat pesat. Itu artinya modul yang dia susun mampu membuat Chaca belajar dengan baik.


Dia mengambil ponselnya, bersamaan dengan itu, sebuah pesan masuk. Tenri melihat nama pengirimnya, lagi-lagi itu Daffa.


Bisakah kita bertemu dan bicara sebentar saja?


___ Daffa


Tenri bingung harus bagaimana menanggapi setiap isi pesan Daffa.


'Apa aku terlalu kejam padanya? Memang dulu kita sahabat, hanya saja aku tak terbiasa menghadapi seorang lelaki yang suka sama aku. Aku takut hal itu akan jadi Boomerang. Namun jika pesan-pesan dia terus aku abaikan, bisa jadi dia akan terus mengirimkan pesan lainnya yang tak akan kalah memusingkan.'


Batin Tenri bergejolak. Dia tak tahu harus bagaimana menanggapi Daffa. Semakin hari, pria itu semakin membuat Tenri gelisah. Dia takut Daffa malah nekad dan rumah tangga dia akan semakin hancur.


Tenri menimang-nimang ponsel di tangannya, antara dia ingin balas atau tidak. Lama dia berpikir, dia pun memilih tak pernah membalasnya. Dia yakin Daffa akan mengerti kondisinya saat ini. Bahwa dia bukan lagi wanita single yang dengan begitu mudahnya menerima lelaki lain masuk ke dalam hatinya.


Jujur, Tenri cukup terganggu dengan kehadiran Daffa, lelaki itu sangat mencintainya. Tidak menutup kemungkinan bahwa Daffa akan mati-matian mendapatkan Tenri jika sikap Reno belum menunjukkan perkembangan. Setiap perempuan pasti ingin memiliki hubungan yang istilahnya simbiosis mutualisme. Saling menguntungkan satu sama lain, saling menguatkan, saling mencintai dalam bentuk suka maupun duka.


Tenri kembali ke kamar Reno, dia melihat suaminya sedang tertidur pulas. Ada rasa hangat menelusup ke dalam dadanya, banyak andai-andai yang coba dirangkainya. Andai saja hubungan mereka baik-baik saja, andai saja suaminya Reno tidak pernah mencari Elsa lagi, andai saja Reno begini dan begitu, mungkin rumah tangga mereka tetap baik-baik saja.

__ADS_1


"Tenri ...." panggil Reno yang segera menyadarkan Tenri yang masih berdiri di ambang pintu.


"Tenri ...." panggil Reno lagi dengan mata tertutup.


Tenri yang sekarang berdiri di sampingnya sedikit heran.


"Mengapa dia memanggil aku sementara matanya masih tertutup? Apa dia sedang mimpi dan mengigau?" pikir Tenri.


"Tenriiiii ...."


Tenri kembali dikejutkan dengan suara Reno yang berteriak memanggil namanya. Keringat membasahi bagian dahi dan leher Reno. Bahkan jidatnya sampai basah dipenuhi keringat.


"Daeng, ada apa?"


Tenri melihat ada yang berbeda pada suaminya. Matanya merah, bibirnya kering dan pucat. Segera Tenri menyentuh dahi suaminya.


Tenri pun cemas, dia memangku kepala suaminya. "Daeng, tidak apa-apa?"


"Entahlah, aku merasakan tubuhku menggigil, kedinginan, tapi tubuhku terasa panas seperti mendidih." ucap Reno dengan bibir bergetar dan tubuh menggigil.


"Aku bawa daeng ke rumah sakit, ya?"


"Jangan. Di sini saja, kamu di sini saja. Aku tidak mau ke rumah sakit, Tenri."


"Tapi demam kamu sangat tinggi, daeng. Aku takut terjadi sesuatu sama kamu."


"Tidak. Aku mohon jangan, aku sangat alergi dengan rumah sakit. Aku di rumah saja."

__ADS_1


"Baiklah, daeng tunggu sebentar. Aku akan ambilkan air untuk mengompres dahi daeng."


Dengan hati-hati Tenri memindahkan kepala Reno ke bantal. Kemudian dia berlari ke luar kamar menuju dapur untuk mengambil perlengkapan kompres.


Tak lama kemudian, dia kembali lagi ke kamar sambil membawa semua perlengkapan kompres yang dibutuhkannya. Selain itu, dia juga membawa obat Paracetamol untuk membuat panasnya turun.


"Minum ini dulu, daeng. Bangunlah," Tenri membantu Reno bangun. Dia sedikit kesulitan, sebab dia juga sedang mengandung dan perutnya bertambah besar.


Setelah Reno meminum obatnya, Tenri kembali membaringkan Reno. Dia segera memeras handuk kecil setelah direndam di dalam air. Kemudian menempelkan handuk basah tersebut ke kening Reno.


Reno meraba-raba seperti sedang mencari sesuatu, Tenri pun bingung. "Sedang cari apa, Daeng?"


Reno menangkap jemari Tenri, "aku mencari ini, aku mencari jemarimu, Tenri." ucapnya dengan mata tertutup.


Rasa panas dari tangan Reno dirasakan oleh Tenri, dia begitu khawatir karena tadi sempat suhu badan Reno sempat dia tes dan ternyata demamnya tinggi sekali sampai 39 derajat.


"Aku tidak ke mana-mana, aku di sini daeng."


"Tenri, jangan ke mana-mana ya. Jangan pernah pergi dari aku. Aku sangat takut kehilangan kamu. Kumohon jangan pernah meninggalkan aku ...."


Reno mengucapkan hal-hal yang semakin membuat Tenri bingung. Kayaknya Reno sedang membayangkan suatu hal buruk menimpanya dan itu adalah tentang bagaimana jika Tenri meninggalkannya kelak. Dia begitu takut sampai demam segala dan mengigau.


Tenri membelai pucuk kepala Reno.


"Aku tidak tahu apa yang membuatku bisa bertahan denganmu, daeng. Aku juga tidak tahu mengapa bisa sebegitu mencemaskan keadaanmu. Aku tidak tahu mengapa aku harus bertahan meski terus kau sakiti. Namun, melihatmu lemah seperti ini sepertinya aku tahu kenapa aku melakukan itu semua. Karena kamu ... membutuhkan aku."


Tenri tertidur dengan kedua tangan mereka saling bertaut. Jika saja tak ada kerenggangan hubungan diantara mereka, maka yang melihat pemandangan tersebut akan berkata, itu so sweet sekali. Sayangnya mereka bukanlah pasangan romantis itu.

__ADS_1


__ADS_2