Menikahi Wanita Pilihan Ibu

Menikahi Wanita Pilihan Ibu
Pertama Kali Ngobrol


__ADS_3

"Ini nomor telepon Tenri, sebelum kalian bertemu di acara akad nikah nanti ada baiknya kalian berbicara meskipun hanya lewat telepon." ucap Bapak Reno seraya menyerahkan secarik kertas bertuliskan nomor ponsel Tenri.


"Nak, hubungi-mi Tenri. Baik sekali anaknya, dia wanita yang tak banyak berbicara. Meskipun begitu, Ibu tahu dia adalah wanita yang cerdas. Sebab dia adalah seorang guru. Tidak ada salahnya berkenalan dulu walau hanya saling mendengar suara saja." lanjut ibunya menambahkan.


"Baik, Pak, Bu, Reno akan coba menghubungi Tenri. Kalau begitu, Reno masuk kamar dulu."


Tidak tahu mengapa sejak perihal pernikahan Reno dan Tenri dibahas, kondisi kesehatan Ibunya semakin membaik. Bahkan raut wajahnya tak lagi pucat sama seperti di awal kedatangan Reno ke Makassar.


Wajah Ibunya sumringah, bercahaya dan sangat tergambar jelas kalau dia sangat bahagia. Dia akan segera melepas anak semata wayangnya untuk menikah dengan wanita pilihannya. Tentu saja, baginya itu adalah kebanggaan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata saja.


Sampai di kamar, Reno duduk di tepi tempat tidur. Menimbang-nimbang mengenai apakah perlu dia menelepon Tenri dan mengajaknya berbicara. Dia sesungguhnya juga penasaran tentang sosok Tenri. Wanita seperti apa yang hendak dijodohkan ibunya dengannya.


Rasanya tak cukup bila hanya mendengar cerita-cerita baik saja dari mulut ke mulut keluarganya. Reno penasaran ingin melihat langsung atau minimal mendengar suaranya, seperti saran Bapaknya.


Dia pun mulai menekan tuts nomor di layar ponselnya. Menekan nomor sesuai yang tertera di kertas yang diberi oleh bapaknya. Lalu dia memberi nama Wanita Pilihan Ibu. Tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya, nama tersebut melintas begitu saja dan dia pun menuliskannya.


Baru saja dia akan menekan tombol memanggil, layar ponselnya berkedip memperlihatkan sebuah nama di sana. Elsa. Reno agak geram, buku-buku tangannya terlihat saat dia mengepalkan tangan. Wajahnya bingung antara diangkat atau diabaikan seperti sebelumnya.


Sepertinya dia tak punya pilihan lain, Reno menggeser tombol jawab berwarna hijau dan menerima telepon Elsa.


"Sayang ... lama banget sih angkat teleponnya. Kamu itu sebenarnya ke mana? Aku khawatir sama kamu, sedikit-sedikit nomor kamu tidak aktif. Kamu sengaja?" cerocos Elsa begitu saja, padahal Reno baru mendekatkan speaker telepon ke telinganya.


"Ya, ada apa?" jawabnya dingin. Seolah tak ingin terlibat obrolan panjang dengan Elsa.

__ADS_1


"Kok cuma nanya ada apa sih? Aku tuh nggak bisa tidur, nggak tenang mikirin kamu sementara kamu cuma nanya ada apa?"


"Terus aku harus bilang apa lagi, Sa?"


"Kamu jelasin kek kamu di mana, ngapain, sama siapa. Biar aku nggak cemas mikirin kamu terus."


"Nggak usah mikirin aku, aku sedang keluar kota dalam perjalanan bisnis. Sudah ya, kamu bisa berhenti cemas sekarang."


"Kamu kok gitu sih ngomongnya. Kamu di mana emang? Aku tanya Doni dia juga nggak mau ngasih tahu aku. Ada apa sih?"


"Aku akan jelaskan nanti setelah tiba di Jakarta. Sudah ya, jangan menghubungi aku lagi. Bye!"


Reno langsung menutup teleponnya. Tanpa berpikir dua kali, untuk sementara dia memblokir nomor Elsa dulu agar tidak mengganggu dirinya saat ini.


Reno kemudian ingat mengenai tujuannya tadi menyalakan ponsel. Tenri. Dia harus menghubungi Tenri.


Terdengar suara dering telepon yang belum di angkat. Jantung Reno berdebar kencang, apakah Tenri akan segera mengangkat teleponnya atau tidak. Sebelumnya dia sudah mengingatkan dirinya sendiri, jika di telepon pertama kali Tenri tidak mengangkat teleponnya maka Reno tidak akan menghubungi Tenri lagi untuk kedua kalinya.


"Assalamualaikum ..."


Tiba-tiba sebuah suara membuyarkan lamunannya. Suara lembut dari arah telepon genggamnya, itulah suara Tenri. Wanita yang dipilihkan untuk dinikahinya.


"Wa ... wa alaikumsalam ...."

__ADS_1


Reno tampak gugup. Padahal dia sedang tak berhadapan langsung. Banyak orang yang dia tak kenal sebelumnya pada saat pertama kali bicara lewat telepon, tapi dengan Tenri dia merasa seperti salah tingkah.


"Maaf dengan siapa? Nomor Anda tidak tercatat di buku kontak saya. Jika tidak ada hal yang penting-penting mau dibicarakan, teleponnya saya tutup saja."


"Eh tunggu ... tunggu ...! Maaf jika sekiranya mengganggu. Saya ... Saya Reno."


Deg.


Tenri pun terdiam. Dia terpaku mendengar suara lelaki yang sebentar lagi akan menjadi suaminya. Suara berat Reno memberi kesan bahwa dia adalah pria yang tak suka basa-basi.


"Oh, kita daeng---


Lalu mereka terdiam lagi.


"Iya, simpan nomor saya."


"Iyek ..."


Pembicaraan itu pun berakhir. Hanya sekalimat pendek dan tak ada kelanjutannya. Tenri tak dapat menghentikan gemuruh di dadanya. Itu pertama kali dia mendengar suara Reno.


Begitu juga dengan Reno, dia juga sedikit gugup. Namun dia masih bisa menguasai dirinya sendiri. Tetap saja dia terlihat salah tingkah dan tak tahu mau bicara apa.


"WANITA PILIHAN IBU"

__ADS_1


Dia menatap sekali lagi, nama di kontak ponselnya. Julukan yang dia berikan pada Tenri.


"Hhh ... semoga saja dia perempuan yang baik." ucapnya kemudian merebahkan diri di tempat tidur berbantal kedua lengannya.


__ADS_2