
"Photo by Pinterest" (Ini hanya visual semata)
_______
Mereka pun tiba di Bandara Komodo Labuan Bajo. Reno dan Tenri langsung disambut oleh tour guide yang sudah disewa oleh Doni. Mengatur seluruh rangkaian perjalanan bosnya bersama isterinya itu selama di Labuan Bajo.
Reno dan Tenri menggunakan kapal Phinisi menuju ke pulau-pulau yang indah yang ada di Labuan Bajo. Diantaranya adalah Pulau Kelor, Pulau Rinca, Pulau Padar, Pulau Kenawa dan masih banyak pulau-pulau lainnya yang tak kalah indah dan eksotis.
Berwisata di Labuan Bajo, kalian akan disuguhi pemandangan mulai dari wisata bahari, wisata budaya, sampai melihat hewan dari zaman purbakala.
"Daeng, bagiku Labuan Bajo adalah the perfect gateway yang wajib banget masuk list liburan sekali seumur hidup. Hehe."
"Kamu segitu excited-nya ya?"
"Tentu saja. Hhh ... aku belum pernah sebelumnya sebahagia ini dalam hidup. Aku pernah bilang, minimal aku bisa ke Labuan Bajo. Maka tak akan ada penyesalan dalam hidup aku."
"Serius?"
"Hu um. Justru aku yang ingin bertanya padamu, daeng. Dari mana kamu punya ide liburan ke Labuan Bajo ini? Rasanya seperti mimpi, aku bisa memijakkan kaki di sini. Itu tuh kayak daeng bisa meramal apa yang aku inginkan."
"Berarti aku sudah bisa dikategorikan suami idaman?" tanya Reno menggoda.
"Belum. Hehe. Bercanda daeng, kamu akan selalu jadi idaman buat aku."
Reno menarik tubuh Tenri untuk mendekat padanya. Seraya melihat pemandangan laut yang indah di sore hari menjelang malam. Kapal laut Phinisi membawa mereka menyongsong romantisme senja.
__ADS_1
Mereka berciuman di bawah Sinaran senja yang menerpa mereka. Membiarkan anak-anak rambut Tenri yang terurai itu ditiup angin. Reno menunduk untuk mendapatkan lebih dalam kecupan di bibir Tenri.
Tenri terlihat malu-malu, namun Reno terus meyakinkan isterinya itu kalau senja kali ini adalah milik mereka. Biarkan alam laut menjadi saksi, mentari senja yang perlahan menua mencumbu sosok mereka.
Tak ada kata, hanya gerak tubuh, siluet mengantar mereka menikmati keindahan laut Labuan Bajo dari atas kapal Phinisi.
Seorang awak kapal menghampiri mereka, "Tuan, Nyonya, sebentar lagi malam tiba. Kami akan menyiapkan makan malam paling romantis untuk Tuan dan Nyonya jadi mohon persiapkan diri."
Tenri menengok ke arah Reno, pria itu tersenyum melihat wajah isterinya. "Kenapa melihatku seperti itu?"
"Daeng, apa makan malam romantis juga masuk dalam agenda liburan kita?"
"Semuanya sudah direncanakan oleh Doni, dia yang mengatur semuanya. Tapi untuk makan malam romantis seperti yang dikatakan orang tadi, itu aku yang minta. Semoga kamu senang, sebab kebahagiaan kamu adalah tanggung jawab aku."
Tenri terharu dengan setiap ucapan Reno. Kata-kata suaminya itu menghilangkan segala prasangka buruknya tentang menjalani kehidupan rumah tangga yang tak bahagia. Tenri takjub karena Reno memperlakukan dirinya seperti wanita paling bahagia di dunia ini.
Setidaknya itu yang dirasakan Tenri dari sejak berangkat hingga sampai di Labuan Bajo. Reno begitu berbeda dari saat mereka berjumpa, saat mereka pertama bicara, kini Tenri bisa melihat Reno sebagai lelaki yang dapat dia percayai.
Langit perlahan gelap, matahari hanya menyisakan lembayung. Reno dan Tenri beranjak masuk ke kamar. Mereka memang telah disewakan satu buah kapal pesiar jenis Phinisi selama berwisata di Labuan Bajo. Sehingga semua aktivitas mereka lakukan di atas kapal di tengah lautan.
Reno lebih dulu masuk ke kamar mandi, sementara Tenri menyiapkan gaun yang akan dipakainya saat makan malam nanti. Dia mencoba beberapa gaun yang sempat dibawanya. Tenri membawa gaun berwarna putih, baby pink dan juga hitam. Sekarang dia pun mulai kebingungan hendak memakai yang mana.
Gemericik air terdengar dari kamar mandi, saat bersamaan ponsel Reno bergetar di atas meja nakas. Tenri sebenarnya penasaran, namun dia tak mau mengulang kesalahan yang sama. Handphone itu adalah privasi Reno, dia tak boleh mengangkatnya. Sekalipun telepon tersebut harus bergetar sampai baterainya habis.
Beberapa saat kemudian, badan Reno yang basah tampak keluar dari kamar mandi. Sisa-sisa air yang menempel di tubuhnya menjadi pemandangan yang menggelitik mata Tenri. Apalagi bagian dada Reno yang bidang dan juga perut yang sepertinya dirawat sangat baik dengan olahraga rutin.
"Daeng, ponselmu bergetar beberapa kali. Mungkin saja itu penting, aku tak berani mengangkatnya."
"Terimakasih sayang sudah diberi tahu, kamu segera mandi sana. Makan malam kita sebentar lagi dihidangkan."
__ADS_1
"Oke."
Tenri pun menghilang dari balik pintu kamar mandi. Sementara Reno mengecek ponselnya yang katanya sempat bergetar beberapa kali. Reno mengecek panggilan masuk, lagi-lagi panggilan itu adalah dari Elsa. Tidak mungkin dia membiarkan wanita itu merusak bulan madunya kali ini.
Itu sebabnya, dia lebih baik mematikan ponselnya dari pada harus mendapat teror berkali-kali dari Elsa. Untuk sesaat Reno dapat berpikir tenang, dia tidak mau liburannya kali ini dalam rangka bulan madu hancur seketika.
Setelah dia mematikan ponselnya, dia pun menaruhnya di tas. Maka tak ada lagi yang bisa mengganggu mereka berdua menghabiskan liburan.
***
Reno sudah menunggu Tenri selesai merias diri sejak tadi, bahkan dia hampir bosan karena Tenri tak juga muncul. Karenanya, dia pun masuk ke kamar untuk memastikan apakah Tenri sudah selesai atau belum.
"Sayang, kenapa lama sekali?"
"Maaf, daeng. Aku bingung harus pilih baju yang mana," jawabnya sambil menunjuk ke arah gantungan gaun yang sudah dia siapkan.
"Putih saja. Kan aku pakai putih."
"Ah iya, kenapa aku jadi tidak bisa menggunakan akal pikiranku sih. Apa mungkin karena aku terlalu gugup ya?"
"Rileks saja, ini hanya makan malam sayang."
"Tetap saja, aku merasa deg degan daeng."
Reno menertawakan isterinya yang seperti hendak buang hajat ekspresinya. Padahal hanya makan malam biasa. Tentu saja hal itu menjadi momen mendebarkan bagi Tenri soalnya itu yang pertama baginya. Seumur-umur dia belum pernah makan malam berdua dengan seorang pria. Itu sebabnya dia menjadi sangat kaku dan khawatir akan penampilannya.
Beberapa saat kemudian, Tenri pun siap dengan gaun panjangnya. Rambutnya diikat sebagian dan yang lainnya dibiarkan terurai menutupi punggungnya yang polos dan terbuka.
Reno menggandeng tangan Tenri ke tempat makan malam romantis seperti yang dikatakan awak kapal tadi. Dengan hati-hati Tenri berjalan, dia tidak mau sepatu yang dia pakai membuatnya harus keseleo karena haknya yang tinggi.
__ADS_1
Seketika Tenri terpana dengan apa yang dilihatnya, meja makan berada di tengah-tengah dan sekelilingnya terdapat lilin sebagai penerang. Tenri tak dapat menyebutkan perasaan bahagianya. Dia hanya bisa memeluk Reno karena sudah menyiapkan semuanya untuk dirinya.