Menikahi Wanita Pilihan Ibu

Menikahi Wanita Pilihan Ibu
Kuterima Semua Tuduhanmu


__ADS_3

Kedatangan Tenri disambut tangis para keluarga yang datang melayat. Sungguh kepergian Ibu Reno tak pernah disangka akan secepat itu. Pasalnya Ibunda Reno tak mengalami sakit, tak ada tanda-tanda bahwa Tuhan akan segera mengambil nyawanya.


Dia meninggal dalam keadaan tidur, wajahnya tenang dan bercahaya. Dia tersenyum seperti orang yang tidur saja. Tenri memasuki bagian rumah utama, di mana orang berdesak-desakan untuk melihat wajah ibu Reno yang terakhir kalinya.


Tangis pecah manakala Tenri sudah memasuki rumah utama, banyak orang yang memintanya untuk sabar telah ditinggal oleh ibu mertuanya dalam waktu yang singkat. Banyak pula diantara mereka yang mempertanyakan mengapa hanya Tenri yang terlihat datang? Ke mana Reno?


Tenri terduduk lemas di samping tempat tidur di mana ibu Reno disemayamkan untuk terkahir kali. Di sekelilingnya sanak saudara sudah berkumpul sambil mendoakan beliau.


Tangis Tenri pecah meminta maaf pada Ibu Reno. Dalam hatinya dia telah merasa gagal menjadi isteri yang baik untuk Reno. Bahkan di saat terakhir kali ibunya pun, dia tak dapat membawa Reno bersamanya.


"Anakku Tenri, di mana suamimu?" tanya bapak Reno. Pertanyaan yang sama dari semua orang yang ada di ruangan itu. Terutama pihak keluarga.


"Reno sudah menyusul ke Makassar, Pak. Sebentar lagi mungkin sampai, dia ada urusan yang harus diselesaikan karena itu dia memintaku untuk berangkat terlebih dahulu." Bahkan disaat sekarang pun, Tenri masih membela suaminya. Bagaimanapun dia tak mungkin menceritakan yang sebenarnya bahwa suaminya malah tidur bersama wanita lain.


"Oh seperti itu, jadi apakah kita tunggu dulu suamimu?" tanya Daeng Beta saudara dari pihak ibu Reno.


"Tunggu dulu, Om. Setidaknya biarkan dia melihat wajah ibu untuk yang terakhir."


"Baiklah, terus hubungi posisi dia di mana. Agar kami bisa mempersiapkan segala sesuatunya."


Tenri mengangguk. Dia pun beralih ke wajah ibu mertuanya yang teduh. Tampak tersenyum, seperti orang tidur saja. Dia mengelus puncak kepala ibu mertuanya, kemudian mencium kening almarhum dengan penuh cinta.


"Maafkan aku, Ibu. Maafkan aku ...."


Hanya ucapan itu yang terus berulang diucapkan oleh Tenri. Dia tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Sesak di dadanya nyaris tak kuat lagi ditahannya. Dia ingin curhat ke siapa tentang permasalahan rumah tangga dia kali ini?


Olla yang melihat Tenri dari jauh, akhirnya berusaha menerobos kerumunan orang. Mendekati Tenri, memberinya semangat dan juga agar dia bersabar menghadapi musibah ini.

__ADS_1


"Tenri ...."


"Olla ...."


Tangis Tenri pecah di pelukan Olla. Dia merasa satu-satunya orang yang dapat mendengar keluh kesahnya kini adalah Olla. Sahabat satu-satunya yang dia miliki.


"Kapan kamu datang?" tanya Tenri seraya mengusap air mata yang tersisa di pipinya.


"Baru saja, aku tak menyangka beliau secepat itu meninggalkan kami. Padahal aku bahkan belum mampu memberinya cucu."


"Jangan salahkan dirimu, Tenri. Kelahiran, kematian, hanya Tuhan yang tahu. Kamu tidak boleh berkata seperti itu."


"Tapi itulah kenyataannya, Olla. Aku telah gagal ...."


"Belum waktunya saja Tenri, kamu harus bersabar."


Mereka pun berpelukan untuk kedua kalinya, orang-orang yang datang semakin banyak. Tenri memilih menepi sebentar ke kamar bersama Olla.


Dua jam setelah kedatangan Tenri di rumah itu, semua orang geger menyambut kedatangan Reno yang baru saja datang. Semua mata tertuju pada pria berperawakan tinggi itu.


"Kenapa lama sekali?" tanya bapaknya yang langsung menyambutnya di pintu masuk.


"Maafkan aku, Pak. Maafkan aku, di mana ibuku?" tanya Reno sambil menangis.


"Cepat masuk! Ibumu sedang terbaring di dalam, dia sudah tidak ada. Nama terakhir yang dia sebut adalah namamu, Reno. Dia mencarimu untuk terkahir kalinya."


Maka makin bertambahlah rasa bersalah yang mendesak di dadanya. Dia berlari masuk ke rumah dan memeluk jenazah ibunya. Dia menangis tersedu-sedu, dia meraung seperti anak kecil yang ditinggal pergi.

__ADS_1


"Ibu ... Ibu ... Bangun Ibu ...."


Suara teriakan Reno yang meraung segera didengar oleh Tenri. Dia pun keluar dan menemui Reno yang sedang menangisi jenazah ibunya.


"Alhamdulillaah, akhirnya kamu datang daeng."


Reno mencium kaki ibunya berkali-kali sambil menangis. Semua orang iba melihatnya, tak ada yang dapat membendung air mata yang segera menjebol pertahanan mata mereka.


"Sabar daeng, inilah yang terbaik untuk Ibu. Ikhlaskan beliau ...."


Reno menatap ke arah Tenri, isterinya itu bahkan tak marah padanya. Dia melihat Tenri tak menaruh kebencian pada dirinya. Saat itulah Tenri merasa seperti ditikam waktu.


"Reno, ibu kamu akan segera dimandikan. Tidak baik terlalu lama dibiarkan begitu saja."


Reno pun berdiri dengan dibantu beberapa orang, dia terkulai lemas karena menangis dan rasa bersalah yang terus memaksanya tak berdaya.


Tenri ikut membantu Reno berdiri dan membimbingnya masuk ke kamar. Sementara jenazah ibunya sedang dikerjakan, mereka berdua pun terduduk lemah di sisi tempat tidur. Tak ada yang berani berbicara, bahkan Tenri hanya mencoba menguatkan dirinya sendiri.


"Kamu cari muka dengan datang sendirian tanpa bersamaku?"


Ucapan Reno barusan bagai petir menyambar, Tenri tak menyangka suaminya bahkan memiliki pemikiran seperti itu.


"Daeng, terserah daeng mau bicara apa. Aku sekarang tak bisa berbuat apa-apa lagi. Aku begini salah, aku begitu masih salah. Jadi aku tidak akan mengatakan apapun kecuali menerima semua tuduhanmu. Silakan lakukan itu padaku," Tenri bergeming di samping Reno.


"Sampai kapan kamu harus terus berpura-pura kuat, Tenri? Memangnya kamu mau bertahan berapa lama dengan laki-laki seperti aku?"


"Aku isterimu, bahkan jika aku harus berjuang seumur hidupku untuk menjadi isterimu, maka hal itu akan terus kulakukan."

__ADS_1


"Perempuan bodoh!" ucap Reno agak kasar. "Keluar kamu dari kamar ini!" lanjutnya.


Tanpa kata, Tenri keluar meninggalkan Reno sendirian di dalam kamar. Sekarang bahkan rasa sakit itu tak lagi bisa dirasakannya. Tenri hanya bisa menjadi perempuan kuat, hanya itu tujuannya sekarang.


__ADS_2