Menikahi Wanita Pilihan Ibu

Menikahi Wanita Pilihan Ibu
Surprise


__ADS_3

Pihak keluarga Elsa sudah berada di Australia untuk mengurus jenazah Elsa yang akan diterbangkan ke Indonesia. Seorang kerabat Elsa menghubungi Reno, meminta tolong pada Reno agar menyiapkan proses pemakaman Elsa di Indonesia.


"Sayang, salah satu keluarga Elsa meminta tolong padaku. Dia meminta agar aku mempersiapkan pemakaman Elsa sambil menunggu jenazahnya tiba di Jakarta. Apa kamu mengizinkan aku pergi?" tanya Reno meminta izin pada isterinya.


"Daeng, bagiku tidak masalah. Silakan daeng, biar bagaimanapun Elsa pernah jadi bagian dari hidup daeng. Mungkin dengan mengurus pemakamannya, setidaknya daeng dapat melakukan sesuatu untuk Elsa di akhir hayatnya. Pergilah daeng, aku mengizinkan kamu."


"Terimakasih, Sayang. Jaga anak kita baik-baik di rumah. Hubungi aku jika terjadi apa-apa, aku pergi dulu." Reno pamit pergi seraya mencium kening istrinya serta mencium pipi embul si Baby Queen.


Sampai di kediaman Elsa, hanya tampak beberapa anggota keluarga yang datang menantikan kedatangan jenazah. Reno disambut oleh keluarga yang sudah mengenalnya.


"Reno, Elsa ... Elsa meninggal karena dibunuh dengan kejam. Bagaimana ini? Kamu pasti terpukul sekali, kan?" ucapnya sambil berusaha menahan tangis. Entah itu tangis sungguhan atau hanya pura-pura. Reno tak bisa bersimpati atas hal tersebut.


Rupanya orang yang datang menyambut dan ingin memeluk Reno itu belum tahu kalau hubungannya dengan Elsa sudah lama berakhir.


"Maaf Bu, saya dan Elsa sudah lama tidak menjalin hubungan. Saya pun sudah menikah sekarang, saya ke sini karena dimintai tolong oleh pihak keluarga inti Elsa."


Reno berkata jujur berharap tidak ada lagi kesalahpahaman yang terjadi antara dirinya dan keluarga Elsa. Reno ditugasi mengurus semua proses pemakaman Elsa. Dari menghubungi pihak pemakaman, shalat jenazah, siapa yang memandikan dan lain-lain.


Dia tak melihat ketulusan di wajah orang-orang yang datang, kebanyakan malah terdengar bisik-bisik dan menggosipkan Elsa. Benar-benar tidak berperasaan, bahkan orang meninggal pun masih harus menerima sanksi sosial dari masyarakat yang sama sekali tidak memiliki rasa empati.


Tidak ada yang bisa dilakukan Reno kecuali mengurus sesuai tugasnya. Dia berharap semuanya cepat selesai, agar dia bisa pulang ke rumah dan bertemu dengan anak dan isterinya. Itu lebih baik dari sisi manapun.


***


Sekitar pukul dua siang, jenazah Elsa pun tiba. Orang yang datang melayat semakin banyak, Reno menyempatkan diri untuk melihat wajah Elsa terakhir kalinya saat dimandikan. Dia tak menyangka pertemuan dia dengan Elsa di rumah sakit menjadi yang terakhir kalinya.


'Kamu pasti menjalani kehidupan yang sulit setelah mengalami keguguran itu. Mengapa kamu harus gegabah dan mencari pria itu tanpa persiapan Elsa?' ucap Reno dalam hati.


Saat membuka penutup wajah Elsa, wanita itu seperti sedang bersedih. Wajahnya sudah bengkak, meski begitu tak menghilangkan kesan cantik yang sekilas terpancar dari wajahnya.

__ADS_1


Reno sempat goyah, tak menyangka wanita itu pergi dengan cepat. Dia merasa sedih dan bersalah karena sempat memanfaatkan Elsa. Namun demikian, tak bisa dipungkiri juga bahwa Elsa telah membuat kekacauan dalam rumah tangganya selama ini.


Setelah semua prosesi pemakaman selesai, Reno pun pulang ke rumah.


"Sore, Sayang. Bagaimana anak kita? Apa dia menyusahkan kamu seharian?" tanya Reno. Dia hendak mencium Tenri dan juga anaknya namun isterinya itu lekas memberinya tanda Stop.


"Sayang, kamu mandi terlebih dahulu. Pamali langsung menyentuh anak bayi saat baru selesai dari melayat. Kamu mandi, habis itu kamu bisa sepuasnya bermain dengan baby Queen. Oke?"


Reno tersenyum, Tenri begitu mem-protect kesehatan baby Queen. Dia pun ke kamar mandi tanpa tunggu waktu lama.


Setelah mandi Reno langsung menemui baby Queen yang baru saja tertidur. Dia menggemaskan makanya Reno selalu ingin mencium baby-nya itu. Wangi bayi memang sangat candu, siapapun akan melakukan hal yang sama pada anaknya.


"Sayang, pelan-pelan dia baru saja tidur. Kamu bisa membangunkannya."


"Aku tahu baby Queen kalo udah tidur dia nggak akan terganggu oleh apapun. Iya kan, my baby Queen." selorohnya seraya melayangkan satu ciuman lagi ke pipi anaknya.


Mereka berdua lalu dikejutkan oleh suara bel, "siapa yang datang ke rumah se sore ini?" tanya Reno seakan meminta jawaban dari Tenri.


"Hehe, benar juga. Tunggu sebentar ya Queen. Papa ke bawah dulu melihat siapa yang datang." Satu ciuman lagi mendarat di kening anaknya.


Tenri hanya bisa menggelengkan kepala, kelakuan Reno persis anak kecil, seorang kakak yang baru saja dikaruniai adik.


"Surprise ...." seru beberapa orang yang mengejutkan Reno di depan pintu. Tawa pun terdengar riuh karena Reno terkejut bukan main.


"Papa ...! Olla ...! Tante ...! Kenapa nggak bilang? Kalau tidak kan Reno bisa jemput di bandara." seru Reno tak percaya kalau orang-orang terdekatnya kini datang jauh-jauh dari Makassar.


"Kalau bilang bukan kejutan lagi namanya, Ren." balas Olla.


Mereka semua masuk ke rumah dan berencana ingin memberikan kejutan yang sama pada Tenri.

__ADS_1


"Tenri ada di atas, aku akan memanggilnya turun untuk melihat siapa yang datang. Soalnya kalau beri kejutan di atas nanti baby Queen terbangun. Dia baru saja tidur."


"Ughh ... sungguh? Pasti menggemaskan sekali," Olla terlihat paling serius.


"Reno, Papa sudah tak sabar ingin melihat cucu Papa."


"Iya Ren, sudah tak sabar ini Tante mau lihat cucu." sambung tantenya tak kalah semangat.


Reno pun ke atas memanggil Tenri, "Sayang, ada yang mencari kamu di bawah. Kayaknya orang tua murid bimbingan belajar kamu deh."


"O yah?" Tenri tampak kaget dan tak percaya.


"Lihat saja dulu, biar aku di sini yang jagain baby Queen."


"Baiklah, ingat untuk tidak mengganggu Baby Queen saat tidur, Sayang."


"Siap komandan!" seru Reno memeragakan hormat pada pimpinan. Haha. lucu sekali.


Tenri tersenyum lalu turun ke lantai bawah. Dia pun terhenyak melihat siapa yang datang, "Olla? Papa? Tante? Kapan kalian datang? Kok nggak bilang?"


"Haha, kejutan dong. Gimana kamu sudah sehat?" tanya Olla seraya tertawa.


"Alhamdulillah sudah, ini bisa beraktivitas kayak biasa lagi."


"Syukurlah, Papa takut sekali saat kamu dibilang mau melahirkan padahal belum bulannya. Papa terus istighfar dan berdoa tanpa putus. Hah ... syukurlah kamu dan bayimu baik-baik saja."


"Alhamdulillah iya, terimakasih atas doa-doa papa dan semuanya yang sudah mendoakan kami. Ya sudah ayo ke atas, mau lihat baby Queen kan?"


"Tentu dong ...." seru Olla paling heboh.

__ADS_1


Kebahagiaan pun terpancar di wajah mereka saat melihat baby Queen. Saking terharunya, papa Reno pun terlihat menghapus titik air mata yang sempat mengalir membasahi pipinya. Perasaan menjadi seorang kakek, ya itulah yang dirasakan papa Reno.


__ADS_2