
Tenri sedang melakukan aktivitas masak memasak di dapur, namun sesuatu terjadi pada dirinya. Baru saja dia menuang campuran bawang, cabe dan bumbu lainnya ke dalam wajan yang berisi minyak panas, tiba-tiba perutnya bereaksi dan mual. Sampai dia tak tahan dan berlari cepat ke wc dekat dapur.
"Oweeeekkk ...."
"Owweeeekkk ...."
Semakin lama durasi muntahnya semakin cepat, hal itu pun didengar oleh bapak mertuanya yang sedang santai di ruang tamu. Dia pun mencium bau gosong bersamaan dengan suara Tenri yang terus mual muntah. Bapak mertuanya melompat dari kursinya dan menuju dapur, alangkah paniknya beliau.
Dia berteriak kencang, "Reno ... cepat ke sini!" saat melihat wajan sudah gosong, bumbu-bumbu dapur yang tadi baru dimasukkan sudah menghitam pekat, hangus tanpa tersisa. Api hampir saja berkobar ke atas, andai saja bapak mertuanya itu tidak cepat bertindak maka entah apa yang terjadi pada dapur dan rumahnya.
Reno baru muncul ketika api sudah dipadamkan oleh bapaknya, "apa yang terjadi, Pak? Di mana Tenri? Kenapa bisa gosong begitu?"
"Jangan banyak bicara lagi, cepat masuk ke wc tengok isterimu. Jangan-jangan dia sudah pingsan di dalam."
"Hah? Pingsan? Kok bisa?"
"Sudah, masuk saja dulu. Cepat tengok isterimu di dalam."
Reno pun menuruti perintah bapaknya, benar saja pas masuk ke wc itu dia melihat Tenri sudah lemas. Keringat mengucur di mana-mana. Nyaris saja terjatuh andai kata Reno terlambat meraih tubuh isterinya itu.
"Astaga! Tenri ... bangun Tenri." Reno berusaha menepuk pipi isterinya yang ternyata sudah menutup mata, lemas tak berdaya, mungkin saja pingsan.
__ADS_1
Bapak mertuanya penasaran dan kepalanya menyembul dari balik pintu wc "ada apa dengan Tenri?"
"Entahlah, Pak. Kulitnya dingin sekali, keringatnya mengalir terus sampai bajunya basah begini."
"Cepat bawa keluar, tidurkan di sofa ruang tamu."
Reno membopong tubuh Tenri menuju sofa ruang tamu, bapaknya mengambil bantal sofa untuk alas kepala Tenri. Setelah berhasil dia tidurkan, Reno lagi-lagi tidak tahu harus berbuat apa. Dia pun kelabakan, "cepat cari minyak angin, Reno. Ngapain diam di sini."
Reno segera berlari ke lantai atas, tepatnya menuju kamarnya. Dia pernah melihat Tenri menaruh minyak angin di atas meja riasnya.
"Ini dia," ucapnya sambil memegang botol kecil berwarna hijau itu. Dia berlari keluar kamar dan menuruni tangga satu persatu.
"Ini Pak, minyaknya." Reno menyodorkan minyak angin tersebut kepada bapaknya.
Reno menjadi ciut di depan bapaknya, benar sekali dia tak bisa melakukan apapun dalam merawat seorang isteri. Dia bahkan tak tahu kalau Tenri saat itu sedang mengalami yang namanya morning sickness biasa juga itu faktor ngidam bagi wanita yang sedang hamil.
Setelah mengoles-oles minyak angin itu di ujung hidung Tenri, akhirnya dia sadar juga. Orang pertama yang dilihatnya adalah Reno kemudian bapak mertuanya.
"Nak Tenri, kamu tidak apa-apa?"
"Sudah mendingan, Pak. Tadi itu Tenri ngerasa mual, pusing terus tiba-tiba isi perut Tenri kayak terputar dan minta keluar begitu saja."
__ADS_1
"Apa jangan-jangan itu karena ngidam?"
"Tapi kan biasanya nggak secepat itu, Pak. Ngidam kan biasanya datang saat usia kehamilan dua atau tiga bulan mungkin." jawab Tenri.
"Jangan sok tahu kamu, lebih baik periksa saja lagi ke dokter." Reno menjawab sedikit sinis.
"Nah itu ide bagus, cepat bawa isterimu ke dokter. Biar jelas sekalian, penyebabnya apa?"
Dalam hati Reno mengutuk dirinya sendiri. Hahaha. Kena kan kau sekarang Ren, makanya jangan jahat-jahat gitu sama isteri kek. Punya isteri baik, perhatian, lemah lembut, gemah ripah loh jinawi (eh kebanyakan, haha) itu disayang-sayang. Jangan kayak jadi suami durhaka gitu, ingat karma masih berlaku selagi manusia masih hidup di muka bumi ini. Camkan itu, Ren. (Eh ini author malah curcol hihi).
"Baiklah, aku akan bawa dia ke dokter. Tenri, waktu itu kamu sudah pernah kontrol kehamilan bukan? Nah kamu ke klinik mana waktu itu?" tanya Reno pasrah pada nasibnya.
"Klinik CIMERA, pas depan pintu gerbang masuk ke komplek perumahan kita ini."
"Ya sudah kita ke sana saja."
Tenri teringat tentang Daffa, dia yang menjadi dokter di sana. Bagaimana kalau Reno tahu masa lalu mereka? Ya sudah bodoh amat, itu juga tidak akan ketahuan kalau tidak ada yang ngasih tahu. Sekarang Tenri benar-benar pasrah saja, pasalnya dari cara Daffa menatap dirinya itu sudah berbeda. Tenri ingat betul bagaimana Daffa mengejar-ngejar dirinya dulu.
"Iyah daeng."
Tak ada yang bisa dilakukan Tenri sekarang kecuali berdoa semoga tidak terjadi apa-apa suatu saat nanti. Semoga tidak berdampak pada persahabatan antara Reno dan juga Daffa. Sebab urusan perasaan Daffa sudah berlalu, jauh bertahun-tahun lalu. Tidak mungkin perasaan itu akan bersemi lagi setelah banyaknya waktu berlalu.
__ADS_1