Menikahi Wanita Pilihan Ibu

Menikahi Wanita Pilihan Ibu
Tidak Ada 2 nya


__ADS_3


Menurut sebuah pepatah, perempuan akan jadi ratu di tangan laki-laki yang tepat. Mungkin saat ini Tenri belum sepenuhnya jadi ratu, namun dia yakin Reno akan menjadi pangeran yang akan selalu melindunginya.


"Sayang, mau tahu sesuatu tidak?" tanya Reno pada suatu pagi saat mereka hanya berdua duduk di teras menikmati merdunya cuitan burung yang bersahutan.


"Apa?" jawab Tenri dengan pertanyaan.


"Kamu itu seperti angka 1 3 4 5 6 7 8 9 10."


"Hah? Kok bisa? Angka 2 nya mana?"


"Ya, memang tidak ada 2-nya. Hehe ... Kamu memang tidak ada duanya, Sayang."


Tenri tertawa mendengar gombalan konyol Reno, sekarang Reno tak hanya suka bersikap aneh, tapi omongan dia juga kadang aneh dan konyol. Bikin Tenri senyam senyum sendiri dengan pipi yang bersemu merah.


"Daeng, aku kalau mikirin kamu, aku jadi inget telenovela."


"Kenapa rupanya?"


"Panjaaaang banget, nggak ada ujungnya."


Hahaha ... mereka malah jadi balas-balasan pantun. Tapi karena itu pula pagi ini terasa manis dan hangat. Lebih indah dari pagi yang lain.


"Kehidupan rumah tangga kita itu seperti kopi yang ada di depan daeng sekarang."


"Oh ya?"


"Iyah, awalnya pahit tapi akhirnya akan selalu ada rasa manis di setiap tegukannya."


"Kayaknya kamu lebih jago gombal daripada aku deh, Sayang."


"Hahaa ... itu hanya gombalan receh. Dulu siswaku banyak yang gomba-gombal receh kayak gitu sama aku. Nggak kebayang kan, gimana populernya isterimu ini di sekolah? Hehe."


"Semua gombalan mereka nggak ada apa-apanya dibanding aku yang sekarang kayak teflon panas dan mentega." .


"Apa itu?"


"Iyah, selalu meleleh saat melihat kamu. Haha."

__ADS_1


Begitulah mereka mengisi pagi pertama di Makassar. Pagi pertama yang bahagianya lebih nyata dari apapun.


***


Tiba-tiba ponsel Reno berbunyi, dia melihat sekilas nama si penelpon yang tertera di layar ponselnya.


"Siapa?" tanya Tenri.


"Doni. Aku jawab sebentar ya."


"Iyah," jawab Tenri yang seolah bisa menebak ada hal buruk sedang terjadi.


Reno berjalan agak menjauh dari Tenri, biasanya kalau Reno sedang izin cuti dari kerjaan Doni tidak akan menghubungi dirinya kalau bukan hal penting. Itu sebabnya, dia memilih agak menjauh, kali saja ada kabar buruk yang dibawa Doni untuknya.


"Ya, Don. Ada apa?"


"Maaf Ren, aku mengganggu liburan kamu dan Tenri. Tapi mau tidak mau hal ini harus aku sampaikan sama kamu." Dari suara Doni, kayaknya memang ada masalah serius yang terjadi.


"Langsung ke intinya saja, Don. Jangan berbelit-belit begini." .


"Jangan marah ya, tapi kamu harus dengar baik-baik ucapan aku sekarang."


"Gawat." Doni diam sebentar, suara napasnya bahkan terdengar sampai ke telinga Reno. Seolah apa yang akan dikatakannya itu terlalu berat.


"Gawat kenapa?" Reno mencecar Doni.


"Elsa. Elsa mendatangi kantor kita yang baru. Aku juga tidak tahu dari mana wanita itu dapat informasi alamat kantor kita yang baru. Namun masalahnya bukan di situ. Dia mengamuk di kantor dan memanggil-manggil nama kamu. Dia berteriak udah kayak orang kesurupan, mengganggu ketenangan para karyawan dan juga pengunjung. Nyaris saja aku memanggil polisi andai Elsa tidak mau berhenti mengamuk."


"Persoalannya apa? Aku tidak ada sangkut pautnya lagi dengan dia. Kenapa dia harus bersikap kekanakan begitu?" Reno mulai naik pitam hanya karena mendengar nama Elsa disebut oleh Doni.


"Ren, benar kamu tidak pernah sekalipun tidur atau berhubungan layaknya suami istri dengan dia?" Doni bertanya dengan tegas seakan semua kejadian itu ada hubungannya dengan kebenaran Reno pernah tidur dengan Elsa atau tidak.


"Maksud kamu apa, Don? Kamu juga ragu dengan apa yang keluar dari mulutku?" Reno seakan tersinggung oleh ucapan Doni barusan.


Sementara Tenri dari jauh sudah harap-harap cemas karena melihat tingkah Reno yang sepertinya agak berbeda.


"Soalnya ini ada hubungannya dengan kedatangan Elsa ke kantor sambil mengamuk. Dia mengaku telah hamil anak kamu ...."


Bagai petir menyambar di pagi itu, Reno bungkam. Seperti waktu berhenti berputar saat itu juga. Tidak mungkin. Elsa tak mungkin hamil anaknya. Mengapa di setiap ada kebahagiaan di dalam rumah tangga mereka selalu saja muncul cobaan yang nyaris menumbangkan Reno saat itu juga.

__ADS_1


"HAH? HAMIL? TIDAK MUNGKIN, DON. ITU BUKAN ANAKKU, AKU TIDAK PERNAH MENYENTUHNYA LEBIH DARI SEKEDAR MENCIUM DIA SAJA. HANYA ITU." Reno mengelak dengan keras kalau dia dituduh telah menghamili Elsa.


"Tapi Elsa bilang begitu tadi, Ren. Kamu harus bisa menyelesaikan masalah ini, jika tidak rumah tangga kamu jadi korban lagi. Ren, sebaiknya kamu pikirin baik-baik lagi solusi untuk masalah ini. Soalnya ini bukan perkara mudah."


"Terserah wanita itu mau bilang apa, tapi pada kenyataannya aku tidak pernah melakukan apapun padanya."


"Oke, sekarang kamu pikirin dulu jalan keluarnya. Aku cuma ngabarin kamu dan semoga rumah tangga kalian tidak retak karena masalah ini."


"Terimakasih, Don."


***


Reno berjalan ke arah Tenri dengan lesu namun juga tersirat emosi yang begitu besar. Tenri melihat itu dan dia merasa telah terjadi sesuatu yang buruk.


Tenri menghampiri suaminya, "ada apa, Daeng?" tanya Tenri dengan tenang.


"Tenri, aku harus bicara padamu tentang sesuatu. Namun sebelum ada kebenaran kumohon jangan marah ataupun membenciku. Aku berharap kita dapat menemukan kebenaran itu bersama-sama."


"Apa yang terjadi, Daeng?"


"Aku tidak mau bohong sama kamu, kuharap dengarkan baik-baik."


Tenri sudah mulai khawatir namun meskipun begitu dia tetap ingin agar pikirannya tenang. Apa yang akan dibicarakan suaminya mungkin hal buruk, karena itu dia harus siap.


"Iya daeng, katakan saja."


Reno kemudian memegang kedua tangan Tenri, berbicara sambil menatap mata isterinya. Berharap Tenri dapat melihat kejujuran di dalam mata dan ucapannya nanti.


"Doni barusan menelpon. Dia bilang, Elsa datang mengamuk ke kantor dan mencari aku. Dia mencari aku untuk meminta pertanggung jawaban karena dia mengaku telah dihamili oleh aku ...."


Tenri menggeleng, matanya telah berkaca-kaca mendengar ucapan Reno barusan.


" ... tapi Tenri, percaya sama daeng, demi Tuhan, Daeng tidak pernah menyentuh apalagi berhubungan badan dengan Elsa. Janin di dalam perut Elsa itu tidak mungkin disebabkan oleh Daeng. Kamu harus percaya itu, kumohon ...."


Tenri tidak tahu harus berkata apa-apa lagi, dia sudah limbung. Kepalanya pusing mendengar kenyataan yang begitu menyayat hatinya. Di tengah dia hamil besar dan ada wanita lain yang juga hamil dengan tuduhan bahwa suaminya lah yang menghamilinya. Siapa yang tidak akan limbung?


"Please ... percaya sama aku. Karena aku tidak pernah melakukan itu. Aku ingin mengajak kamu untuk bersama-sama membuktikan bahwa anak itu bukanlah anak aku."


Ada gurat kecewa di wajah Tenri, dia ingin percaya pada ucapan Reno namun bagaimana bila itu benar? Dia tahu betul Elsa wanita licik tapi semua tidak akan menutup kemungkinan mengenai kebenaran atau kebohongan apa yang sedang terjadi saat ini.

__ADS_1


Tenri berdiri dari duduknya, dia melepas tangan Reno saat itu. Dia ingin percaya ... sungguh dia ingin mempercayai suaminya ... Tapi hati dia juga terasa sakit.


__ADS_2