
Drrtt ... drrttt ... drrrttt ...
Suara ponsel bergetar, mengusik obrolan keduanya.
"Sepertinya itu ponsel kamu, La. Ponsel aku sedang dalam mode diam."
Mode diam, berarti Doni sengaja melakukan itu agar tidak mendapatkan gangguan dari siapapun saat dia lagi ngobrol dengan Olla. Luar biasa anak muda satu ini, cara pendekatannya pol polan.
"Ah Iyah, itu ponsel aku. Aku angkat sebentar ya," izin Olla untuk menerima telepon tersebut.
Olla cukup kaget saat melihat siapa penelpon itu, dia menatap layar ponselnya sebentar. Apakah ingin menjawab atau membiarkan saja ponsel tersebut terus bergetar. Namun rasanya tidak elok jika dia tak menjawab telepon Daffa sementara sekarang dia sedang bersama dengan Doni.
"Ya, halo."
"Hai La, kamu ada waktu sore ini? Sibuk tidak?"
Duh jawab apa ini? Masa iya aku jawab aku sibuk padahal aku lagi sama Doni? Pasangan suami istri itu emang gila. Reno dan Tenri sama saja. Menjebak dua sahabatnya untuk terlibat urusan sama aku. Mana dua-duanya mendekati aku bersamaan pula. Astaga, awas kamu Ren, Tenri.
"La ... kamu masih di sana?" tanya Daffa memastikan apakah dia masih terhubung dengan Olla.
"Ya, aku masih di sini. Iyah emang kenapa sore ini, Daff?"
"Eng ... itu ... anu ... aku mau ajakin kamu keluar jika tidak keberatan."
Deg.
Nah kan benar, Daffa lagi mau mengajak Olla buat jalan-jalan. Sekarang apa coba? Kasihan kamu Daff, sudah keduluan oleh Doni.
"Em ... Iyah nanti aku usahain. Jemput saja di rumah Tenri ya."
"Oke deh. Terimakasih ya, La."
Fiuh ... Olla menarik napas lega. Obrolan yang cuma beberapa menit itu membuatnya seperti berhenti bernapas sejenak.
Olla pun kembali ke tempat di mana Doni menunggunya.
"Sorry, sudah buat kamu menunggu." Olla duduk di samping Doni.
"Tidak apa-apa, jalan lagi yuk. Reno katanya nunggu kita di suatu tempat. Kita ke sana dulu," Doni berdiri duluan dan menunggu Olla mengatakan iya dan ikut bersamanya.
Begitu mereka tiba di rombongan Reno dan keluarganya, Reno sudah senyum lebar.
"Wuih ... habis jalan ke mana aja kalian?" sapanya berapi-api.
"Sekitaran sini saja, memangnya mau ke mana lagi." jawab Doni.
"Em, kalau kalian masih mau jalan-jalan silakan aja. Soalnya aku kayaknya mau pulang, Tenri sudah menelepon kasihan dia sendirian di rumah menjaga baby Queen. La, nggak apa-apa kan?"
__ADS_1
Olla terlihat kikuk, bukan dia tidak mau. Hanya saja dia belum terbiasa jalan berdua dengan laki-laki. Apalagi itu adalah Doni yang baru saja dikenalnya. Walaupun dia yakin Doni orang baik, tidak akan berbuat jahat padanya. Namun tetap saja dia tak mungkin jalan berdua saja.
"Ah, nggak usah Ren. Aku juga mau balik ke kantor dulu. Kalian tidak apa-apa pulang aja."
Doni sepertinya tahu kalau Olla masih belum terlalu nyaman jalan berdua dengannya. Karena itu, tidak masalah bagi Doni untuk melakukan penyesuaian dulu.
"Baiklah, kamu yang bilang ya Don."
Doni menyenggol lengan Reno, "jangan terang-terangan gitu juga Bambang ..." ucapnya sambil berbisik.
Reno tertawa melihat ekspresi Doni. Reno emang paling senang jika sudah berurusan dengan kerja mengerjai orang. Apalagi itu adalah sahabat dia sendiri.
***
"Sayang, ada yang datang tadi waktu jalan-jalan. Tuh lihat wajah sahabat kamu, memerah tomat dan senyum malu-malu." Reno lagi-lagi mulai menggoda Olla.
"Ren, iiih, apaan sih?"
"Siapa Daeng yang datang?" Tenri ikut-ikutan penasaran.
"Doni, dia sengaja loh bela-belain datang cuma buat ketemu seorang gadis dari Makassar."
"Serius?" Mata Tenri mendelik.
"Seriusan. Lihat wajah Olla tuh,"
Olla tanpa sungkan mencebikkan bibirnya ke arah Reno. Tidak bisa dia pungkiri kalau dia sekarang emang lagi senyum-senyum malu kayak anak remaja lagi jatuh cinta.
Seketika tawa Reno dan Tenri pecah karena berhasil menggoda Olla.
"Sayang, di mana kesayangan aku?" Maksud Reno adalah baby Queen.
"Lagi tidur di atas, jangan langsung grasak grusuk daeng. Kamu sebaiknya mandi dulu sebelum menyentuh Queen." Tenri memang terbilang sangat protect terhadap kesehatan baby Queen. Jangankan sama orang lain, sama suami dan keluarga sendiri aja dia akan sangat menjaga.
"Siap, Sayang." Reno meninggalkan Tenri dan juga Olla namun sebelumnya memberi isterinya itu ciuman di pipi dulu sekilas. Tenri hanya geleng-geleng kepala dengan tingkah suaminya yang kata orang jaman sekarang lagi nge-bucin.
"Suami kamu tingkahnya makin tengil, Ri."
"Iyah ih, kadang aku juga heran. Sikap dia bisa berubah seratus delapan puluh derajat begitu."
"Alhamdulillah, aku senang melihat kebahagiaan kalian sekarang. Kalian berdua itu emang ditakdirkan bersama kok."
Olla memegang tangan Tenri untuk meyakinkan sahabatnya itu bahwa Reno memang sudah benar-benar berubah.
***
Ting ... tong ... Ting ... tong ...
__ADS_1
Padahal penghuni rumah itu baru saja beristirahat sejenak, rumah mereka malah kedatangan tamu lagi. Reno yang sedang ngopi di ruang keluarga sambil nonton berita pun sedikit terusik.
Dia berjalan menuju pintu untuk melihat siapa yang datang. Alangkah terkejutnya Reno begitu melihat Daffa berdiri di depannya. Sudah rapi dengan setelan pakaian yang 'jaman now' banget.
"Jiahahaha ... Daffa. Eits, mau ke mana? Tumben rapi gini?"
"Aku nggak dibiarkan masuk dulu terus diinterogasi gitu?"
Daffa sadar dirinya tak akan bisa lari dari cecaran pertanyaan dari sahabatnya yang satu itu. Bukan Reno namanya kalau nggak jahil, itu kemampuan dia sekarang.
"Ah iya, iya, masuk dulu yuk!"
Daffa pun masuk dan duduk di sofa, sementara Reno lagi ke dapur entah mengambil apa.
Dari lantai bawah dia hanya sedikit berteriak memanggil Tenri.
"Sayang ... ada tamu nih."
Reno sengaja melakukan itu biar Olla juga dengar, dia yakin sekali Daffa dan wanita itu sudah janjian untuk pergi. Entah makan malam, ke Mall atau yang lainnya. Pastinya mereka akan pergi berdua.
Tenri segera turun dan melihat siapa tamu yang dimaksud suaminya.
"Siapa?" tanya Tenri.
"Tuh." tunjuknya.
Tenri mengernyitkan kening. "Maksud kamu Daffa? Dokter Daffa?"
Reno mengangguk. Tenri turun dan menemui suaminya.
"Ngapain dia rapi gitu?" tanya Tenri berbisik dengan ekspresi penasaran.
"Biasalah konspirasi anak muda, ngapain lagi dia rapi kayak gitu kalau bukan buat ngajakin anak orang kencan."
"What? Maksud kamu dia mau ngajakin Olla jalan gitu?"
Reno mengangguk kilas, lalu meminta isterinya untuk segera memanggil Olla di kamarnya. Tenri pun melakukannya, sementara Reno menemui Daffa di ruang tamu.
"La, rapi banget sampai dandan maksimal gitu?" usil Tenri pada sahabatnya itu ketika dia masuk kamar Olla.
"Astaga, kaget."
"Daffa udah dateng. Kalian janjian kan? Hihi."
Sekilas wajah Olla tersenyum namun flat. Tenri jadi nggak yakin, Olla masih suka sama Daffa atau tidak lagi.
"Huh, pusing aku sama kedua sahabat itu. Kayaknya lagi saingan banget."
__ADS_1
"Jalanin aja, pilih yang menurut kamu itulah pilihan hati. Oke?"
"Makasih ya, Ri."