
Bisa dikatakan Elsa termasuk perempuan yang menghalalkan segala cara untuk bisa mendapatkan apa yang dia mau. Secara tidak sengaja dia melihat Reno di areal Taman Impian Jaya Ancol. Mungkin semesta sudah mengatur pertemuan mereka hari itu.
"Reno ...!" pekik Elsa yang melihat Reno berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri.
Reno tak bisa menghindar, dia mau pergi namun Elsa sudah mencegatnya di jalan.
"Ren, mau ke mana? Kok bisa ada di sini?"
"Aku sedang mengajak isteri ke sini, maaf aku harus pergi." Reno mengelak dan melepas pegangan tangan Elsa di pergelangan tangannya.
"So sweet ...! Kamu nggak mau ngenalin aku sama dia?"
"Tidak perlu." Reno beranjak pergi, namun belum sempat menjauh Elsa menarik lengannya lagi.
Sementara Reno dan Elsa berdebat, Tenri datang dan melihat mereka berdua.
"Daeng ...." panggil Tenri dengan suara bergetar.
"Tenri ...." Reno terkejut melihat keberadaan Tenri.
"Oh ini ya wanita yang kamu nikahi? Kenalin, aku Elsa. Pacar Reno."
"Elsa!" Bentak Reno. "Apa-apaan kamu? Kita sudah tidak memiliki hubungan apapun."
"Oh ya?" Elsa terus menggamit lengan Reno. Mata Tenri terasa panas karena melihat pemandangan itu. Di depan matanya, suaminya digandeng wanita lain.
"Daeng? Apa ini?" tanya Tenri dengan polosnya.
__ADS_1
"Dia hanya teman, kami tidak memiliki hubungan apapun. Kamu harus percaya itu."
"Kita sudah berpacaran selama 4 tahun. Menurutmu itu waktu yang sebentar? Lalu tiba-tiba dia pulang ke Makassar dan dalam waktu tak lebih dari sepuluh hari, dia malah sudah menikah dengan wanita lain." tutur Elsa.
"Jangan dengarkan ocehan wanita itu, Tenri ayo kita pulang."
Reno menghempaskan tangan Elsa dan menarik Tenri pergi dari taman tersebut. Tenri yang tak tahu apa-apa hanya bisa melangkah seperti sedang diseret mengikuti langkah Reno yang cepat.
Sampai di mobil, Tenri duduk dan diam saja. Reno menancap pedal gas mobilnya dan pergi dari sana. Dia sangat emosi dengan kelakuan Elsa barusan. Sementara Elsa menatap kepergian Reno dan Tenri dengan perasaan puas dan tersenyum penuh kemenangan.
***
Mereka berdua sampai di rumah, Tenri turun dari mobil lantas masuk ke rumah tanpa menunggu Reno. Reno yang sadar sikap Tenri berubah padanya, berusaha mengejar Tenri.
"Tenri...!" panggilnya.
"Jangan seperti ini dong, bicaralah Tenri."
"Maaf, aku mau mandi dulu."
Tenri berlalu di depan Reno begitu saja tanpa menghiraukan ucapan dan keberadaan Reno di sana. Suara keran diputar dan air mengalir deras semakin meredam suara Reno yang masih berusaha berbicara pada Tenri.
Di dalam kamar mandi, Tenri menangis sepuasnya. Itu air mata pertama dia selama berumah tangga. Sesak yang dirasakan Tenri tak bisa lagi ditahan. Dia menangis sesegukan, suara keran air semakin keras dia bunyikan. Agar tak terdengar oleh Reno di luar sana yang sedang menunggu dirinya keluar.
Sekitar setengah jam Reno menunggu, Tenri pun keluar dengan rambut yang basah kuyup. Langkah yang gontai, Reno melihat tepat ke mata Tenri. Dia bisa menangkap ada bekas air mata di kelopak mata isterinya.
"Jika kau sudah selesai berpakaian, kita akan bicara soal yang tadi." Reno memberikan penawaran pada Tenri yang hanya dibalas anggukan.
__ADS_1
Setelah selesai berpakaian, Tenri duduk di sudut tempat tidur. Reno duduk tak jauh dari tempat dia duduk. Kemudian melangkah ke samping Tenri dan duduk di sana.
"Maafkan aku atas kejadian tadi siang. Iya benar, dia memang pacar aku sebelum aku pulang ke Makassar. Kita sudah lama kenal dan dekat. Tapi aku membuat kesalahan, tapi kesalahannya bukan karena aku menikahi kamu. Tidak. Tidak seperti itu, Tenri. Maafkan aku sudah tidak jujur padamu sejak awal."
"Tidak apa, Daeng. Aku hanya ingin tahu satu hal, apa daeng mencintainya?"
Reno terdiam sejenak. CINTA? Dia bahkan tak pernah berpikir apakah dia mencintai Elsa atau tidak. Mereka berdua hanya menjalin hubungan seperti sepasang kekasih lainnya. Jika dibilang suka, mungkin iya, karena Elsa begitu menarik pandangan setiap pria. Namun kalau cinta, Reno pasti berpikir keras.
"Tidak." Akhirnya dijawab juga oleh Reno.
"Aku tidak tahu apakah aku mencintainya atau tidak. Tapi aku merasa, aku tidak mencintainya, kami hanya cocok satu sama lain. Bukankah cocok aja bukan berarti cinta? Cinta itu kan kompleks dan aku sama sekali tahu apakah aku cinta Elsa atau tidak."
"Tanyakan ke dalam hatimu, Daeng. Kalian berdua sudah menjalin hubungan selama 4 tahun lamanya, mustahil bila tak ada cinta."
"Jadi mau kamu apa, Tenri? Kamu mau aku mencintai Elsa begitu?"
"Entahlah, daeng. Aku hanya merasa, pernikahan ini sejak awal memang kau tak pernah menginginkannya."
"Bukan tidak menginginkan Tenri, aku hanya belum siap. Tapi tenang aja, aku masih darah Makassar, pantang bagiku bila harus bercerai dengan orang yang sudah aku nikahi. Aku masih paham soal, siri'."
"Sebaiknya selesaikan dulu masalah daeng dengan wanita bernama Elsa itu. Aku tidak mau, berada dalam hubungan yang dibayangi orang lain apalagi wanita lain."
"Baiklah. Kasih aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Kumohon maafkan aku, Tenri."
"Kata maaf itu mudah sekali keluar dari mulut Daeng, yang susah adalah bertanggung jawab atas permintaan maaf tersebut."
Reno tertunduk. Dia seperti sedang dipukul palu karena tak dapat berpikir jernih. Setelah pembicaraan itu usai, Tenri lalu menarik selimut dan tidur meringkuk.
__ADS_1