
Reno terduduk lesu di tempat tidurnya, kepalanya masih sedikit sakit dan terasa pusing. Doni masu ke ruangannya dan duduk santai di depan Reno.
"Kenapa kamu?" tanya Doni.
"Tahu nih, kepalaku pusing dan sakit banget."
"Pengaruh alkohol itu, lagian kenapa coba kamu pakai minum-minum segala sampai mabuk dan nyaris jatuh di bar?"
"Kapan aku mabuk?" jawabnya mengelak.
"Cih ... memangnya kamu bisa pulang ke rumah itu karena siapa? Menurut kamu dengan keadaan mabuk berat kamu bisa sampai rumah dalam keadaan selamat? Ngaco!"
"Iya, terimakasih." Reno menjawab ketus.
"Kenapa sih kamu jadi rusak begitu? Kayak bukan Reno yang aku kenal selama ini."
"Don, aku lagi nggak pengen debat. Kepalaku pusing banget, mending kamu beliin obat apa kek. Eh iya sekalian kamu beliin aku makanan apa aja yang bisa nyumpal nih cacing-cacing yang udah pada ribut di perutku."
"Isteri kamu nggak buatin sarapan?"
"Buat. Cuma aku lagi males. Melihat wajahnya saja udah males."
"Istighfar, Ren. Kamu nggak bisa ngomong seperti itu. Dia loh anak orang kamu bawa jauh-jauh dari Makassar ke Jakarta, terus sampai di Jakarta kamu cuekin kayak gitu. Memangnya kamu pikir apa dia nggak kecewa sama kamu?" Doni benar-benar tidak tahu lagi dengan jalan pikiran Reno. Apalagi saat semalam Doni mengantar Reno pulang, pemandangan yang dia lihat begitu miris. Suara Doni pun meninggi dan agak emosional saat bercerita tentang Tenri.
"Satu lagi Ren, kamu itu orang yang beruntung tahu nggak. Isteri kamu nungguin kamu semalaman hanya untuk makan malam bersama. Kamu tahu berapa lama di membuat semua masakan itu? Seharian Ren, terus kamu bahkan tidak merespon sama sekali. Apa itu tidak terlalu jahat untuk seorang Tenri?"
"Kenapa kamu jadi bela dia sih?"
"Aku nggak ngebela-belain siapa Ren, cuma kalau aku jadi kamu, aku nggak akan sia-siain istri yang kayak gitu. Tapi kamu berbeda, kamu malah cuek dan mengabaikan dia. Apa karena ini semua tentang Elsa? Kamu cinta sama Elsa?"
"Apaan sih, Don. Sudah berapa kali harus kubilang, aku tidak mencintai Elsa. Hanya saja Elsa tidak mau pergi dari kehidupan aku, itu yang bikin aku mumet karena bodohnya aku meladeni dia untuk menyentuh dan menciumku." Reno ikut terbawa suasana.
"Kalau nggak cinta ngapain kamu pusing-pusing mikirin Elsa, Ren? Pikir tuh isteri kamu di rumah."
"Don, sudah. Cukup. Kamu keluar dari ruangan aku."
"Terserah kamu saja, aku hanya mengingatkan kamu, jangan sampai kamu menyesal nantinya."
__ADS_1
Doni melangkah keluar meninggalkan ruangan Reno. Reno memukul meja di depannya karena kesal. Dia merenung cukup lama, sampai dia memutuskan untuk pulang lagi ke rumahnya. Entah apa yang akan dilakukannya lagi.
***
Di rumah Reno, Tenri sedang membantu Bibi mengatur peralatan dapur juga sayur-sayuran yang baru saja dibeli Bibi dari pasar.
"Sudah, Bu. Jangan dikerjakan lagi, Bibi tidak enak sama ibu. Ibu kan Nyonya di rumah ini, harusnya duduk saja sambil mengawasi pekerjaan saya." Cerecos sang bibi tidak enak karena Tenri sampai harus turun tangan ke dapur.
"Tidak apa-apa, Bu. Saya senang melakukannya. Lagi pula tidak ada yang bisa saya kerjakan di rumah ini. Rasanya bosan sekali."
"Iyah sih, Ibu. Tapi kan ibu bisa tidur-tidur mungkin, nyantai, olahraga atau apa gitu."
"Sudahlah, biar saya bantu bibi di sini dulu. Tidak usah khawatir, saya sudah terbiasa mengerjakan segala sesuatunya tentang urusan rumah."
Akhirnya Bi Surti pun mengalah, mereka berdua banyak membicarakan kehidupan Bi Surti yang kenapa bisa bekerja di rumah Reno. Jadi pada awalnya, Bi Surti itu adalah asisten rumah yang diusir oleh majikannya. Kemudian om Reno menyarankan bagaimana kalau bi Surti disuruh tinggal di rumah Reno saja karena di sini tidak ada orang. Sekalian biar ada yang bersihkan setiap hari.
"Bapak itu baik Bu orangnya. Dia tidak pelit, juga dia tidak terlalu banyak permintaan. Tapi memang bapak itu keras, kalau dia marah bisa goyang ini rumah karena marahnya. Hehe."
"Memangnya dia pernah marah, Bi?"
Bibi pun keceplosan dan Tenri jadi mendengar cerita tersebut. Kening Tenri mengkerut, ingin menggali informasi soal perempuan yang diceritakan bibi padanya.
"Perempuan? Siapa, Bi?"
"Anu, Bu. Enggh ... nggak ada kok Bu. Tadi aku salah bicara."
"Oh begitu." Tenri berusaha untuk tidak bertanya lagi lebih jauh. Namun sepertinya dia sedikit paham bahwa ada wanita lain selain dirinya sebelum menikah dengan Reno.
Tenri terlihat memikirkan sesuatu dan dia tak seriang sebelumnya. Dia pamit untuk ke kamar kepada Bibi. Sepeninggal Tenri, berkali-kali Bi Surti memukul-mukul mulutnya karena tak bisa dijaga dan selalu bicara sembarangan. Padahal dia harusnya tak menceritakan perihal perempuan yang dia maksud yaitu Elsa apapun yang terjadi.
Berselang beberapa menit saat Tenri ke kamarnya, Reno muncul dari arah pintu.
"Tenri mana, Bi?" tanya Reno.
"Maksud bapak, Isteri bapak?"
"Iyah, siapa lagi."
__ADS_1
"Dia baru saja ke kamar, Pak."
Reno pun segera naik tangga menuju lantai dua, tempat kamarnya berada. Saat Reno hendak membuka pintu kamar, Reno mendengar sayup-sayup suara Tenri sedang berbicara dengan seseorang.
"Iyek, Bu. Baek-baekja di sini (aku baik-baik saja di sini). Tenang-maki (tenang saja). Reno baik-ji orangnya, kami masih sama-sama saling belajar dan beradaptasi untuk saling mengenal satu sama lain. Doakan rumah tangga kami ya, Bu."
Reno yang mendengar percakapan tersebut, seakan terketuk hatinya. Dia benar-benar menyesal pada Tenri karena sikapnya yang kurang ajar itu.
"Maafkan saya, Tenri." Ucapnya yang tiba-tiba berada di depan Tenri.
Tenri terkejut karena mengira Reno sedang di kantornya bukannya malah berada di kamar mereka dan meminta maaf.
"Ada apa ini, Daeng?"
"Maafkan saya."
"Iyek, kumaafkan-jaki. Tapi kenapa-ki tiba-tiba minta maaf begitu?"
"Maafkan sikap saya yang dingin padamu, saya tidak bermaksud seperti itu kok. Tapi memang kita berdua perlu untuk beradaptasi dan saling mengenal."
"Tidak, Daeng. Saya juga lagi belajar, tidak ada-ji yang salah. Kenapa tiba-tiba pulang-ki daeng?"
"Jadi kamu memaafkan saya?"
"Memangnya saya ada alasan untuk tidak memaafkan kamu, Daeng?"
"Baguslah."
Reno hanya tersenyum kemudian mengajak Tenri untuk ke bawah. Dia membawa sesuatu untuk isterinya itu.
Sampai di bawah, Reno langsung memberinya buket mawar putih yang banyak sekali.
"Sebagai permintaan maaf saya, padamu."
"Ini terlalu berlebihan daeng, bunganya banyak sekali."
Reno pun mengabadikan momen saat dia memberi bunga pada Tenri lewat kamera ponselnya.
__ADS_1