Menikahi Wanita Pilihan Ibu

Menikahi Wanita Pilihan Ibu
Janji Tuhan Itu Pasti


__ADS_3

Doni datang mengunjungi Reno di rumah sakit, alangkah terkejutnya dia saat melihat kamar rawat Reno yang bergabung dengan pasien lainnya. Mungkin ada sekitar 6 pasien di kamar tersebut dan kondisinya sangat tidak kondusif.


Dia pun masuk ke kamar rawat inap Reno disambut bebauan menyengat dari arah toilet. Tangannya langsung bereaksi menutup hidung serta mulutnya. Dia menyibak tirai tempat Reno dirawat, dan Tenri baru saja selesai menyuapi Reno.


"Eh kamu Don, mari masuk." Tenri menyapa Doni dengan ramah.


"Hai, Don." Reno ikut menyapa Doni. Biasanya dia hanya diam dan cuek bebek.


"Ren, bagaimana kondisi kamu?"


"Seperti yang bisa kamu lihat sekarang."


Ruangan bersekat itu semakin terasa sempit karena diisi tiga orang di sana. Doni ingin bertanya mengapa mereka ada di ruangan itu tapi Doni masih berusaha menjaga perasaan sahabat beserta isterinya itu.


"Semoga lekas membaik, memangnya kamu tahan di rumah sakit? Setahuku kamu orang yang paling alergi dengan bau-bauan obat dan segala macam yang ada hubungannya dengan rumah sakit. Jadi cepat sembuh, Ren."


Doni cuma mengangguk, Tenri setidaknya agak merasa tenang karena Reno entah kenapa sikapnya sedikit lebih baik. Dia pun tak suka marah-marah lagi pada Tenri.


"Maafkan kondisi kami sekarang ya, Don. Harusnya Reno bisa dirawat di ruang VIP, hanya saja kami tak punya cukup uang untuk menutupi semua biayanya kelak. Sebenarnya cukup, namun khawatir jika sisa tabungan yang kami punya semua ke biaya rumah sakit bagaimana kami bisa hidup setelahnya?" Tenri ngomong terus terang di hadapan Doni, bukan karena dia ingin belas kasih Doni. Bukan. Dia hanya ingin agar suaminya itu dengar dan sadar bahwa keadaan mereka sedang tidak baik-baik saja.


"Separah itu ya?" tanya Doni memperjelas.


"Seperti itulah, tapi mudah-mudahan bisa teratasi Don. Terimakasih karena kamu selama ini udah bantuin kita bahkan tanpa diminta sekalipun. Sayangnya, ada orang yang nggak sadar-sadar kalau kamu tuh tulus dan begitu perhatian sama kondisi sahabat sendiri."


Reno langsung melirik Tenri begitu isterinya selesai bicara.


"Maksud kamu apa ngomong seperti itu, Tenri?" tanya Reno terdengar tak suka.


"Aku hanya bicara apa adanya, Daeng. Doni itu tulus bantuin kamu, dia tulus nolongin kita, dia satu-satunya orang yang nggak ninggalin kamu, gak ninggalin kita, meski kondisi kita seperti ini sekarang."

__ADS_1


"Tenri, sudah. Jangan diungkit-ungkit lagi. Nanti malah bikin suasana jadi runyam."


"Ren, kali ini dengerin aku ya. Aku bukan pengkhianat seperti yang kamu tuduhkan, tapi terserah kamu, mau ikut membangun bisnis aku atau tidak. Namun, sebagai sahabat aku akan tetap mendukung apapun keputusan kamu selama itu masih di jalan yang benar."


Reno diam saja. Dia tak menimpali omongan Doni, dari yang tersirat di wajahnya antara dia ingin minta maaf pada Doni namun kemakan gengsi atau lagi-lagi dia bersikap seolah tak butuh apa-apa dan siapa-siapa.


Luka di wajah Reno sudah tampak mengering, tulang pahanya yang ada retak pun perlahan sudah dapat digerakkan walau Reno belum bisa jalan.


Doni pamit pada Tenri dan Reno saat pengunjung pasien di tirai sebelah semakin banyak dan terkesan mengganggu.


Tenri mengantar Doni sampai depan, mereka sempat ngobrol tentang Reno.


"Sekarang aku baru sadar, mengapa ibu Reno dan orang tuamu menjodohkan kalian. Karena Reno tidak akan bisa bertahan andai saja dia memiliki wanita yang stok sabarnya kurang dalam mendampingi dia. Kamu benar-benar luar biasa Tenri," ucap Doni memuji kesabaran dan ketekunan Tenri dalam merawat Reno yang gengsian dan dingin itu.


"Kamu memuji berlebihan, Don. Aku hanya menjalankan tugas sebagai isteri. Lagi pula sesabar-sabarnya aku, pasti ada masa meledak juga jika terus-menerus tak dihargai. Ah sudahlah, kenapa jadi curhat begini."


Doni tertawa begitu juga dengan Tenri.


***


Setelah mengantar Doni, Tenri kembali masuk ke kamar rawat Reno. Dia duduk di sebuah kursi yang terletak tepat di samping badan Reno berbaring.


Tiba-tiba saja, Reno bicara padanya dengan suara pelan.


"Kita pulang saja, aku sudah mendingan." Begitu ucap Reno, raut wajah yang tersirat adalah dia merasa cukup bersalah telah menjadi beban bagi isterinya. Anggap saja begitu, sebab ekspresi wajah Reno memang terpancar aura kesedihan di sana.


"Tapi ... kenapa daeng? Bukankah tulang paha daeng masih terasa sakit dan sering nyeri?"


"Tidak apa-apa, aku terapi di rumah saja. Bila boleh jujur, suasana di sini tidak nyaman. Terlalu berisik dan aku jadi sudah tidur."

__ADS_1


Tenri membenarkan memang ucapan itu, dan bukan cuma Reno yang mengalaminya. Dia juga merasakan hal yang sama, susah tidur dan sering kagetan karena suara orang-orang di ruangan itu terlalu bising.


"Apa daeng mau aku pindahkan ke ruangan yang lain saja?"


"Jangan. Kita tidak punya cukup uang. Tidak apa-apa, aku pemulihan di rumah saja. Cepat urus administrasinya, Tenri."


"Kalau untuk pulang hari ini mungkin tidak bisa, harus menunggu besok. Namun, hal ini bisa aku tanyakan lagi sama perawat di sini."


Bila dilihat, Reno bukan hanya terlihat berantakan, tapi juga kurus dan wajahnya nampak tirus. Terlalu banyak beban yang ada di pikirannya, rasa frustasi karena bangkrut, ditinggalkan orang-orang terdekatnya, dan juga rasa malu yang diam-diam harus dia tanggung sendiri.


Reno merasa belum nyaman menceritakan beban pikirannya pada Tenri, itu sebabnya dia memendam semua itu sendirian dan membuatnya jadi pria paling bodoh yang menyia-nyiakan semua kebaikan dari orang-orang di sekitarnya.


"Tenri, maafkan aku ...."


Kali ini permintaan maaf itu jelas sekali terdengar di telinga Tenri. Sehingga Tenri menatap ke arah mata Reno tepat ke bola matanya.


"Apa aku tidak salah dengar, daeng?"


"Iyah, maafkan aku."


Reno dengan tangannya yang sedikit bergetar, meraih jemari Tenri. Menaruhnya di dadanya. "Aku minta maaf atas semua rasa kecewa, rasa sakit, luka yang pernah kau terima selama bersamaku. Andai kamu tahu betapa aku sangat terpukul atas peristiwa kebangkrutan ini, aku ... aku tidak tahu harus mempercayai siapa. Aku tidak tahu ke mana harus menceritakan semua kesah yang menumpuk di sini. Sampai aku berpikir, apakah aku ini sedang mendapatkan kutukan Tuhan?"


Reno bercerita dengan mata berkaca-kaca. Matanya memerah menahan luapan emosi dari dalam dirinya. Selama ini dia dalam keadaan bingung, tak pernah seumur hidupnya mengalami peristiwa semacam itu. Makanya dia terlalu gengsi untuk meminta bantuan orang lain, karena selama ini dia merasa bahwa dia sudah bisa mengatasi semua persoalan dalam hidupnya. Padahal Tuhan, akan selalu menguji setiap manusia saat mereka sedang berada di puncak.


"Jangan bicara seperti itu daeng, aku ini isteri kamu. Daeng bisa menceritakan apapun, percaya padaku bahwa aku adalah partner terbaik daeng dalam beberapa hal. Meski aku mungkin memiliki banyak kekurangan, setidaknya aku tidak pernah berpikir bahwa aku akan meninggalkan daeng begitu saja."


"Iyah, sekali lagi aku minta maaf atas semua kekeliruan ini."


Ada titik air mata yang jatuh di pipi Tenri, dia merasa seperti mimpi. Suaminya yang keras hati itu, dingin dan gengsi itu meminta maaf padanya dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


Percayalah, janji Tuhan itu pasti. Setelah hujan akan ada pelangi yang indah, mewarnai perjalananmu.


__ADS_2