Menikahi Wanita Pilihan Ibu

Menikahi Wanita Pilihan Ibu
Pisah Ranjang


__ADS_3

Akhir dari pertengkaran mereka adalah suasana rumah yang sepi, tidak ada percakapan diantara keduanya, meski begitu Tenri tetap menyiapkan makanan untuk Reno. Tenri lebih memilih kesibukan lain yakni mulai membuka les privatnya. Muridnya datang sore ini ke rumahnya, murid SMP yang bernama Chaca. Mereka belajar di salah satu kamar kosong yang kemudian disulap oleh Tenri sebagai tempat belajar sementara.


"Chaca kelas berapa sekarang?" tanya Tenri saat akan memulai les hari itu.


"Kelas satu, Bu Tenri."


"Ada apa? Kenapa tidak suka dengan pelajaran Matematika?"


"Bukan tidak suka sih, Bu. Hanya saja, aku kalau lihat angka sudah pusing duluan, habis susah sih."


"Tidak ada yang susah sayang, selama ktia masih mau belajar."


"Iya sih, Bu. Mama juga sering bilang gitu, tapi ya gimana, mungkin memang aku nggak kuat di perhitungan kali."


"Tidak apa-apa, kita akan belajar pelan-pelan ya. Dari hal paling sederhana dulu. Sebetulnya Matematika itu menyenangkan."


Alis Chaca terlihat mengkerut tak percaya dengan ucapan Tenri barusan, (bahkan author juga percaya kalau Matematika itu sulit, Bu Tenri. Hihi).


Dari luar ruangan, Reno mengintip sebentar sebelum dia pergi untuk menemui Doni.


"Tenri, kamu memang cocok jadi guru, kamu kelihatan sangat senan saat mengajar seorang anak. Beda sekali saat kita bertemu di meja makan, yang tersisa diantara kita hanyalah senyap. Kuharap semua ini segera berlalu, aku juga ingin belajar mencintaimu." ucapnya lirih sebelum benar-benar meninggalkan rumahnya.


***


Reno mengambil keputusan besar dalam hidupnya, yaitu memutus ego dan gengsi yang selama ini menjadi sifat utamanya. Dia menemui Doni untuk menanyakan kembali kerjasama yang pernah ditawarkan sahabatnya itu.


"Don, kamu di mana?" tanya Reno di telepon.


"Aku di bengkel. Ada apa?"


"Aku ke tempatmu ya, tapi jangan usir aku."


Seketika ada suara tertawa lirih dari Doni, "Sudah lama aku menunggumu, Ren."


 


Reno tiba di bengkel Doni tepat setengah jam kemudian, pria tinggi dengan postur tubuh yang sedikit lebih kurus itu akhirnya menemui sahabatnya dan kali ini atas permintaannya sendiri.


"Ren ...."

__ADS_1


"Don ...."


Keduanya berpelukan, betapa tidak mereka sudah lama tak bertemu. Bahkan terakhir di rumah saki itu, Reno masih meninggalkan kesan buruk pada kehadiran Doni di sana, padahal Doni yang telah menolongnya dan membawanya ke rumah sakit.


"Duduk dulu," ucap Doni mempersilakan Reno untuk duduk.


"Terima kasih, Don."


Mereka duduk di ruangan kerja Doni, AC pendingin di ruangan itu terasa lebih dingin menyentuh permukaan kulit. Reno menatap sekeliling ruangan itu, tidak terlalu besar namun Doni berhasil membuat mimpinya menjadi kenyataan yaitu memiliki usaha sendiri.


"Beginilah usaha baru aku Ren, memang tidak terlalu besar. Bengkel ini pun pelanggannya belum terlalu banyak, mau coba usaha lain rasanya itu bukan aku banget. Dari SMA kita berdua sudah berkutat dengan mesin, rasanya tidak cocok jika harus merambah bisnis lain yang memaksa kita harus kembali belajar dari nol. Itu sebabnya, aku mencoba membangun bengkel ini dengan niat bisa sebesar bengkel kamu dulu."


"Haha ... itu semua sudah kenangan Don. Aku bukanlah Reno yang dulu, sekarang aku tidak punya apa-apa lagi. Aku ... datang ke sini untuk minta maaf padamu. Atas semua sikap aku yang selama ini sudah acuh dan tak percaya padamu. Sekarang aku paham rasanya, bagaimana seseorang tak lagi percaya padamu."


"Tidak ada yang perlu dimaafkan, aku paham kondisi kamu Ren. Memang tidak mudah menjalaninya, saat berada di puncak lalu tiba-tiba jatuh begitu saja dan benar-benar habis. Kesalahan di masa lalu bisa kamu jadikan pelajaran, Ren. Banyak kok orang di luar sana yang gagal lalu bangkit lagi hanya karena mereka percaya satu hal, bahwa ombak tidak akan diam di satu tempat."


"Ya begitulah, karena itu aku datang menemui kamu. Berharap, kamu bisa menerima aku sebagai karyawanmu di sini."


"Hahaha ... jangan merendah seperti itu, Ren. Kita bangun ini sama-sama. Berjuang lagi dari awal, bersama-sama. Oke?"


"Semudah itu?" tanya Reno kemudian tak percaya pada Doni yang memaafkannya dengan mudah juga menerimanya dengan tangan terbuka tanpa pertimbangan sedikit pun.


"Maksudnya?"


"Memangnya kenapa? Haruskah aku menendang bokongmu keluar dari sini agar kamu percaya bahwa aku adalah Doni yang kamu benci di beberapa saat yang lalu?"


"Cih ... selera bercandamu nggak lucu Don. Terima kasih ya?"


"Sama-sama. Bagaimana hubunganmu dengan Tenri?"


Raut wajah Reno seketika berubah, tampak lebih sedih dari wajah yang dia tampakkan tadi. Doni tahu terjadi sesuatu pada rumah tangga mereka.


"Ada apa?" tanya Doni.


"Aku dan Tenri ... pisah ranjang." jawab Reno lesu.


"Hah? Kok bisa?"


"Panjang ceritanya Don, memang di sini aku yang salah. Aku yang sudah banyak melakukan kesalahan dan membuat Tenri sakit hati juga kecewa. Aku pantas menerimanya."

__ADS_1


"Tapi kenapa?"


"Puncak dari semua pertengkaran aku dan dia adalah, aku bilang padanya bahwa aku tidak pernah tidur dengan Esla."


"Memangnya iya?" sambar Doni cepat juga tak percaya kalau Reno sebenarnya tak pernah tidur dengan Esla.


"Cih, bahkan kau sendiri tidak percaya padaku ya? Sahabat macam apa kamu, Don?"


"Tunggu, tunggu, ini serius? Kamu benar belum pernah begituan sama Elsa? Lalu ... lalu apa yang kamu lakukan saat ke apartemen Elsa?"


"Kamu pikir aku melakukan apa?"


"Kuda-kudaan," jawab Doni polos yang langsung disambut jitakan kepala oleh Reno.


"Hah, jadi?"


"Tidak pernah, lillahi ta'ala."


Doni tidak mau mendebat Reno lagi, tapi untuk memercayai itu semua, Reno harus punya bukti yang kuat tentan pernyataan dia barusan. Jelasa saja Tenri tidak percaya padanya, apalagi cincin kawin mereka sampai ketinggalan di apartemen Elsa, kan gilak.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2