
Reno kaget saat pulang ke rumah dan di kamarnya sudah berganti suasana. Dari dekorasi di dindingnya seperti ada yang berbeda, sampai tempat tidur yang diganti dengan seprei putih bersih dan di atasnya dipenuhi bunga mawar berwarna merah maroon. Kamarnya pun wangi, tidak seperti saat dia meninggalkan rumah untuk ke kantor.
"Tenri ...." panggil Reno saat melihat ke sekeliling ruangan kamarnya yang tampak banyak perubahan.
"Iyek, Daeng." Tenri menjawab dari arah kamar mandi.
"Ada apa dengan kamar kita?" ucap Reno setengah berteriak.
Tenri keluar dari kamar mandi dengan gaun warna maroon, gaunnya berbentuk baju you can see dengan bawahan di atas lutut. Memperlihatkan kulit-kulit sawo matang Tenri yang sebelumnya tertutup pakaian rapat.
Reno menatap Tenri dari bawah ke atas kemudian dari atas ke bawah. Entah takjub, kaget atau yang lain. Intinya Reno terdiam cukup lama melihat Tenri berpakaian seperti itu.
Bukannya memuji, Reno malah spontan menutup mulutnya dan tertawa sampai dia menekuk perutnya saking tak tahan dengan apa yang dia lihat melekat di tubuh Tenri.
"Bhahahahaa .... kamu ngapain pakai baju seperti itu, Tenri?"
Tenri meneliti lagi gaun yang dia pakai. Dia bingung kenapa Reno tidak memujinya tapi malah menertawakan dirinya.
"Kenapa, daeng? Apa ini terlihat buruk?"
"Hahaa ... astaga Tenri, setan apa yang merasuki dirimu?" tanya Reno dengan gelak tawa yang entah kapan akan berhenti.
Tenri pun lekas masuk ke kamar mandi lagi karena malu ditertawakan seperti itu. Dia mengganti gaun tersebut dengan baju tidur yang biasanya dia pakai yaitu setelan baju dan celana panjang.
Dia berjalan keluar dari kamar mandi dengan kepala ditekuk dan langkah kaki yang dihentakkan. Tenri menarik selimut lalu berbaring menutupi seluruh tubuhnya.
Reno pun salah tingkah, karena Tenri tiba-tiba bersikap seperti itu. Dia berusaha menarik selimut Tenri untuk melihat apa yang terjadi dengan isterinya itu. Namun, Tenri menarik kembali selimutnya hingga ke atas menutupi kepalanya.
Setelah Reno terdengar menutup pintu kamar mandi, barulah Tenri membuka penutup selimutnya dan menghembus napas kesal.
'Kenapa dia tak terkesan sama sekali? Padahal aku sudah berpakaian seksi begitu, jatuhnya malah mempermalukan diri sendiri. Aaakhhh ... kesel misi gagal total.' rutuk Tenri dalam hatinya. Menatap nanar ke arah langit-langit kamar.
Ceklek.
__ADS_1
Pintu kamar mandi terbuka kembali dan Reno keluar dengan hanya memakai handuk di pinggangnya. Sekilas Tenri dapat melihat bagian lekuk tubuh Reno, bagian dadanya yang bidang dan perut yang kotak-kotak. Tenri malah spontan menutup lagi wajahnya pakai selimut.
"Kamu ini aneh banget deh, kenapa setiap melihat aku keluar dari kamar mandi kamu malah menutup mata sih?"
"Aurat." jawab Tenri dari dalam selimut.
"Ahahaha ... kamu ini polos sekali. Aku kan suami kamu jadi wajar bila kamu lihat, sudah bukan aurat lagi kalau di depan kamu Tenri.
"Tetap saja itu aurat."
"Terserah kamu aja. Sekarang buka selimut itu karena aku sudah berpakaian. Kamu harus bisa jelasin kenapa kamar kita jadi seperti ini? Terus itu kenapa ada kelopak bunga-bunga segala di atas tempat tidur?"
"Tidak apa-apa, cuma mau ganti suasana saja." Tenri belum melepas selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.
Reno jadi gemas dibuatnya, sekali sentakan selimut itu pun berhasil dibuka oleh Reno. Wajah Tenri merona merah karena malu sudah melakukan hal bodoh dalam hidupnya. Artikel yang dia baca tidak berguna baginya sekarang.
"Kenapa ditarik?" protes Tenri.
"Tidak mau, daeng. Aku sudah ngantuk."
"Tidak ada yang boleh tidur."
"Tapi aku ngantuk, daeng."
"Tidak, sebelum kamu jelaskan mengapa kamar ini berubah seratus tujuh puluh Sembilan derajat?"
Wajah Tenri mengkerut. "Bukannya harusnya seratus delapan puluh derajat ya?"
"Tidak karena dekorasinya kurang satu poin. Tuh di sana, catnya masih kurang rata."
Tenri melongo. Reno sampai memperhatikan sedetail itu. Dia saja tidak ngeh andai kata Reno tidak memberitahu dirinya.
"Maafkan aku, daeng."
__ADS_1
"Kenapa minta maaf?"
"Soalnya aku membuat kamarnya jadi berubah. Kamu tidak suka dengan warnanya?"
"Suka. Semuanya aku suka. Tapi pertanyaannya bukan itu Tenri. Inti dari semua pertanyaan aku adalah kenapa kamu melakukan ini semua?"
Deg.
Tenri pun tidak tahu harus jawab apa. Antara dia harus jujur atau bohong.
"Kenapa Tenri?"
"Tenri sudah jawab daeng, mau ganti suasana saja."
"Hanya itu?"
Tenri mengangguk. "Sudah kan? Aku mau tidur dulu, daeng."
Tenri dengan cepat mengambil selimut dan rebah ke tempat tidur.
'Apa jangan-jangan dia sedang merencanakan sesuatu? Apa lagi ini, kelopak bunganya kenapa jadi ditaruh di tempat tidur semua sih. Bagaimana tidurnya coba?' Reno sedang menebak-nebak ada apa gerangan Tenri berkelakuan aneh seperti itu.
Reno menatap punggung isterinya yang membelakanginya itu. Tangannya terangkat satu ingin menyentuh bahu Tenri tapi hanya melayang di udara. Reno mengurungkan niatnya, dia pun menarik ujung selimut agar mendapatkan sedikit kehangatan.
'Tunggu! Tenri tidak sedang mengajak aku bercinta, kan? Buktinya pakai ada bunga segala, terus seprei diganti putih semua, kamar diberi pewangi dari lilin aroma terapi. Apalagi coba yang terindikasi ke arah sana?'
Reno tersenyum menanggapi alam pikirannya sendiri. Kalau benar dugaannya, dia pun merasa bersalah karena belum sepenuhnya siap seratus persen kepada Tenri. Padahal sudah jelas-jelas status mereka adalah suami isteri.
Reno agak sedikit merasa bersalah. Namun dia juga tak bisa memaksakan diri, sebab sesuatu yang dipaksakan maka tak pernah baik hasilnya. Satu-satunya wanita yang pernah disentuh lebih dalam adalah Elsa, wanita itu selalu dapat memberinya kenikmatan dan rasa yang luar biasa ketika bercinta..
"DAMN! Kenapa jadi kepikiran wanita itu sih."
Reno memejamkan mata dan tak ingin lagi ada sedikit ingatan tentang Elsa. Bila hal itu terus terjadi maka dia akan menyakiti Tenri semakin dalam.
__ADS_1