
"Hei, sudah siap? Maaf aku agak gugup," ucap Daffa jujur pada Olla kalau dia memang gugup.
""Haha, kamu kayak gak pernah ngajakin cewek aja sebelumnya." ledek Olla.
"Emang gak pernah," jawab Daffa singkat seraya nyengir malu.
"Hah? Nggak percaya. Sekelas kamu yang notabene dokter masa gak pernah ngajak cewek keluar si?
"Haha ... kamu boleh percaya dan juga boleh tidak percaya."
"Wah ... Sayang ada yang mau jalan nih. Diizinin nggak ya? Secara kan dia nih datang ke Jakarta mengunjungi kita, apa nggak apa-apa melepas perawan ke tangan perjaka Jakarta ini?" celetuk Reno lagi-lagi tak bisa berhenti menggoda mereka.
"Oh kalian sudah mau pergi ya?" tanya Tenri begitu dia ikut bergabung.
"Ri, izin ajak Olla keluar sebentar ya?" ucap Daffa meminta izin.
"Boleh sih, cuma pulangnya jangan terlalu larut malam ya. Anak orang itu, masih perawan juga. Haha."
"Sip. Dijamin selamat pulang kembali ke rumah." Daffa menaikkan jari telunjuk dan ibu jari yang saling bertemu.
"Hati-hati di jalan Daff, ingat anak orang itu. Haha."
"Iyah, tenang saja aku pasti menjaganya dengan baik kok."
Reno dan Tenri mengantar mereka sampai depan pintu. Olla sekali lagi pamit pada Reno dan juga Tenri, lalu tak lama kemudian mobil yang mereka kendarai pun melaju tenang meninggalkan halaman rumah Reno dan Tenri.
***
Daffa mengajak Olla makan malam di restoran yang cukup terbilang mewah. Bahkan, Olla sebelumnya belum pernah makan malam di tempat yang sebagus itu.
"Yuk!" ajak Daffa pada Olla yang nampaknya tidak terlihat begitu nyaman.
"Oke."
Saat mereka duduk, seorang pelayan langsung menghampiri mereka. Olla terkesan namun dia tak bisa menutupi kegugupannya. Cahaya lilin yang ada di atas meja, memberikan kesan romantis. Apalagi suasananya memang sedikit remang dibanding tempat yang lainnya. Kayaknya Daffa memang sengaja mengajak Olla makan di tempat yang seperti itu.
"Selamat malam, mas, mbak, mau makan apa?" tanya seorang pelayan cewek yang mendatangai mereka.
Daffa memberi Olla buku daftar menu, sedangkan dia sendiri lanjut memilih makanan apa yang hendak mereka makan.
__ADS_1
"Pesan apa?" tanya Daffa.
"Aku ikut kamu saja, hanya untuk minuman aku mau jus alpukat. Tidak apa-apa kan?"
"Nggak apa-apa dong, okeh aku pilih yang ini dua porsi dan ini, juga yang ini." Daffa menunjuk beberapa makanan dan juga minuman kepada sang pelayan. Pelayan itu pun sibuk mencatat pesanan tersebut sembari membacakan ulang untuk memastikan apakah pesanan yang sudah dicatatnya sudah benar atau belum.
Selesai semuanya, sang pelayan berlalu. Daffa sejak tadi mencuri pandang kepada Olla.
'Kenapa aku baru sadar sekarang kalau Olla juga menarik? Kenapa tidak dari dulu saja? Aku membuang waktuku mengejar Tenri sementara ada wanita yang selalu bersama Tenri namun aku selalu melihatnya sebelah mata.'
Olla yang sadar sedang ditatap oleh Daffa hanya bisa menunduk untuk menyamarkan kegugupannya. Dulu, dia memang sempat menaruh perasaan pada Daffa. Saat pria itu sedang mengejar-ngejar Tenri tapi Olla sadar pria di depannya itu tak pernah ada rasa padanya.
Perasaan itu pun disimpan olehnya dalam-dalam, tak pernah sekali pun dia mengungkapkan perasaan itu sampai mereka pada akhirnya tak pernah bertemu lagi di Makassar.
Dia mengubur semua perasaan pada Daffa karena sebesar apapun dia menunjukkan itu pada Daffa, di hati pria itu hanya ada Tenri sahabatnya.
"La, maaf ya aku ingin bertanya agak pribadi sama kamu. Boleh kan?" Daffa tiba-tiba bertanya di saat Olla masih terlempar ke masa lalu, itu sebabnya dia agak terkejut.
"Apa?" tanyanya.
"Aku mau bertanya sesuatu yang sifatnya pribadi, boleh?"
"Apa kamu sedang dekat dengan seseorang saat ini?"
Deg.
Pertanyaan itu tidak tahu harus dijawab apa oleh Olla. Dia memang sedang dekat dengan seseorang sekarang. Jika saja Daffa bukanlah teman lama, maka ajakan makan malam ini tidak akan pernah ada.
"Untuk dekat secara dekat banget sih nggak ada, cuma kalau ditanya ada lelaki yang lagi mendekati aku ya ada."
Jawaban Olla serta merta membuat Daffa sedikit kecewa, cuma belum siginifikan juga kedekatan mereka seperti apa. Itu sebabnya dia masih optimis untuk mendekati Olla.
"Begitu ya, apa aku terlalu terlambat untuk mendekati kamu?"
Pertanyaan itu semakin sulit dijawab Olla, padahal dia tak melarang siapapun untuk dekat dengannya. Namun pertanyaan Daffa barusan mengandung sesuatu yang tak bisa dijelaskan Olla kepada sembarang orang.
"Aku gak tahu apa itu terlambat atau tidak. Bisakah kita ngomongin--
Saat itu pelayan sudah datang membawa pesanan mereka, ucapan Olla pun menggantung begitu saja. Tidak ada niat bagi Olla juga untuk melanjutkan ucapan itu.
__ADS_1
"Makanannya sudah datang, maaf sudah membuat Anda menunggu." Sang pelayan meletakkan makanan-makanan pesanan mereka di meja.
"Terimakasih," ucap Olla dan Daffa bersamaan saat sang pelayan selesai meletakkan makanan itu.
"Ah iya, apa kamu pernah jalan-jalan ke kampus? Kok rasanya aku merindukan kampus kita ya?" sambung Daffa.
"Sejak lulus, aku tidak pernah lagi ke sana. Padahal dekat ya, haha."
"Masa-masa kuliah bagi aku itu adalah momen paling indah sekaligus suram untuk aku."
"Kenapa?"
"Soalnya aku bisa mengenal Tenri, juga bisa mengenal kamu saat itu. Namun di saat bersamaan aku mengalami patah hati terdalam. Haha."
"Maksud kamu karena ditolak Tenri ya?"
"Ya begitulah, aku tidak tahu kenapa waktu itu aku sampai gila-gilanya mengejar dia. Padahal jelas-jelas Tenri tidak pernah membuka hatinya untuk aku. Tenri pure menerima aku di kehidupan dia hanya sebagai teman, sahabat, sama seperti kamu. Sejujurnya, aku mau minta maaf sama kamu ...."
Daffa terdiam sejenak.
"Meminta maaf karena tidak menyadari bahwa ada kamu yang juga berharga pada saat itu."
'Entah aku harus senang atau tidak mendengar ucapan Daffa barusan. Dulu memang benar, aku menyukainya. Bahkan sangat ... Namun itu semua lantas aku kubur dalam-dalam karena aku sadar yang disukai Daffa bukanlah aku, melainkan Tenri. Jika Daffa mengucapkan kalimat itu dulu, mungkin keadaannya akan berbeda. Saat ini, aku tidak bisa menerka perasaan aku sendiri.'
"Haha, biasa saja lagi Daff. Perasaan menyukai itu lumrah, soal berbalas atau tidak berbalas ya itu resiko menyukai seseorang. Hehe."
"Kalau saat ini aku bilang, aku menyukai kamu. Apa kamu percaya?"
Deg.
'Daffa barusan ngomong apa coba? Sesingkat itu kah rasa suka bisa tumbuh?'
"Tergantung, haha. Kamu beneran emang suka atau hanya sekedar suka aja. Jiahahaha ...."
"Kamu tidak percaya ya?"
"Aku percaya, tapi sebaiknya kita harus memakan makanan di depan kita ini dulu deh. Kayaknya bentar lagi dingin, kasian."
Daffa yang sedang menunggu jawaban Olla pun tak bisa lagi berkata apa-apa. Dia tak bisa menebak apa yang sedang dirasakan Olla saat ini terhadapnya.
__ADS_1