
Tibalah mereka di sebuah salon terkenal di bilangan Jakarta. Salon yang bisa membuat para pelanggannya setelah keluar dari sana terlihat berbeda dan tentu saja lebih menarik. Kebetulan malam nanti Reno harus menghadiri sebuah acara, namun hal tersebut belum disampaikan kepada Tenri. Hal itu ingin dijadikan Reno sebagai sebuat kejutan, soalnya acara yang akan dihadiri Reno merupakan acara pernikahan salah satu anak kolega bisnisnya. Dia tidak mau isterinya Tenri tampil biasa saja, itu sebabnya hari ini dia ingin membuat Tenri terlihat seperti ratu yang tak ada seorang pun yang akan berani menghinanya.
"Selamat siang, Pak. Ada yang bisa kami bantu?" tanya salah seorang pegawai di salon itu.
"Tentu saja, tolong buat isteriku tercinta ini terlihat lebih menawan. Aku ingin dia tampil bak seorang ratu dan aku pangerannya," balas Reno berseloroh namun sebenarnya dia serius. Tenri menyenggol siku Reno dan wajahnya terlihat malu-malu.
"Baik, Pak. Kami akan melakukan yang terbaik, Ibu biar ikut kami dulu bapak silakan menunggu di sana."
Reno mengangguk dan melangkah ke tempat yang ditunjuk oleh sang pegawai salon. Tenri pun melakukan perawatan seluruh badan yang tak main-main. Waktu yang dimakan selama perawatan pun bisa sampai berjam-jam, itu sebabnya Reno izin sebentar ke Tenri untuk ngopi di cafe sebelah salon tersebut.
"Tenri, aku ke cafe sebelah dulu ya? Kayaknya ini masih lama, apalagi kamu harus benar-benar melakukan perawatan seluruh tubuh. Tidak apa-apa kan aku tinggal ngopi dulu?" tanya Reno ke Tenri yang sedang melakukan creambath.
"Iye daeng, maaf harus membuat kamu menunggu lama."
"Untuk isteri terkadang seorang lelaki memang harus berkoban." Tutupnya dengan senyum yang bahkan pegawai salon itu saja jadi baper dibuatnya.
"Ibu beruntung sekali mendapatkan suami seperti Pak Reno, sudah ganteng, kaya, sukses dalam usaha dan tentu saja romatis." Komentar pegawai tersebut.
Tidak tahu saja kalau sebelumnya sikap Reno ke Tenri sangat menyebalkan, tapi memang Tenri harus banyak bersyukur karena perubahan yang terjadi pada suaminya itu.
"Terimakasih, Mbak."
***
__ADS_1
Reno duduk dengan secangkir kopi di depannya, sambil membaca beberapa email dari handphonenya. Sejak tadi dia sebenarnya sudah merasa tidak nyaman, gerak-geriknya seperti diintai seseorang dan dia tak tahu itu siapa. Dia mencoba santai dan tak terpengaruh sama sekali, sampai seorang pria menghampirinya dan menyapanya.
"Reno?" sapa orang itu.
"Iya benar. Maaf siapa ya?"
"Astaga kawan ... kau lupa padaku? Aku Daffa, teman STM dulu." Orang bernama Daffa itu berseru heboh.
Reno sedang mengingat wajah orang di depannya ini, kemudian dia berdiri dan langsung memeluk Daffa.
"Astaga ... Daffa! Kau dari mana saja? Sudah lama kita tak bertemu, gila ya akhirnya ketemu juga setelah berpuluh tahun tak bertemu."
Kedua sahabat yang baru bertemu itu pun duduk di satu meja yang sama dan saling berbagi kabar serta kerinduan setelah banyak waktu yang terlewati tanpa kehadiran masing-masing. Daffa adalah sahabat Reno semasih di bangku STM, keduanya selalu duduk di bangku yang sama dari kelas satu sampai kelas tiga. Hal itulah yang membuat keduanya akrab dan bersahabat namun harus putus kontak karena Daffa dan keluarganya tiba-tiba menghilang tanpa kabar.
"Aku kira salah mengenali orang dan kamu juga tampaknya tak bisa mengenali aku dengan baik, aku senang sekali bisa bertemu kamu sekarang, No."
"Ada. Tapi memang sempat lama banget aku menjauh dari orang-orang yang tahu aku dan keluargaku. Malu No, kalau harus cerita apa yang terjadi sama aku di masa lalu waktu itu. Kamu sendiri gimana?"
"Ada apa memangnya? Kenapa kamu harus malu, ayolah kapan-kapan kamu harus menceritakan semuanya padaku. Kita harus mengatur janji bertemu setelah ini."
"Kamu belum jawab pertanyaanku, haha."
"Aku? Ya aku begini ini sekarang, hehe."
"Kabarnya kamu sukses dengan usahamu, aku turut senang dan bangga banget. Oh iya, ngapain di sini?"
__ADS_1
"Lagi menemani isteri ke salon, kamu tahu sendiri kan kalau perempuan udah masuk salon bisa makan waktu berjam-jam. Kalau aku harus nunggu di sana kan bosan banget, makanya aku nyari cafe terdekat untuk menghilangkan rasa bosan menunggu. Kamu sendiri?"
"Kamu sudah menikah? Dengan siapa? Kukira kau benar akan menikah di usia empat puluh, No. Haha ... tidak tahunya malah di bawahnya. Aku di sini karena lagi ada urusan sebentar dengan seseorang, cuma orangnya belum datang dan aku udah nunggu dia dari setengah jam yang lalu. Tapi beruntung sih, dia telat datang, aku jadi bisa ketemu kamu di sini."
Cerita-cerita tentang keduanya pun mengalir sampai mereka berdua lupa dengan tujuan masing-masing kenapa bisa ada di cafe tersebut. Tenri sudah selesai dengan urusan salon dan dia sudah menunggu Reno hampir satu jam, dihibungi di ponselnya juga tidak diangkat.
Tak lama kemudian, seorang pegawai salon mengatakan kalau Reno ada di cafe sebelah. Dia pun pamit dan ingin menyusul Reno ke cafe yang dimaksud. Setelah celingak celinguk kira dan kanan akhirnya suaminya ketemu juga, terlihat ngobrol seru dengan seseorang. Terbukti dari tawa mereka yang sepertinya tak menghiraukan dengan kondisi di sekitarnya.
"Daeng ...." sapa Tenri.
Seketika Reno menoleh dan dia baru sadar kalau dia sudah meninggalkan Tenri begitu lama.
"Astaga!" Reno menepuk jidadnya karena kelalaiannya itu. "Kamu sudah selesai? Maaf aku ketemu teman lama, jadi lupa segalanya deh. Kenalin ini Daffa teman SMA dulu dan ini Daffa ini Tenri isteri aku."
Lelaki bernama Daffa tersebut sejenak termenung meliihat perempuan bernama Tenri yang diperkenalkan Reno padanya. Dia seperti melihat sosok wanita yang dulu ... dulu sekali semasa kuliah pernah dia gilai.
*Bersambung*
---------------
Bantu aku dengan like, komen dan share cerita ini ya Kak. Terimakasih.
__ADS_1