Menikahi Wanita Pilihan Ibu

Menikahi Wanita Pilihan Ibu
Queen Arsy


__ADS_3

"Daff, bisakah aku menemani Tenri di dalam?" pinta Reno dengan wajah memelas.


"Justru kamu sebaiknya di dalam, menemani Tenri, menguatkan dia. Jangan lupa untuk terus berdoa."


"Terimakasih, Daff." Reno memeluk Daffa seraya menepuk bahu pria itu.


"Sama-sama, ayo kita harus bergegas."


Sesampai di ruang operasi, Reno lantas menghampiri Tenri. Dia menggenggam tangan isterinya. Menciumnya di kening seraya terus mengatakan kalimat penyemangat. Reno menunjukkan kasih sayangnya yang tulus pada Tenri.


"Aku pikir kamu tidak akan ada di sini, aku takut daeng." Genggaman Tenri semakin erat.


"Tidak usah takut, aku ada di sini. Kamu dan juga bayimu pasti akan selamat."


Seorang dokter perempuan masuk ke ruang operasi, dia melihat Reno di sana bersama sang isteri. Alisnya sedikit terangkat, lalu berkata. "Bisakah Anda menunggu di luar saja? Kami akan segera melakukan operasi."


Reno pun bingung. Di mana Daffa? Bukankah dia sudah mengizinkan Reno untuk menemani Tenri?


"Tadi dokter Daffa mengizinkan saya untuk masuk, Dok."


"Bapak sudah selesai ngobrol dengan isteri bapak kan? Percayakan pada kami, isteri Anda tidak akan apa-apa begitu juga dengan bayinya."


Reno pun mengalah, meski dia sedikit tidak terima perlakuan dokter perempuan tadi. Ya sudahlah, mungkin itu sudah sesuai prosedur. Begitu pikir Reno sesaat sebelum meninggalkan ruang operasi. Namun dia terlebih dahulu pamit pada Tenri, mencium kening isterinya dan memberinya semangat.


Reno menunggu di depan pintu ruang operasi, suasana hatinya sangat kacau, dia sangat khawatir.


***


Beberapa Keluarga menelepon Reno menanyakan kabar Tenri beserta bayinya. Reno sendiri belum bisa memberikan informasi apapun, hingga saat ini Tenri masih ditangani pihak rumah sakit.


"Ren, bapak menyusul ke Jakarta ya?" ucap bapaknya di telepon yang sama khawatirnya dengan Reno.


"Bapak tunggu informasi dulu ya, doakan isteri dan anakku selamat. Reno akan kabari bapak secepatnya bila operasinya selesai. Mohon doanya ya, pak. Buat keluarga semua di Makassar, sekali lagi mohon banget doanya."


"Iyah Nak, kamu yang kuat. Kabari kami ya, insyaallah semua baik-baik saja."

__ADS_1


Sekitar 20 menit Tenri menjalani operasi dan belum juga ada kabar apapun. Seorang suster keluar namun ketika Reno mendatangi suster itu untuk ditanyai. Sang suster hanya berlalu begitu saja tanpa menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan Reno.


Bagaimana Reno tidak semakin khawatir, di luar dia hanya bisa mondar mandir sambil menunggu. Sementara di dalam sana isterinya sedang berjuang mempertaruhkan nyawanya. Sebentar duduk, sebentar berdiri lalu mondar mandir lagi, kebingungan tidak tahu harus berbuat apa. Sesekali Reno hanya bisa duduk bertumpukan kedua tangan seraya berdoa untuk kelancaran operasi Tenri.


Setelah 30 menit berlangsung, seorang dokter perempuan yang tadi menangani Tenri keluar dengan menampilkan wajah datar. Semakin membuat tanda tanya di kepala Reno kian banyak. Penutup kepala dibuka, serta masker dan sarung tangan semuanya dibuka. Sang dokter masih berpakaian seragam operasi.


Reno segera mendekat, "Bagaimana keadaan isteri dan anak saya, Dok?" tanyanya cepat.


Sang dokter diam sebentar, dan menjulurkan tangan ingin meraih tangan Reno.


"Selamat ...."


"Maksud Bu dokter?"


"Tenri dan bayinya selamat, Ren." Daffa yang baru saja keluar dari ruang operasi langsung menjawab dan tersenyum sumringah.


Tak terkira rasa bahagia yang dirasakan Reno saat itu. Bahkan dia ingin sekali melompat dan memeluk Daffa saking bahagianya. Tapi dia tak hanya memeluk Daffa, dia bersujud syukur dan mencium lantai marmer di bawahnya karena doa-doa yang dia panjatkan dikabulkan.


"Terimakasih Dok, terimakasih Daffa. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana mengungkapkannya, aku bahagia sekali." Reno sangat bahagia sampai-sampai air matanya ikut mengalir karena terharu. Dia telah jadi seorang Papa sekarang.


Dokter perempuan yang tadi menemui Reno telah pergi lebih dulu. Di sana tersisa Daffa yang menemaninya.


"Bisakah aku melihatnya?" tanya Reno dengan tatapan berbinar.


"Tentu saja, kamu suami dan juga Papanya. Dia sudah menunggumu, bayimu juga sudah menunggu untuk dikumandangi adzan."


Tanpa menunggu waktu lama, Reno bergegas masuk menemui Tenri ditemani oleh Reno.


"Sayang," panggilnya pada Tenri.


"Daeng, Alhamdulillah anak kita selamat. Hiks."


Tenri menangis haru, bukan sedih tapi bahagia karena dia berhasil melewati semua proses operasi itu dengan sangat baik.


"Gimana keadaan kamu, merasa lebih baik?"

__ADS_1


"Alhamdulillah."


"Dimana anak gadisku?"


"Dia lagi dibersihkan, sebentar lagi akan dibawa ke sini. Tunggu saja," jawab Daffa.


"Selamat ya, kalian berdua sudah jadi orang tua dari anak perempuan yang sangat cantik." Lanjut Daffa lagi.


"Terimakasih, Daffa." jawab mereka hampir bersamaan.


"Baik kalau begitu, aku tinggal dulu ya. Kalian silakan ngobrol dan menunggu bayi perempuan cantik kalian dibersihkan."


***


"Allahu Akbar ... Allahu Akbar ... Allahu Akbar ... Allahu Akbar ... Asyhadu allaa illaaha illallaah. Asyhadu allaa illaaha illallaah. Asyhadu anna Muhammadar Rasullullah ... Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah ... Hayya 'alashshalaah ... Hayya 'alashsalaah ... Hayya 'alalfalaah ... Hayya 'alalfalaah ... Allaahu Akbar, Allaahu Akbar ...


Laa ilaaha illallaah ..."


Reno baru saja selesai mengadzani anak perempuannya yang baru lahir. Tak terasa air matanya mengalir seraya mencium pucuk kepala bayi yang masih merah itu. Pipinya yang gembul dan merona, serta bibir bayi yang bergerak-gerak seakan mencari sesuatu. Mungkin saja dia lapar, karena itu Reno langsung memberikan bayi itu lagi kepada Tenri yang berbaring.


"Sayang ... dia cantik banget. Sama kayak kamu," ucap Reno seraya tersenyum manis pada Tenri.


"Matanya mirip kamu, Sayang." Tenri membalas dengan memuji bahwa mata bayinya mirip dengan Reno.


"Dia lapar sekali kelihatannya, lihat dia sampai gelisah begitu mencari susu-mu Sayang."


Tenri telah diajari oleh suster bagaimana cara membuat bayi cepat belajar menyusui. Karena itu Tenri tidak merasa kesulitan sedikitpun, bayinya pun tidak rewel lagi ketika mendapatkan apa yang dia mau. Tenri mengelus-elus dengan jari rambut sang bayi yang masih tumbuh sedikit itu. Sementara Reno masih takjub melihat pemandangan indah di depannya.


Tidak ada kebahagiaan yang terasa lengkap kecuali memiliki seorang buah hati. Kebahagiaan Tenri dan juga Reno saat ini menjadi lengkap dengan kehadiran bayi perempuannya yang baru saja lahir.


"Kamu mau kasih nama apa, Sayang?"


"Aku mau namai Queen Arsy Permadi. Bagus tidak Daeng?"


"Bagus sekali, Sayang."

__ADS_1


Reno duduk di tepian tempat tidur dan mendekatkan wajahnya ke wajah Tenri. Mengusap pipi bayinya yang masih merah lalu melakukan cekrek, foto wefie.


__ADS_2