Menikahi Wanita Pilihan Ibu

Menikahi Wanita Pilihan Ibu
Ke Australia


__ADS_3

Elsa terbang ke Australia untuk mencari Rama, dia mendapatkan informasi mengenai tempat tinggal Rama di sana. Tak banyak wanita yang bisa mengambil resiko sebesar itu, Elsa tanpa pikir panjang datang mengantarkan dirinya di depan Rama. Pria yang tak kenal belas kasih sama sekali.


Sepatu hak tinggi Elsa berbunyi peletak peletuk saat dia berjalan dengan percaya diri menuju pintu sebuah rumah besar bak istana. Rumah tersebut adalah rumah milik Rama, pria itu memang hebat. Dia menipu di Indonesia dan menimbun seluruh harta di Australia. Tanpa rasa takut sama sekali, Elsa menghadapi dua orang bodyguard berbadan besar. Kacamata hitam serta postur tubuh yang tinggi dari dua pria tersebut tak lantas membuat niat Elsa mengendur.


Dia tahu seberapa besar resiko yang dapat dia tanggung jika kiranya dia datang ke rumah tersebut.


"Maaf Anda siapa Nona?" tanya seorang bodyguard berkacamata hitam.


"Mana bos kalian?"


"Maksud Anda Tuan Rama?"


"Benar sekali, biarkan aku bertemu dengannya."


"Maaf Nona, Tuan sedang tak ada di rumah. Datang saja lain kali dan jangan lupa untuk buat janji terlebih dahulu."


"Aku akan menunggu."


"Maaf Nona, rumah ini bukan rumah singgah apalagi ruang tunggu. Silakan pulang atau kami akan menggunakan cara kasar untuk membawa Nona keluar dari sini."


"Cih, beraninya cuma sama perempuan. Tetap saja aku akan menunggu sampai Tuan kalian pulang. Kalian berdua tidak ada rasa hormat sama sekali pada calon isteri Tuan kalian."


Alis kedua bodyguard itu terangkat, kaget mendengar ucapan Elsa barusan. Kemudian tertawa kecil terbit dari dua bodyguard itu, sepertinya menertawai ucapan Elsa.

__ADS_1


"Kenapa kalian tertawa? Ada yang salah?"


"Nona, kami tahu Tuan kami sangat tampan dan kaya tapi rasanya lucu sekali jika Nona mengaku sebagai calon isteri Tuan kami."


"Kamu meremehkan aku?"


"Haha ... Nona, kami mohon segera pergi dari sini, lelucon Anda sama sekali tidak lucu. Tuan kami sedang memilih gaun pengantin bersama tunangannya. Terus Nona ini siapa? Dari mana? Dan untuk apa Nona di sini?" Tawa mengejek dari bodyguard itu membuat Elsa seperti dilecehkan.


"Tunangan?"


"Ya. Dan Nona datang ke sini lalu mengaku tunangan? Nona, siang ini memang terik tapi jangan juga bermimpi apalagi halu. Sudah, sebaiknya Nona pergi dari sini."


Sialan, dia meninggalkan aku begitu saja di Jakarta dan dia sekarang akan segera menikah dengan tunangannya? Aku penasaran seperti apa tunangannya itu, hingga dia mengabaikan aku. Lihat saja, jika aku tak bisa membuat perhitungan dengan Rama ataupun tunangannya maka jangan sebut namaku Elsa. Aku sudah cukup muak dengan hidup ini, gara-gara Rama keluargaku kini hancur dan aku akhirnya harus hidup sendirian tanpa keluarga. Tak akan kubiarkan dia menikmati seluruh hasil yang dia tipu dari keluargaku. Tunggu saja, Rama.


"Ingat baik-baik nama aku, Elsa Morgan, sampaikan ke Tuan kalian bahwa aku mencarinya."


Elsa meninggalkan tempat tersebut.


***


Daffa, berhati besar. Dia merelakan perasaannya pada Tenri, juga membuang egonya. Dia seorang dokter, dia bisa memalsukan hasil tes DNA itu. Namun, dia memilih untuk tidak melakukannya.


Di suatu sore, dia janji bertemu dengan Doni. Doni adalah satu-satunya orang yang dia rasa dapat menceritakan seluruh beban di hatinya pada pria itu. Sahabatnya.

__ADS_1


"Aku salut sama kamu, Daffa."


"Aku hanya melalukan tugasku sebagai seorang dokter. Juga membantu Reno sebagai sahabatku, serta Tenri. Cinta memang tidak harus memiliki, bagiku melihat dia bahagia bersama Reno, itu saja sudah cukup. Aku mencintai Tenri akan selalu seperti itu. Namun aku rasa perjuangan aku harus berhenti di sini, aku harus menatap masa depan baru dan melepaskan diri dari bayang-bayang masa lalu."


"Jujur, kamu itu pria langka. Mencintai meski tak dicintai. Setidaknya nasib percintaan kamu masih lebih baik dari aku yang jomblo fisabilillah ini. Haha."


"Haha, kamu ini bisa saja. Memangnya tidak ada satu perempuan pun yang berhasil memikat hatimu?"


"Sejauh ini belum ada satu perempuan pun yang bisa membuat hati aku bergetar. Lagi pula, aku belum memikirkan untuk menikah. Bagiku, karir adalah hal yang perlu aku perjuangkan saat ini."


"Hati-hati loh, kelamaan menjomblo bisa membuat orang jadi gila. Haha."


"Teori dari mana itu, ck."


"O Iya, Reno sekarang banyak berubah. Aku melihat dengan jelas perubahan itu. Hal itu yang membuat aku jadi berpikir bahwa setiap orang punya kesempatan kedua untuk memperbaiki sesuatu. Reno melakukannya dengan baik, andai saja Reno tidak memperjuangkan Tenri maka aku tidak akan segan-segan untuk merebut Tenri darinya."


"Yah, aku akui perubahannya pesat sekali, itu juga tidak lepas dari Tenri yang tak pernah lelah mendampingi dan tidak pernah meninggalkannya. Andai perempuan itu bukan Tenri, mungkin sudah lama mereka bercerai. Syukurlah, sekarang mereka kembali dan menyadari bahwa cinta bisa tumbuh kapan saja sehingga rumah tangga tak harus hancur hanya karena alasan tak saling mencintai."


"Begh ... gila ucapan kamu Don, udah kaya pujangga. Sayang aja kamu masih jomblo sampai sekarang. Haha."


"Kita sama bukannya? Hahaha ...."


Dua pria bersahabat itu malah menertawai diri masing-masing. Yah, begitulah pada akhirnya setiap orang akan bertemu dengan yang benar-benar ditakdirkan untuknya.

__ADS_1


__ADS_2