Menikahi Wanita Pilihan Ibu

Menikahi Wanita Pilihan Ibu
Keajaiban Elvis Presley


__ADS_3

"Seandainya aku meminta diberi kesempatan dua kali, membahagiakan kamu, mencintai kamu, menyayangi kamu, bolehkah?"


Sudah hampir satu jam Reno berlatih di depan cermin, mengucapkan kalimat tersebut dengan fasih dan tidak gugup. Namun setiap kali dia hampir berhasil, selalu saja dia merasa kalau cara dia mengungkapkannya terlalu berlebihan.


Kelakuan dia persis anak remaja yang akan menembak atau menyatakan cinta kepada seorang pujaan hati yang selama ini ditaksirnya. Belum lagi berulang kali dia merapikan rambut beserta pakainnya. Entah sudah berapa pakaian dan model rambut yang dia coba namun tetap saja dia merasa belum ganteng maksimal. Haha.


"Susah banget sih ngapalin satu kalimat doang, dulu saat nembak Elsa gak gini-gini juga. Kenapa sekarang aku jadi gugup nggak karuan padahal perempuan yang aku hadapi sebentar adalah isteri aku sendiri."


"Duhai Tenri, tolong jangan lama-lama marahnya. Aku bisa gila mati kesepian dan sendiri, hasratku mengalami mati lampu kalau kayak gini terus." Dia ngeluh udah ke tahap stres. Dia menjambaki rambutnya karena tidak tahu bagaimana cara membuat hati Tenri luluh dan menerimanya dengan tulus sama seperti sebelumnya.


Reno terus saja berbicara seorang diri di depan cermin, bolak balik kayak setrikaan dan ujung-ujungnya dia nggak tahu harus ngapain dulu.


Tenri yang sedang menunggu di bawah untuk makan malam ikut keheranan, kenapa Reno belum turun juga. Padahal sebelumnya dia tak pernah terlambat jika urusan makan bersama. Tenri sampai ingin menyusul Reno ke atas karena sudah terlalu lama menunggu.


Namun baru saja ingin melangkah, sosok Reno sudah terlihat menuruni tangga. Namun alangkah terkejutnya Tenri saat melihat penampilan suaminya itu. Baju motif bunga warna warni, celana cut Bray, kancing baju yang dilepas 3 di bagian atas dan kaki baju yang satunya mencuat keluar satunya lagi tertanam di celana. Bukan cuma itu, rambutnya kelihatan klimis sekali, entah sudah berapa banyak minyak rambut dan Pomade bersarang di kepalanya.


Tenri terpana melihat penampilan Reno yang sudah melebihi artis dangdut tahun 70-an. Tawanya lepas begitu saja saat Reno mulai bergaya ala-ala Elvis Presley.



(Sumber Gambar : Google) Bayangin aja Reno lagi dandan kayak gini, hahaha.


*


"Ahahaha ... Hahhaa ... duh perutku sakit, ya ampun daeng. Kamu habis kesambet setan apa sih? Hahaa ...."


Belum pernah sebelumnya Reno melihat Tenri tertawa sebahagia itu. Baru pertama kali ini dan dia takjub, dia berhasil membuat isterinya tertawa selebar itu sepanjang mereka bersama.


"Wahai Tenri, ehm ... ehemmm ..."


Baru nyebut nama Tenri saja, dia sudah gugup bukan main, sampai terbatuk segala. Sudahlah Reno, kamu nyerah saja. Konsep lupa maka ambyar.


Belum lagi dia menyatakan perasaannya, kalimat pembuka saja sudah hancur begitu. Bagaimana Tenri bisa berempati sama kamu, Reno.

__ADS_1


"Daeng ... tolong itu dandannya dikondisikan. Memangnya daeng mau ke mana?" tanya Tenri yang masih menahan tawa.


"Sebenarnya, ada ... yang pengen aku ... sampaikan sama kamu, Tenri. Berhubung di rumah ini hanya ada kita berdua, jadi dandan norak kayak gini pun kulakoni demi membuat kamu tersenyum. Jadi ... apakah sudah waktunya makan malam?"


Ya ampun ... bicara berkelok-kelok tidak tahunya cuma minta makan. Punya rasa malu nggak sih, Ren?


"Sudah sini makan, keburu dingin nanti makanannya. Daeng ini ada-ada saja."


"Hehe ...."


***


Usai makan malam dan Tenri sudah lebih dulu masuk kamarnya. Malam bertambah larut, Reno belum juga mengungkapkan apa yang ingin dia katakan kepada Tenri. Reno pun akhirnya menyelinap ke kamar Tenri. Kamar tersebut belum dikunci oleh Tenri, sehingga dia pun dengan mudah masuk ke sana.


Dia melihat isterinya itu sudah tertidur, suasana di kamar itu begitu hening. Hanya ada suara detak jam dan juga detak jantung Reno yang berdebar kencang saat dia pelan-pelan tidur di samping Tenri. Dia hampir tidak menimbulkan suara apapun, sampai akhirnya dia benar-benar tidur di samping Tenri.


Punggung Tenri yang membelakanginya, sudah lama dia tak melihat punggung itu. Reno bukan cuma diam-diam masuk kamar, tapi dia juga diam-diam menyelipkan tangannya ke pinggang Tenri. Dasar bocah tua nakal.


"Daeng ...." pekik Tenri.


"Hehe ... numpang tidur ya, di atas ada hantunya. Aku takut hantu, makanya lari ke bawah. Untung saja di sini nggak ada, jadi aman."


Sumpah demi apa, alasan kamu Reno itu sangat ketinggalan jaman. Itu alasan yang berlaku hanya untuk anak kecil saja, bahkan anak kecil pun nggak sepenakut kamu, Ren. Ckckck.


"Alasan ih, daeng boleh tidur di sini tapi jangan sentuh, jangan meluk kayak tadi."


"Dikit?"


"Nggak."


"Iya deh." Reno pasrah karena Tenri sudah menatapnya seperti daging panggang siap santap.


Tenri menarik kembali selimutnya dan dia berjaga-jaga kalau Reno ingkar janji. Kalau begini, siapa yang gengsi sekarang?

__ADS_1


Walau sudah diberitahu untuk tidak menyentuh, Reno masih saja nakal. Sekarang tangan dia malah menyentuh perut Tenri dan mengusapnya.


Plak.


Tangannya pun dikeplak oleh Tenri, "Awww ... sakit. Kan aku gak nyentuh kamu, Tenri."


"Nggak nyentuh gimana? Itu tangan daeng di perut aku apa itu bukan nyentuh namanya?"


"Bukan. Aku menyentuh anakku kok yang masih ada dalam kandungan kamu."


"Tahu ah, capek aku berdebat sama kamu daeng. Untuk hal konyol kayak gini, kamu emang juaranya."


Lagi-lagi Reno tersenyum nyengir dengan memperlihatkan gigi-giginya. Tenri berbalik lagi, membelakangi Reno yang menunggu seperti anak kecil.


"Sayang, Tenri ... boleh ya?"


Belum ada jawaban.


"Tenri?"


"Nggak ada jawaban berarti boleh. Aku cuma ingin memeluk kamu seperti ini, Sayang."


Tenri menggeliat. Sekarang dia sudah pasrah, dibilangin berkali-kali juga suaminya itu tetap bakal ngeyel.


Semakin lama, pelukan Reno semakin erat dan sedikit memberi Tenri kehangatan yang selama ini telah hilang darinya.


"Tidakkah kau merindukan pelukanku, Tenri?"


"Memeluk kamu kayak gini, menjadikan aku lebih sadar arti sebuah kehilangan. Jadi jangan pernah bermimpi akan pergi dariku, sebab itu tak akan kubiarkan lagi terjadi."


Tenri mendengar kalimat itu, hatinya terasa penuh kembali. Setelah sekian lama seperti kosong, Reno kali ini semoga dapat dia percayai lagi. Cukup sekali dia melakukan kesalahan, jika tidak mungkin Tenri tidak akan pernah memaafkannya.


Saat Tenri terbangun keesokan paginya, dia terkejut menyadari posisi dia sekarang sudah tidak membelakangi Reno. Justru mereka malah saling berhadapan dan saling berpelukan satu sama lain. Apakah itu artinya kalian damai?

__ADS_1


__ADS_2