
HEADLINE NEWS
Seorang wanita ditemukan tewas bersimbah darah di sebuah hotel yang disewanya saat berkunjung ke Australia. Wanita itu diketahui berasal dari Indonesia. Tidak ada yang tahu siapa penyebab wanita itu tewas namun satu hal yang pasti adalah bahwa wanita tersebut telah dibunuh. Hal itu diketahui karena ada luka sedalam satu sentimeter di lehernya. Mayat Wanita berinisial E tersebut masih sedang menjalani proses penyelidikan dan setelah itu akan dibawa keluarga ke Indonesia untuk dimakamkan.
Kabar dari pewarta berita tersebut sontak menyita perhatian Reno dan Tenri. Mereka sedang bermain-main dengan baby Queen saat sebuah berita di televisi yang ada di ruang rawatnya itu membacakan sebuah berita terhangat saat ini.
Baik Reno dan Elsa langsung bertatapan satu sama lain.
"Daeng ...."
"Sayang ...."
Apa yang ada di dalam kepalanya sudah bisa ketebak satu sama lain.
"Apa itu Elsa?" tanya Tenri dengan tatapan tak percaya.
"Aku juga berpikir begitu, jangan-jangan wanita itu adalah Elsa."
Tenri menutup mulutnya dengan satu tangannya, dia shock setelah diperlihatkan identitas dari mayat tersebut.
"Benar Elsa, Sayang."
"Ya Tuhan, kenapa dia bisa meninggal? Siapa yang membunuhnya?" Tenri tak akan percaya jika tak melihat foto wanita itu. Meski samar-samar namun dia dapat mengetahui ciri-cirinya bahwa itu adalah Elsa.
"Aku harus cari tahu ini, aku takut yang melakukan itu semua adalah Rama. Ngapain Elsa nekat ke Australia kalau bukan untuk meminta pertanggung jawaban Rama?"
"Masuk akal, Daeng. Kasihan Elsa, meskipun dia selama ini banyak berbuat jahat sama aku tapi mendengar kabar dia meninggal dengan cara sadis seperti itu. Ya Tuhan aku tidak bisa membayangkan bagaimana Elsa ketakutan saat orang yang tak berperasaan itu membunuhnya."
"Ssshht ... sudah jangan dipikirkan. Biar aku yang mencari informasi tentang Elsa."
__ADS_1
"Iyah, Daeng."
Kabar meninggalnya Elsa juga didengar oleh Doni, itu sebabnya Doni segera ke rumah sakit dan mencari tahu kebenarannya pada Reno.
Doni cemas Reno terlibat dalam hal ini, meski dia tahu Reno tidak mungkin melakukan hal tersebut. Saking khawatirnya Doni pada Reno, dia meninggalkan pekerjaannya di bengkel begitu saja dan langsung menemui Reno di rumah sakit bersalin. Sekalian untuk menjenguk Tenri dan baby Queen yang baru lahir.
Senyum sumringah menyambut kedatangan Doni, Reno langsung memeluk sahabatnya itu. Sebuah hadiah juga tak lupa dibawa oleh Doni untuk baby Queen. Tenri terenyuh melihat persahabatan mereka, salut kepada Doni yang tak pernah meninggalkan Reno meski dalam keadaan terpuruk sekalipun.
"Hei, Don." Tenri menyapa Doni dan berusaha bangun dari tempat tidur. Baby Queen sudah tidur dan sedang dalam box bayi.
"Gimana kondisi kamu, Tenri? Bagaimana sekarang perasannya setelah jadi Mama? Sobat aku ini berguna nggak setelah dia jadi Papa? Hahaha."
"Haha ... berguna, sangat berguna. Dia jadi bisa gantiin aku jagain Queen saat dia bangun tengah malam dan aku baru mau tidur. Hehe."
"Gini-gini aku juga suami siaga dong Don, jangan salah." Reno membanggakan dirinya di depan Doni. Gelak tawa pun terdengar di ruangan itu, atmosfir yang sungguh membuat suasana menjadi hangat dan membahagiakan.
Lalu topik pun beralih pada berita yang sempat menyita perhatian publik.
"Sudah, aku juga tidak nyangka banget Elsa bakalan berakhir seperti itu. Kasihan dia belum menemukan keadilan atas kehamilannya. Sekarang dia pun sudah meninggal dengan cara yang sadis."
"Kamu ... tidak terlibat kan Ren?"
"Gila apa ya? Kamu ini gimana sih Don, katanya sahabat gue. Masa gak tahu gue sih?" Reno agak sewot padahal pertanyaan Doni sebenarnya cuma ingin memastikan.
"Syukurlah, aku pikir kamu terlibat atas kasus Elsa. Aku udah cemas saat di jalan menuju ke sini. Gila, jantung aku sampai gak berhenti berdebar kencang."
"Gak Don, aku mana mungkin melakukan perbuatan itu. Sebenci-bencinya aku sama Elsa, mana mungkin aku tega menghabisi nyawanya dengan cara sadis seperti itu. Hanya saja aku ada feeling kalau yang melakukan itu adalah Rama. Dia pernah bilang sempat bersama Rama setelah lepas dari aku. Apalagi dia sempat bilang dan aku mendengar kalau anak yang dia kandung itu sebenarnya anaknya Rama."
"Astaga! Jadi ulah pria itu lagi?"
__ADS_1
"Entahlah. Aku juga nggak bisa menuduh lebih jauh karena tidak ada bukti. Apalagi Elsa meninggal di luar negeri dan tidak ada yang tahu."
"Semoga pelakunya segera ketemu, kasihan dia."
"Iyah. Aamiin."
Tenri tidak memberi tanggapan apa-apa, dia hanya menyimak obrolan dua sahabat itu. Sesekali Tenri mengawasi baby Queen saat boxnya terlihat bergerak.
"Aku boleh lihat baby kamu gak?" tanya Doni antusias.
"Boleh dong, lihat cantik banget kan dia?" puji Reno sambil memamerkan Queen Arsy pada Doni.
"Kamu kapan Don?" tanya Tenri.
"Haha ... isteri kamu nih Ren, sekalinya nanya gak tanggung-tanggung. Calon ibunya aja belum punya udah nanya anaknya aja. Haha."
"Masih belum ya, Don?" Reno ikut memperjelas.
"Belum. Susah nih cari yang kayak Tenri di jagat Jakarta ini. Haha."
"Ada kok, Don. Kalau kamu mau, aku bisa kenalin ke kamu. Besok dia ke Jakarta, gimana?" sambung Tenri sambil ngode ke Reno.
"Iyah tuh, cantik lagi. Mau nggak?"
"Aishh ... kalian berdua sekongkol mulu ya."
"Kan demi kebaikan kamu juga, biar gak jombol fisabilillah terus. Haha."
"Sialan kamu, Ren. Giliran udah punya isteri aja terus-menerus godain aku. Awas kamu ya,"
__ADS_1
Reno hanya tertawa menanggapi ucapan Doni barusan. Mereka bertiga terlihat akrab dan suasana mencair karena terus menerus mengejek Doni. Apalagi saat Tenri nekat mau menelepon video ke Olla. Doni malah buru-buru pamit pulang. Bukan karena dia tidak mau dijodoh-jodohkan, tapi lebih karena dia ingin benar-benar menemukan cinta sejati dengan sekali lihat terus hatinya langsung tertambat gitu.
Ah elah, Don. Entar juga pas kamu lihat Olla, kamu bakal nitip salam dan nomor juga ke Reno dan Tenri. Hahaha.