Menikahi Wanita Pilihan Ibu

Menikahi Wanita Pilihan Ibu
Rencana Rama untuk Reno


__ADS_3

Kasus Elsa yang ditutup meninggalkan berbagai pertanyaan di benak Reno, dalam hatinya dia ingin memberikan pernghormatan terakhir untuk Elsa. Bagaimana pun wanita tersebut pernah mendampinginya di beberapa momen sulit dalam hidup dia selama mereka pacaran. Karena itu, dia berjanji akan menemukan dan mengungkap siapa pembunuh sebenarnya.


Reno yang merasa tak tenang dengan peristiwa ditutupnya kasus itu, memilih untuk menziarahi makam Elsa. Perasaannya masih tak tenang, dia merasa ada banyak hal yang perlu diungkap namun dia tak tahu harus mulai dari mana.


Suasana tempat pemakaman keluarga di mana Elsa terbaring untuk terakhir kalinya dan selamanya itu terasa sangat sunyi. Hanya desir angin yang berembus menggerakkan dedaunan serta ranting pohon dan batang bambu saling bergesekan. Suara-suara itu semakin menambah suasana suram dan menakutkan di tempat itu, namun Reno sama sekali tak merasa takut.


Dia berjongkok di atas pusara Elsa, mengusap papan nisan yang tertulis nama wanita itu di sana.


"Hei, apa kabar? Maafkan aku karena baru sempat berkunjung lagi, bukankah aku terlalu jahat jika harus berbuat seperti melupakan kamu padahal kamu pernah menjadi bagian dari hidup aku. Tenang saja, Tenri tidak akan marah atau cemburu lagi, dia sudah mengizinkan aku." Gurat wajah Reno menunjukkan bahwa dia masih kesal kenapa kasus Elsa malah ditutup dan bukannya ditelusuri hingga tuntas.


"Aku tidak mengerti mengapa keluarga kamu menutup kasus pembunuhan atas dirimu yang belum terungkap itu. Aku merasa ada yang janggal tapi aku tidak tahu harus bertindak seperti apa. Aku bukan siapa-siapa bagi keluarga kamu, aku hanyalah kerak atau bagian luar. Tidak semestinya ikut campur, namun sebagai teman, sahabat, aku merasa aku perlu untuk mencari tahu penyebab dan siapa pembunuh kejam itu."


"Maka dari itu, izinkan aku untuk mencari tahu semuanya. Agar kamu bisa beristirahat dengan tenang, sebelumnya aku tidak pernah memimpikan kamu saat tidurku, namun akhir-akhir ini aku selalu terganggu dengan bayangan wajah kesedihan yang selalu kau tampakkan padaku saat tidur. Apakah kamu terluka? Apakah kamu ingin balas dendam? Apakah kamu ingin aku untuk menangkap orang itu?"


"Ya, terlalu banyak pertanyaan, namun aku tahu suatu saat aku pasti dapat menemukan jawabannya. Beristirahatlah dengan tenang, Elsa. Semoga aku bisa membantumu menemukan siapa yang telah membunuh kamu."


Setelah berbicara seorang diri di atas pusara Elsa, Reno pun menengadahkan tangannya kemudian berdoa. Usai berdoa, dia pun kembali mengusap nisan milik Elsa kemudian pamit dan pergi dari pemakaman tersebut. Sementara itu, dari jauh seseorang telah memperhatikan gerak-gerik Reno dari sejak kedatangan dia ke TPU itu sampai akhirnya dia pulang.


Orang itu adalah suruhan Rama, siapa lagi? Belakangan ini dia memang sedang melakukan pengintaian kepada siapa saja yang datang ke tempat Elsa dikuburkan. Tentu saja untuk tujuan cuci tangan dari kasus itu dan menjadikan orang lain kambing hitam sekaligus alibi agar dia sendiri dapat terlepas dari kasus itu dan orang lain lah yang menjadi tersangka.


Reno. Berhati-hatilah.

__ADS_1


***


"Apa yang kamu dapat?" Suara berat dan tegas itu terdengar menakutkan jika baru pertama kali mendengarnya. Namun tidak bagi anak buah Rama, mereka sudah terbiasa bahkan diomeli dan dihajar jika melakukan kesalahan.


"Seseorang baru saja datang mengunjungi kuburan Elsa, dia berada di sana lumayan lama."


"Seperti apa orangnya?"


"Laki-laki, bertubuh besar, dari pakaiannya tampaknya seorang pengusaha. Dan saya pernah melihat dia beberapa kali bersama Bos."


"Wow, menarik sekali. Saya tahu siapa orangnya, tetap pantau dan selidiki siapa saja yang datang."


"Baik, Bos."


"Ada apa, Sayang? Sepertinya suasana hati kamu tampak baik."


"Reno datang ke makam Elsa baru saja, cih sekarang aku tahu caranya bagaimana membuat orang lain yang menerima hukuman atas perbuatanku. Hahaha."


Cindi menatap Rama tak percaya, "ngapain dia ke sana?"


"Entahlah, yang pasti aku senang dia yang datang."

__ADS_1


"Apa rencanamu?"


"Tentunya sesuatu yang akan membuat kita terbebas dari segala tuduhan, Sayang."


Rama lantas menarik tubuh Cindi sedikit kasar dan mencium bibir wanita itu dengan rakus. Mereka pun saling bertaut dan kembali lagi bercumbu di atas tempat tidur yang berukuran king tersebut. Sesekali terdengar desahan dari bibir Cindi yang kini di bawah kendali Rama. Gerakan-gerakan mereka yang kasar membuat seprei tempat tidur pun menjadi berantakan.


Keduanya pun tak bisa lagi mengelak dari seruan hasrat yang makin besar. Selanjutnya yang terjadi hanyalah pekikan kecil dan mesra dari bibir Rama atau pun Cindi. Mereka bak menari di atas penderitaan dan kelukaan Elsa.


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2