
Baru saja pindah kamar, Reno sudah merasa tak nyaman. Orang-orang di sebelahnya begitu ribut, penjenguk pasiennya pun banyak. Dia jadi tidak bisa istirahat dengan cukup. Sejak tadi dia ingin sekali ke toilet tapi Tenri tidak ada di dekatnya. Dia sedang keluar sebentar untuk membeli beberapa kebutuhan selama Reno di rumah sakit. Termasuk membeli tissue, air minum, dan mungkin beberapa makanan untuk dia dan Reno.
"Ke mana sih itu perempuan? Lama banget, bisa-bisa aku kencing di celana ini." Reno terus menggerutu karena kaki dia masih belum bisa digerakkan dengan baik. Setiap bergerak maka rasa sakit akan langsung menyerangnya begitu saja.
"Awas aja, kalau dalam waktu sepuluh menit dia tak kunjung datang, maka aku tidak akan mau bicara padanya lagi. Huh!" Dia terus mengomel padahal di dalam sekat yang berukuran kecil itu dia hanya seorang diri.
Ingin rasanya dia meneriaki orang-orang di sebelahnya karena ngobrol terlalu kencang. Belum lagi kalau mereka tertawa sampai mengganggu pasien yang lainnya. Tapi rasa-rasanya hanya dia yang terganggu, sebab hampir semua pembesuk di ruangan itu ribut bukan main.
Padahal itu rumah sakit, bukannya pasar. Ya namanya juga hampir mirip sekelas bangsal. Tahu dirilah sedikit Reno, kamu itu harus bisa merasakan apa yang wong cilik rasakan. Jangan mau hidup enak terus.
Sreeeet ....
Tirai penutup tempat tidur Reno pun terbuka, Tenri muncul dari sana. Membawa dua buah kantongan. Reno tidak peduli apa isinya, dia hanya peduli kalau dia sejak tadi sudah kebelet pipis.
"Ayo cepat, bantuin aku turun. Aku mau ke toilet. Aku kebelet pipis." Reno berkata sangat cepat sampai Tenri harus meresapi betul-betul kalimat itu.
"Buruan!" omel Reno karena Tenri masih diam saja.
Tenri pun menyadari kalau Reno mau turun dari brankar dan ingin ke toilet. Dia memapah suaminya itu dan beberapa pasang mata melihat mereka.
"Kasihan ya isterinya, harus merawat pria cacat seperti itu. Kalau aku sih, mending tinggalin aja." Ucapan tersebut selintas didengar oleh Reno, amarah memuncak begitu saja di kepalanya. Dia ingin memaki orang yang baru saja mengucapkan itu padanya.
"Sudah, tidak usah marah. Aku juga tidak perlu dikasihani seperti itu kok. Aku tulus merawat kamu, karena kamu suamiku. Kalau orang lain juga nggak akan aku urus. Silakan masuk, daeng." Tenri menanggapi ekspresi wajar Reno. Seolah tahu apa yang sedang dipikirkan suaminya itu.
Selepas buang air kecil, dia pun berjalan menuju tempat tidurnya. Namun lagi-lagi dia mendengar selentingan kalimat pedas terlontar keluar dari mulut seorang wanita pembesuk.
"Padahal isterinya cantik, laki-lakinya mah biasa saja. Masih mau ya dia merawat suami cacat seperti itu."
Lalu ditimpali oleh seorang lainnya, "sudah, sudah, ngapain komentarin hidup orang lain? Kalau wanita itu merawat dengan baik suaminya itu artinya dia wanita yang tulus, tangguh, dan juga sangat penuh perhatian. Justru pasangan seperti mereka ini harus jadi contoh, coba lihat, mereka terlihat mirip kan? Itu artinya mereka berjodoh."
Sebenarnya Tenri juga agak risih mendengar orang-orang seperti itu. Yang dengan entengnya mengomentari pasangan lain atau rumah tangga orang secara terang-terangan. Emang gila jaman sekarang ya, bahkan seseorang tak perlu kenal pun sudah bisa mengomentari hidup orang lain.
"Ngomong apa sih mereka itu?" Reno terlihat marah.
"Jangan ge er mungkin aja mereka bukan ngomongin kita, daeng."
__ADS_1
"Bikin naik darah saja. Ini sehari aja aku tinggal di sini, rasanya aku udah hampir gila. Mereka itu ribut sekali, aku jadi tidak bisa istirahat Tenri."
"Daeng sudah-sudahi dong mengeluhnya, mau gimana lagi? Kita tidak punya cukup uang untuk membayar kamar VIP, jadi sabarlah sebentar. Ini tidak akan lama kok."
Tenri terus berusaha menasihati suaminya itu, wajah Reno sudah sepertinya pakaian yang terlipat-lipat.
"Makan dulu," lanjut Tenri menawari makanan pada suaminya.
Mau tidak mau Reno kali ini harus nurut, soalnya dia memang sudah lapar sejak tadi. Kali ini tak ada perdebatan, makanan masuk semua tanpa protes dari Reno. Tenri berhasil membuat suaminya sedikit lebih jinak. Haha.
"Bagaimana Kandunganmu?" tanya Reno tiba-tiba menyinggung soal kandungan Tenri.
"Belum tahu, kau belum pernah periksa lagi."
"Oh ..."
Hanya obrolan singkat saja, lalu Reno hanya menatap nanar ke langit-langit kamar. Tenri terlihat fokus pada gadgetnya. Reno sejak tadi ingin bertanya namun dia terlalu angkuh untuk kepo urusan isterinya itu.
"Apa rasa sakit di bagian paha daeng sudah mendingan?" tanya Tenri yang masih fokus pada layar ponselnya.
"Kalau tidak ada perubahan, kita akan semakin lama di sini, dan itu artinya biaya akan semakin banyak kita keluarkan. Keuangan kita menipis setiap harinya daeng."
Reno terdiam. Dia sadar bahwa dia tak lagi memberi isterinya itu uang bulanan sejak kebangkrutan dirinya.
"Lalu?"
"Daeng harus banyak bergerak, biar terbiasa tulang paha daeng. Nanti juga itu lama-lama akan hilang sakitnya."
Padahal Tenri tak tahu itu teori dari mana, secara tidak langsung dia itu mau jujur pada suaminya bahwa mereka ini tidak hanya sedang krisis rumah tangga tapi juga krisis keuangan.
"Baiklah."
Ada senyap di antara mereka. Reno mencoba memejam namun tak bisa karena suara berisik di sebelahnya, di depannya dan seisi ruangan itu.
Tenri ikut terganggu tapi dia mencoba untuk terbiasa.
__ADS_1
"Tenri, bagaimana bimbelmu?"
"Belum berjalan, daeng sakit. Waktunya terpaksa aku undur dulu."
Lagi-lagi Reno merasa bahwa Tenri sedang menyindir dirinya. Kadang orang sakit itu emang lebih cepat baper padahal maksudnya mungkin bukan itu.
"Tenri ...."
"Humm ...."
"Aku ...."
ucapan Reno pendek-pendek dan terputus, Tenri berusaha untuk tidak penasaran.
"Aku ...."
"Aku apa? Daeng mau pipis lagi? Sini aku bantu."
Tenri sudah ingin memapah Reno, namun dicegah oleh pria itu.
"Aku minta maaf padamu ...." ucap Reno cepat. Sampai-sampai ucapan itu hanya seperti angin, untung saja pendengaran Tenri masih bagus. Jadi dia dapat mendengar ucapan suaminya yang meminta maaf itu.
TUMBEN
KESAMBET KALI
AH, MUNGKIN DIA SALAH UCAP
Begitulah Tenri menepis bahwa ucapan Reno barusan itu bukan permintaan maaf.
"Apa daeng?"
"Ah tidak, tidak ada ..." jawab Reno cepat.
Ishh dasar mahluk gengsian, makan itu gengsi. Mau minta maaf sama isteri saja gengsinya bukan main. Mesti dipancing lagi kayaknya, tapi Tenri jelas tak mau melakukan itu. Yang terpenting adalah dia sudah mendengar permintaan maaf yang gengsi itu dari suaminya. Baginya itu sudah lebih dari cukup.
__ADS_1
Tenri tersenyum, dalam hati dia berharap semoga hal tersebut menjadi awal bagi perubahan suaminya.